
Mengingat kenangan pahit itu, kini Yuna berurai air mata. Hal ini membuat Martin menjadi khawatir. "Apa pertanyaanku yang membuat dia menangis seperti ini..?" Gumam Martin.
Ia tidak berani berbicara, apalagi untuk menanyakannya. Ia memilih untuk mencoba menenangkan Yuna terlebih dahulu. Dan menunggu Yuna untuk menceritakan lebih dulu. Perlahan Martin meletakkan kepala Yuna di pundaknya, air mata Yuna yang menetes ia seka. Martin mengelus punggung Yuna mencoba untuk menghibur.
Yuna menjadi merasa bersalah membuat Martin menjadi khawatir. Tapi apalah daya, Yuna tidak bisa menahan air matanya bila mengingat kenangan yang ia coba untuk lupakan. Hingga hari ini kenangan itu kembali terkenang karena pertanyaan yang Martin berikan.
Yuna tidak menyalahkan Martin saat ini. Karena ia tahu persis Martin tidaklah mengetahui masa lalunya.
Perlahan Yuna mulai tenang, ia menegakkan kepalanya. Tapi ia masih meremas tangannya sendiri , membuktikan bahwa ia masih sangat ragu untuk menceritakannya.
Martin memegang tangan Yuna, mencoba untuk meyakinkan hatinya. Akhirnya Martin mencoba untuk berbicara.
"Aku minta maaf telah membuatmu menangis.." Pinta Martin dengan penuh penyesalan.
"Ini bukan salah kak Martin kok." Ucap Yuna.
"Apa boleh aku tahu apa yang membuat kamu menangis seperti ini?" Tanya Martin ragu.
Yuna menarik nafasnya dalam, mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan kisah pilunya pada Martin. Dengan sedikit gemetar ia mulai menceritakan kisahnya, air matanya sesekali jatuh saat ia bercerita. Martin mendengarkan dengan antusias. Melihat Yuna bercerita sambil menangis , Martin tidak tega, dan merasa ikut sedih dengan apa yang Yuna alami.
"Maaf jika pertanyaanku mengingatkan mu pada kenangan yang telah lama kau coba kubur dalam-dalam." Ucap Martin dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa kak. Justru berkat kakak aku sekarang merasa lega. Kini aku tidak menyimpannya sendiri lagi." Yuna menjawab.
"Kamu makan ini yah.. Aaaa" Martin menawarkan cemilan yang ingin ia suapkan.
Dengan wajah merona Yuna menerima suapan dari Martin. Entah kenapa Martin tiba-tiba berubah manis.
__ADS_1
Masih nyaman menikmati perlakuan Martin, seseorang menghubungi Yuna. Ia menatap ponselnya, ia lihat nama yang tertera. "Mama" Ucapnya lirih.
"Halo Ma.." Yuna menyapa.
"Halo sayang... Kamu habis nangis ya?" Anita mengetahuinya dari suaranya.
"Tidak Ma. " Yuna berbohong.
"Sekarang kamu dimana sayang. Mama datang ke rumah kok tidak ada orang?" Anita bertanya.
"Aku lagi di rumah teman Ma. Kapan mama sampai disini? Kok tidak bilang-bilang sih Ma. Kan aku bisa jemput mama sama papa." Yuna mengomel kecil.
"Rencananya tadi Mama sama Papa mau buat kejutan, eh kamunya gak ada." Ucap Anita.
"Maaf Ma."
"Sebentar lagi aku pulang kok Ma. Tunggu sebentar ya Ma.." Pinta Yuna.
"Baiklah sayang. Mama tutup teleponnya ya? " Ucap Anita.
"Baik Ma."
Sambungan telepon terputus, Yuna menatap ke arah Martin seolah meminta persetujuan.
"Kamu disuruh pulang ya?" Martin bertanya.
"Iya kak. Maaf ya aku harus pulang sekarang." Yuna pamit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, trimakasih sudah datang." Ucap Martin.
"Baiklah kak. Aku pamit ya..." Ucap Yuna melangkah pergi. Tapi langkahnya tertahan karena tangannya di pegang oleh Martin.
"Aku antarin kamu ya.. Kamu datang kan atas permintaanku. Jadi aku berkewajiban untuk mengantar kamu pulang." Martin menawarkan.
"Aku bisa pulang sendiri kak." Ucap Yuna.
"Tidak, aku antar kamu." Martin memaksa.
Yuna mengalah, ia mengikuti saran Martin. Ia melangkah keluar bersama Martin.
"Ma, aku antar Yuna pulang dulu ya.." Martin pamit pada orangtuanya.
"Kenapa secepat itu sayang? Kita tidak makan dulu?" Tanya Ratih.
"Tidak ma. Orangtua Yuna baru datang dari luar kota, dan meminta Yuna untuk pulang." Martin menjelaskan.
"Ya sudah kalau memang demikian. Kalian hati-hati ya." Ucap Tiara.
"Baik Ma. Kami berangkat ya.." Ucap Martin.
"Kami pamit ya Om , Tante." Yuna juga pamit.
"Baik sayang.." Tiara mempersilakan.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah Martin dan melaju menuju rumah Yuna. Perjalanan mereka diiringi candaan yang ringan.
__ADS_1