Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
10. Lagu itu....


__ADS_3

Happy reading...!!!!!


Rara yang saat itu sedang mencari dapur hotel malah tersesat ke ballroom hotel. Telinganya mendengar suara nyanyian merdu dari ruang itu. Dia membawa kakinya melangkah ke ballroom. Lagu kesukaannya saat waktu kecil, "Sepucuk Surat Buat Adik".


Dia merasa tertarik dengan lagu itu, di tambah suara merdu penyanyinya. Salah satu lagu yang di nyanyikan Cio saat kakaknya itu sudah berada di Eropa.


Rara terus melangkah sembari menikmati lagu itu hingga tak sadar sudah berada di pintu masuk.


Dia kaget dan sadar dari khayalannya saat di tahan oleh penerima tamu yang terdiri dari beberapa wanita dan pria yang memakai seragam sama.


Penerima tamu tidak mengizinkannya masuk karena melihat penampilannya, serta tak dapat menunjukkan kartu undangan ketika di minta. Mereka mengira Rara tamu hotel yang ke sasar.


Rara mengerti akan hal itu. Prosedur harus di ikuti oleh para tamu. Karena ini acara besar dan mewah milik kalangan kelas atas dan tamunya orang orang penting.


Rara meminta maaf dan segera berbalik. Saat berjalan 10 langkah, sebuah panggilan menghentikannya.


"Nona Rara, tolong maafkan mereka yang tidak mengetahui tentang Anda." kata manager hotel yang melihat dirinya berjalan meninggalkan ballroom. Untung saja dia masih melihat Rara setelah mendapat informasi dari petugas ruang pemantau CCTV hotel. Dia di beri tahu saat ini Rara sedang berdiri di depan pintu masuk ballroom. Buru buru dia segera melangkah cepat menuju tempat ini.


"Mereka benar kok, gak salah. Mereka hanya melaksanakan tugas. Anda tidak perlu meminta maaf seperti. Aku tidak apa-apa. Aku permisi dulu." kata Rara.


Tapi langkahnya kembali terhenti.


"Buk, dapur hotel di mana?" tanyanya.


"Dapur hotel?" tanya manager hotel sedikit kaget.


"Iya...aku ingin ke sana!" jawab Rara.


"Maaf nona, kalau boleh saya tahu, untuk apa anda ke dapur hotel? Apa anda memerlukan sesuatu? Katakan saja pada saya, kami akan segera mempersiapkannya dan mengantar ke kamar anda!"


"Aku tidak butuh apa pun. Aku hanya ingin bertemu dengan koki yang memasak nasi goreng yang ku makan tadi." kata Rara.


Manager hotel kaget.


"Kalau hanya untuk bertemu dengannya, anda tidak perlu repot-repot ke dapur. Biar saya yang akan menyuruhnya ke kamar anda."


"Ah tidak....aku sengaja turun untuk menemuinya secara langsung di dapur. Sekalian melihat cara dia memasak, serta bumbu apa yang di pakai! Boleh kah anda mengantarkan aku kepadanya?"


Manager bingung harus bagaimana. Karena yang membuat makanan itu adalah bosnya sendiri, pemilik hotel ini, Ryu Deva Mayandra. Apa dia harus menghubungi bosnya untuk menyampaikan keinginan Rara?


Dia sendiri bingung kenapa bosnya itu repot repot membuat kan nasi goreng untuk gadis ini sementara hotel ini punya koki yang handal dan berkualitas.


Pertama kalinya bosnya turun ke dapur hotel dan membuatkan makanan untuk tamu hotel, yaitu Rara. Sudah banyak kali hotel ini di kunjungi oleh tamu penting dan berkelas, tapi baru kali ini bosnya membuat kan makanan untuk tamu yang satu ini.


Siapa gadis ini hingga membuat bosnya memperlakukannya istimewa? ada hubungan apa di antara mereka? Saat gadis ini hilang dalam pandangannya tadi, bosnya itu sangat cemas. Mencari Rara ke sana kemari dengan panik, khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada gadis ini. Sampai sampai mereka kena amarah karena lambat mengetahui keberadaan gadis ini.


Tapi dalam penglihatannya, Rara tidak mengenal Ryu. Karena Rara tidak mengetahui kalau pemilik hotel ini adalah Ryu. Sementara sang bos sangat tahu tentang Rara. Sang bos bahkan menyuruh mereka melayani gadis ini dengan baik agar betah dan nyaman menginap di hotel ini.


Dan sekarang ini, Ryu sedang berada di dalam ballroom memenuhi undangan pemilik pernikahan. Juga menyalami tamu undangan penting lainnya yang merupakan sahabat dan rekan bisnisnya setelah mengetahui keberadaan Rara yang ke sasar mencari dapur hotel.


Apa dia harus menghubungi tuannya untuk memberi tahu keinginan gadis ini?


Sementara tuannya menyuruh mereka untuk merahasiakan pembuat nasi goreng untuk Rara.


"Bagaimana ini?" batin manager semakin bingung.


