Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Hari Valentine Teristimewa


__ADS_3

Setelah sarapan selesai, Yuna kembali merias wajahnya. Ia takut riasannya rusak setelah sarapan. Martin tersenyum melihat tingkah Yuna. "Hmmm. Berapa kali lagi kamu akan berhias?" Tanya Martin.


"Aku hanya takut riasan ku tidak bagus kak." Ucap Yuna.


"Memangnya kenapa?" Tanya Martin menyelidik.


"Nanti orang beranggapan kalau aku tidak pantas mendampingi kakak." Keluh Yuna.


"Aku yang akan menentukan siapa yang pantas untuk mendampingi ku kan, bukan mereka?" Ucap Martin sambil membelai rambut Yuna yang tergerai.


"Aku hanya berusaha yang terbaik buat kakak." Ucap Yuna.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Kita berangkat sekarang ya.." Ajak Martin.


" Tunggu dulu kak, aku sudah cantik belum?" Tanya Yuna membalik kan tubuhnya menghadap ke arah Martin.


Martin tersenyum dan meletakkan satu tangannya di pipi Yuna, dengan menggerakkan ibu jarinya ke kiri dan kanan. " Kamu cantik sekali.." Puji Martin.


Tapi bukan malah senang, Yuna justru malah mengomel pada Martin. " Aduh kakak, riasanku jadi rusak lagi kan.." Rengek Yuna sambil mengolesi bedak tipis pada pipinya.


"Astaga... Kalau dandan nya lama kayak gini, kita jalan-jalan nya kapan?" Tanya Martin.


"Kakak sih, main pegang-pegang aja." Ucap Yuna.


"Tapi riasan kamu gak berubah kok setelah kakak pegang." Sanggah Martin.

__ADS_1


"Iya, iya. Yuk kak kita berangkat." Ajak Yuna dan mengambil tasnya.


Mereka akhirnya berangkat setelah Yuna merasa yakin dengan riasannya. Orang yang mencintai kita memang tidak akan mempedulikan bagaimana cantik atau tidaknya wajah kita. Tapi kita tentu akan berusaha agar tidak membuatnya malu, dan pantas untuk dia cintai.


Itulah yang dilakukan oleh Yuna, ia hanya berusaha menjaga penampilannya. Karena ia sadar akan jalan berdua dengan siapa. Martin Alexander, siapa yang tidak mengenalnya? Tentu banyak orang yang akan berargumen kala mereka sedang bersama.


Kini mobil Martin melaju dengan perlahan, ia memutar audio dengan suara pelan untuk mengiringi perjalanan mereka. Ia memutar lagu yang berjudul MALAIKAT TAK BERSAYAP.


Entah karena terbawa suasana, Yuna menyenderkan kepalanya di pundak Martin. " Hari valentine teristimewa dalam hidupku." Kata-kata itu keluar dari mulut Yuna.


Kata-kata dari Yuna membuat Martin mengernyitkan keningnya. " Memangnya hari valentine sebelumnya kenapa?" Tanya Martin penasaran.


Yuna perlahan menarik nafasnya, dengan posisi yang masih menyender ia mulai mengungkapkan perasaannya. " Aku tidak pernah marayakan hari valentine bersama seorang yang spesial kak." Ucap Yuna sedih.


Mengerti maksud dari Martin, Yuna kembali membuka suara. " Gak usah takut kak, lanjutin aja." Suruh Yuna.


"Kakak takut buat kamu sakit hati lagi." Ucap Martin.


Yuna tersenyum ia bahagia melihat Martin yang tidak ingin membuatnya bersedih. " Aku tidak pernah merayakan hari valentine bersama dia kak." Yuna mulai bercerita.


"Kenapa? Bukankah hubungan kalian sudah terjalin lama?" Tanya Martin.


"Dia selalu beralasan sedang sibuk kerja, dan aku percaya begitu saja. Padahal tanpa sepengetahuanku ia sedang merayakan hari valentine bersama kekasihnya." Yuna kini terlihat sangat sedih.


Martin menghentikan mobilnya, ia menatap ke arah Yuna. Ia menangkup wajah Yuna dengan kedua tangannya. " Jangan ingat-ingat lagi kenangan itu ya.." Pinta Martin.

__ADS_1


"Hari ini aku berjanji, aku akan membuatmu bahagia. Hari ini aku akan menjadikan hari valentine teristimewa seperti yang kamu katakan." Janji Martin.


"Benarkah..?" Mata Yuna berbinar , senyumnya mengembang. Kini Yuna seperti seorang anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan mainan dan diajak ke taman bermain.


"Iya. Kakak janji." Martin meyakinkan.


"Trimakasih kak." Spontan Yuna memeluk Martin.


Martin membalas pelukan Yuna dan menenangkan Yuna. Setelah Yuna merasa tenang Martin kembali berkata. " Kita ke apartemen milikku saja gimana?" Tanya Martin.


"Ngapain kak." Tanya Yuna.


"Kita habiskan waktu berdua, disana kita bisa nonton, renang, menikmati indah nya taman, dam masih banyak lagi. Pokoknya aku jamin kamu bakalan betah deh. " Ucap Martin.


"Tapi kan..." Yuna terlihat ragu.


"Tenang aja Yun, kakak tidak akan macam-macam kok. Kakak pasti jaga kamu. Lagian kalau sudah sore kakak akan antarkan kamu pulang kok. Tadi aku sudah janji sama om dan tante." Jelas Martin.


"Memangnya tadi kakak ketemu sama Mama dan Papa?" Tanya Yuna.


"Iya, ketemu di luar rumah, sekalian aja kakak minta izin buat ngajak kamu jalan." Ucap Martin.


"Baiklah kak. Yuk kita pergi.." Ajak Yuna semangat.


Martin kembali mengemudikan mobilnya dan berangkat ke apartemen yang ia sebutkan.

__ADS_1


__ADS_2