Kesalahan Di Malam Reuni

Kesalahan Di Malam Reuni
Wedding Party 1


__ADS_3

Michie sudah selesai dirias untuk yang kedua kalinya dan berganti gaun. Sedangkan Rein terus saja mondar mandir di depan kamar Michie menunggu istrinya keluar dari kamar.


"Rein, ngapain mondar mandir kayak gini?" tanya Mom Lili. "Michie udah siap kok, kamu masuk aja ke dalam."


Mata Rein langsung berbinar mendengar titah dari Mommy mertuanya. Dengan semangat 45, Rein pun berbalik dan memegang handle pintu kamar Michie.


Namun sayangnya tangan Rein justru ditarik oleh dua orang yang tiba-tiba muncul dari samping kanan dan kirinya.


"Eeeeh, tunggu dulu Rein!" cegah Oma yang sudah berdiri di samping kanan Rein.


"Biar Oma dan Granny yang bawa Michie keluar dari kamar! Kamu tunggu aja di bawah atau di mobil pengantin!" timpal Granny.


"Loh, gak bisa gituh dong Oma, Granny! Michie kan istri aku, harusnya aku yang bawa dia keluar dari kamar!" protes Rein dengan tatapan tidak terima.


"Nanti yang ada malah gak keluar keluar lagi dari kamar! Kayak apa yang dibilang sama mama kamu tadi!" balas Oma.


"Udah deh kamu turun dulu sana! Dijamin Michie gak akan kenapa-napa," ttitah Granny membuat Rein pun langsung berbalik dan menjauh dari pintu kamar Michie.


"Huft! Ini namanya pemboikotan istri!" gerutu Rein kesal sambil menuruni anak tangga.


Mom Lili hanya terkekeh melihat sikap menantunya yang selalu tegas di perusahaan, kini malah justru seperti anak kecil.


Sedangkan kedua nenek Rein sudah masuk ke kamar Michie dan langsung memuji kecantikan Michie yang memang tampak mempesona.



"Michie! Kamu memang sangat cantik! Untung saja Oma dan Granny tidak membiarkan Rein masuk ke dalam kamar!" puji Oma dan Michie hanya tersenyum simpul.


'Mama Yuri pasti bercerita dengan Oma dan Granny apa yang tadi dia lihat saat aku dan Rein berciuman. Oh My God! Aku malu sekali.'


"Kau sudah siap kan Michie?" tanya Granny sambil memegang tangan Michie.


"Iya Granny!" balas Michie dan mereka pun perlahan keluar dari kamar Michie.

__ADS_1


Rein yang terus saja memandang ke arah pintu kamar Michie pun mulai berdebar-debar saat Michie keluar dari kamarnya. Begitu juga Michie yang tanpa sadar mengagumi ketampanan Rein dalam hatinya.



Namun bukan Michie namanya jika ia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Dengan anggun dan elegan, Michie menuruni anak tangga satu persatu dan Rein yang sudah menunggu di anak tangga terakhir pun langsung meraih tangan Michie dan mengaitkannya di lengannya.


Kemudian mereka berdua pun langsung masuk ke mobil pengantin ynag akan mengantarkan mereka berdua ke taman yang sudah dipersiapkan untuk pesta kebun.


Keduanya tampak canggung dan saling terdiam. Meskipun begitu, Rein terus saja menggenggam tangan istrinya dan mengusap nya dengan angkat lembut hingga membuat Michie sedikit merasa terbuai.


'Kenapa sentuhan Rein membuatku tidak bisa berkutik? Ayolah Michie, cegah Rein yang terus membuatmu terlena seperti ini!'


'Tapi aku tidak bisa berbohong, aku sangat nyaman seperti ini dan tidak ingin lepas darinya!'


'Oh My God! Perasaan apa ini?'


Batin Michie terus saja berkecamuk menghadapi situasi canggung seperti ini. Berbeda dengan Rein yang justru sangat bahagia karena ia mendapatkan jackpot besar dalam hidupnya.


'Meskipun mulutmu mengatakan jika kau tidak mencintaiku, bahasa tubuhmu justru berbicara sebaliknya, Michie!'


