
Dua minggu telah berlalu sejak kejadian yang menimpa Yuna. Selama itu juga Martin tidak pernah berhenti mengunjungi Yuna. Tapi, meski Martin datang dengan ketulusannya, Yuna tetap menolak menemui Martin.
Yuna merasa bahwa ia sangat tidak pantas untuk Martin. Padahal berkali-kali Martin sudah meyakinkan Yuna. Hari ini adalah hari ke 15 Martin mendatangi Yuna, " Jika hari ini kamu juga menolak untuk menemuiku, ini akan jadi hari terakhir aku datang menemuimu. Tapi , perlu kamu tahu, meski aku tidak lagi menemuimu , rasa cintaku untukmu tidak akan hilang. Aku mencintaimu Yuna.." Martin menyatakan cintanya pada Yuna.
Tapi sia-sia saja, itu tidak meluluhkan hati Yuna. Ia tetap memilih tidak menemui Martin. Anita yang kasihan melihat Martin yang tidak lelah mengunjungi Yuna, berusaha mencoba untuk membujuk Yuna . Alhasil, semua sia-sia, Yuna tetap berkeras hati.
Martin benar-benar merasa kecewa, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. " Jika kamu tidak mau menemuiku, setidaknya jangan mengurung dirimu dalam kamar. Keluarlah meski hanya untuk menghibur dirimu sendiri, aku janji tidak akan datang menemuimu saat di luar." Martin masih berusaha membujuk.
" Yun, mengurung diri di kamar tidak akan menyelesaikan masalah. Itu bukan keputusan yang tepat untuk melupakan kejadian pilu itu. Ini semua hanya akan membahayakan kesehatanmu Yun..." Ucap Martin mengingatkan. Tiada suara dari dalam kamar.
Begitulah kondisi mereka selama 15 hari ini. Martin di depan kamar mencoba meyakinkan Yuna, tapi Yuna hanya diam dan menangis . Bahkan air matanya sudah enggan untuk keluar karena sudah terlalu banyak yang keluar . Martin menarik nafasnya dalam. Mungkin inilah saatnya untuk menyerah, percuma semua ini ia lakukan , toh tiada hasil yang ia dapatkan.
" Baiklah Yun, aku tidak akan menggangu mu lagi. Tapi, lusa adalah hari ulang tahunku , datanglah jika kamu mau menerima cintaku. Tapi jika kamu memang tidak memberiku kesempatan, aku akan terima Yun. Tapi bukan berarti kamu tidak ada lagi dalam hati ini. Aku pamit Yun..." Ucap Martin sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Anita yang ada di dekat Martin bahkan tidak kuasa untuk menahan air matanya. Lagi-lagi Martin harus keluar dari rumah Yuna tanpa hasil apa-apa. Anita mengetuk pintu kamar Yuna, " Yuna, ini mama sayang.. Bukain pintunya dong! Nak Martin sudah pergi.." Ucap Anita.
Yuna melangkah lemah dan membukakan pintu untuk Anita. Mereka duduk di tepi ranjang, Anita memeluk putrinya yang sedang bersedih. " Nak, bicaralah dengan Martin . Apa kamu tidak kasihan dengan dia?" Anita mencoba membujuk putrinya.
" Ma... apa aku masih pantas untuk kak Martin?" Tanya Yuna sedih.
" Bukankah kamu sudah dengar sendiri dari Martin? Nak Martin menerima bagaimanapun keadaanmu. Lihat perjuangan yang ia lakukan untukmu. Meski sudah tahu akan ditolak , ia tetap mengunjungimu kan?" Anita meyakinkan .
" Mama tahu itu semua karena kamu merasa terpukul. Tapi kamu juga harus memikirkan perasaan Martin. Apa yang dikatakan Nak Martin benar sayang, mengurung diri di kamar, bukanlah jalan keluarnya. Bukankah itu hanya akan membuat kamu selalu memikirkannya?" Anita menasihati putrinya.
"Maafin Yuna Ma.." Pinta Yuna.
"Iya sayang, minta maaf juga pada Martin ya.." Ucap Anita.
__ADS_1
"Baik Ma." Jawab Yuna.
****
Doni adalah inti dari permasalahan ini. Lantas apa yang terjadi pada Doni?
Buat para reader, siapa nih yang sudah kangen sama Nathalia dan Andre?
Ditunggu kelanjutannya ya...
Jangan lupa, like, vote, rate, tipsnya juga...
Aku tunggu komentar kangen kalian.. 😍😍😍😍
__ADS_1