
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya Bu Erna dan Bima tiba. Wajah Bu Erna terlihat panik saat baru sampai, ia langsung ingin menemui Putri. Namun, Lisa menghentikannya karena Putri masih tidur. Bu Erna dan Bima memilih untuk duduk di ruang tamu untuk membahas masalah Putri.
Dan bagai mana solusi yang,terbaik untuk Putri kedepannya.Bu Erna dana lainya sudah duduk di ruangan tamu,Budi yang baru keluar kamar madi pun bergabung dengan yang lain.
"Bagaimana perjalanannya mbak, lancar?" tanya Budi memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar,Bud" jawab Bu Erna.
"Kita langsung bahas masalah Putri Mbak, apa yang harus kita lakukan dengan apa yang menimpa Putri mbak?" tanya Budi.
"Huff... Mbak bingung Bud,Mbak tidak tahu harus melakukan apa," ucap Bu Erna dengan nafas panjang.
"Menurut saya, pria yang menghamili Putri harus bertanggung jawab mbak" saran Lisa.
"Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lisa mbak, bagaimanapun juga Putri sedang mengandung anaknya," ucap Budi.
"Mbak juga maunya gitu Bud, tapi..." ucap Bu Erna terputus.
__ADS_1
"Tapi apa, mbak?" tanya Budi penasaran.
"Tapi Putri tidak mau bertemu dengannya, dia sudah terlanjur kecewa sama nak Rehan" ucap Bu Erna.
Putri yang baru saja bangun, mendengar suara ibunya dari arah luar. Ia melangkah menuju ruang tamu dan melihat ada Bu Erna dan adiknya Bima di sana. Sontak, Putri langsung lari menghambur ke pelukan ibunya sambil menangis.
Putri merasa bersalah dengan ibunya karena tidak bisa menjaga kehormatannya. Hatinya hancur saat ini. "Maafkan Putri, maaf," ucap Putri dengan bibir bergetar.
Tak terasa air mata Bu Erna menetes dan membasahi pipinya. Ia sangat kasihan dengan anak perempuannya. Bu Erna tidak tega melihat anak kesayangannya terluka.
"Putri... sudah mengecewakan ibu," ucap Bu Erna histeris.
"Putri takut, Bu Putri tidak tahu harus melakukan apa," sambil masih dalam pelukan ibunya.
Bu Erna menarik nafas berata"Kemarin, Nak Rehan datang ke rumah dan ingin bertanggung jawab. Apakah kamu mau menerimanya?" ucap Bu Erna dengan nada lembut.
Putri langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak mau bertemu dengan Rehan. Hatinya masih sangat sakit saat mengingat kejadian di hotel.
__ADS_1
"Tidak Bu, Putri tidak mau" ucap Putri menolak.
"Put, kamu jangan egois. Kamu harus memikirkan masa depan anak yang ada dalam kandungan kamu," ucap Lisa.
"Tapi mbak, Putri masih kecewa dengan Pak Rehan. Putri tidak mau bertemu dulu," ucap Putri.
"Tolong hargai keputusan Putri.Putri akan membesarkan anak yang sendang Putri kandung dengan sendiri" ucap Putri dengan air mata mengalir tanpa izin.
"Apa kamu yakin, Nak?" tanya Bu Erna memastikan.
"Ya Bu, Putri yakin," ucap Putri dengan percaya diri.
Bu Erna melirik ke arah Budi, Lisa, dan Bima. Ia ingin meminta pendapat dari mereka bertiga. Mereka bertiga menganggukan kepala tanda setuju.
Sebenarnya, di hati mereka tidak setuju, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Mungkin seiring berjalannya waktu, Putri akan berubah pikiran.Karena ia masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka hatinya.
Malam pun tiba,Bima dan Bu Erna menginap karena mereka tidak mungkin pulang. Bu Erna berinisiatif untuk tinggal beberapa hari, sedangkan Bima harus kembali besok karena ia ada ujian sekolah.Mau tidak mau dia harus pulang, sebenarnya ia masih ingin berada di dua orang yang ia sayangi.
__ADS_1
Semua orang telah memasuki alam mimpi masing-masing. Putri tidur dengan Bu Erna sementara Bima tidur di kamar yang lain. Kebetulan rumah milik Budi memiliki empat kamar dengan ukuran sedang.