
Kini posisi mereka berdua terlihat seperti Rein sedang memeluk Michie.
Aroma maskulin Rein membuat Michie mulai tidak fokus, terlebih saat Rein menggenggam tangannya dengan sangat lembut sambil menggerakkan kursor di macbook Michie yang mengarah di kurva.
"Ini adalah kurva permintaan barang yang sangat ramai di pasaran. Karena permintaan model perhiasan sangat banyak, jadi kurvanya dibuat seperti ini," jelas Rein.
"Kalau kurva yang ada di bawahnya," Rein mengarahkan kursor nya sambil melirik ke arah Michie yang saat ini begitu dekat dengannya.
"Ini adalah kurva penawaran barang yang dibuat oleh perusahaan Mrs. Lili dan tentunya dengan penawaran seperti ini, membuat Lichi Group meraup keuntungan yang besar."
Bukannya memperhatikan ke layar macbook dan mendengarkan penjelasan Rein, Michie justru menikmati aroma tubuh Rein yang entah mengapa membuatnya sangat nyaman.
"Apa kau sudah paham, Michie?" tanya Rein membuyarkan lamunan Michie.
Michie pun cepat-cepat membuang wajahnya dan melepaskan tangannya yang masih di genggam oleh Rein.
"Emm, aku ke toilet dulu," ucap Michie yang langsung berdiri dan terlihat salah tingkah.
Rein pun tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya karena gemas melihat Michie yang salah tingkah.
'Meski usianya kini sudah hampir seperempat abad, ia masih terlihat sangat menggemaskan,' gumam Rein dalam hati.
Sedangkan Michie saat ini sedang mencuci wajahnya yang sedikit memerah dan terasa panas di wastafel kamar mandi.
"Huh! Kenapa aku malah jadi kayak orang be9o gini sih!" gerutu Michie kesal yang entah kenapa hatinya sangat bergemuruh saat Rein mengikis jarak terhadapnya.
Jika 5 tahun belakangan ini ia memendam kebencian yang begitu mendalam terhadap sosok Rein yang dikenalnya sebagai Ardy, tapi kebencian itu kini seolah sirna begitu saja ketika Michie mengetahui jika Rein sama sekali tidak merenggut kesuciannya.
Michie menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kali ini aku harus tetap bersikap tegas di depan Rein!"
"Bukankah aku juga akan menjadi CEO? Jadi untuk apa aku harus tunduk di hadapannya!" tekad Michie yang kemudian melirik jam yang ada di tangannya.
"Sudah jam istirahat, sebaiknya kali ini aku pergi ke kantin untuk makan siang."
Michie pun merapikan penampilannya dan bergegas keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia melihat ke arah meja yang ada di ruangan Rein, tampak disajikan makan siang untuk 2 orang.
Tidak hanya itu, Rein yang sudah duduk di sofa pun melambaikan tangannya ke arah Michie dan memintanya untuk duduk di samping Rein.
"Duduklah di sini Michie!" pinta Rein sambil menepuk sofa yang ada di sampingnya. "Aku sudah memesankan makan siang untuk kita."
__ADS_1
Michie pun memutar bola matanya malas, "Aku ingin makan siang di kantin," jawab Michie sambil melewati Rein begitu saja.
"Baiklah!"
"Jika begitu jangan pernah salahkan aku jika nantinya kau masih belum bisa memegang perusahaan satu bulan yang akan datang. Karena kau masih harus berada di ruanganku untuk mempelajari perusahaan yang akan kau pimpin!" ancam Rein membuat Michie mendengus kesal.
"Sebenarnya apa yang kamu mau dari aku?!" tanya Michie dengan nada yang ketus.
"Belajarlah dengan cepat agar kau bisa kembali ke ruangan yang memang sudah disiapkan untukmu!" balas Rein yang terdengar begitu menginginkan Michie segera pindah dari ruangannya.
