
"Reihan!" panggil Rein dan Reihan pun langsung berdiri mendekati Rein.
"Waktu belajarnya hanya sebentar. Tapi saya harap kamu bisa belajar dengan cepat ya!" ucap Rein.
"Siap Tuan!" balas Reihan dengan sangat mantap.
Rein pun mulai bergaya yang khas dengannya dan Reihan mulai mengikuti gaya Rein. Diam diam Michie memperhatikan mereka berdua dari pintu kamar.
Reihan tampak sedikit kesulitan mengikuti gaya Rein. Terlebih mengikuti cara bicara Rein. Akhirnya Michie pun keluar dari kamar dan mencoba membantu Reihan agar bisa meniru gaya Rein dengan cepat.
"Sayang, kok kamu malah keluar sih?!" protes Rein dengan tatapan tidak suka.
"Nah Reihan, coba deh kamu ikutin gaya suami aku barusan!" pinta Michie.
"Sayang, kok kamu malah keluar sih?!" ucap Reihan dengan nada suara dan gaya yang sama persis dengan Rein.
"Yap! Bagus Reihan. Itu sudah hampir mirip!" puji Michie membuat Rein tampak sangat kesal.
"Heh! Siapa yang suruh kamu panggil panggil sayang ke Michie?!" gertak Rein kesal.
Dengan sigap, Reihan pun mengikuti ucapan Rein barusan. "Heh! Siapa yang suruh kamu panggil panggil sayang ke Michie?!"
Bukan menjawab pertanyaan Rein atau bahkan meminta maaf, Reihan justru mengikuti ucapan Rein lagi.
"Kamu nih ya! Ditanya malah balik nanya!"
Lagi-lagi amukan Rein kali ini masih diikuti oleh Reihan, "Kamu nih ya! Ditanya malah balik nanya!"
Michie pun langsung tertawa melihat wajah suaminya yang sedang kesal karena Reihan.
"Jangan ketawa dong sayang, lagi kesel nih!" pinta Rein yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Michie.
"Jangan ketawa dong sayang, lagi kesel nih!" Lagi-lagi Reihan merepeat kalimat Rein.
Namun Rein cepat-cepat menarik tubuh Michie untuk menjauh dari Reihan karena takut Reihan akan mengikutinya memeluk Michie.
"Aku rasa latihannya cukup dulu, Reihan. Kau sudah belajar dengan baik hari ini!" ucap Michie.
"Terima kasih banyak, Nona!" ucap Reihan sambil membungkukkan badannya.
"Oh, iya. Kamu bisa hapus dulu make up ya di kamar mandi. Takut nanti kalo langsung keluar, malah pada kaget lagi!" titah Michie.
Reihan pun mengangguk setuju dan segera menuju ke kamar mandi yang ada di luar ruang kerja Rein.
Setelah Reihan keluar dari ruangan Rein. Michie pun berbalik memandang suaminya yang masih dirundung rasa kesalnya.
__ADS_1
"Kamu tuh jadi jelek loh, cemberut kayak gituh!" ucap Michie sambil membelai wajah suaminya.
"Oooh, jadi sekarang yang tampan Reihan nih, bukan aku?" tanya Rein sambil memeluk istrinya.
Michie pun terkekeh pelan dan mulai meledek suaminya, "Begitu syuliit, lupakan Reihan. Apa lagi Reihan baaiik!" senandung Michie menyanyikan lagu yang sedang viral beberapa waktu yang lalu.
"Sayaaaaang!" panggil Rein dengan suara yang tertahan. Dengan geram Rein langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Michie yang sadar dirinya sedang dalam bahaya karena tampang Rein sudah tampak ingin menerkamnya pun langsung gusar.
"Eits, Rein! Kamu mau ngapain bawa aku ke kamar?" tanya Michie gelagapan.
"Tentu saja ingin melanjutkan permainan yang belum usai, Istriku sayang!" jawab Rein yang sudah merebahkan Michie di atas ranjang.
Rein langsung melepaskan jasnya dan juga ikat pinggangnya. Perlahan Rein membuka kancing bajunya satu per satu sambil mendekati istrinya.
"Emm, Rein..."
