
"Ayo masuk..!" Martin melangkah lebih dahulu dan diikuti oleh Yuna.
"Hai Martin, apa kabar? " Sapa seorang perempuan .
"Hai Olive , kabarku baik." Martin kembali menyapa dengan singkat.
"Kamu tidak berubah, masih seperti suasana di kutub." Olive tertawa tapi hanya dibalas wajah datar Martin.
Melihat Martin acuh Olive menyapa Yuna yang datang dari belakang.
"Hai, kamu pacarnya yah?" Olive menyapa.
"Tidak mbak, saya sekretaris pak Martin." Yuna menjawab.
"Oh... Kuat selalu di dekat kutub? Gak takut beku? " Canda Olive.
"Tidak apa-apa mbak. Saya permisi ya mbak." Yuna pamit dan pergi melangkah menuju tempat Martin duduk.
"Baiklah silakan" Olive mempersilakan.
Olive adala pemilik Restoran Purple Bubble yang juga teman SMA dari Martin, ia telah menikah dan memiliki dua anak.
(Olive tidak diikutkan dalam cerita ini ya...!)
Yuna duduk dihadapan Martin, dia hanya diam sebab enggan untuk berbicara lebih dahulu.
"Mau makan apa?" Martin bertanya.
"Apa saja kak.." Yuna hanya mampu memberi jawaban itu, dia takut salah bicara membuat lelaki di hadapannya marah.
"Makan batu mau?" Martin mulai bercanda mencairkan suasana canggung.
"Kakak... Masa kita makan batu.." Yuna mencoba memberanikan diri untuk lebih akrab.
"Trus mau kamu apa?" Lagi-lagi Martin bertanya.
"Disamakan saja kak" Jawab Yuna.
"Baiklah, kita pesan steak yah." Martin memberi usul.
__ADS_1
"Baik kak." Yuna mengiyakan tanda dia setuju.
"Trus, minumannya apa?" Martin kembali bertanya.
"Aku jus jeruk aja kak." Yuna memberi jawaban.
"Kita satu hati." Martin menanggapi.
"Maksud kakak??" Yuna berpikir jauh.
"Kita Sama-sama menginginkan jus jeruk. Mau pesan jus jeruk kan?" Martin memastikan.
"Ohhh... Iya kak." Yuna malu dengan pemikirannya.
"Permisi mbak..!" Martin memanggil pelayan dengan sopan.
Seorang pelayan datang menghampiri meja tersebut.
"Mau pesan apa pak?" Sang pelayan bertanya.
"Steak dan jus jeruk" Martin memberitahukan pesanan mereka.
"Baiklah pak, mohon ditunggu sebentar." Sang pelayan pamit pergi untuk mengambil pesanan.
"Katanya mau jemput, tapi rumah ku saja dia tidak tahu dimana.." Gerutu Yuna dalam hati.
"Aku akan shareloc kak." Yuna menjawab walau ia merasa kesal, tidak ingin Martin malah berubah pikiran.
"Baiklah."
Sang pelayan kembali datang dengan membawa pesanan.
"Selamat menikmati, pak, bu" Sang pelayan mempersilakan dengan sopan dan meninggalkan tempat.
"Baiklah, makanan sudah di depan mata. Mari kita makan dulu, takut terlambat datang ke kantor." Martin menyarankan.
Yuna tidak memberi jawaban namun melakukan apa yang Martin perintahkan.
****
__ADS_1
Tania yang penasaran apakah Nathalia berhasil atau tidak menyusul Nathalia ke kamar.
"Gimana kak? Dimaafin gak?" Tania benar-benar penasaran.
"Iya.. Tapi..." Nathalia tidak melanjutkan perkataannya, dia memasang wajah murung.
"Ada apa kak? Tapi kenapa ?" Tania semakin penasaran.
"Kakak harus menuruti semua perintahnya." Nathalia menjelaskan.
"Tenang saja kak, kak Andre orangnya baik kok. Dia tidak mungkin meminta yang aneh-aneh." Tania menenangkan.
"Semoga saja dek." Nathalia ragu.
"Lagi pada ngapain nih?" Ratih yang baru datang ke kamar menyapa Nathalia dan Tania.
"Cerita-cerita saja, Ma" Tania menjawab.
"Ikut tante yuk Nathalia, biar tante kenalin sama kepala desa disini." Ratih meminta Nathalia ikut dengannya.
"Panggil Lia aja tante, biar gak ribet manggilnya. " Tutur Nathalia.
"Kenapa harus di kenalin Ma?" Tania bertanya.
"Kan nak Lia mau tinggal di rumah kita, daripada nanti kelamaan di laporkan pada pak Kepala Desa, takut ada isu yang tidak benar." Ratih menjelaskan.
"Oh gitu. Aku ikut ya Ma, sekalian aku mau ajak kak Nathalia keliling desa." Tania memberi usul.
"Benar tuh tante, aku kan pengen tahu juga situasi disini." Nathalia mendukung Tania.
"Baiklah , ayo turun dan berangkat sekarang." Ratih menyuruh.
Mereka melangkah keluar kamar, dan bertemu Andre yang hendak turun dari tangga.
"Pada mau kemana?"
"Mau ke rumah Kepala Desa nak." Ratih menjawab.
"Kakak mau ikut?" Tania bertanya.
__ADS_1
"Tidak. Kakak mau ke sawah.." Andre menolak.
"Baiklah kami pergi ya kak." Tania pamit dan melangkah pergi bersama Ratih dan Nathalia.