
Setelah melangsungkan pernikahan karena kesalahan fatal saat sedang mabuk bersama, Edy dan Marsya kini tinggal berdua di rumah Edy. Meski tidak pernah dianggap oleh Marsya, Edy tidak lelah untuk berusaha membuat Marsya untuk membalas cintanya.
Edy dengan penuh perhatian selalu mencari tahu kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh ibu hamil. Ia sangat menyayangi Marsya dan juga Anak dalam kandungannya yang adalah darah dagingnya sendiri.
Memang anak itu ada karena kesalahan mereka, namun Edy sangat ingin melihat anak itu terlahir ke dunia ini. Berbeda dengan Marsya yang tidak menginginkan kelahiran anak itu.
Karena sangat menghargai Marsya, Edy bahkan rela tidur di kamar lain karena Marsya yang tidak mau tidur seranjang dengannya. Hatinya memang tersayat, namun ia juga tidak ingin membuat Marsya marah.
" Heh, mau ngapain?" Bentak Marsya saat Edy hendak tidur di sebelahnya.
"Mau tidurlah Sya.." Ujar Edy bingung dengan pertanyaan Marsya.
"Kamu aneh deh Sya, gak mungkin kan aku mau mandi?" Canda Edy lagi.
"Gak lucu tau gak.." Ucap Marsya dengan suara kesal.
"Aku sudah ngantuk Sya, aku tidur duluan ya.." Ucap Edy seraya merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ehhhh... Siapa yang kasih izin kamu untuk tidur disini?" Tanya Marsya membuat Edy mengernyitkan dahinya.
"Kamu dari tadi aneh deh Sya.. Kita kan sudah resmi menikah?" Edy menjelaskan.
"Iya,menikah, tapi karena terpaksa kan?" Kata Marsya membuat Edy sangat terluka.
"Apa sebenci itu kamu sama aku Sya?" Tanya Edy dengan nada sedih.
"Iya.. Aku sebenci itu sama kamu." Ucap Marsya sangat jelas membuat Edy tidak mampu untuk berkata.
Edy segera turun dari tempat tidur, dan pergi ke sofa untuk tidur.
Edy hanya menggeleng kecil lalu berlalu tanpa sepatah kata pun. Mereka telah resmi menikah, namun mereka tidur pun tidak seranjang.
Pagi hari Edy dengan sepenuh hati memasak makanan sehat bagi ibu hamil. Ia mencari makanan apa saja yang cocok untuk ibu hamil di google. Setelah mendapatkannya ia lalu melihat cara memasaknya.
Marsya yang baru bangun pergi ke dapur karena mencium aroma makanan. Ia begitu tergiur dengan aroma makanan tersebut. Melihat Marsya datang, Edy langsung mempersilakan Marsya untuk duduk agar ia menyiapkan makanan untuk istrinya.
__ADS_1
Meski semalam ia begitu hancur karena sikap Marsya, ia tidak membesarkan masalah tersebut. Baginya yang terpenting adalah Istri dan calon buah hati yang ia cintai bisa sehat.
Tapi pagi ini , ia kembali harus menelan ludah karena sikap Marsya. Ia sudah lelah memasak dan menyiapkan makanan namun Marsya menolak untuk makan.
Padahal Marsya sudah ingin sekali memakan makanan tersebut, namun karena egonya dia membuat Edy kecewa. Ia lebih memilih untuk memesan makanan online. Edy hanya bisa pasrah, ia menyimpan kembali makanan yang ia masak khusus untuk Marsya.
Perut Edy mulai keroncongan, ia bahkan tidak memasak makanan untuk dirinya sendiri. Ia kembali ke dapur dan mengambil mie instant. Mungkin itu cara termudah untuk cepat mengisi perut yang kosong.
Ada rasa iba dalam hati Marsya, namun karena egonya, ia membiarkan Edy hanya merebus mie instant. Belum selesai Edy memasak seseorang mengetuk pintu, ternyata itu adalah makanan yang dipesan oleh Marsya.
Marsya tersenyum bahagia melihat makanan yang ia pesan telah sampai. Melihat Marsya bahagia hati Edy sangat hancur. Bukan karena dia tidak suka melihat Marsya bahagia, namun ia sedih karena Marsya lebih memilih untuk membeli makanan daripada memakan masakannya.
Dengan penuh semangat Marsya menyiapkan makanan yang ia pesan. Namun anehnya, ia bahkan tidak suka dan merasa mual mencium aroma makanan tersebut. Hal itu membuat Edy khawatir.
" Ini buat kamu saja.. Daripada makan mie instant, aku juga gak suka mencium baunya." Ucap Marsya memberi makanan yang ia pesan.
"Tapi kamu gimana?" Tanya Edy.
__ADS_1
"Yah terpaksa makan makanan yang tadi kamu masak" Ucap Marsya, padahal ia memang suka aroma masakan Edy.
Meski ada kata terpaksa, namun Edy senang masakan yang ia masak akan dimakan oleh Marsya. Bahkan Marsya terlihat tidak terpaksa memakannya, sebab makanan yang Edy masak ia habiskan. Hal itu membuat Edy tersenyum bahagia, namun ia tidak menunjukkannya pada Marsya takut Marsya merasa malu dan malah marah padanya.