Jawaban Rein kali ini membuat Michie berbalik dan duduk di samping Rein. "Aku akan secepatnya belajar dan memahami semua yang berkaitan dengan perusahaan yang akan aku pimpin. Setelah itu aku akan pergi dari ruanganmu!" sarkas Michie
'Hemm, ancamanku kali ini berhasil membuatmu makan siang bersamaku, Michie!' batin Rein bersorak gembira karena ia mulai paham bagaimana membuat Michie untuk dapat duduk bersamanya.
☘️☘️☘️
Selama makan siang, keduanya saling diam namun masing-masing dari mereka saling memperhatikan.
Michie diam - diam mencuri pandang ke arah Rein yang sedang menikmati makan siangnya. Alis Rein yang sedikit tebal, bulu matanya yang panjang dan kornea matanya yang berwarna coklat membuat Sorot tajam Rein begitu mengena di hati Michie.
Tidak hanya itu, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tampak kokoh dan bibirnya yang pernah menjelajah milik Michie juga membuatnya tampak sangat tampan dan sempurna.
'Ya Ampun, ngapain coba pake acara ngabsen wajah orang gila ini!' batin Michie yang mulai sadar jika sedari tadi ia mengamati Rein secara intens.
Michie hanya diam saja dan segera menghabiskan sisa makanannya. Setelah itu, ia pun langsung duduk di samping Rein.
Saat dirinya baru saja duduk, tiba-tiba Rein bergerak mendekat ke arahnya dan Michie pun cepat-cepat mendorong kursi Rein.
"Mau ngapain sih?! Jangan deket-deket deh!" gertak Michie yang sebenarnya jantungnya mulai berdebar-debar.
"Dih, apaan sih malah marah-marah gak jelas gituh?"
"Orang aku cuma mau ambil ini juga." tangan Rein mengambil pulpen yang ada di samping kanan macbook Michie.
"Lagi pula gak ada tuh yang mau deket-deket sama kamu!"
"Cewek nyusahin yang bisanya cuma bikin masalah! Baru ngeliat kamu aja udah bikin aku gak napsu!" tukas Rein yang memang sengaja menyulut amarah Michie.
"Apa kamu bilang?!" hardik Michie yang sudah mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke telapak tangan yang satunya.
__ADS_1
"Gini-gini juga aku banyak yang ngantri tauk!" lanjut Michie yang tampak tidak terima dengan apa yang Rein lontarkan barusan.
Ucapan Michie kali ini justru membuat Rein berdecih pelan.
"Cih, ngantri?!"
"Aku gak salah denger, kan? Kalo udah banyak yang ngantri, kenapa dulu justru nyari pria bayaran untuk memenangkan taruhan, Michele Aubrey?!" tanya Rein dengan menekan kata di akhir kalimatnya.
'Sial banget sih ni orang! Kenapa dia justru bahas yang udah berlalu!' gerutu Michie dalam hati.
"Aku hanya ingin membantu pria kasihan sepertimu yang tampak seperti 9i9olo!" jawab Michie karena ia sebenarnya sudah sangat terpojok dengan kata-kata dari Rein.
"Oooh, 9i9olo ya?" tanya Rein sambil mendekat ke arah Michie dan kembali mengikis jarak dengan keduanya.
"Apa kau begitu tidak laku sampai mencium bibir 9i9olo itu Michie?!"
Kali ini Michie menelan ludahnya kasar. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Terlebih saat Rein benar-benar begitu dekat dengannya.
"Oh My God, Rein! Michie!" pekik seseorang yang kini berdiri di pintu ruang kerja Rein.
Keduanya langsung melihat ke asal suara dan tampak sosok Yuri menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan apa yang barusan ia lihat.
"Apa yang sudah kalian lakukan di kantor?!" tanya Mom Yuri dengan nada mengintimidasi.
☘️☘️☘️
Terima kasih sudah mampir ke karya receh aku. Maaf ya kemarin gak sempet up karena kerjaan kantor sangat numpuk. 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
__ADS_1
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.