"Sepertinya anda lagi sibuk dengan acara itu. Aku akan pergi sendiri untuk menemuinya. Aku tidak akan mengganggu pekerjaan anda. Katakan saja di mana dapurnya, terus nama kokinya. Dan tolong hubungi dia, katakan padanya untuk menungguku di depan pintu dapur, agar aku tidak kesulitan mencarinya saat tiba di sana." kata Rara melihat wajah kebingungan sang manager. Mungkin manager ini lagi sibuk dengan perayaan di dalam mengingat jabatannya sebagai manager dari hotel mewah ini. Rara tidak mau mengganggu.


Alunan suara musik kembali menggema dari dalam ballroom.


Rara yang saat itu sedang menunggu jawaban manager mengarahkan pandangannya ke pintu masuk ballroom. Dia tertarik dengan alunan suara musik itu.


Beberapa detik berlalu suara penyanyinya mulai terdengar mengalun indah. Suara merdu dari orang yang sama tadi, seorang pria.

__ADS_1


"Lagu ini....!" ucap Rara mengingatkan sesuatu.


Wajahnya langsung berubah mendung mendengar setiap bait dari lagu yang berjudul, "Adikku Tersayang" tersebut.


Lagu yang sering di nyanyikan Cio untuknya saat mereka masih kecil dulu.


Untukmu adikku kecilku yang lucu.


Ku berjanji akan menjaga dirimu.


Untukmu adikku tersayang.


Ku bersyukur tuhan kirimkan dirimu.


Tanpa sadar Rara melangkah menuju pintu ballroom meninggalkan manager yang kembali bingung dengan sikapnya. Dia segera mengikuti Rara dari belakang. Dari jauh dia memberi isyarat pada penerima tamu untuk membiarkan gadis itu masuk.


Rara terus melangkah menikmati lagu itu dan lupa dengan penampilannya.


"Siapa yang menyanyikannya?" batinnya. Suara itu terdengar tak asing di telinganya.


Kita tak selamanya.


Akan selalu bersama.


Namun hati kita kan selamanya menyatu.


Sampai nanti kita dewasa.


Kejar mimpi kita.


Rara mendesah sedih mendengarnya.


Dia masuk tanpa mendengar sapaan sopan penerima tamu. Lagu ini terasa sekali menyentuh hatinya. Seakan di tujukan untuknya. Bayangan kebersamaan dia dan Cio saat kecil menari di benaknya. Lagu ini selalu di nyanyikan Cio sebelum dia akan pergi menempuh pendidikan ke Eropa. Di nyanyikan Cio untuk menghibur dirinya karena tidak mau di tinggal pergi ke Eropa.


Seperti itulah aku akan mengawal mu.


Boleh saja kita merasakan lelah.


Tapi jangan pernah kita tuk menyerah.


Kita tak selamanya akan selalu bersama.


Namun hati kita kan selamanya menyatu.


Sampai nanti kita dewasa.


Kejar mimpi kita.


"Kak Cio," gumamnya sedih teringat Cio. Kedua matanya berkaca-kaca. Dia semakin cepat melangkah menuju panggung yang berada di depan tanpa perduli tatapan sebagian para tamu yang melihat aneh dirinya. Berbagai ucapan buruk keluar dari mulut mereka membicarakan penampilannya. Di selingi tawa kecil dan tatapan mengejek. Sikapnya yang cuek dan acuh dengan penampilannya yang masuk ke acara pernikahan besar ini. Rara tak perduli dengan penilaian mereka.


"Kenapa gadis ini bisa masuk?" ucap mereka saling bertanya. Melihat penampilan Rara dari pakaiannya, rambut yang di Cepol asal, hingga kakinya yang memakai sendal tidur.


Semakin dekat dengan panggung, Rara menerobos di antara para wanita yang menyaksikan pria itu bernyanyi merdu. Rara tak perduli dengan tatapan aneh mereka yang bercampur kesal karena sembarangan masuk mengambil tempat dan berdiri sejajar dengan mereka. Para wanita itu tak fokus lagi pada Cio dan malah melihat kepadanya dengan pandangan tak suka.


Rara ingin melihat siapa pria ini. Yang sedang bernyanyi dengan posisi membelakangi mereka.


Kita tak selamanya akan terus bersama.


Namun hati kita kan selamanya menyatu.


Kita kan selalu terhubung dalam doa.


Tuhan pasti akan menjaga kita berdua.

__ADS_1


Walau nanti kita dewasa kejar mimpi kita.


Lagu berakhir.


Perlahan sang pria membalikkan tubuhnya menghadap ke depan. Matanya langsung di suguhkan pada Rara yang berdiri tepat beberapa meter di depannya berbaur dengan tamu lainnya. Rara yang menatapnya dengan tatapan sedih. Bahkan di lihatnya, mata itu merah, dan basah oleh air mata. Pria yang tak lain adalah Cio itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari tatapan mata Rara karena tak mampu melihat kesedihan adiknya itu. Cio sengaja manyanyi kan lagu kecil mereka untuk menarik perhatian Rara saat tahu gadis ini menuju ballroom.


