
Hari ini hari terakhir bagi Risa,menemui Putri.Sebenarnya Risa sangat berat untuk meningkatkan Putri sendirian,tapi mau gimana lagi ini demi kebaikan Putri.
Putri juga merasa sedih,Risa akan kembali ke Jakarta.Padahal ia ingin lebih lama lagi,Risa tinggal di sini tapi saat mendengar penjelasan Risa.Putri memaklumi dengan alasan dan keputusan Risa.
Ia juga belom siap untuk bertemu Rehan, Putri juga beberapa kali menanyakan keadaan Rehan ke Risa.Jujur saja dihati Putri masih ada Rehan,dan ia kangen dengan Rehan ia harap rasa kekecewaan ini akan hilang dengan rasa sayang ia ke Rshan.
" Put,aku pulang dulu ya " Ucap Risa memeluk Putri
" Apa harus pulang sekarang" Ucap Putri dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Iya Put,aku harus pulang sekarang.kalau tidak nanti kak Rehan bisa curiga " Ucap Risa
" Ya sudah kamu hati-hati, sering-sering telfon aku yah " Ucap Putri meneteskan air mata
" Iya aku janji,udah sangat nangis aku gak mau lihat kamu nangis.Nanti keponakan aku ikutan nangis " Ucap Risa mengelus perut Putri
" Baik-baik di perut momy Bu yah,jangan nakal.Aunty pasti akan menemui kamu lagi " Ucap Risa
" Baik aunty " Ucap Putri menirukan suara anak kecil
" Gak sabar, nungguin dia lahir " Ucap Risa
" Sabar Ris,baru aja tiga bulan masih perlu nunggu enam bulan lagi " Ucap Putri
" Hehehe iya " Ucap Risa
__ADS_1
Risa berpamitan dengan Putri,Budi dan Lisa.Risa sangat senang bisa mengenal keluarga Putri,Risa juga nyaman tinggal di rumah Budi meskipun rumah itu tidak sebesar dan semewah rumah milik Rehan.
Selama Risa tinggal di sana,Risa mendapatkan kehangatan sebuah keluarga.Bukanya Risa tidak memiliki keluarga atau pun orang tua,kedua orang tua Risa sibuk dengan bisnis mereka masing-masing jadi jarang sekali untuk sekedar kumpul atau pun makan bersama.
Risa sampai di ibu kota jam tuju malam,ia pulang ke apartemen sementara Risa akan tinggal di sana.Bisa ditebak Rehan masih sibuk dengan pekerjaannya,kadang ia ditegur oleh Tio karena terlalu memaksakan diri.Tio juga mendapatkan dampak dari ulah Rehan,ia jarang pulang ke apartemen tidur hanya dua sampai tiga sama sehari.
" Nona Risa sudah di apartemen Tuan " Ucap Tio
" Sejak kapan " Tanya Rehan
" Pukul tuku nona Risa kembali ke apartemen" Ucap Tio
" Apa kamu tau,dari mana Risa selama tiga hari ini " Tanya Rehan
" Sepertinya nona Risa habis keluar kota tuan " Ucap Tio
" Kurang tau tuan " Ucap Tio
" Bulan depan Bram akan ke Indonesia,dia akan membantu kita untuk mencari keberadaan Putri " Ucap Rehan
" Baik tuan,saya masih berusaha untuk mencari keberadaan Nona Putri " Ucap Tio
" Hemm,besok apa jadwal saya " Tanya Rehan
" Besok ada pertemuan dengan kolagen dari Singapura,jam dua " Ucap Tio
__ADS_1
" Baiklah,kau boleh pergi aku mau istirahat " Ucap Rehan
" Baik Tuan " Ucap Tio pergi dari ruangn Rehan
kau dimana,aku sudah mencari mu selama empat bulan tapi tidak bisa menemukan mu.Apa kau tidak merindukan ku" Guman Rehan sudut matanya mengeluarkan cairan bening
Rehan tertidur karena kelelahan,jam satu Tio masuk ke ruangan Rehan dan akan membangunkan Rehan.Tapi tidak melihat Rehan di tempat tidur,tapi Tio mendengar suara orang muntah dari kamar mandi.
" Tuan apa baik-baik saja " Ucap Tio dari depan pintu
uwek..uwek..uwekk
Rehan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas,bahkan ia akan jatuh untung ada Tio.
" Kamu kenapa Re " Tanya Tio memapah Rehan ke ranjang
" Aku juga tidak tau,sudah tiga Minggu aku merasakan mual " Ucap Rehan yang sudah duduk di tepi Ranjang
" Aku akan memanggil dokter,untuk mengecek kesehatan mu " Ucap Tio
" Tidak usah,nanti juga akan hilang sendiri rasa mualnya " Ucap Rehan
" Tapi kamu sudah mengalami selama tiga Minggu,aku takut terjadi sesuatu" Ucap Tio yang khawatir dengan keadaan Bos nya sekaligus sahabatnya
" Terserah" Ucap Rehan pasrah
__ADS_1
Tio menelfon dokter pribadi untuk mengecak keadaan Rehan,yaitu dokter Ana yang sudah dipercaya untuk mengobati keluarga Rehan.Satu jam sudah akhirnya Dokter Ana sampai di perusahaan,dan ia langsung mengecek ke adaan Rehan menyeluruh.
Tio yang setia mendampingi Rehan dikeadaan apapun,ia selalu di samping Rehan.Karena Tio sudah menganggap Rehan seperti saudaranya.