
"Tuan Ryu....!" sapa seseorang di belakang mereka.
Keduanya segera menoleh. Mereka terkejut melihat wajah di depan mereka.
"Rangga?" kata Cia. Mata melongo
"Kau ada di sini? Bukannya kau sedang bersama dengan Khanza saat ini?" kata Ryu dengan wajah mengernyit. Melihat sosok pemuda yang tersenyum padanya.
"Aku baru saja sampai." kata Rangga tersenyum.
"Baru sampai? Bukannya kau tadi telah datang? dan saat ini kau sedang menemani Khanza ke toilet.....!" kata Ryu dengan heran penuh tanya.
"Iya, kau tadi masuk, menyapa Khanza. Terus tadi kalian pergi ke toilet untuk menemani Khanza!" sambung Cia membenarkan perkataan Cio. Telunjuknya menunjuk ke arah Khanza dan sosok Rangga pergi tadi.
"Aku ke toilet menemani Khanza?" kata Rangga bingung. Tapi kemudian wajahnya berubah. Dia teringat seseorang. Jangan jangan yang di maksud Ryu dan Cia adalah saudara kembarnya, Rasya.
"Mungkin yang kalian lihat bersama Khanza adalah Rasya, saudara kembar ku!" katanya kemudian.
"Rasya? