Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Tercyduk


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang yang penuh keheningan, tanpa berkata apapun Yuna membersihkan piring dan sisa makanan mereka. Setelah itu ia kembali duduk dengan diam.


"Ehmm. Kenapa diam dari tadi?" Martin membuka suara.


"Kan kakak yang diam lebih dahulu." Ucap Yuna.


"Oh gitu ya. Maaf jika aku salah bicara." Ucap Martin.


"Kakak tidak salah kok." Ucap Yuna.


"Jadi aku tidak salah mengatakan kalau suatu saat kita akan punya anak yang jago masak?" Martin mulai menggoda Yuna.


"Kakak..." Yuna merasa sangat malu.


"Iya.. Iya.. Kakak cuman bercanda kok. Tapi kalau boleh kakak serius sih.." Jelas Martin.


"Kita jalani aja dulu kak. Aku takut kita terlalu terburu-buru." Ucap Yuna.


"Baiklah. Aku juga tidak ingin terburu-burumengambil keputusan." Martin menyetujui.


"Kak, Yuna boleh bertanya sesuatu tidak?" Tanya Yuna.


"Boleh, ada apa ?"


"Kenapa selama ini kakak tidak pernah punya pacar? umur kakak kan sudah lumayan matang, dan sudah cocok punya anak." Yuna bertanya.


"Kalau kakak menikah saat umur 25 atau 27, tidak ada kesempatan bagi kita untuk sedekat ini kan. Mungkin ini rencana Tuhan buat kita kali." Jawab Martin memberi sedikit rayuan.


"Kak... Aku serius loh .." Rengek Yuna.


"Baiklah. Biar kakak jelaskan." Martin hendak bercerita, tapi terhenti melihat ekspresi Yuna yang begitu antusias.

__ADS_1


"Ihhhh, kakak... Cepat dong jelasinnya." Pinta Yuna.


"Hahaha. Kamu penasaran bangat ya..?" Tanya Martin.


"Iya kak. Makanya cepat ceritain ke Yuna." Tuna terus meminta Martin menjelaskan.


"Jadi gini, selama ini kakak sangat fokus menjaga Nathalia. Bagi kakak dia satu-satunya perempuan yang harus saya perhatikan dan jaga. Saya tidak pernah berpikir kalau sesudah dewasa Nathalia pastinya akan menemukan pasangan yang akan menggantikan saya untuk menjaganya. Hingga pada akhirnya saya tidak sadar kalau saya juga butuh pendamping. Karena suatu saat ia akan pergi meninggalkanku sendiri." Martin menjelaskan dengan sangat sedih.


"Maaf ya kak, aku tidak bermaksud membuat kakak sedih." Ucap Yuna.


"Tidak apa-apa kok. " Ucap Martin.


"Ya sudah kalau gitu, kakak cari pasangan aja." Yuna memberi usul, maksud hatinya ingin memberi kode.


"Usul kamu bagus juga. Tolong bantuin kakak cariin nya ya..!" Pinta Martin ingin menggoda Yuna.


Mendengar itu Yuna terlihat sedih, padahal maksudnya hanya ingin memberi kode keras. "Harusnya kak Martin kan bilang aja kalau sudah ada aku. ini malah nyuruh aku bantuin nyariin. Nyebelin bangat sih...!" Gerutu Yuna dalam hati.


"Kakak nyebelin..." Seru Yuna dan hendak pergi.


Segera Martin memeluk Yuna dari belakang. Degub jantung mereka beradu cepat. Tapi tubuh mereka seolah nyaman dengan hal itu.


"Jangan marah dong." Pinta Martin.


"Kalau gini caranya , gimana mau marah...?" Gumam Yuna.


"Kamu beneran marah nih sama kakak?" Martin bertanya lagi, karena tidak ada jawaban.


"Tidak kok kak. Yuna tidak marah." Jawab Yuna.


Martin membalikkan tubuh Yuna hingga mereka saling berhadapan. Martin menarik dagu Yuna yang menunduk hingga mereka saling bertatap. Martin tersenyum, dan semakin mendekat ke arah Yuna, sontak Yuna menjadi gugup karena perbuatan Martin. Yuna menutup matanya, membayangkan apa yang akan terjadi. " Kenapa harus capek-capek nyari kalau ada yang istimewa di hadapanku sekarang." Bisik Martin di telinga Yuna.

__ADS_1


Yuna membuka matanya perlahan, wajahnya kini merah merona. " Maksud perkataan kakak apa?" Tanya Yuna.


"Aku akan menunggumu siap menerima aku." Ucap Martin.


Yuna hanya diam dan menunduk menyembunyikan wajahnya. Martin kembali memeluknya, tapi tiba-tiba saja pintu terbuka.


"Selamat sia..." Perkataan orang itu terpotong dengan pemandangan di depannya.


"Maaf pak. Saya permisi dulu.." Ucap orang itu lagi sambil cepat menutup pintu dan pergi. Ia seorang karyawan yang sedang ada keperluan dengan Martin.


"Kak, gimana nih...? Pasti karyawan kantor bakalan heboh nih. Pasti banyak deh yang akan ngomongin aku." Yuna mulai khawatir.


"Tenang saja.. Tidak akan ada yang berani bicara. Mereka tidak akan lebih memilih membicarakan kita daripada pekerjaan mereka." Ucap Martin.


"Maksud kakak?" Yuna tidak paham maksud Martin.


"Jika mereka berani ngomongin kita. Siap-siap dipecat dari sini, aku mempekerjakan mereka bukan untuk membicarakan orang lain, tapi untuk mengembangkan perusahaan ini." Jelas Martin.


"Baiklah kak." Yuna kini merasa lega.


****


Mohon maaf ya , buat kalian yang menunggu update novelku.🙏🙏🙏


Aku baru bisa up sekarang.. 😊😊


Tapi aku janji, akan mengusahakan update setiap hari lagi ya...


Jangan lupa dukungannya.. Biar tambah semangat.. 😊😊


Trimakasih..

__ADS_1


__ADS_2