Setelah sampai di taman, Rein pun membantu istrinya keluar dari mobil. Keduanya melangkah menyusuri tangga yang diapit oleh rimbunnya pepohonan di sisi kiri dan kanan ditingkahi kerlap kerlip cahaya lilin.


Sementara di sisi kolam renang, tampak para tamu undangan yang sudah hadir menantikan pasangan pengantin ini.


Tampak juga ragam rumah-rumahan mulai dari yang sederhana, hingga yang berbentuk indah bak bangunan istana setia menemani langkah pasangan Rein dan Michie yang menuju ke pelaminan.


Hingga akhirnya, sampailah mereka di dalam sebuah bangunan indah berhias bunga aneka warna. Lampu-lampu antik bergantung diatasnya, bunga-bunga dalam varian warna lembut indah menyempurnakan nuansa pesta taman.


Setelah mendengarkan nasihat dari beberapa perwakilan keluarga kedua mempelai dan juga teman-teman, kini waktunya Rein speak up di depan istrinya, keluarga besarnya dan juga para tamu undangan yang lainnya.


"Mohon maaf semuanya jika kali ini saya sedikit gugup untuk berbicara, karena kali ini saya berbicara di depan wanita yang berhasil memporak porandakan hati saya sejak pertama kali saya bertemu dengannya."


Kata-kata Rein barusan membuat suasana yang tadinya hening, kini justru berubah sedikit ramai.

__ADS_1


"Kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana bisa menikahi wanita cantik ini. Tetapi saya akan mengutarakan rasa syukur saya yang begitu besar, sudah bisa bersanding dengan wanita cantik, cerdas, dan sangat luar biasa di samping saya ini." ucap Rein sambil menggenggam tangan Michie dengan sangat mesra.


Rona wajah Michie tampak memerah karena tersipu malu mendengar kalimat yang Rein ucapkan barusan. Bahkan ia juga tidak melihat kebohongan dari Sorot mata Rein yang tampak begitu sangat mencintainya.


Namun penilaian Michie kali ini buyar seketika saat melihat Risa yang tiba-tiba hadir membawa sebuket bunga yang hampir sama dengan bunga yang Michie pegang.


Bahkan kali ini Risa juga mengunakan gaun putih selutut dan mengeksplor bahu mulusnya karena gaun yang Risa kenakan memang tidak berlengan.


Kali ini Michie tidak lagi mendengarkan apa yang Rein bicarakan, dan bahkan perlahan melepaskan genggaman tangan Rein tepat saat Rein mengakhiri prakata nya.


"Apa ada yang ingin kau sampaikan, sayang?" tanya Rein dan Michie pun langsung menggelengkan kepalanya.


Prakata dari Rein adalah yang terakhir dan kemudian ditutup dengan doa, setelah itu para tamu undangan langsung memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Risa langsung berjalan di urutan paling depan untuk memberikan selamat pada kedua mempelai. Bunga yang dibawa oleh Risa langsung diberikan kepada Rein.


"Selamat ya Abang, atas pernikahan kalian!" ukas Risa yang tiba-tiba langsung memeluk Rein setelah ia memberikan bunganya.


Pemandangan ini pun langsung disorot oleh kamera. Untungnya Rein cepat-cepat melepaskan pelukan Risa.


"Thanks, Risa. Tapi seharusnya kau tidak memelukku seperti ini!" tegas Rein sambil mengembalikan bunga pemberian Risa.


Michie yang tampak biasa saja membuat Rein mulai menereka-nerka sikap datar Michie kali ini. 'Kenapa aku tidak melihat kecemburuan Michie ya saat Risa memelukku tadi? Bahkan ia justru bersalaman dengan tamu yang berbaris di belakang Risa.'


"Tapi Bang..."


"Berilah selamat kepada istriku! Sikapmu yang lama di sini justru membuat semua orang menunggu lama!" tukas Rein lagi dan kali ini dengan Sorot matanya yang tajam.


Arel yang posisinya tidak jauh dari pelaminan pun langsung menarik Risa untuk segera melangkah dan memberi selamat kepada Michie.


Sayangnya Risa justru menepis tangan Arel dan melewati Michie begitu saja.


Tak lama kemudian Fredy pun datang bersama dengan Daddy dan mamanya dan memberi selamat pada kedua mempelai. Namun mereka justru bersikap biasa saja selayaknya tamu undangan lainnya.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2