
Michie kini sudah duduk berhadapan dengan Dokter Rima. Berbagai dugaan yang memenuhi kepala Michie membuatnya harus siap mendengarkan cerita dari dokter Rima.
Dokter Rima pun langsung menceritakan keadaan Risa saat sudah ditangani oleh dokter sampai saat Risa mengamuk dan meminta bunuh diri dengan alasan Rima yang tidak lagi peduli dengannya.
Michie masih terlihat sangat santai saat Dokter Rima bercerita karena semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan Rein sama sekali. Namun saat Michie mendengar bahwa Risa meminta untuk dijadikan istri kedua oleh Rein dan rela berbagi cinta membuat hati Michie terasa sedikit perih.
"Aku sudah mengatakan kepadanya untuk meminta hal yang lain selain ini pada Risa, sayangnya kondisinya langsung drop."
Michie menelan ludahnya kasar setelah mendengar semua cerita dokter Rima. Mulutnya masih bungkam, lidahnya juga terasa kelu harus berbicara apa untuk menanggapi cerita dokter Rima barusan.
'Sudah kuduga sebelumnya jika Risa pasti meminta hal gila ini!' gumam Michie dalam hati.
"Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali adikku, Risa! Kedua orang tua kami pun sudah tiada. Ini yang membuat aku sangat bingung dan kalut. Terlebih Rein menolak mentah mentah permintaan Risa," ucap Rima dengan tatapan yang kosong dan membuat Michie iba.
...☘️☘️☘️...
Di sisi lain, Rein yang sudah kembali ke Mansion setelah menemui Belva sangat terkejut saat mendapatkan laporan kedua neneknya jika Michie belum kembali ke Mansion sejak pagi.
"Bagaimana mungkin Michie belum kembali? Aku sendiri tadi yang mengantarkannya pulang," ucap Rein gusar.
"Lebih baik hubungi ponselnya dan tanyakan dimana posisinya sekarang!" tukas Mama Yuri yang baru sampai di Mansion.
Sayangnya ponsel Michie sedang tidak aktif dan tidak bisa dihubungi. "Gak aktif, Ma!" balas Rein gusar.
Namun tiba-tiba Rein teringat jika saat di mobil Michie trus bertanya dengannya tentang masalah yang ia hadapi. "Apa jangan-jangan Michie menemui, Rima?!" tebak Rein yang langsung berbalik dan bergegas menuju ke rumah sakit.
...☘️☘️☘️...
"Maaf Dokter Rima, aku tidak tahu harus bagaimana menanggapi ceritamu kali ini," tukas Michie.
"Ya, aku pun paham. Terlebih kalian baru saja menikah."
"Tapi Michie, jika aku boleh meminta. Tolonglah aku kali ini saja," pinta Rima dengan wajah yang sendu.
"Hanya Risa keluarga yang aku punya. Nyawanya sangat berarti untukku, Michie. Terlebih sebelum orang tuaku meninggal, aku sudah berjanji untuk mengurusnya dengan baik."
Rima berdiri dari duduknya dan langsung bersimpuh di kaki Michie sambil menangis.
"Aku mohon, Michie! Berbagilah suami dengan adikku!" pinta Rima sambil memeluk kaki Michie dengan erat.
Michie langsung memegang bahu dokter Rima dan memintanya untuk berdiri. "Jangan begini, Dokter!" balas Michie.
Tiba-tiba saja ponsel dokter Rima berdering dan ia langsung mengangkat panggilan yang masuk.
"Apa?! Risa menggigil lagi setelah transfusi darah?!" pekik dokter Rima yang langsung memperlihatkan wajah cemasnya.
"..."
"Oke, aku akan segera kesana!"
__ADS_1
Dokter Rima pun bergegas keluar dari ruangannya dan menuju ke ruang ICU. Michie pun mengikuti langkah dokter Rima menuju ruang ICU. Sayangnya sesampainya di sana, ia tidak diizinkan masuk ke dalam.
5 menit kemudian, Dokter Rima keluar lagi dan langsung memegang tangan Michie dengan sangat erat.
"Aku mohon, Michie. Bantu aku kali ini. Selamatkan nyawa adik kesayanganku!" pinta dokter Rima.
Michie menghela nafasnya panjang.
"Baiklah."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Michie yaang sudah tidak ada pilihan lain.
