
Michie keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke meja makan. Keduanya pun langsung menikmati makan siang mereka tanpa berbicara dan hanya suara dentingan sendok dan garpu saja yang saat ini yang terdengar di villa.
Setelah itu Michie kembali mempersiapkan dirinya untuk foto prewedding selanjutnya, Sedangkan Rein kembali mengecek pekerjaan kantornya.
Sedangkan di sisi lain,
Dad Eden Hag saat ini sedang melaporkan ketidak setujuannya dengan pernikahan putri kandungnya sendiri dengan Reinhard di kantor KUA, dimana pernikahan Michie dengan Rein sudah terdaftar dan ditentukan harinya.
Laporan Dad Eden Hag pun diterima oleh pihak KUA dan mereka langsung melayangkan surat panggilan untuk kedua mempelai agar segera menuju ke KUA besok lusa.
Rein yang mendapatkan surat panggilan tersebut pun langsung menghubungi asisten pribadinya.
"Arel! Tolong carikan pengacara handal untuk mengurus masalah ini besok!" titah Rein saat panggilannya sudah tersambung.
"..."
"Kerja bagus, Arel. Kalau bisa minta Belva Quiero untuk menemuiku besok pagi!"
"..."
"Apa?! Dia sedang bulan madu dan akan digantikan dengan asistennya?" pekik Rein kesal.
"..."
"Aku hanya menginginkan Belva untuk mendampingi kasus ini. Berikan nomor ponsel Belva dan aku sendiri yang akan menghubunginya."
Setelah panggilannya dengan Arel terputus, Rein pun segera menghubungi Belva agar bisa menemuinya nanti malam.
"Belva, ini akau Rein!"
"Hai Rein, bagaimana kabarmu?" tanya Belva diujung panggilan. Keduanya sempat dekat karena Belva selalu memenangkan kasus yang dialami oleh keluarga besar Rein.
"Aku baik, selamat ya atas pernikahanmu. Sayangnya kali ini aku benar-benar sangat membutuhkan bantuan, Belva. Apa kita bisa bertemu besok pagi?" tembak Rein secara to the point
"Ck, aku sedang berbulan madu Rein, bisa tidak jika kali ini masalahmu biar ditangani oleh Dirga. Dia asisten ku yang handal," tukas Belva yang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
"Bagaimana dengan tiket honey moon ke paris selama satu minggu?" tawar Rein membuat Belva terdiam di ujung panggilan.
"Ayolah Belva, aku mohon kali ini bantu aku untuk meleraikan masalah calon istriku," pita Rein dengan nada memohon.
"Calon istri?!!! Aku tidak salah dengar kan?" teriak Belva di ujung panggilan dan begitu memekakkan telinga Rein.
"Akhirnya aku mendengar sang bujang lapuk akan memiliki seorang istri!" ledek Belva diujung panggilan. "Baiklah, kali ini aku dan istriku akan membantu masalah kalian."
"Thanks, Belva. Besok kita bertemu di restoran di hotel tempat kau menginap saja," tukas Rein sambil mengakhiri panggilannya.
Tak berapa lama, Michie pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang sendu. Rein pun sudah paham apa yang membuat Michie terlihat begitu sedih.
"Eden Hag mengajukan penangguhan pernikahan kita, Rein!" tukas Michie menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Tidak masalah, Michie. Aku juga sudah menghubungi pengacara handal untuk membantu masalah ini," tukas Rein membuat wajah Ecca berbinar.
"Are you sure, Rein?" tanya Michie yang tanpa ia sadari memegang tangan Rein dengan sangat erat.
"Tentu saja, Michie! Lagi pula aku juga tidak akan membiarkan seorang pun menghalangi pernikahan kita," jawab Rein membuat Michie kini bisa bernafas lega.
"Thanks, Rein! Kali ini aku mengandalkanmu!" Michie tiba-tiba memeluk Rein dengan sangat erat.
Sikap Michie barusan membuat Rein bersorak penuh kemenangan. Ia pun membalas pelukan Michie sambil mengusap punggung calon istrinya itu.
"Apa kau bahagia karena sebentar lagi akan menikah denganku?" tanya Rein yang seketika membuat Michie sadar akan sikapnya barusan.
Cepat-cepat ia melepaskan pelukannya dan menjauh dari tubuh Rein sambil memalingkan wajahnya yang saat ini sudah merona.
"Jangan berfikiran yang tidak-tidak, Rein! Bersiaplah, karena setelah pemotretan aku ingin segera pulang ke Mansion!" tukas Michie mengalihkan pembicaraan Rein.
"Oke, sayang," balas Rein yang langsung buru-buru masuk ke dalam kamarnya sebelum Michie melayangkan protesnya.
