Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Rencana Baik


__ADS_3

Di sebuah kafe, kini berkumpul orangtua dari Yuna dan Martin, " Kenapa mereka menyuruh kita kesini ya?" Tanya Anita.


" Mungkin ada yang ingin dibicarakan kali ya.." Jawab Tiara.


"Sebaiknya kita tunggu kedatangan mereka, agar kita tahu apa maksud dari pertemuan ini." Usul Roy.


"Saya setuju " Sahut Adrian.


Tidak berselang waktu lama, Martin dan Yuna datang menghampiri mereka. Martin dan Yuna datang dengan bergandengan tangan, dan senyuman bahagia menghiasi wajah mereka.


"Wahhh, ada apa nih? Sepertinya kalian bahagia sekali." Kata Tiara.


"Iya nih, apa ada kabar bahagia?" Tanya Anita.


Martin dan Yuna tersenyum lalu ikut duduk bersama mereka.


"Ma, Pa kami..." Martin mencoba mengatakan sesuatu namun ia terlihat gugup. Melihat Martin yang gugup, Yuna memegang tangannya berharap bisa mengurangi kegugupan yang dialami oleh Martin.


"Ada apa sih? Kenapa kalian jadi gugup gitu?" Tanya Tiara.


"Sebenarnya kami..." Lagi-lagi Martin tidak mampu melanjutkan ucapannya.


"Apa kamu butuh waktu untuk mengatakannya? Biar kita pesan makanan dahulu." Kata Roy.


"Iya, kita nanti bisa kelaparan kalau kalian terus begini. " Tambah Adrian.


Yuna meremas tangan Martin yang sedari tadi ia pegang, agar Martin segera mengatakannya.


" Kami berdua sudah memutuskan untuk menikah.." ucap Martin secepat kilat.

__ADS_1


"Ngomong yang pelan dong, Martin. Jangan buat papa malu." Suruh Adrian.


Martin menarik napas panjang, " Kami berdua sudah memutuskan untuk membawa hubungan kami ke jenjang pernikahan. " Akhirnya Martin mengucapkannya dengan tegas dan jelas.


" Mau bilang itu aja kenapa lama sekali?" Canda Roy membuat semua orang tertawa.


" Papa juga dulu gitu kok." Tiara mengingatkan.


"Ahh, Mama ini. Jangan kasih tahu di depan mereka dong.." Roy malu.


"Saya juga dulu seperti itu, semua orang pasti akan gugup kalau masalah pernikahan. " Tambah Adrian.


"Betul tuh, apalagi ini kan pertama dan terakhir dalam hidup , pastilah kita akan merasa gugup." Timpal Anita.


"Jadi gimana Ma, Pa? " Tanya Yuna.


"Eh iya hampir lupa sama kalian.." Jawab Adrian.


" Dijawab dong anak-anaknya..!" kata Tiara.


"Kami setuju, apa kalian sudah menentukan tanggalnya?" Tanya Adrian.


"Itu yang ingin kami tanyakan pada kalian saat ini." Jawab Martin.


"Hmmm. Baiklah, sebaiknya kita makan dulu baru bahas itu." Usul Roy.


"Apa papa tidak kasihan melihat mereka penasaran? Sebaiknya kita bicara dulu baru deh kita makan. Biar mereka merasa lega.." Usul Tiara.


"Saya setuju dengan Jeng Bu Tiara." Kata Anita.

__ADS_1


"Baiklah, silakan berikan pendapat kalian" Ucap Roy.


"Menurut saya sih, kalau bisa secepatnya saja. Saya sudah sangat ingin menimang cucu." Jawab Adrian membuat Tiara dan Martin merasa malu.


“Sebaiknya cepat diputuskan, kalian malah menggoda anak-anak “ sahut Anita.


“ Bukannya menggoda Jeng, itu kan memang keinginan kita. Apalagi Martin, di usianya yang sudah tua kan sudah pantas punya anak.” Kata Tiara.


“Mama... Jangan bahas umur dong.” Kata Martin.


“Mereka sudah menunggu jawaban kita loh..” Kata Roy.


“Hmmm. Baiklah, kalau menurut saya sih minggu depan aja.” Usul Adrian.


“Apa itu tidak terlalu cepat, kan banyak persiapan yang harus dilakukan.” Sahut Anita.


“Jika kita merencanakan suatu hal yang baik dan Tuhan juga menghendakinya, pasti semua akan berjalan lancar meski waktunya hanya sedikit.” Kata Roy.


“Baiklah, berarti keputusannya minggu depan kan?” Tanya Anita memastikan.


“Jika semua sudah setuju, lebih cepat lebih baik.” Kata Roy.


“Baiklah, itu keputusan dari kami. Gimana, apa kalian setuju?” Tanya Tiara.


“Kami setuju Ma, iya kan?” Kata Martin.


“Iya. Kami setuju.” Jawab Yuna.


“Berarti sekarang sudah bisa dong pesan makanan.” Kata Roy.

__ADS_1


“Boleh, mari lihat menunya, biar kita pesan” Jawab Adrian.


Akhirnya mereka makan malam bersama setelah memutuskan sebuah rencana indah. Semoga rencana mereka berjalan dengan lancar.


__ADS_2