"Masuklah ke dalam, dan berbicaralah dengan Risa!" Dokter Rima menarik tangan Michie untuk menemui adiknya.
"Kali ini aku sangat mengandalkanmu, Michie!" tukas Dokter Rima.
Langkah Michie terasa sangat berat saat memasuki ruang ICU. Namun, saat melihat Risa menggigil sambil melotot kan matanya bukannya membuat Michie iba, melainkan curiga.
'Hemm, aku pernah mengalami kasus pasien yang menggigil setelah transfusi darah.'
'Tapi, tidak seperti Risa yang justru seperti orang kesurupan!' gumam Michie dalam hati.
Michie pun memandang ke arah dokter Rima.
'Tapi kenapa Dokter Rima tidak curiga dengan hal aneh ini ya? Dia juga pasti banyak menemui kondisi pasien yang terkena efek transfusi darah, bukan?'
'Ck, aku yakin. Ada sebuah konspirasi di sini!'
"Lihatlah, Risa! Kakak tidak berbohong bukan?" ucap Rima yang sudah berada di samping Risa.
"Kakak sudah bilang jika kakak pasti akan menepati janji!" lanjutnya lagi sambil mengedipkan mata ke arah Michie untuk memberi kode agar dia mulai berbicara kepada Risa.
Michie pun tersenyum ke arah Risa. "Bagaimana keadaanmu, Risa?" tanya Michie.
"Aku sudah rela berbagi suami denganmu!" ucap Michie sambil mendekat ke arah Risa dan memegang tangannya.
'Hemm, suhu tubuhnya stabil. Tidak tinggi ataupun rendah!' batin Michie.
Meskipun tidak belajar di Fakultas Kedokteran, wawasan Michie sangat luas. Jadi hal seperti yang dialami Risa, Michie sangat paham.
"Cepatlah sembuh, Risa! Kau pasti menantikan hari bahagia mu bersanding dengan Rein, bukan?" lanjut Michie lagi.
"Benarkah Michie?" tanya Risa dengan wajah yang sangat bahagia.
Bahkan ia melupakan adegan menggigilnya dengan mata melotot yang hampir keluar tadi.
Kecurigaan Michie semakin kuat kali ini. Terlebih di tiang infus tidak ada kantong darah yang ditransfusikan ke tubuh Risa.
"Dokter Rima, kapan Risa melakukan transfusi darah?" tanya Michie dengan nada menyelidik.
__ADS_1
Deg!
Pertanyaan Michie kali ini membuat Dokter Rima sedikit tergagap.
"Tadi Malam!"
"Tadi Pagi!"
Dokter Rima dan juga Risa menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
"Emmmh, maksudnya mulai dari tadi malam sampai pagi ini, Michie!" jelas Dokter Rima membuat Michie tersenyum.
"Oh!" jawab Michie pendek.
"Baiklah kalau memang seperti itu. Oh iya, Dokter Rima, Risa, sepertinya aku harus pemit untuk mempersiapkan pernikahan kedua Rein setelah Risa sembuh."
Dokter Rima pun langsung mendekati Michie dan memeluknya dengan sangat erat.
"Terima kasih banyak atas kebaikanmu, Michie! Kali ini aku sudah bisa bernafas dengan lega," ucap Dokter Rima sambil mengusap punggung Michie.
"Sama-sama, Dokter. Kalo gitu aku pulang yaa."
"Risa, cepat sembuh yaaa. Semangat!" ucap Michie sebelum keluar dari ruang ICU.
Michie pun melangkah keluar dari ICU dan menyusuri koridor rumah sakit. Dalam benak Michie mulai menyusun beberapa rencana tentang permintaan Dokter Rima yang sudah ia setujuinya tadi.
Saat Michie hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba tangannya di tarik ke belakang dan langsung digendong ala karung beras oleh seseorang yang kemudian membawa Michie menuju ke pintu darurat.
"TURUNKAN AKU!" teriak Michie saat dirinya sudah berada di ujung tangga darurat.
Lelaki tadi pun langsung menurunkan Michie dan langsung mengunci nya di ujung dinding.
"Rein!" gumam Michie terkejut saat mengetahui bahwa Rein lah yang sudah membawanya seperti seorang penculik.
☘️☘️☘️
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
__ADS_1
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya.