Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Masa Lalu Yuna Part 2


__ADS_3

Kini semua mata para tamu undangan mengarah pada mereka. Semua menyaksikan dan mendengar pengakuan dari Doni. Sebagian ada yang menghujat Doni, tapi ada juga yang menyalahkan orangtuanya.


"Dasar anak kurang ajar..!" Papa Doni kembali membentaknya.


"Kamu benar-benar telah mempermainkan dan menyakiti putri kami. Tidak hanya itu, kamu juga sudah mempermalukan keluarga besar kami." Papa Yuna berbicara keras dan sedikit menahan emosi.


"Maafin aku om." Hanya itu yang keluar dari mulut Doni.


"Apakah maaf mu itu mampu mengubah keadaan sekarang. Seharusnya kamu berpikir dulu baru melakukan tindakan. " Papa Yuna kembali memperingatkan.


"Sekarang sebaiknya kamu tinggalkan perempuan itu, dan bertunangan dengan Yuna. Kalau tidak, jangan anggap kami sebagai orangtuamu lagi dan tidak akan ada sepeser pun harta warisan untukmu." Perintah Papa Doni dan memberi ancaman.


"Tidak pa, aku tidak akan meninggalkannya. Bahkan hari ini aku akan menikahi pacarku, dan bertanggung jawab atas perbuatanku." Doni menolak perintah Papanya dan tidak takut dengan ancaman yang diberikan padanya.


Papanya mengepalkan tangan dan melayangkan pukulan keras ke wajah Doni.


Yuna yang mendengar penuturan dari Doni tidak sanggup lagi mendengar lebih jauh lagi. Ia tahu bahwa itu hanya akan menambah luka di hatinya. Rasa marah, kecewa, sedih dan juga malu kini Yuna merasakannya. Kejadian hari ini membuat Yuna merasakan pilu yang amat dalam. Hari pertunangan yamg seharusnya membuatnya bahagia ternyata harus di ganti dengan hari pernikahan orang yang ia cintai.


Sambil terus menangis Yuna berdiri dan menampar Doni. Yuna tidak peduli dengan rasa sakit yang dialami Doni karena berkali-kali mendapat tamparan keras. Yang ia tahu ia jauh lebih sakit dari Doni. Dan Doni pun pantas menerima pukulan yang bertubi-tubi.


Setelah melampiaskan kemarahannya, dengan berurai air mata Yuna berlari. Ia mengurung diri di kamarnya. Hal itu membuat Orangtuanya begitu khawatir.

__ADS_1


Persiapan yang telah dilaksanakan selama beberapa hari, akhirnya harus hancur dalam sekejap. Dengan berat hati para tamu harus pulang , bukan menyaksikan pertunangan tapi pertikaian.


Dengan wajah yang babak belur, Doni meninggalkan tempat tersebut. Dan pergi menemui pacarnya, sesuai apa yang telah ia katakan, hari ini ia akan menikah.


Orangtua Yuna begitu sangat cemas, satu jam berlalu Yuna belum juga keluar dari kamar. Mereka sangat takut jika Yuna melakukan hal yang tidak-tidak.


Papa Yuna yang bernama Adrian dan Mamanya bernama Anita, kini mulai membuat rencana untuk mendobrak pintu kamar Yuna.


Saat bersiap-siap untuk mendobrak, ceklek.. Suara pintu terbuka, sosok Yuna dengan mata sembab kini berdiri di hadapan Adrian dan Anita. Tapi di samping Yuna kini ada dua koper besar dan ditangannya ia memegang sebuah tas berukuran sedang. Hal itu membuat Orangtuanya terkejut, entah apa yang ingin Yuna lakukan.


"Kamu kenapa membawa koper sayang?" Anita bertanya dengan penuh kekhawatiran.


"Aku mau pergi dari kota ini Ma." Jawaban dari Yuna membuat Adrian dan Anita sangat terkejut campur sedih.


"Maafin Yuna pa, tapi Yuna tidak bisa berlama-lama disini. Biarlah kenangan hari ini terkubur dalam di kota ini. Aku ingin mencari suatu pengalaman yang baru agar perlahan aku akan melupakan semua kejadian hari ini." Yuna meluapkan isi hatinya dengan air mata yang bercucuran.


"Baiklah nak, jika memang itu mampu membuat kamu tenang. Pergilah ke kota X , dan carilah alamat ini, disana papa telah membeli sebuah rumah. Rumah itu rencana ingin papa sewakan tapi sekarang papa akan berikan rumah itu padamu." Adrian memberikan secarik kertas.


"Trimakasih pa." Yuna memeluk Adrian.


"Maafin papa dan mama sayang, ini semua salah kami." Adrian menyesal.

__ADS_1


"Sudahlah Pa, ini bukan salah kalian. Aku yakin kok pa, Tuhan akan memberikan yang jauh lebih baik dari ini." Yuna menghibur Orangtuanya agar tidak merasa bersalah.


Kini ia beralih pada Anita, dengan tangis yang meluap Yuna melepaskan rasa sedihnya. Yuna memeluk anita dengan begitu eratnya. Anita menepuk punggung putrinya dengan maksud untuk mengibur dan menguatkan. Anita juga tidak kuasa menahan air matanya. Ini pertama kalinya ia melihat putri kesayangannya menangis seperti ini.


"Aku pamit Ma.." Yuna meminta izin pada Anita.


"Jaga diri baik-baik sayang.. Kabarin Mama dan Papa kalau sudah sampai" Anita berucap.


Sang supir yang diperintahkan untuk mengantar Yuna ke tujuan segera mengangkat koper dan memasukkannya ke bagasi. Yuna masuk ke dalam mobil, orangtuanya menatap dengan penuh kesedihan. Yuna melambaikan tangannya, tidak terasa air matanya kembali menetes.


"Aku tidak akan pernah mengingatmu lagi Doni.." Batin Yuna dan menghapus air matanya. Sebab ia merasa percuma untuk menangis, Doni tidak akan kembali. Seandainya Doni kembali pun, Yuna bertekad untuk tidak ingin mengenalnya lagi.


Akhirnya ia menetap di kota X, dan disanalah ia mencari pekerjaan dan mendapat kesempatan menjadi sekretaris dari Martin.


Awal Ketemu, Yuna sudah langsung tertarik pada Martin. Martin yang dingin dan cuek pada wanita membuat Yuna yakin, bahwa Martin bukanlah orang seperti Doni. Meski sangat sulit untuk mendapatkan perhatian dari Martin, Yuna merasa memperjuangkannya lebih baik daripada mendapatkan lelaki seperti Doni lagi.


Flashback Off.


**Vote


Like

__ADS_1


Komen**


Aku butuh dukungan kalian... 😊😊😊


__ADS_2