
Saat akan masuk ke dalam rumah Yuna, Martin terlihat ragu. Hal itu dilihat oleh Yuna. Akhirnya Yuna memutuskan untuk menggandeng Martin untuk menghilangkan kegugupannya.
"Ayo masuk kak. Orangtuaku tidak galak kok.." Yuna mencairkan suasana.
Martin tersenyum dan mengikuti langkah Yuna. Yuna mengetuk pintu yang dibukakan oleh pembantu disana.
"Mama..." Yuna memanggil .
Anita bersama Adrian datang menghampiri. Anita menoleh ke arah tangan mereka yang sedari tadi belum lepas.
"Mama...." Yuna berteriak meski jarak mereka sangatlah dekat. Yuna langsung menghambur ke pelukan Anita.
"Jadi kengennya cuman sama Mama nih..?" Rajuk Adrian.
"Aku juga kangen sama papa..." Yuna memeluk Adrian juga.
"Dia siapa sayang?" Tanya Anita.
"Ohhh iya.. Yuna hampir aja lupa.." Yuna nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Hai Om, Tante ..." Martin memberi salam, dibalas senyum ramah tamah oleh kedua orang tua Yuna.
"Perkenalkan Ma, Kak Martin itu Direktur di perusahaan tempat Yuna bekerja." Yuna memperkenalkan.
"Ohhhh . Nama perusahaannya apa?" Tanya Adrian.
"Kak Martin itu Direktur perusahaan Alexander Group Pa. Dan dia juga anak dari pemilik Alexander Group." Yuna menjelaskan detailnya.
"Kamu ini ... Aku nanya Nak Martin, kenapa kamu yang jawab." Celetuk Adrian.
"Hehehe.. Maaf Pa.." Ucap Yuna.
"Kalian hanya ada hubungan kerjaan atau hubungan spe..." Pertanyaan Anita langsung dipotong oleh Yuna.
"Hanya hubungan pekerjaan Ma" Ucap Yuna cepat membuat Martin tersenyum.
__ADS_1
"Kamu ini, main potong saja.. Mama kan belum siap ngomongnya.." Anita berkata.
"Yuna sudah tahu apa yang mau Mama katakan." Yuna mengelak.
"Sudah.. sudah., Sebaiknya kita ngobrol di ruang tamu. Tidak capek apa berdiri disini?" Adrian memberi usul.
"Karena keasikan ngobrol kayaknya." Tambah Anita.
Mereka berjalan menuju ruang tamu, dan duduk bersama. Anita menyuruh pembantunya untuk membuatkan minuman.
"Oh iya, sepertinya Alexander Group tidak asing ya Pa..?" Anita membuka percakapan.
"Ya iyalah Ma tidak asing. Kita datang kesini kan karena ada kerjasama dengan perusahaan itu." Adrian mengingatkan.
"Oh iya. Nama perusahaannya mama lupa-lupa ingat Pa." Ucap Anita.
"Kenapa mama sama papa tidak bilang-bilang ke Yuna.?" Tanya Yuna.
"Biasanya kan kamu tidak mau tahu.." Adrian mengucapkan kenyataannya.
"Kan ini beda Pa.." Rengek Yuna.
Yuna berpikir sejenak atas pernyataan yang ia katakan barusan. Ia seolah mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan yang diberikan oleh Adrian . Tapi Martin terlihat sangat menunggu jawaban apa yang akan Yuna berikan dengan antusias.
"Ya... ya, karena.. Karena itu perusahaan tempat aku bekerja." Yuna memberi alasan. Martin terlihat kecewa dengan alasan yang Yuna berikan. Tapi dia hanya tersenyum menutupi kekecewaan tersebut.
"Kalian ini ngobrol berdua aja.. Mama dan nak Martin di anggap apa nih..?" Anita menengahi pembicaraan antara Anak dan Ayah tersebut.
"Maaf ya Nak , maklumlah kami sudah lama tidak bertemu. " ucap Adrian pada Martin.
"Tidak apa-apa kok Om." Ucap Martin.
"Kami kebetulan membuat janji ingin bertemu dengan orangtuamu loh.." Ucap Anita.
"Beneran Ma? Kapan?" Yuna bertanya dengan antusias.
__ADS_1
"Kenapa sih sayang, kok kayaknya senang banget." Adrian menyahut melihat Yuna yang antusias.
"Tidak apa-apa Pa , cuman nanya kok." Ucap Yuna.
"Nak Martin orangnya pendiam yah?" Anita bertanya sebab sedari tadi Martin tidak banyak bicara.
"I..." Baru saja satu huruf yang diucapkan oleh Martin, Yuna langsung memotong.
"Benar bangat Ma, bahkan kak Martin juga dingin banget kayak kutub. Makanya dia sudah berumur 30 tahun belum punya pacar. Yang dekat sama dia aja cuman aku doang Ma selain dari adiknya."Yuna menjelaskan panjang lebar.
Kini semua mata tertuju pada Yuna, dia benar-benar menjelaskan secara detail. Bahkan Anita bermaksud menanyakan Martin, tapi Yuna yang menjawab. Melihat dia ditatap ketiga orang di dekatnya, Yuna menutup mulut nya sambil nyengir. " Maaf Ma, keceplosan." Ucap Yuna.
"Ada-ada saja kamu Yun..." Ucap Anita menggeleng.
"Baiklah sebaiknya kita makan siang dulu. Ngobrolnya dilanjutin nanti saja." Adrian memberi usul.
"Oh iya benar juga. " Anita menyetujui.
"Saya pulang saja Om." Martin pamit.
"Kita makan disini saja Nak. Lagian ini sudah pas waktunya untuk makan siang." Anita kembali menawarkan.
"Baiklah Tante. " Martin setuju.
"Ayo, makanan sudah disajikan." Ajak Adrian.
Akhirnya mereka menikmati hidangan makan siang bersama-sama.
****
**Maaf ya teman-teman aku lama updatenya.. 😐😐
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Aku tunggu juga saran dan komentarnya...😊😊😊**