
Rein pun langsung membuka kembali kemeja yang ia kenakan dan melemparkan sembarangan. Kali ini Michie sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menolak Rein yang sudah berada di sampingnya.
Rein terus saja memandangi istrinya tanpa berkedip sambil mengusap wajah Michie perlahan.
“Katakan padaku, apa yang membuatmu secantik ini Michie?” tanya Rein dengan telunjuknya yang mengabsen wajah Michie.
Michie tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Rein. “Aku sama sekali tidak cantik Rein, matamu saja yang bermasalah saat melihatku!” sanggah Michie.
“Oh ya?” tanya Rein yang semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Michie.
“Lalu, katakan padaku, apa alasanmu mencintaiku?”
Kali ini Michie mulai berani mendekatkan wajahnya ke telinga Rein dan mulai berbisik, “Karena kau adalah lelaki yang payah!”
Mendengar jawaban Michie yang sangat di luar dugaannya membuat Rein semakin gemas dengan istrinya. “Aku akan membuktikannya, Michie!”
“Kali ini kau akan kubuat kepayahan melayaniku!” ucap Rein yang kini sudah berada di atas Michie.
“Haah?!” pekik Michie yang sudah tidak bisa mengelak lagi dari serangan Rein yang semakin memabukkan untuknya.
Lembut tapi justru membuat Michie sangat kewalahan karena Rein terus membuatnya mabuk kepayang. Sentuhan Rein kini membuat Michie sangat ketagihan, terlebih dengan permainan bibir Rein yang mampu membuat de5ah4n Michie memenuhi ruangan.
“Istriku benar-benar memabukkan!” ucap Rein di akhir pelepasan mereka.
Rein pun langsung merebahkan dirinya di samping Michie yang tampak kelelahan.
“Once more, Michie!” pinta Rein yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Michie.
“Cukup, Rein!” tolak Michie. “Kau harus segera kembali bekerja!”
“Ck, aku akan kembali bekerja setelah yang kedua, Michie!” pinta Rein.
Kali ini Michie tidak mengindahkan permintaan Rein. Ia pun berbalik membelakangi Rein dan menyembunyikan dirinya di balik selimut.
Bukan Rein namanya jika ia menyerah begitu saja dengan penolakan Michie. Rein pun menyusupkan tangannya di balik selimut dan mulai mer4b4 titik sensitif Michie yang saat ini menjadi kesenangannya.
“I want more, Michie!” bisik Rein sambil terus melumpuhkan pertahanan Michie.
Akhirnya Michie yang sudah tidak sanggup menahan de54h4nnya pun mau tidak mau harus menghadapi serangan Rein untuk yang kedua kalinya.
Sayangnya kali ini Rein tidak menepati janjinya. Setelah yang kedua, Rein masih menagih untuk yang ketiga kalinya sampai Michie mengibarkan bendera putih karena ia benar-benar sudah sangat lelah.
Cup!
Rein mendaratkan kecupannya di kening Michie.
“Istirahatlah! Aku akan membangunkanmu setelah selesai mengecek dan menandatangani berkas!” bisik Rein yang hanya dijawab dengan deheman oleh Michie.
☘️☘️☘️
Rein pun langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia pun kembali ke ruang kerjanya dan mengecek berkas yang harus ia tanda tangani.
Arel yang sangat memahami bosnya pun hanya bisa pasrah jika harus lembur malam ini. Terlebih Rein baru keluar dari kamar pribadinya satu jam setelah jam kepulangan kantor.
Tepat pukul 7 malam, Rein selesai mengecek berkas yang ada di meja kerjanya dan segera memanggil Arel untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
“Arel, bisa ke ruanganku sekarang?” pinta Rein.
“Siap, Mister!”
Arel pun segera masuk ke dalam ruangan Rein.
“Berkasnya sudah aku tanda tangani. Kau bisa pulang lebih dulu, Arel. Tapi sebelumnya aku minta tolong pesankan makan malam untukku dan Michie!” pinta Rein.
“Baik Mister!” jawab Arel yang segera memesankan makan malam yang biasa Rein pesan jika lembur malam.
