
Lukisan terindah yang kini ada di hadapannya membuat Michie menelan ludahnya kasar. Nafas Rein yang sangat teratur dan membuat dada bidangnya naik turun membuat Michie perlahan menutup matanya sambil menggigit bibir bawahnya.
Gemetar...
Panas..
Dingin..
Semua campur aduk menjadi satu menyerang Michie dalam seketika saat melihat sisi balik Rein yang tidak biasanya.
'Tidak! Kali ini aku tidak bisa membangunkan Rein!' tolak Michie dalam hati yang sudah tidak sanggup menetralisir perasaannya.
'Tapi jika tidak dibangunkan, nanti tehnya akan dingin dan sangat tidak enak untuk dinikmati!'
'Oh My God! Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?!' batin Michie yang penuh kebimbangan sambil menutup wajahnya.
'Oh iya, biarkan saja dia tidur. Masalah teh biar nanti aku hangatkan lagi. Jadi aku akan bilang kepada Tante Yuri dan yang lainnya jika Rein memang sulit untuk dibangunkan.'
Perlahan-lahan Michie meraih kembali ujung selimut Rein dan menyelimutinya kembali. Setelah itu ia akan langsung keluar dari kamar Rein. Sayangnya kali ini Michie kalah cepat dari Rein.
Grab!
Dengan cepat Rein menarik tangan Michie dan membuatnya limbung hingga terjatuh tepat di atas Rein. Sikap Rein kali ini membuat Michie sangat terkejut dan membuat jantungnya makin berdegub tidak karuan.
Terlebih saat Rein yang masih memejamkan matanya itu kini justru memeluk tubuh Michie seperti guling.
"Rein!" pekik Michie yang sama sekali tidak membuat Rein membuka matanya sedikit pun.
"Ck, bener kata tante Yuri. Rein sangat sulit untuk dibangunkan!" gerutu Michie kesal yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa di dalam dekapan Rein yang begitu erat.
Sedangkan Rein yang sedari tadi sudah bangun pun kini tersenyum dengan penuh kemenangan.
'Akhirnya aku bisa memelukmu seperti ini lagi Michie! Bahkan irama detak jantungmu yang terdengar begitu bertalu-talu membuatku yakin, jika sebentar lagi aku akan benar-benar memilikimu seutuhnya.'
'Thanks a lot, mama. Kau memang ibu terbaik untukku yang sudah membantuku memeluknya saat ini. Aku janji hanya memeluknya.'
'Tapi jika nanti aku berhasil kembali mengabsen bibirnya, berarti itu bonus untukku di luar perjanjian.' gumam Rein dalam hati yang sedang menikmati pelukan nya terhadap Michie.
Diam-diam Michie pun memandangi wajah Rein yang tampak semakin tampan saat terlelap seperti ini. Pelan-pelan Michie menggerakkan jarinya mengusap wajah Rein dan mengabsen nya satu persatu.
__ADS_1
Alisnya yang tampak begitu menantang, bulu matanya yang panjang, hidungnya yang mancung nya pas dan satu lagi.. Bibir Rein yang pernah menjadi pendaratan pertama membuat Michie sedikit berdesir.
Gerakan tangan Michie kali ini membuat Rein mengusap +engkuk leher Michie dan langsung mendekatkan wajah Michie ke wajahnya.
Rein mendaratkan ciumannya tepat di bibir Michie dan m3lum4tnya dengan sangat lembut membuat Michie seperti tersihir oleh kelembutan sikap Rein yang kini mengabsen bibirnya.
Hal itu membuat Michie tanpa sadar membuka mulutnya dan membalas pagutan Rein.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit, membuat Michie hampir saja kehabisan nafasnya. Cepat - cepat ia mendorong tubuh Rein untuk menjauh darinya.
"Oh My God. Aku pasti sudah gila!" gumam Michie kesal dan kembali membangunkan Rein.
"Rein, bangunlah!" pinta Michie sambil menggoyangkan tubuh Rein. Rein yang masih terpejam pun akhirnya mengerjapkan matanya dan membuka matanya perlahan.
"Hai Michie!" sapa Rein yang terdengar begitu serak khas orang yang bangun tidur.
"Kali ini kau benar-benar mengganggu mimpi indahku, Michie. Aku baru saja bermimpi sedang mencium bibirmu dan kamu pun membalas ciuman ku."
