
Risa terus saja mengelak saat dokter dan juga perawat hendak melakukan pertolongan pertama menghentikan darah yang terus saja keluar dari pergelangan tangannya.
Rima sendiri juga mulai panik melihat Risa mencelakakan dirinya sendiri. "Stop Risa! Kakak Mohon!" pinta Rima dengan terus berteriak.
"Kakak akan menuruti semua keinginan kamu asal kamu mau berhenti seperti ini!" pekik Rima membuat Risa yang sudah sangat lemas karena kehabisan banyak darah pun akhirnya mulai tenang.
"Apapun yang aku minta?" tanya Risa memastikan janji Rima barusan.
"Iya, kakak janji!" tukas Rima.
Risa pun menurut dan dengan cepat dokter dan juga para perawat langsung memberikan pertolongan pada Risa. Karena sudah sangat lemah, Risa pun tiba-tiba tidak sadarkan diri dan membuat Rima kembali gusar.
Akhirnya Risa pun di pindahkan ke ruang perawatan intensif.
...๐ก๐ก๐ก...
Sedangkan di Mansion Rein, semua keluarga sudah berkumpul untuk menikmati sarapan. Dengan terampil Michie mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Rein.
"Hari ini rasanya keluarga kita sangat lengkap yaa!" celetuk Oma yang tampak sangat bahagia.
"Benar! Tinggal menunggu adanya calon baby di perut Michie!" timpal Granny sambil mengusap perut Michie.
Michie hanya tersenyum kikuk mendengar celotehan kedua nenek tua ini.
"Rein, Oma sangat salut denganmu!" puji Oma tiba-tiba.
"Salut untuk apa?" tanya Rein sambil mengerutkan keningnya.
"Tentu saja karena pengertian darimu yang tidak membuat cucu menantu kelelahan di malam pertama dan bisa bergabung sarapan dengan kita!" jawab Oma membuat Michie merasa sangat canggung.
Jangan ditanya bagaimana wajah Michie saat ini yang sudah seperti kepiting rebus. Terlebih semua mata kini tertuju ke arah mereka berdua.
"Benar kata Oma. Biasanya pengantin baru selalu bangun siang dan meminta sarapannya di antar ke kamar!" timpal Granny.
Kali ini Mama Yuri yang tadinya bungkam pun mulai buka suara.
"Mama jadi curiga, jangan bilang kalinya belum melakukan malam pertama kalian!" tembak Mama Yuri membuat Michie sangat terkejut.
Ada sedikit perasaan bersalah di lubuk hati kecilnya karena sudah mengabaikan Rein yang kini menjadi suaminya di malam pertama mereka. Terlebih tadi pagi Rein juga sudah memintanya kepada Michie secara baik-baik.
Namun, Michie justru menolaknya secara terang-terangan. Padahal Michie sendiri sangat faham hukum bagaimana posisinya sebagai istri yang baik menurut pandangan agama.
"Yaa gimana mau malam pertama, Ma. Orang Michie...." belum selesai Rein berbicara, kalimatnya langsung terhenti karena Michie mencubit pahanya dengan sangat kuat.
"Emm, memang belum Ma. Maaf ya semuanya. Michie soalnya sedang datang bulan," jawab Michie membuat alasan.
__ADS_1
Padahal datang bulan Michie sudah selesai 3 hari yang lalu.
'Apa?! Michie datang bulan?' pekik Rein dalam hati yang seketika langsung lemas karena harapannya untuk memiliki Michie sesegera mungkin harus pupus sudah.
Wajah kecewa Rein terlihat sangat jelas membuat siapa pun yang melihatnya pasti merasa tidak tega.
"Tidak perlu sedih Rein!" tukas Oma menimpali. "Biasanya setelah datang bulan nanti adalah masa subur Michie kalian melakukan hubungan suami istri."
"Waaah, kalau begitu kita bisa cepat memiliki cicit yaa!" celetuk Granny.
"Hmm, jika memang seperti itu, tiket penerbangan ke Paris akan papa reschedule minggu depan. Jadi tepat saat Michie selesai datang bulan. Bagaimana?" tanya Papa Finn yang langsung disetujui oleh semuanya.
Rein pun hanya mengangguk anggukan kepalanya karena sebelumnya ia memang sudah tahu akan diberi fasilitas honey moon di Paris oleh Papanya.
