Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Perfect


__ADS_3

"Aku sudah di depan rumahmu.." Martin memberi pesan pada Yuna.


Ting...


Notifikasi pesan Yuna berbunyi, saat ia tengah sibuk memilih baju yang akan ia pakai.


"Pakai yang mana yah?" Yuna terlihat bingung sambil membandingkan baju yang di tangan kiri dan kanannya.


Ting..


Lagi-Lagi ada pesan masuk, sebab Yuna belum melihat Handphone nya karena sedang kesulitan memilih.


"Siapa sih? Ganggu konsentrasi saja." Batin Yuna langsung pergi ke arah tempat HP berada dan melihat ke arah layar. Mata Yuna melotot memperjelas penglihatannya.


"Astaga... Kenapa aku bisa mengabaikan pesannya." Gerutu Yuna.


"5 menit lagi tidak keluar, aku pulang !" Isi pesan kedua yang dikirim oleh Martin.


Yuna


Bisakah kakak menunggu sebentar lagi?


Martin


Jangan memerintahkan aku..!


Yuna


Bukan gitu kak, aku belum bersiap-siap. Maaf ya kak.. 😣😣


Martin


Apakah orangtuamu ada di dalam?


Yuna


Orangtuaku di luar kota kak. Aku tinggal bersama pembantu disini.


Martin


Baiklah kalau begitu, suruh pembantumu membukakan pintu agar aku masuk.


Yuna


Kakak mau ngapain?


Martin


Nungguin kamu lah... ! Apakah menurutmu aku harus menunggumu di luar?

__ADS_1


Yuna


Tidak kak. Sebentar ya kak, aku panggilin dulu.


Martin.


Hm.


"Bi Ani...." Yuna memanggil.


"Ada apa non?"


"Tolong bukakan pintu untuk Direktur aku di kantor, hidangkan dia minuman, aku mau siap-siap dulu." Yuna meminta.


"Baik non." Bi Ani mengiyakan dan berlalu pergi untuk membukakan pintu.


Ceklek..


Suara pintu terbuka, di depan pintu kini Martin dengan stelan jas nya sedang menunggu.


"Maaf tuan,telah membuat tuan menunggu lama" Bi Ani berkata sopan takut ada kesalahan.


Martin hanya diam dan mengikuti Bi Ani yang menunjukkan tempat ia harus menunggu. Martin lalu duduk menunggu.


Bi Ani segera membuatkan minuman seperti yang diperintahkan Yuna.


Martin menyesap minuman yang di hidangkan, sedikit demi sedikit minuman dalam gelas tersebut mulai berkurang. Kini tinggal seperempat gelas, Martin melihat ke arah jam tangannya.


"Astaga bahkan aku sudah duduk disini selama 15 menit dia belum selesai?" Martin mulai menggerutu kesal.


"Yuna dimana?" Martin bertanya dengan nada sedikit tinggi karena kesal.


"Diii kamarnya tuan.." Bi Ani gugup.


"Antarkan aku kesana, aku tidak suka bila harus menunggu selama ini. " Martin mulai kesal.


"Baik tuan. Mari saya antar, kamar non Yuna di atas tuan." Bi Ani mempersilakan .


Martin mengikuti langkah Bi Ani menuju kamar Yuna.


Martin memberi perintah agar Bi Ani pergi, sedangkan ia berjalan menuju kamar Yuna sendiri. Martin penasaran dengan apa yang membuat Yuna begitu lama bersiap-siap.


Dengan perlahan ia membuka pintu kamar tersebut, berusaha agar tidak terdengar suara sedikitpun. Kini di hadapannya Yuna yang masih memakai piyama yang berukuran pendek di atas lutut, dengan rambut yang sudah tertata rapi dan riasan yang sudah cantik, hanya tinggal mengganti baju saja. Martin hanya menggeleng melihat tingkah Yuna yang telah membuat kamarnya begitu berantakan dipenuhi baju yang berserakan memenuhi lantai dan kasur tempat ia tidur.


"Aduh, hari ini kenapa tiba-tiba gak ada yang cocok sih bajunya??" Gerutu Yuna yang tidak mengetahui Martin telah melihat tingkah konyolnya.


"Pilih ini atau ini yah?" Yuna kembali menimbang-nimbang .


"Aduh kak Martiiiiinnnnn, aku jadi pusing nih gara-gara kakak. " Yuna berteriak masih tidak mengetahui Martin ada disana.

__ADS_1


"Loh, kok gara-gara saya sih?" Martin menyahut, tapi Yuna menganggap itu hanya khayalannya saja. Dia duduk tanpa menoleh dan meletakkan dagunya di atas tangannya.


"Kakak ganteng sih, buat aku makin cinta. Kakak memang dingin, tapi aku suka itu, buat cintaku pada kakak selalu segar tak pernah layu." Yuna membayangkan wajah lelaki yang ia puja selama beberapa tahun terakhir. Dia masih belum sadar kalau yang sedari tadi bicara adalah benar-benar Martin bukan ilusinya.


"Oh ya?" Martin berbicara keras agar Yuna tersadar dari lamunannya.


"Kok bisa ya ilusi kak Martin nyahut mulu." Yuna mulai heran.


"Pantasan gak kelar-kelar, kamu lagi ngapain sih?" Martin kembali menyahut.


"Wahhhh, aku benar-benar sudah gila. Sadar Yuna mana mungkin Kak martin nyamperin kamu ke kamar ini?" Yuna mengingatkan dirinya.


"Tapi kenapa begitu nyata yah?" Yuna kembali merasakan aneh.


Dia berbalik untuk memastikan yang sebenarnya, Yuna terperangah melihat Martin yang tengah menyandarkan dirinya pada dinding dan menatap ke arah dirinya.


"Astaga.... Kkaakk Martin ada disini?" Yuna sontak kaget.


"Kenapa? Masih mau bilang aku ini ilusi?" Martin menggoda Yuna.


"Maaf kak.." Yuna menunduk malu, dan saat ia menunduk ia kembali tersadar betapa seksi nya ia sekarang membuat ia bertambah sangat malu.


Martin berjalan ke arah Yuna, membuat jantung Yuna berdegub kencang.


"Apa yang akan kak Martin lakukan?" Batin Yuna.


Martin berdiri di hadapan Yuna dan mengambil sesuatu dan memberikannya pada Yuna.


"Pakai yang ini saja, kamu pasti akan sangat cantik memakainya." Martin menyodorkan dress berwarna merah.


"Baaikk kak. Trimakasih sarannya.." Ucap Yuna lalu mengambil dress itu dari tangan Martin.


"Hm. Cepatlah, atau kita akan terlambat. Aku tunggu disini, kamu ganti disana." Andre menunjuk ruang ganti milik Yuna.


Tanpa berkomentar lagi, Yuna segera mengganti bajunya dan keluar dari sana.


Martin menatap Yuna takjub, dia terpesona dengan penampilan Yuna saat ini.


"Seperti yang ku bayangkan, benar-benar perfect." Martin memuji Yuna.


Wajah Yuna memerah dengan apa yang ia dengar barusan.


"Trimakasih kakak." Ucap Yuna.


"Baiklah, Ayo berangkat..!" Martin mengajak Yuna.


Mereka berdua melangkah dan berangkat intuk dinner berdua. Semoga ini jadi awal kedekatan mereka.


****

__ADS_1


__ADS_2