Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja

Kepala Sekolah Kesayangan Gadis Manja
Bekal Makan Siang


__ADS_3

"Pagi Ma..." Martin menyapa Tiara yang sudah duduk untuk sarapan bersama.


"Pagi sayang... Lagi nyiapin apa sih?" Tanya Tiara yang melihat Martin sedang asik sendiri.


"Lagi buatin bekal Ma." Ucap Martin.


"Apa?? Sejak kapan anak Mama bawa bekal.?" Tiara terkejut karena untuk pertama kalinya Martin membawa bekal.


"Sejak hari ini Ma. Kan buatan sendiri.." Martin memberi usul.


"Pagi Ma, Martin." Roy yang baru datang langsung menyapa.


"Pagi Pa." Balas Martin dan Tiara bersamaan.


"Ini lagi ngomongin apa sih kalian?" Roy bertanya.


"Ini lo Pah, si Martin tiba-tiba mau bawa bekal. "Ucap Tiara.


"Oh ya...? Buat siapa?" Tanya Tiara.


"Buat aku lah Pa." Sahut Martin.


"Buat kamu atau buat Yuna?" Roy menggoda anaknya.


"Sudah hampir terlambat, kita sarapan yuk." Martin mengalihkan pembicaraan.


Roy dan Tiara hanya tersenyum melihat anak mereka yang baru jatuh cinta setelah berumur 30 tahun.


****


Dengan penuh semangat Martin pergi ke kantor, ia memasuki ruangannya. Bekal yang dia bawa , ia simpan di ruangan pribadinya, dan pergi untuk menemui klien nya.


Yuna yang juga membawa bekal terlihat sangat ceria. Ia mengintip ke ruangan Martin, tidak ada orang disana." Pak Martin pasti sudah pergi, aku letakkan dimana ya?" Gumam Yuna yang membawa bekal di tangannya.


Ia akhirnya meletakkannya di meja kerja Martin, dan keluar menuju ruangannya.


Setelah tiba waktu untuk makan siang, Martin kembali ke ruangannya. Ia mendapat notifikasi pesan.


" Kak Martin, Yuna bawain bekal dan Yuna taruh di meja kerja kakak." Osi dari pesan tersebut.

__ADS_1


Martin tersenyum dan mulai mengetik balasannya.


Martin


Bekal apa? Aku tidak lihat.


Yuna


Masa sih kak? Tadi aku taruh disitu kok.


Martin


Kalau tidak percaya lihat saja sendiri.


Yuna


Baik kak. Aku akan datang untuk memeriksanya.


Martin


Baiklah.


Yuna yang merasa kebingungan mengingat-ngingat dimana ia meletakkannya. " Aku yakin menaruhnya disana" Gumam Yuna dan melangkah pergi untuk memastikan.


"Kakak... Kenapa bohong sama Yuna?" Yuna mengomel.


"Berbohong gimana?"Martin mengernyit.


"Katanya bekalnya tidak ada. Trus itu apa kak?" Yuna menunjuk bekal yang ia bawa.


"Ohhh, jadi ini bekal yang kamu maksud." Martin tersenyum.


"Hmmm" Yuna membuat wajah kecut.


"Baiklah, bawa ke ruangan pribadiku, aku juga punya sesuatu untukmu." Ucap Martin.


"Apa kak?" Yuna penasaran.


Ikuti saja." Martin berjalan menuju ruangan pribadinya.

__ADS_1


Ia menyuruh Yuna untuk duduk, dan mengambil bekal yang telah ia siapkan tadi. Ia membawanya ke tempat Yuna duduk.


"Aku juga bawa bekal untukmu. " Ucap Martin.


Yuna merasa sangat bahagia, ia tersenyum malu. " Trimakasih kak." Ucap Yuna.


"Baiklah. Mari kita makan." Ajak Martin.


Yuna mematuhinya, dan mulai membuka bekal yang diberikan oleh Martin.


" Wah kelihatannya enak. Ini siapa yang masak kak?" Tanya Yuna.


"Aku lah." Ucap Martin.


"Beneran kak. " Yuna kurang yakin.


"Iya. Cobain dulu, masakan kakak enak atau tidak." Ucap Martin.


"Baik kak." Yuna mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Gimana?" Martin penasaran dengan pendapat Yuna.


"Enak kak." Ucap Yuna.


"Benarkah? Sekarang giliran masakan kamu yang akan kakak nilai." Ucap Martin.


"Silakan kak." Yuna mempersilakan.


Martin mulai mencobanya ia seperti meresapi rasa makanan tersebut. "Mmmm.." Martin bergumam membuat Yuna penasaran dengan jawaban Martin.


" Masakan kamu enak sekali." Martin memuji.


"Trimakasih kak." Ucap Yuna.


"Oh iya, kalau masakan kita sama-sama enak, berarti anak kita nanti bakalan jago masak dong. " Martin keceplosan.


"Maksud kakak.?" Yuna merasa sangat gugup sekarang.


"Maaf. Terbawa suasana." Ucap Martin dan kembali menikmati makanannya.

__ADS_1


Mereka melanjutkan makan siangnya tanpa ada salah satu dari mereka yang membuka suara. Suasana seketika hening karena ucapan Martin.


****


__ADS_2