
"Ck, jangan mengada-ngada Rein, aku tidak suka!" tukas Michie membuat Rein terkekeh pelan.
"Okey, aku minta maaf..." Rein menjeda kalimatnya dan kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Michie lagi. "Sayang," bisik Rein membuat Michie kali ini benar-benar meremang.
Michie pun cepat-cepat memalingkan wajahnya yang sudah mulai memanas akibat sikap Rein barusan. Sedangkan senyum Rein pun kembali terlukis melihat Michie yang tersipu malu dengan rona wajahnya.
'Kau benar-benar membuatku tidak sabar, Michie! Sangat mengemaskan!' gumam Rein dalam hati tanpa berpaling dari Michie sedikit pun.
"Bagaimana kabarmu, Michie?" tanya Rein memecah keheningan antara mereka berdua.
"Baik," jawab Michie singkat. "Bukannya urusanmu belum selesai?"
"Memang belum selesai karena cuaca di lokasi pertambangan sangat buruk, jadi aku menghentikan aktifitas proyek sementara sampai cuacanya membaik," balas Rein yang tampak sangat lelah karena setelah melakukan penerbangan, ia langsung melesat ke acara pernikahan Cika.
Tiba-tiba saja Tifa dan Andy berlari ke arah mereka berdua dengan wajah yang pias.
"Michie, kamu lihat Tian gak?" tanya Tifa panik. "Tadi dia bilang mau pergi sama Onty Michie."
"Apa?! Aku dari tadi belum ketemu Tian sejak dia dari kamar mandi," balas Michie yang turut panik.
"Jangan panik! Kita panggil Tian lewat pengeras suara!"
Rein pun langsung meletakkan piringnya dan menuju ke tempa dimana MC berdiri. Namun tiba-tiba listrik pun padam seketika dan membuat semua gelap tak bisa melihat apa-apa.
"Aaaa!" teriakan tamu undangan yang terkejut karena tiba-tiba listrik padam pun langsung memenuhi ballroom. Sedangkan Rein pun langsung teringat akan sesuatu.
"Michie!" pekik Rein yang mulai tergagap untuk kembali dimana Michie duduk bersamanya tadi.
Rein pun menyalakan senter di ponselnya untuk kembali di tempat dimana ia tadi duduk bersama Michie.
Sayangnya saat Rein sudah kembali ke tempat duduknya, yang tadi, Michie sudah tidak ada di sana.
"Andy! Dimana Michie?" tanya Rein yang mulai gusar.
Andy pun baru menyadari jika Michie sudah tidak ada di dekatnya, begitu pula dengan Tifa.
"Tadi mereka berdua masih ada di sini, Mr. Apa mungkin mereka berdua langsung pergi dan mencari Tian?" balas Andy yang sama sekali tidak mengetahui kemana mereka berdua pergi.
Rein mengusap wajahnya kasar dan tak lama kemudian listrik pun kembali menyala.
"Ini pasti konspirasi Fredy dan teman-temannya. Cepat hubungi Arel!" titah Rein kepada Andy.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Di sisi lain, Michie yang saat ini dalam pengaruh obat bius sudah dalam dekapan Fredy yang sedang membawanya ke sebuah kamar hotel yang sudah dipesan oleh Ben satu jam yang lalu.
Sedangkan Tifa juga dibawa oleh Rio atas perintah Fredy karena saat mati lampu, tangannya tidak lepas memegang Michie. Bahkan ia juga sempat melawan saat mengetahui jika Michie dibawa oleh Fredy.
Akhirnya dengan sigap Rio pun membius Tifa dan membawanya ikut serta.
Sesampainya di kamar hotel, Tifa pun langsung di ikat tangannya dan di duduk kan di sofa. Sedangkan Michie langsung direbahkan di atas ranjang.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Aku akan mentransfer uang atas hasil kerja keras kalian hari ini!" ucap Fredy yang langsung mengibaskan tangannya dan meminta Rio dan Ben keluar dari kamarnya.
"Emang kamu udah gak butuh kita di sini?" tanya Ben yang nampak enggan untuk pergi.
"Nah, bener tuh kata Ben. Kita kan juga penasaran gimana mulusnya seorang Most Wanted Girl angkatan kita."
"Toh kita juga bisa bantu ngrekam adegan kalian dan menyimpannya untuk bahan mengancam Michie!" tukas Rio membuat Fredy diam sejenak.