'Ck, untung saja dia kira jika dia sedang bermimpi!' batin Michie sambil menghela nafasnya lega.
"Sayangnya kali ini mimpiku buyar hanya karena suaramu yang terus memanggilku." lanjut Rein membuat wajah Michie langsung merona.
"Aku baru satu kali memanggil mu, Rein." sanggah Michie sambil beringsut untuk turun dari ranjang Rein.
Michie pun kemudian berjalan memutari ranjang Rein dan menuju ke nakas sambil kembali duduk di tepi ranjang. "Tante Yuri memintaku membangunkan mu dan memberikan secangkir teh vanila. Minumlah selagi hangat!" titah Michie sambil mengambilkan cangkir teh untuk Rein.
Rein pun tersenyum dan langsung duduk menerima teh yang disodorkan oleh Michie. Lagi-lagi tubuh polos Rein yang terpampang di depan Michie membuatnya mulai tidak bisa berkonsentrasi.
"Siapa yang membuat teh vanila ini?" tanya Rein.
"Aku tadi yang buat sesuai arahan Tante Yuri. Ada apa memangnya? apa rasanya tidak enak?" tanya Michie sedikit merasa gusar.
Rein hanya mengedikkan bahunya sambil menyodorkan cangkir teh ke arah Michie. "Coba deh kamu cicipi!" pinta Rein mendekatkan mulut cangkir yang bekas bibirnya ke bibir Michie.
Michie pun mencoba meminum teh vanila buatannya sendiri. "Emm, menurut aku sih udah pas Rein."
__ADS_1
"Oh ya?" balas Rein dengan nada yang tidak percaya sambil merebut kembali cangkir tehnya dari tangan Michie dan kembali meminumnya di tempat yang sama.
"Naah, yang ini baru pas banget rasanya, Michie! Sempurna!" balas Rein.
"Ck, kamu nih gimana sih Rein? Bukannya yang tadi sama aja?" protes Michie.
"Tentu saja sangat berbeda, Michie! yang tadi rasanya masih biasa saja karena belum ada bekas bibirmu."
"Namun kali ini rasanya berubah jadi sangat istimewa karena ada bekas bibirmu, sayang!"
Blush!
Pipi Michie langsung merona seketika. 'Sial, kali ini aku udah dikerjain sama Rein!' gerutu Michie dalam hati.
Dengan menahan rasa maunya, Michie pun memalingkan wajahnya dan bersiap untuk keluar dari kamar Rein.
"Tugasku sudah selesai dan aku akan keluar dari kamasmu ini! Jangan lupa carrot banana cake nya di makan ya!" tukas Michie yang sudah mulai berdiri.
Melihat Michie hendak meninggalkannya, Rein pun turun dari ranjang nya dan langsung menghadang langkah Michie.
"Mau kemana sih? Buru-buru amat."
"Rein, Jangan ganggu aku, Please! Biarkan aku keluar dari kamarmu."
"Siapa yang mau ganggu kamu, sih? Bukannya kamu duluan yang ganggu aku?" balas Rein yang langsung memutar balikkan kalimat Michie.
Kali ini Rein tidak tinggal diam. Ia pun langsung mengikis jaraknya dengan Michie sampai akhirnya Michie tersudut di dinding kamar Rein.
"Oke, oke. Kali ini memang aku yang salah. Jadi aku minta tolong maafkan aku, Rein!" pinta Michie.
"Not that easy, Michie! Kamu sudah mengganggu tidurku yang nyenyak. Jadi kali ini kau harus membayar dengan apa yang sudah kau perbuat!"
"Katakan saja berapa aku harus membayarnya?" tanya Michie yang mulai melihat sedikit gelagat aneh dari Rein.
"Suapi aku dan temani aku di situ!" pinta Rein sambil menunjuk ke arah ranjang yang ada disampingnya.
"Ck, dasar modus! Bagaimana jika aku tidak mampu melakukan itu?" tanya Michie dengan nada yang sangat kesal.
"Kalau begitu, jangan harap kau bisa keluar dari kamarku, Michie!" timpal Rein sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
Seketika Michie pun teringat jika kunci pintu kamar Rein menggunakan password. Akhirnya dengan wajah yang bersungut-sungut, Michie pun naik ke atas tempat tidur dan siap untuk menyuapi Rein.
☘️☘️☘️