
Keesokan harinya, Michie bangun lebih pagi karena ia sudah berjanji dengan kedua sahabatnya untuk jogging di taman kota.
Jersey abu lengan pendek yang dipadukan dengan Training dengan warna yang senada sudah melekat di tubuh Michie. Kali ini ini mengikat rambutnya tinggi ke atas dan disematkan dalam lobang topi pet yang ia kenakan.
Tak lupa ia membawa tas kecil untuk menyimpan ponsel dan uangnya. Setelah itu ia pun langsung keluar dan menuruni anak tangga.
"Morning, Cantik," sapa Mom Lili yang siap untuk berangkat senam pagi.
"Morning Mom," balas Michie yang langsung mengecup pipi Mommynya.
"Mau kemana sayang, udah cantik begini?" tanya Mom Lili.
"Mau jogging di taman kota bareng Cika sama Tifa, Mom. Michie duluan yaa," ucap Michie sambil melambaikan tangannya ke arah Mom Lili.
Michie pun langsung mengendarai mobilnya menuju ke taman kota, sesampainya di sana, tampak Cika dan Tifa sudah menunggunya di dekat pintu masuk.
"Udah nunggu lama ya? Tanya Michie.
"Kita juga baru sampe kok, kebetulan Tian lagi sama neneknya, jadi aku bebas deh," tukas Tifa yang amemang ingin menghabiskan akhir pekan ini bersama dengan sahabatnya.
Tanpa banyak bicara, mereka pun langsung mulai berlari mengitari taman kota. Putaran pertama ketiganya berlari dengan beriringan.
Putaran ke dua, Tifa yang mulai kehabisan nafas pun memilih untuk duduk dan meluruskan kakinya.
Putaran ke tiga, Cika memilih menemani Tifa meluruskan kakinya dari pada mengikuti Michie yang masih ingin berlari satu putaran lagi.
"Aku lari satu putaran lagi ya, habis itu kita cari sarapan," ucap Michie yang langsung diangguki oleh kedua sahabatnya.
Michie menyeka keringatnya dan kembali berlari lagi. Namun baru setengah putaran, tiba-tiba ada yang mengiringi langkah Michie di sampingnya.
"Hai Michie, apa kabar?" sapa pria yang saat ini mengiringi Michie.
Michie pun menoleh tanpa menghentikan langkahnya. Betapa terkejutnya Michie saat mendapati Fredy kini ada di hadapannya. Terlebih saat ini ia tidak bersama dengan kedua sahabatnya.
Meskipun begitu, Michie dengan santai menjawab sapaan Fredy.
"Aku baik," jawab Michie yang kemudian langsung mengacuhkan Fredy.
Namun bukan Fredy namanya jika dia kalah begitu saja dengan Michie. Ia pun dengan berani menari tangan Michie agar menghentikan larinya.
"Tunggu Michie!" tahan Fredy. "Bisa kita bicara berdua?"
Michie menepis tangan Fredy dan kembali menyeka keringatnya. "Aku tidak punya banyak waktu, Fredy."
"Sebentar saja," pinta Fredy yang tidak lepas memandang kecantikan Michie.
"Katakan saja disini apa yang ingin kau bicarakan!" tukas Michie.
"Perasaanku terhadapmu sejak pertama kali kita bertemu belum berubah Michie. Aku masih sangat mencintaimu dan menginginkan mu menjadi istriku," ucap Fredy to the point.
__ADS_1
Michie menghela nafasnya pelan, "Dan jawabanku masih sama seperti yang dulu, Fredy. Aku tidak bisa membalas perasaanmu terlebih menjadi istrimu. Masih banyak wanita di luar sana yang bisa kau jadikan istri, dan tentunya bukan aku."
Michie tersenyum dan langsung kembali berlari meninggalkan Fredy. Sayangnya dengan cepat Fredy mengejar Michie dan kembali mengiringinya.
"Jika alasannya adalah Daddy yang menikah dengan mamaku, aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan orang tuaku Michie!" ucap Fredy.
"Permasalahannya bukan hanya itu,."
"Lalu apa?"
"Aku sudah melabuhkan hatiku pada seseorang dan dua bulan lagi kami akan menikah."
Deg!
Jawaban Michie kali ini membuat Fredy sangat kecewa.
"Bagaimana jika aku tidak percaya?" balas Fredy. "Aku sangat paham dengan karakter mu, Michie. Bahkan 5 tahun yang lalu kamu juga sudah terbukti berbohong demi memenangkan pertaruhan denganku."