"Emmm, sayangnya aku gak rela berbagi dengan kalian! Michie hanya milikku, bro!" balas Fredy yang paham betul jika kedua sahabatnya itu pasti meminta giliran setelahnya.
"Ck, yang ini dia mah susah buat berbagi!" celetuk Ben.
"Trus si Tifa gimana tuh?" tanya Rio sambil menunjuk ke arah Tifa yang tangannya masih terikat.
"Biarin aja dia ngeliat sahabat terbaiknya menjadi milikku. Mendingan kalian keluar deh, bantuin Tomy ngurusin Tian!" balas Fredy yang langsung mendorong kedua sahabatnya untuk segera keluar dari kamar.
"Jangan lupa ntar ceritain gimana rasanya, bro!" ucap Ben sambil mengedipkan matanya ke arah Fredy.
Kali ini Fredy tidak mau menunda-nunda lagi. Ia pun langsung membuka jas dan juga kemejanya lalu melemparkannya begitu saja.
Setelah itu, ia pun membuka celananya dan naik ke atas ranjang sambil merebahkan tubuhnya di samping Michie.
"Aku sudah menawarkan kelembutan dan kebaikan padamu, Michie. Sayangnya kau justru memilih kekerasan!" ucap Fredy yang mulai mengabsen wajah Michie dengan jari telunjuknya.
"Aku berjanji, setelah hari ini, aku akan menjadikanmu ratu di dalam hidupku!"
Fredy mulai membuka reslesting gaun yang di kenakan oleh Michie. Dengan susah payah, akhirnya Fredy berhasil melepaskan gaun Michie tepat saat Tifa mulai sadar dan mengerjapkan matanya.
"Apa yang mau kau perbuat dengan sahabatku?!" pekik Tifa sambil berusaha melepaskan ikatan yang ada di tangannya.
Teriakan Tifa kali ini membuat Fredy tersenyum smirk dan turun mendekat kepadanya.
"Sekarang kau tinggal pilih, Tifa. Sahabat atau Anak laki-laki mu?!" tanya Fredy yang kemudian memperlihatkan video Tian yang sedang disekap bersama Tomy dan juga 2 orang temannya.
Tampak dalam video jika Tian menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Kur@ng @jar kalian semua! Dimana otak dan hati kalian, hah!" gertak Tifa sambil terus berusaha membuka ikatannya.
"Wow.. Wow.. Wow.. Kayaknya mamah muda yang satu ini nantangin nih!" tukas Fredy yang langsung memanggil Rio dengan video call.
Dan saat panggilan tersembung, tampak Tian yang meraung-raung karena tangannya diikat kuat dengan Tomy.
"Tiaan!" teriak Tifa histeris karena Tidak tega dengan keadaan Tian kali ini.
"Mamaaaa!" teriak Tian yang terdengar begitu memilukan.
Tap! Fredy langsung memutus panggilannya sambil tersenyum ke arah Tifa.
"Jika kali ini kau membantuku, aku pastikan anak kesaynganmu akan baik baik saja. Namun jika tidak, jangan harap Tian bisa kembali padamu!" ancam Fredy membuat Tifa tidak punya pilihan lagi.
Terlebih saat melihat Michie yang terbaring tidak sadarkan diri dengan mengenakan t4nkt0p dan h0t p4ntsnya saja.
"Kamu benar-benar pria b4n9s4t, Fredy!" umpat Tifa. "Katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Tifa kemudian membuat Fredy tersenyum penuh kemenangan.
Fredy pun memberikan ponselnya yang sudah siap untuk merekam ke tangan Tifa yang masih terikat.
"Rekam dengan baik dengan baik! jika tidak, anakmu yang jadi taruhan nya!" titah Fredy dan membuat Tifa langsung menitikkan air matanya.
"Maafkan aku, Michie! Kali ini aku tidak bisa menolongmu!" ratap Tifa membuat tawa Fredy semakin kencang.
☘️☘️☘️
Adakah selanjutnya Rein berhasil menyelamatkan Michie, atau justru Rein datang terlambat saat mahkota Michie sudah berhasil direnggut oleh Fredy?
Selanjutnya akan di update besok yaa. Yang jelas Author gak akan bikin kalian kecewa 😘😘😍
Terima kasih sudah mau singgah di karya remahan Author.
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
__ADS_1
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.