Suara tepukan tangan para tamu mengalihkan pandangannya dari Rara. Dia segera mengumbar senyum sebagai ucapan terimakasih atas tepuk tangan dan pujian atas suara merdunya.


Rara mendesah sedih, ternyata bukan kakaknya. Hanya orang lain. Pria yang merupakan tetangga barunya di kamar lantai atas. Air mata Rara jatuh mengalir. Dia segera berbalik dan perlahan melangkah. Hatinya terasa sakit, dadanya juga sesak. Tak mungkin pria itu kakaknya. Tak mungkin juga Cio akan ingat lagi lagu itu. Karena Cio sudah melupakan dirinya sejak lama.


"Tuan Ryu, untuk siapa lagu tadi? sepertinya untuk seseorang di masa kecil anda! Anda begitu menghayati saat menyanyikan nya." tanya sang MC. Suaranya menggema di seluruh ruangan dan terdengar oleh Rara.


"Yah.... itu untuk adikku. Lagu yang sering kami nyanyikan bersama saat kecil dulu. Tadi aku bertemu dengan seorang gadis yang mengingatkan aku tentang dirinya. Karena gadis itu seusai Adikku sekarang ini!" ujar Cio.


"Seorang gadis? siapa dia?" MC kembali bertanya.


"Gadis remaja yang manis. Aku belum tahu namanya karena kami baru bertemu tadi dan belum berkenalan.Tapi aku tahu tempat tinggalnya. Dia tetanggaku satu satunya di lantai atas." kata Cio seraya menatap punggung Rara terus melangkah.


Rara mendengar ucapannya itu di sela langkahnya. Dia tahu tetangga yang di maksud Ryu adalah dirinya.


"Jadi anda menyanyikan lagu itu untuk mengenang kembali masa kecil kalian berdua?"


"Benar sekali. Setiap saat aku selalu merindukannya. Meski jauh dan berpisah lama, aku tidak pernah melupakannya. Dia selalu ada di hatiku hingga saat ini dan selamanya. Hanya dia adikku satu satunya. Tak ada yang lain."


Langkah Rara melambat mendengar kata kata itu.


"Sungguh beruntung sekali gadis itu mendapatkan kakak seperti pria itu!" gumamnya lirih.


"Kenapa kak Cio tak bisa seperti dia? Padahal kakak sudah berjanji akan terus menyayangiku meski jauh, tak akan melupakan ku. Dan berjanji akan pulang secepatnya menemui aku!" gumamnya kembali. Air matanya kembali mengalir. Rara kembali melangkah lebih cepat karena tak tahan lagi membendung tangisnya.


"Sepertinya anda sangat menyayangi adik anda tuan Ryu." sang MC kembali berkata.


"Tentu saja aku menyayanginya. Sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri."


"Waoww, anda benar benar kakak yang luar biasa." para tamu bertepuk tangan dan berdecak kagum.


"Bolehkah kami tahu, siapa nama adik anda itu tuan Ryu?"


"Tentu saja boleh. Namanya.... Khanza!"


Langkah Rara langsung terhenti seketika mendengar nama itu, Khanza? gumamnya.


Rara terkejut, menatap tak berkedip ke depan. Diam seperti patung. Hanya nafasnya memburu cepat.


"Kenapa nama adiknya bisa sama seperti nama kecilku pemberian kak Cio?" batinnya.


Beberapa detik berlalu, dia berbalik melihat ke arah Cio yang masih berbincang dengan sang MC. Melihat pria itu yang terhalang oleh para tamu.


"Kami percaya anda begitu menyayanginya tuan Ryu. Karena itu anda memberi nama hotel ini dengan menggunakan namanya kan? Hotel Khanza!" kata sang MC.


Cio mengangguk seraya melihat diam-diam pada Khanza yang melihat padanya dari jauh.


"Oke tuan Ryu, kami doakan hubungan saudara diantara kalian abadi selamanya meski terhalang oleh jarak. Aku pribadi terharu dan bangga pada anda. Sekali lagi anda adalah kakak yang hebat dan luar biasa." para tamu kembali bertepuk tangan.


"Ryu.... namanya Ryu. Bukan Cio. Mungkin saja hanya nama kami yang sama." batin Rara mendengar nama pria itu.


"Sadarlah Rara, bukan hanya kau yang bernama Khanza di dunia ini. Ada ribuan bahkan jutaan orang memakai nama yang sama!" batin Rara menyadarkan dirinya sendiri untuk berhenti berharap kalau Ryu adalah Cio. Karena pria itu bukan Cio, tapi Ryu.


Rara kembali berbalik dan melangkah sedikit berlari meninggalkan tempat itu. Air matanya tumpah membanjiri kedua pipi nya. Dia menangis keluar dari ruangan luas dan mewah itu. Berlari menuju lift membawanya ke lantai atas. Setelah sampai di kamarnya, dia kembali menangis keras mengeluarkan beban kesedihannya.


****


Dukung ya, tinggalkan like, komentar, hadiah, rate, dan vote juga boleh.

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah mampir 😘


__ADS_2