Kesalahan Di Malam Reuni

Kesalahan Di Malam Reuni
Seranjang Lagi


__ADS_3

Aroma lavender dan vanila yang bercampur menjadi satu memenuhi kamar Rein membuat Rein menggigit bibir bawahnya sambil menutup pintu kamarnya.


"Mencium aroma khas dari Michie saja membuat lelahku hilang seketika!" gumam Rein sambil mendekat ke arah ranjang miliknya yang kini tampak ada wanita cantik yang tertidur pulas yang sudah ia nantikan sejak beberapa tahun yang lalu.


Perlahan Rein menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Michie dan naik ke atas ranjangnya. Sedikit demi sedikit ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya yang saat ini sedang membelakanginya.


Tangan Rein pun terulur mengusap kepala Michie dengan sangat lembut. Namun, karena rasa kantuknya sudah tidak dapat ditahan lagi, Rein pun langsung memejamkan matanya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Michie.


☘️☘️☘️


Keesokan paginya, Rein membuka matanya lebih dulu saat hidungnya terhirup aroma khas Michie. Betapa terkejutnya Rein saat mendapati Michie memeluknya sangat erat.


Meski piyama yang dikenakan Michie berlengan pendek dan tidak terbuka, tetap saja membuat milik Rein terasa sesak di bawah sana hanya karena kaki dan lengan Michie yang tanpa sengaja bersentuhan dengan kaki dan lengan Rein.


"Haruskah aku memilikimu sekarang, Michie?" gumam Rein yang bermonolog dengan dirinya sendiri.


Matanya tidak lepas memandang ke arah Michie yang masih terlelap dalam tidurnya. Tangan Rein perlahan mengusap bibir istrinya yang sejak pertemuan pertama mereka berhasil memporak porandakan hatinya.


Tidak berhenti di situ, tangan Rein terus bergerak turun ke bawah mengabsen leher istrinya yang membuat Rein harus menelan ludahnya kasar dan kini berhenti tepat di bawah anak tekak Michie.


'Oh My God!' pekik Rein dalam hati dan cepat-cepat menarik tangannya.


'Baru seperti ini saja sudah membuatku panas dingin tidak karuan!'


Sentuhan Rein barusan ternyata membuat Michie menggeliat pelan dan mengerjapkan matanya. Melihat istrinya hampir membuka mata, Rein pun cepat cepat menutup matanya kembali dan berpura pura tidur.


"Rein!" panggil Michie dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. "Kok dia ada di sini sih?" tanya Michie bermonolog.


"Ish, ya ampun. Ini kenapa aku juga malah peluk peluk dia sih!"


Michie langsung menjauhkan tangan dan juga kakinya dari tubuh Rein. Namun Rein justru berpura pura menggeliat dan memeluk Michie dengan sangat erat hingga dada Michie menempel sempurna di dada milik Rein.


"Eh, Rein!" pekik Michie.


Nafas Michie mulai tidak beraturan karena detak jantungnya terus bertalu tidak menentu.


"Rein..." panggil Michie yang suaranya terdengar begitu 5ek5i di telinga Rein.


"Bangunlah, dan lepaskan aku!" pinta Michie membuat Rein justru mengeratkan pelukannya.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Rein sambil mengecup kening Michie dengan sangat mesra.


Michie pun diam dan tidak lagi meminta Rein untuk melepaskan pelukannya. Namun, Michie juga tidak membalas pelukan Rein.


"Apa aku boleh memilikimu, sekarang?" tanya Rein sambil mengendurkan pelukannya dan memandangi istrinya menunggu jawaban.


"Tidak bisa, Rein!" tolak Michie sambil mendorong tubuh Rein agar menjauh darinya. Sayangnya tangan Rein tidak berpindah dari tubuh Michie sedikit pun.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rein.


"Bukankah sebelumnya kau juga siap untuk memberikan cucu dan cicit di keluarga besar kita?" balas Rein menagih ucapan Michie sebelumnya.


Michie membuang nafasnya kasar saat mendengar Rein mengungkit ucapannya dulu.


"Tapi bukan berarti pagi ini juga kan?" balas Michie yang belum siap sama sekali untuk melakukan hal itu bersama Rein.


"Masalah kita juga belum selesai Rein, terlebih hari ini kita harus menjenguk Risa di rumah sakit bukan?" lanjut Michie lagi membuat wajah Rein seketika cemberut kesal.


