Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Sedingin Es


__ADS_3

Yuna keluar dari mobilnya yang kini terparkir di kediaman Keluarga Alexander. Ia menatap ragu ke arah rumah mewah tersebut, tapi kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki area rumah tersebut.


Yuna mengetuk pintu rumah, sampai ada seseorang yang membukanya. Dari dalam rumah keluarlah pembantu menyapa Yuna dengan ramah.


"Pagi non, ingin bertemu siapa ya?" Bibi menyapa.


"Saya ingin bertemu pak Martin Bi, apa dia ada di rumah?" Yuna bertanya.


"Ada non. Silakan masuk..!" Bibi mempersilakan.


Yuna yang pertama kali menapakkan kakinya di rumah mewah itu, ia mengagumi desain yang melekat pada rumah tersebut. Meski rumah Yuna juga mewah, tapi rumah yang ia lihat jauh melebihi itu.


Akhirnya ia sampai ke sebuah ruangan, disana Roy dan Tiara sedang duduk santai sambil mengobrol kecil. Karena sudah kebiasaan mereka jika libur mereka tidak bekerja terutama hari minggu. Mereka akan lebih memilih berkumpul di rumah, atau pergi jalan-jalan bersama.


Hati Yuna jadi semakin ragu, sebab yang ia lihat sekarang adalah ayah dari direktur perusahaannya lebih tepatnya CEO dari Alexander Group.


Roy dan Tiara menatap ke arah Yuna, membuat Yuna gugup dan meremas tangannya sendiri.


"Siapa Bi..?" Tiara bertanya , sebab ia tidak terlalu mengenal karyawan perusahaan dikarenakan mereka memiliki cabang perusahaan yang banyak.


"Ini nyonya, katanya dia mau bertemu den Martin." Bibi menjawab.


"Oh , baiklah. Coba kamu panggilkan Martin kesini." Tiara menyuruh Bibi.


"Baik nyonya. " Ucap Bibi menunduk dan menaiki anak tangga untuk memanggil Martin.


"Kalau boleh tahu, kamu ini siapa nak?" Tiara bertanya dengan nada lembut sambil tersenyum ramah.


"Nama saya Yuna Bu, sekretaris pak Martin." Yuna menghilangkan kegugupannya karena sifat Tiara yang menyapanya dengan lembut.


"Ohhh, silakan duduk nak." Roy juga ikut bicara.

__ADS_1


"Baik pak , trimakasih." Ucap Yuna lalu duduk tepat di hadapan Tiara dan Roy.


"Jangan sungkan Nak." Tiara mencoba membuat Yuna nyaman.


"Baik Bu." Yuna tersenyum.


"Tidak usah panggil bapak atau ibu. Panggil kami om dan tante saja." Ucap Roy.


"Baik Om" Yuna setuju.


"Wah, berarti kamu orang yang spesial dong..!" Tiara berkata lagi membuat Yuna merasa heran dengan apa yang sedang Tiara maksudkan.


"Maksud tante.?" Yuna bertanya.


"Martin sekarang usianya sudah menginjak usia 30 tahun, baru kali ini ia mendatangkan seorang perempuan ke rumah ini. Iya kan Pa?" Jelas Tiara.


"Benar Nak, ia begitu dingin pada setiap wanita, siapa coba yang mau sama dia?" Roy menambahkan.


"Yuna yakin, suatu saat pasti akan ada kok tante yang akan jadi pasangan pak Martin." Yuna meyakinkan.


Mendengar pertanyaan Tiara , Yuna menjadi merona dan tertunduk malu.


"Jangan gitu dong Ma. Lihat tuh nak Yuna jadi malu kan?" Roy menyarankan pada istrinya.


Bibi datang dari atas dan menghampiri ketiga orang yang sedang asik mengobrol.


"Permisi tuan, Den Martin meminta non Yuna untuk datang ke atas." Bibi menyampaikan pesan Martin.


"Baik bi." Tiara mengiyakan dan memberi kode agar bibi pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ya sudah nak, kamu susul dia ke atas." Roy menyuruh Yuna.

__ADS_1


"Baik Om."


"Oh iya Nak Yuna, kalau bisa buat dia jatuh cinta padamu. Tante sudah tidak sabar ingin menggendong cucu." Tiara berkata membuat Yuna benar-benar merasa malu dan hanya bisa tersenyum dan menunduk pergi melangkah menaiki tangga.


Setelah sampai di atas dengan mudah Yuna menemukan ruangan Martin. Sebab di pintu kamarnya terpampang namanya. Mungkin nama itu tergantung mulai dari mereka kecil dulu dan tidak di lepaskan sampai sekarang.


Yuna mengetuk pintu kamar tersebut, tak berselang waktu lama, Martin keluar dan mempersilakan Yuna untuk masuk.


"Masuk..! " Perintah Martin.


Yuna mengangguk dan mengikuti langkah kaki Martin. Kini ia berada dalam ruangan yang cukup besar dengan cat yang berwarna biru muda. Beberapa lukisan gunung salju dan beruang kutub tergantung di dinding. Yuna merasa seakan sedang ada dalam ruangan yang begitu dingin dikarenakan pemandangan yang ia lihat.


"Wahh, ternyata bukan hanya orang nya yang dingin. Ruangannya juga jadi ikut dingin." Gumam Yuna.


"Ada apa?" Martin bertanya pada Yuna yang sedari tadi bengong.


"Tidak ada apa-apa kak." Ucap Yuna.


"Duduk.." Perintah Martin mempersilakan duduk pada sofa. Sofa tersebut sepertinya di letakkan khusus untuk Martin bersantai.


Yuna duduk dengan tidak berbicara, ia tidak tahu sebenarnya apa yang harus ia kerjakan disitu. Ia datang ke rumah Martin atas permintaan Martin, yang mengatakan bahwa ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan karena berhubung hari libur Martin menyuruh Yuna untuk datang ke rumahnya.


Martin melangkahkan kakinya ke sebuah lemari kecil. Yuna menoleh, ia penasaran apa isi dari lemari tersebut. Dan ternyata lemari tersebut berisikan cemilan dan minuman. Martin membawa beberapa dan menawarkannya pada Yuna.


"Nih ada cemilan, kita makan ini tidak apa-apa kan?" Martin menawarkan.


"Tidak apa-apa kak. Oh iya pekerjaan apa yang harus saya lakukan kak?" Yuna bertanya tentang tugasnya, sebab sedari tadi ia tidak melihat ada berkas yang harus dikerjakan. Malahan dia hanya ditawarkan cemilan dan minuman saja.


"Ngobrol denganku" Martin menjawab singkat.


"Kenapa aku kak..?" Yuna bertanya penasaran.

__ADS_1


"Memangnya kamu pikir selain adikku Nathalia siapa lagi perempuan yang dekat denganku?" Martin malah balik bertanya.


Yuna merasa sangat senang mendengar ucapan Martin. "Apakah itu artinya aku benar-benar sudah jadi orang spesial di hatinya..?" Gumam Yuna.


__ADS_2