"Jika tidak percaya, beberapa hari lagi aku akan mengirimkan undangannya kepadamu," ucap Michie membuat Fredy hampir saja pupus harapan.
"Kenapa kau tidak memberi kabar Daddy jika kau akan menikah?"
"Bukankah seharusnya kau berkunjung ke rumah Daddy untuk meminta restu? Terlebih nantinya kau tidak akan bisa memikat tanpa restu dari Daddy."
Ucapan Fredy kali ini berhasil menghentikan langkah Michie. "Sayangnya Daddy aku udah mati sejak aku masih sangat kecil," jelas Michie yang kemudian kembali berlari dan kali ini ia menambah kecepatannya agar tidak terkejar oleh Fredy.
"Cika, Tifa!" teriak Michie membuat kedua sahabatnya langsung berdiri.
Sesampainya di mobil, Michie segar mengemudikan mobilnya dan membuat Fredy tidak lagi mengejarnya.
"Kenapa sih Michie? Buru-buru banget kelihatannya?" tanya Cika sedikit khawatir.
"Fredy..." Michie mengatur nafasnya yang ngos-ngosan seperti baru saja dikejar anj!ng.
"Dia ikutin aku!"
"Hadeuh, gila ya tuh bocah. Masih aja ngejar-ngejar Michie!" timpal Tifa geram.
"Iya bener banget! Untung aja Michie sebentar Lagi mau nikah sama Rein," lanjut Cika.
Sesampainya di rumah makan sederhana, Michie pun menepikan mobilnya. "Kita sarapan di sini ya, aku udah laper banget nih," ucap Michie yang langsung diangguki oleh kedua sahabatnya.
☘️☘️☘️
Jika tadi Michie bertemu dengan Fredy, kali ini sialnya ia juga bertemu dengan Daddy Eden Hag yang tampak sangat mesra bergandengan dengan Muna, Mama Fredy.
"Michie!" panggil Daddy Eden dengan mata yang berbinar.
Sekian lama tidak berjumpa dengan Putrinya, membuat Daddy Michie sangat senang di pertemuan lagi di rumah makan ini.
__ADS_1
Sedangkan Michie seketika kehilangan selera makannya saat melihat daddynya datang bersama dengan Mama Fredy yang bernama Muna itu.
Terlebih saat Daddynya memutuskan untuk makan satu meja bersama dengan Michie dan kedua sahabatnya itu.
"Daddy boleh kan duduk di sini? Untuk makanannya nanti biar Daddy yang bayar," ucap Daddy Eden.
Sayangnya ucapan Daddynya kali ini sama sekali tidak diindahkan oleh Michie.
"Kamu apa kabar, Michie? Daddy bangga mendengar keberhasilan studimu di London."
Michie yang kini hanya memainkan nasi di piringnya tanpa memasukkan nya ke dalam mulut pun hanya menjawab pertanyaan singkat dari daddynya.
"Aku baik!" jawab Michie datar tanpa memandang ke arah Daddynya sama sekali.
"Daddy sangat merindukanmu, Michie! Datanglah berkunjung ke rumah Daddy," pinta Daddy Eden.
"Kamu juga memiliki hak di Mansion itu."
"Benar, Michie. Datanglah ke Mansion kami. Mama pasti akan sangat senang jika kamu datang berkunjung, terlebih dengan Fredy," timpal Muna yang sangat paham jika sedari dulu putranya sangat mencintai Michie.
"Maaf, tapi waktu saya tidak banyak." ucap Michie yang langsung meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.
Melihat Michie sudah siap untuk meninggalkan tempat, Cika dan Tifa cepat-cepat menyudahi sarapannya dan bersiap-siap menngikuti Michie.
"Terima kasih sudah mau membayar sarapan kami pagi ini, kami duluan ya!" pamit Michie tanpa memandang sedikit pun ke arah daddynya.
"Kenapa gak dihabiskan sarapannya Michie?" tanya Muna sendu.
"Sudah kenyang, tante," balas Michie yang segera beranjak pergi.
☘️☘️☘️
Tolong banget kasih supportnyaa ke Author yang positif ya, jangan malahan menjatuhkan mental Author. Jika memang tidak berkenan memberikan bintang 5, jangan rate bintang 1. 😭
Jika kita menghargai kerja keras orang lain, maka kita juga akan dihargai orang lain.
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
__ADS_1
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.