"Ck, setidaknya beri aku satu ciuman saja pagi ini, Michie!" pinta Rein mengiba.


"Lepaskan aku dulu, setelah itu aku akan menciummu."


"Benarkah?!" tanya Rein dengan mata berbinar. "Di bibir yaah, sama seperti 5 tahun yang lalu di malam reuni!" pinta Rein yang langsung diangguki oleh Michie.


"Bahkan bisa lebih dari itu!" balas Michie.


Bagai mendapat durian runtuh, Rein pun melepaskan pelukannya dan menantikan bibir Michie mendarat di bibirnya dan memagutnya.


Sayangnya saat Rein sudah melepaskan pelukannya dan memejamkan matanya, Michie cepat-cepat turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.


"Tapi dalam mimpimu, Rein!" teriak Michie.


Rein membuka matanya sambil mengusap wajahnya kasar. "Hemm, dia sudah berani menipuku ternyata!" gumam Rein gemas.


Sedangkan di sisi lain, Fredy yang kini masih terbujur di rumah sakit dengan luka yang cukup parah karena terjatuh dari mobil pun perlahan menggerakkan jari tangannya.


Eden Hag yang menunggui putranya semalaman pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Fredy. Di Ujung ruang rawat, mama Fredy terus saja menangis dari kemarin meratapi kemalangan yang menimpanya saat ini.


"Andai saja putraku tidak mencintai wanita sial itu, tidak akan seperti ini jadinya!" rutuk Muna pelan.


Eden Hag pun mendekat ke arah istrinya saat dokter mulai memeriksa keadaan Fredy.


"Tenanglah, Ma. Setelah perusahaan kita terjual, kita langsung pergi dari kota ini dan pindahkan Fredy ke rumah sakit yang lain." ucap Eden Hag menenangkan istrinya.


"Gara-gara Michie, usaha kita bangkrut dan berada di ujung tanduk!" Muna memeluk Eden Hag sambil terisak isak.


"Gara-gara dia juga, putraku harus menderita seperti ini!"


'Mulai detik ini aku akan sangat membencinya dan membalas semua yang ia perbuat dengan keluargaku!' batin Muna yang sudah diselimuti oleh dendam.


Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Fredy dan memberikan informasi jika Fredy sudah melewati masa kritisnya. Eden Hag pun segera mengurus pemindahan Fredy ke rumah sakit lain.


Eden Hag mulai bergerak cepat mengingat sebentar lagi polisi akan mencari putranya di rumah sakit karena kejadian kemarin.


Berbeda dengan Risa yang justru keadaannya tidak separah Fredy. Luka yang ada di lengan dan juga kakinya sudah dibalut dengan kain kasa.

__ADS_1


Bahkan saat terjatuh dari motornya, Risa sempat sadar sekilas saat Rein hendak membuka helm yang menutupi kepalanya.


"Bagaimana keadaanmu, Risa?" tanya Rima yang semalaman menjaga adiknya sendiri.


Risa terdiam dan memalingkan wajahnya dari Rima.


"Kamu marah sama kakak karena kemarin kakak menampar kamu?" tanya Rima yang lagi-lagi tidak dijawab oleh Risa.


Rima menghela nafasnya pelan dan memegang tangan adiknya.


"Maafkan kakak yang sudah sangat marah kemarin hingga menampar adik kakak sendiri."


Risa hanya berdecih pelan mendengar ucapan kakaknya barusan.


"Aku bukan adik siapa pun saat ini!" ucap Risa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku hanya seorang diri di sini tanpa ada seorang pun yang peduli!"


Ucapan Risa kali ini membuat hati Rima tercubit.


"Apa yang kamu katakan Risa?" tanya Rima yang kemudian memegang tangan adiknya.


"Ini kakak kandung kamu!" tegas Rima dan Risa langsung menepis tangan kakaknya begitu saja.


"Lebih baik aku mati saja dari pada punya kakak kayak Kak Rima!" sarkas Risa dengan ketus sambil menarik selang infusnya dengan kasar.


Tarikan Risa kali ini membuat darah segar mengalir deras di pergelangan tangannya.


"Ya Ampun, Risa!" pekik Rima yang langsung memencet tombol darurat.


☘️☘️☘️


Yuk dukung terus karya Author dengan


Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟


Like 👍


Comment 💬


Subscribe ❤️


Vote 💞


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.

__ADS_1


__ADS_2