
Michie mengendarai mobilnya dengan bungkam seribu bahasa. Cika dan Tifa yang sangat memahami sahabatnya yang satu ini hanya bisa menghiburnya dengan mengalihkan dengan hal yang lain.
"Michie, besok pulang kerja mau gak ikut kita?" tanya Cika memecah keheningan.
"Kemana?" tanya Michie.
"Nyari seragam buat acara nikahan aku," balas Cika.
"Aku ngajak Tian juga loh, katanya dia pingin jalan sama bidadari," timpal Tifa mengukir senyum di bibir Michie.
"Anak itu tuh lucu banget ya, udah ganteng, pinter lagi." nada bicara Michie kali ini mulai terdengar sangat renyah.
"Siapa dulu dong, mamanya," tuas Tifa menyombongkan dirinya, membuat suasana di mobil kini pecah.
"Besok kayaknya aku bisa deh ikut kalian. Kita mau ketemuan dimana?" tanya Michie kemudian.
"Ketemuan di Mall aja langsung, biasanya Tian suka ngajakin main dulu ke Time Zone. Gimana?" tukas Tifa yang langsung disetujui oleh yang lainnya.
"Okey, jam 5 aku udah di sana. Kita ketemuan di Time Zone aja. Aku kayaknya juga kangen deh main dance pad pump di sana," tukas Michie yang biasa duel dance bareng sama Cika.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, Michie terlihat sedikit pucat. Namun ia tetap memaksakan dirinya untuk pergi ke kantor.
"Kalau memang lagi gak enak badan istirahat dulu aja di rumah sayang," ucap Mom Lili yang sedikit mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"I'm fine, Mommy. Don't worry me!" ucap Michie.
Kali ini Michie memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri karena Mom Lili ada meeting di perusahaan lain.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Michie terus saja memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap kuat.
Sesampainya di kantor, Michie langsung menuju ke lift khusus pimpinan. Michie pun langsung masuk ke dalam dan saat pintu lift sudah hampir tertutup, pintunya tertahan dan kembali terbuka.
Tampak Rein yang baru saja tiba langsung masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Michie.
"Are you okey, Michie?" tanya Rein sambil mengerutkan dahinya melihat wajah Michie yang tampak sangat pucat.
__ADS_1
Michie pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Rein sedikit khawatir dengan kondisi Michie saat ini, sayangnya ia tidak berani bertindak apa-apa mengingat kemarin malam Michie menolaknya secara terang-terangan.
Ting!
Pintu lift pun terbuka, dan Michie melangkahkan kakinya untuk keluar lebih dulu. Sayangnya baru satu langkah, Michie sudah tidak sadarkan diri.
Brukk!!!
Michie terjatuh tepat di pelukan Rein. Dengan sigap Rein mengangkat tubuh Michie ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
Setelah Michie direbahkan di atas tempat tidur yang ada di kamar khusus miliknya, tangan Rein bergerak memegang kening Michie.
"Ya Ampun, Michie demam!" gumam Rein yang mulai gusar.
Ia pun langsung mencari kotak obat di dalam ruangannya dan mencoba mengecek suhu tubuh Michie.
"38,5° Celcius, suhu tubuhnya sangat tinggi." Rein segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter untuk segera merapat ke perusahaannya.
"..."
"Terima kasih, aku menunggumu."
Setelah panggilannya berakhir, Rein pun bergegas mengambil air dan washlap untuk mengompres Michie.
Tampak jelas di raut wajah Rein yang begitu mengkhawatirkan wanitanya. Tangannya pun tergerak menggenggam tangan Michie sambil memastikan suhu tubuh Michie.
"Apa yang membuatmu sampai drop seperti ini, Michie?! tanya Rein sambil sesekali mengecup punggung tangan Michie.
Tak lama kemudian dr. Rima pun datang bersama dengan Arel, asisten Rein yang diperintahkan untuk menunggu kedatangan dr. Rima.
Dokter Rima pun langsung memeriksa Michie dan mencoba mengembalikan kesadaran Michie.
"Aku tadi sudah cek suhu tubuhnya 38,5° celcius, Rima," tukas Rein saat Rima kembali mengecek suhu tubuh Michie.
"Suhu tubuhnya meningkat Rein, lebih baik wanita ini segera dibawa ke rumah sakit menghindari segala kemungkinan yang terjadi," ucap Rima.
__ADS_1
Tanpa fikir panjang Rein pun langsung menggendong tubuh Michie dan memerintahkan Arel untuk menyiapkan mobil.
Melihat kepanikan Rein kali ini membuat Rima merasa jika wanita yang saat ini sedang sakit adalah wanita yang sangat spesial untuk Rein.
"Bertahanlah, Michie! Aku mohon!" Bisik Rein sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Rima langsung membawa Michie ke Unit Gawat Darurat dan segera memeriksa kondisinya.
Untungnya saat di periksa oleh Rima, Michie perlahan sadar dan mulai mengerjapkan matanya.
'Apa yang sudah terjadi denganku?' tanya Michie dalam hati sambil mengedarkan pandangannya yang masih terasa sangat berat.
"Pasiennya sudah sadar dr. Rima," ucap salah satu seorang perawat membuat Rima langsung mendekat ke arah Michie dan mengecek kondisinya.
Sedangkan Rein terus saja mondar mandir di depan ruang UGD menuntut kabar tentang Michie.
☘️☘️☘️
Tolong banget kasih supportnyaa ke Author yang positif ya, jangan malahan menjatuhkan mental Author. Jika memang tidak berkenan memberikan bintang 5, jangan rate bintang 1. 😭
Jika kita menghargai kerja keras orang lain, maka kita juga akan dihargai orang lain.
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.
__ADS_1