
Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah, " Kalau boleh tahu, pemuda di samping Jeng Yanti itu siapa ya?" Tanya Ratih.
"Eh, iya Jeng. Saya lupa memperkenalkannya." Jawab Yanti.
"Saya Edy tante, calon suami Marsya." Edy memperkenalkan diri, membuat Andre, Tania, Ratih dan Nathalia terkejut.
"Apa? Jadi nak Marsya mau menikah? Tapi kenapa nak Marsya tidak prrnah menceritakan hal ini" Ratih merasa penasaran.
" Sebenarnya, berat hati saya untuk menceritakan aib ini.." Yanti terlihat sangat sedih.
"Aib apa maksudmu Jeng?" Tanya Ratih semakin bingung dan penasaran.
"Sebenarnya, saat ini Marsya sedang mengandung.." Yanti mulai bercerita.
"Apa? Kenapa bisa terjadi Jeng?" Tanya Ratih.
"Nak Doni ini adalah tetangga kami, ia sangat baik pada kami. Ia juga sangat peduli pada Marsya. Tapi entah karena masalah apa, mereka berdua secara kebetulan mabuk. Dan pada akhirnya mereka melakukan hal yang tidak diinginkan. Dan untuk mengantisipasi suatu hal buruk terjadi, kami berencana untuk menikahkan mereka. Tapi Marsya menolak, ia pergi dari rumah. Dan ternyata dugaan saya benar, ia pasti datang kesini. Makanya aku saya datang kesini." Jelas Yanti.
"Nak Marsya, seharusnya kamu bercerita sama tante kalau kamu itu mau menikah. " Kata Ratih.
"Sekarang kita pulang ya Sya, kita harus persiapkan pernikahan kalian" Ajak Yanti.
"Siapa sih Ma yang mau nikah, aku gak mau jika harus menikah sama dia." Marsya mulai membuka suaranya.
__ADS_1
"Nak Edy kurang apa sayang? Dia baik, selama ini dia juga selalu menjaga kamu dengan baik." Kata Yanti.
"Tapi aku gak mau Ma.."
"Lalu bagaimana dengan kandungan kamu?" Tanya Yanti mulai marah.
"Kan bisa digugurin." Marsya asal bicara.
Plakk....
Tamparan keras mendarat di pipi Marsya, ucapan terakhirnya membuat Yanti marah dan menampar putrinya.
Marsya yang mendapat tamparan itu menangis, ia memegangi pipinya yang kini memerah.
"Apa kamu sadar tentang apa yang barusan kamu katakan?" Yanti kembali marah dan ingin memberi tamparan lagi, namun hal itu dicegah oleh Edy.
"Tetap saja, kalian harus segera menikah." Suruh Yanti.
"Itu pasti tante, aku akan bertanggungjawab. " Ucap Edy.
"Itu maunya kamu kan? Kamu sengaja ngelakuin ini agar bisa menikah denganku kan?" Marsya menuduh Edy.
"Tidak Sya.. Aku tidak sengaja. Aki saat itu dalam kondisi mabuk." Ucap Edy.
__ADS_1
"Apa kamu pikir aku bakalan percaya? Kamu bisa membodohi orangtuaku, tapi tidak denganku. " Marsya berkutat.
"Diam kamu Sya... Kamu masih beruntung Edy mau tanggung jawab." sahut Yanti.
" Aku gak butuh tanggung jawab dia Ma.." Kata Marsya.
Plak....
Satu tamparan lagi berhasil mengenai pipi Marsya.
" Apa mau kamu Sya? Apa kamu mau mempermalukan keluarga kita? Apa kamu pikir kamu bisa mengurus kandunganmu sendiri ? Kamu pikir itu hal yang mudah, hah...?" Yanti mulai emosi.
"Nak Marsya, pulanglah bersama Ibumu. Ini adalah yang terbaik untukmu nak." Ratih mencoba membujuk.
" Tante ngusir Marsya?" Tanya Marsya.
" Bukan mengusir sayang, tapi itu adalaj jalan terbaik. Jangan membuat orangtuamu malu." Pesan Ratih.
"Baiklah , aku pulang sekarang. Tapi jangan harap aku akan mencintaimu. Setelah anak ini lahir, kita harus bercerai." Pinta Marsya pada Edy.
"Tapi Sya, aku sayang sama kamu."
"Tapi aku tidak , kalau kamu memang ingin aku pulang, setujui permintaanku." Kata Marsya.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Edy.
" Aku akan berusaha mendapatkan cintamu Sya. Tidak akan kubiarkan pernikahan kita berakhir dengan perceraian." Batin Edy.