"Apa sayang?" tanya Rein yang sudah mengunci tubuh istrinya di atas ranjang.
"Emm, aku lapar." ucap Michie sambil mendorong tubuh Rein.
"Aku juga lapar, sayang!" bisik Rein membuat Michie langsung meremang. "Dan aku sangat ingin memakan istriku!"
Tanpa ba bi bu lagi, Rein langsung mendaratkan bibirnya di bibir Michie dan memagutnya dengan sangat lembut. Tangan Rein pun juga langsung melepaskan kancing blouse Michie satu per satu sambil terus mengeksplor bibir istrinya yang benar-benar membuatnya candu.
Sayangnya saat tangan Rein membuka kancing baju yang ada di dekat perut istrinya, terdengar bunyi di dalam perut Michie yang sudah demo minta makan.
"Ternyata istriku benar-benar lapar," tukas Rein yang langsung menghentikan pagutannya.
"Tunggu sebentar yaa, aku akan membawakan makan siang kita kemari."
Rein langsung memakai kembali kemejanya dan segera membawa masuk makan siang yang sudah disiapkan Arel ke dalam kamar.
"Aku tadi bertemu dengan Rima dan juga kuasa hukumnya," ucap Rein sambil meletakkan nampan makan siang mereka di atas nakas.
"Lalu?" tanya Michie sambil mulai menyendokkan makanan di depannya dan menyuapkannya ke arah Rein.
"Ternyata kuasa hukum Rima adalah papanya Belva sendiri. Bahkan tadi, Belva secara terang-terangan menyebutkan nama Reihan sebagai calon mempelai pria yang akan menikahi Risa."
"Oh ya?" balas Michie dengan wajah berbinar.
"Yap, dan kau tahu. Surat perjanjian sudah ditandatangani. Dan Rima juga sudah berjanji akan mencabut tuntutan di polisi setelah pernikahan Risa!" jelas Rein membuat hati Michie merasa sangat bahagia.
Jika awalnya ia sempat merasa begitu sedih karena harus menghadapi masalah yang besar di hari pertama pernikahannya, kali ini Michie merasa sangat yakin jika masalah yang ia hadapi akan segera terleraikan dengan baik.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, suamiku memang sangat luar biasa!" ucap Michie sambil menyendokkan makanan ke dalam mulut nya.
Rein memang sengaja memesan makanan porsi besar dalam piring yang sama. Bahkan ia juga sengaja meminta Arel untuk menyediakan satu sendok saja.
Dan Michie juga sangat peka dengan apa yang diinginkan oleh Rein yang memberi kode untuk minta disuapin.
"I Love You, Rein!" ucap Michie membuat Rein mengernyitkan dahinya.
"Apa?? Aku gak dengar!" ucap Rein sambil mendekatkan telinganya ke arah Michie.
"Ck, masa gak denger sih?" balas Michie sambil mengunyah makanannya.
Rein langsung mengikis jarak mereka dan bergeser sedikit agar bisa mendekap istrinya dari belakang. "Katakan sekali lagi, sayang. Aku sangat ingin mendengarkannya!" bisik Rein yang diam diam menyalakan ponselnya dan siap merekam suara Michie.
"I Love You, Rein. And I do love you, My Honey!" ucap Michie perlahan-lahan dan terdengar begitu jelas di telinga Rein.
"Terima kasih sayang," ucap Rein sambil mengecup pipi kanan istrinya dan menekan tombol save di rekaman ponselnya.
"Makannya buruan dihabisin yuk, sayang. Aku sudah gak tahan!" bisik Rein sambil membuka mulutnya dan siap menerima suapan dari Michie.
"Tapi Rein, aku masih harus menjemput mama Yuri di salon," kilah Michie.
"Biarin supir aja yang jemput mama. Nanti aku akan bilang sama mama, kalo menantu kesayangannya harus dinas di dalam kamar!" balas Rein.
☘️☘️☘️
Naaah, kira-kira dinas di dalam kamarnya perlu di skip gak nih?
Komen di bawah Yaaa. 😅
Like dan komentar kalian itu adalah semangat author buat terus update loh. Bab selanjutnya, author update malam ya. 😘😘😘
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
__ADS_1
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.