Sayangnya, Rein belum tahu jika ternyata ia tidak hanya pergi berdua dengan Michie, melainkan bersama dengan seluruh keluarga besarnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Rein dan Michie pun bersiap-siap untuk menuju ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Risa.
Mom Lili satu mobil bersama Mama Yuri menuju ke rumah sakit karena Papa Finn harus kembali mengurus pekerjaan di kantor.
Sesampainya di rumah sakit, Michie sangat terkejut saat mendengar Risa yang dirawat di ruang ICU. Terlebih saat dokter Rima meminta Rein menemui dirinya di ruang khusus tanpa meminta Michie ikut serta dengan mereka.
"Apa kemarin Rein menabrak Risa dengan kencang sampai Risa harus dirawat di ruang ICU?" tanya Mama Yuri kepada Michie yang sedang menunggu di koridor yang menuju ke ruang ICU.
Sedangkan Rein kini duduk berhadap-hadapan dengan Rima di ruang yang biasa digunakan untuk konsultasi antara dokter dengan keluarga pasien.
"Bagaimana keadaan Risa?" tanya Rein.
"Keadaannya sangat kritis Rein. Bahkan bukan hanya fisiknya, psikis Risa juga sangat drop dan membuat dokter yang menanganinya sangat kewalahan."
Rima pun kemudian menceritakan bagaimana saat Risa memutuskan ingin bunuh diri dan menolak setiap tindakan dokter yang ingin menyelamatkannya.
"Loh, kamu juga kan dokter. Bukannya masalah ini adalah hal yang biasa ditemui oleh seorang dokter sepertimu, Rima?" tanya Rein menimpali cerita Rima.
"Kenapa tidak dibius saja dan kemudian baru dilakukan tindakan untuk Risa?"
"Tindakan bius memang bisa diberikan ketika semua cara yang sudah ditempuh tidak berhasil, Rein. Tetapi, Risa masih mau menurut dan tenang saat aku berjanji ingin memberikan apapun yang dia minta!" balas Rima.
"Bagus dong. Berarti keadaannya saat ini sudah lebih baik kan?" timpal Rein.
"Keadaannya memang sudah sedikit lebih baik, Rein. Hanya saja saat ini bukan itu masalahnya."
Rima terlihat menghela nafasnya panjang seolah beban yang saat ini ada padanya terasa begitu berat.
"Apa masalahnya, Rima?" tanya Rein.
__ADS_1
"Risa meminta padaku untuk dijadikan istri kedua olehmu, Rein!"
"Dia bahkan mengatakan rela untuk berbagi cinta dengan Michie. Aku sudah memintanya untuk meminta hal yang lain selain ini."
"Sayangnya dia kembali merajuk dan seketika drop lagi. Bahkan ia makin bertekad ingin bunuh diri jika dia tidak bisa menjadi istrimu, Rein!"
"Kali ini aku tidak bisa bilang apa-apa lagi selain memohon bantuanmu Rein. Hanya Risa yang aku miliki setelah kedua orang tuaku meninggal dunia."
Deg!
Penjelasan Rima kali ini membuat Rein bagai disambar petir.
"Kecelakaan yang terjadi pada Risa bukan sepenuhnya kesalahanku, Rima. Kau sendiri tahu kan jika aku saat itu juga sedang berjuang untuk menyelamatkan diri dari kegilaan Fredy!"
"Aku juga tidak mungkin menyakiti hati Michie yang baru hitungan jam menjadi istriku!"
"Apa Risa tidak semakin sakit hati jika nantinya aku justru mengabaikannya dan lebih mengedepankan Michie?"
"Fikirkan hal itu baik-baik, Rima!"
"Menikahi Risa dan menjadikannya istri kedua ku sama sekali tidak ada dalam kamus hidupku."
"Jika memang seperti ini, lebih baik gugat saja aku agar aku dipenjara dari pada aku harus mengikuti permintaanmu!" ucap Rein sambil mengusap wajahnya kasar.
"Aku permisi!" Rein langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu, Rein!" teriak Rima terpekik yang tentunya tidak dihiraukan oleh Rein.
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Yuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 ๐๐๐๐๐
Like ๐
Comment ๐ฌ
Subscribe โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya.
__ADS_1