“Oh iya, Mister. Segala keperluan untuk lamaran Risa sudah saya persiapkan bersama Andi. Besok kita semua akan mulai berkumpul di Mansion jam 4 sore!” ucap Arel memberikan laporan.
“Kerja bagus, Arel! Aku akan segera mengirimkan bonus khusus untuk kalian berdua!” balas Rein.
“Terima kasih banyak Mister. Makan malam Anda akan tiba sekitar 15 menit lagi.”
“Oke, kau bisa pulang, Arel.”
Arel pun langsung undur diri dari hadapan Rein. Tak berapa lama setelah Arel pulang, satpam perusahaan pun datang untuk membawakan makan malam pesanan Rein ke ruangannya.
***
Di sisi lain, Risa yang baru saja pulang dari rumah sakit pun langsung merasa sangat gembira saat mendengar cerita dari kakaknya, Rima.
“Jadi pernikahan aku nantinya akan sah dalam hukum negara kak?” tanya Risa sedikit tidak percaya dengan cerita kakaknya barusan.
“Yap, tepat sekali. Tapi kakak mohon sama kamu, jadilah istri yang baik dan jangan banyak menuntut pada Rein.”
“Kenapa?”
“Tenang saja kak, aku yakin jika aku tidak akan menjadi seorang janda secepat itu!”timpal Risa dengan penuh percaya diri.
“Risa memang tidak akan menjadi janda, tapi kakaknya sebentar lagi akan menjadi seorang janda!” ucap Dira yang tiba-tiba datang dari belakang mereka.
Ucapan Dira barusan membuat Rima dan juga Risa sangat terkejut.
“Apa maksudmu, sayang?” tanya Rima dengan nada suara yang mulai bergetar.
Dira menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Aku sangat kecewa dengan keputusan kalian berdua!”
“Rein, adalah sahabat terbaikku, dan aku tidak mungkin menjadi orang yang akan membuatnya sakit.”
“Bahkan aku juga tidak ingin hubungan persahabatanku dengan Rein hancur begitu saja hanya karena hal gila yang kalian berdua lakukan!” ucap Dira dengan lantang.
“Malam ini, aku menceraikanmu, Rima!”
Deg!
Ucapan Dira barusan membuat Rima sangat shock.
“Dan aku akan segera mengurus surat perceraian kita di pengadilan!”
Air mata Rima langsung jatuh membasahi pipinya. “Aku tidak mau bercerai denganmu, sayang!” Rima langsung menghambur dan bersimpuh di kaki Dira.
__ADS_1
“Aku mohon, jangan ceraikan aku!” ratap Rima yang terdengar begitu memilukan.
Sayangnya ratapan Rima kali ini sama sekali tidak membuat Dira iba sedikit pun. Bukan tanpa alasan Dira menceraikan Rima. Selama ini, Rein dan keluarga besarnya lah yang membantu Dira menjadi fotografer professional.
Sejak kematian ayahnya, Dira yang merupakan anak dari asisten rumah tangga Keluarga Finn pun langsung ditanggung kehidupannya secara penuh oleh Papa Finn. Mulai dari sekolah sampai semua keperluan Dira.
Bahkan Papa Finn juga tidak memaksanya untuk membantu di perusahaan dan mempersilakan Dira untuk memilih pekerjaan yang disenanginya sebagai fotografer. Kali ini adalah saat yang tepat untuk Dira membalas budi kebaikan keluarga Rein padanya.
“Kakak gak perlu menangisi kepergian Bang Dira! Kakak masih bisa mencari pria lain untuk jadi suami kakak!” ucap Risa sambil menarik tangan kakaknya yang sedang memegang kaki Dira.
“Risa!” bentak Rima sambil mengibaskan tangan adiknya.
“Bisa gak kamu gak ikut dengan urusan kakak kali ini?!” tanya Rima dengan geram.
Gertakan Rima kali ini membuat Risa sangat terkejut.
“Sekarang kakak tinggal pilih salah satu, aku atau Bang Dira?!” tanya Risa membuat Rima kini benar-benar sangat dilema.
🌹🌹🌹
Yuuuk, tinggalkan jejak kalian semua yaaa. Like dan komentar kalian adalah semangat Author 😍😍😍
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
__ADS_1