Mendengar panggilan Rein barusan membuat Michie menarik bibirnya dan menyunggingkan senyumnya. Namun, Michie langsung menepuk-nepuk pipinya sambil terus mengingatkan dirinya sendiri.
"Ck, ayolah Michie! Jangan pernah berfikir macam-macam tentang Rein. Dia juga seorang laki-laki yang sama dengan Daddy mu."
"Ingat, laki-laki itu hanya membuatmu merasa sakit hati! Jadi jangan coba-coba untuk memikirkan mereka jika tidak mau merasakan sakit hati!"
Michie mencoba mengatur nafasnya perlahan sampai Rein keluar dari kamarnya dan mengenakan jas berwarna birel yang senada dengan gaun yang saat ini ia kenakan.
"Michie! Tidak bisakah kau menungguku sebentar?" tanya Rein mengejar langkah Michie.
"Ck, makanya kalau jalan jangan kayak siput dong!" ledek Michie yang sebenarnya enggan menunggu Rein.
Rein pun mempercepat langkahnya dan membuat Michie semakin tergesa-gesa, sampai ia tidak melihat jika ada batu di depannya.
Michie pun hampir saja terjatuh karena kakinya tersandung batu. Lagi-lagi Rein dengan sigap menarik tubuh Michie dan langsung menahannya agar tidak terjatuh.
Sayangnya Rein justru sengaja membalikkan tubuh Michie dan membuat Michie menciumnya tepat di bibirnya.
Kecelakaan ini ternyata tidak disia-siakan oleh Dira. Dengan cekatan ia membidik keduanya yang tampak sangat natural tanpa dibuat-buat.
Hasil bidikan Rein kali ini juga sangat pas posisinya dengan background sunset dibelakang keua pasangan itu.
Michie pun langsung mendorong tubuh Rein dan mengibaskan gaunnya.
"Jangan cari kesempatan dengan ku, Rein!" protes Michie dengan nada yang mulai marah.
"Aku hanya ingin menyelamatkaanmu agar tidak terjatuh, Michie! Mana mungkin aku berani mengambil kesempatan denganmu?" sanggah Rein membela dirinya.
"Ck, tetap saja aku tidak suka!" celetuk Michie kesal karena kali ini bukan Rein yang mendaratkan bibirnya, namun justru Michie sendiri yang tampak memulainya.
"Oke, kalo begitu aku minta maaf untuk kesalahan kali ini!" tukas Rein yang tidak mau memperpanjang masalahnya.
__ADS_1
"Apa kau sedang menyindirku, Rein?" tanya Michie kesal karena ia sendiri sadar jika yang salah adalah dirinya yang tidak melihat ada batu di depannya.
Rein pun mengusap wajahnya kasar karena bingung harus bagaimana menghadapi kemarahan Michie kali ini.
"Panggil kan fotografernya, setelah ini aku ingin segera pulang!" pinta Michie dengan kesal.
"Foto untuk sore ini saya rasa cukup, Nona. Bahkan pemotretan kali ini justru terlihat sangat natural!" jelas Dira sambil memperlihatkan hasil bidikannya kepada Michie.
"Apa-apaan ini!" semprot Michie ke arah Dira. "Apa kau tidak melihat jika foto ini terlihat sangat buruk sekali. Bahkan aku terlihat sangat agresif di sini!" gerutu Michie sangat kesal.
Rein pun menahan tawanya saat melihat foto mereka yang tampak sangat luar biasa karena Dira memanfaatkan kecelakaan tadi dengan sangat baik.
"Dira, sepertinya kau harus membidik ulang untuk menggantikan foto tersebut!" tukas Rein sambil mengedipkan matanya ke arah suami sahabatnya itu.
"Kali ini jangan buat foto Michie terlihat agresif, tapi arahkan agar terlihat jika akulah yang lebih agresif!" titah Rein yang sudah melingkar kan tangannya di pinggang Michie.
"Rein!" protes Michie.
"Diam dan menurutlah Michie!" titah Rein membungkam mulut wanita di pelukannya itu.
"Aku akan melakukannya sekali demi hasil yang baik, Michie!" bisik Rein membuat Michie langsung mendorong tubuh Rein.
"Jangan gila, Rein!" tolak Michie saat ritme detak jantungnya sudah tidak karuan.
"Semuanya tergantung padamu, Michie. Apa kau mau memajang foto prewedding kita dimana kau terlihat begitu agresif?" tanya Rein membuat Michie menghela nafasnya panjang.
☘️☘️☘️
Nah looo, kira-kira mana ya yang aka dipilih Michie untuk foto prewedding mereka saat sunset kali ini?
Pantengin terus kelanjutannya yaaa, Novel ini memang Author buat dengan masalah yang ringan-ringan aja.
☘️☘️☘️
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.
__ADS_1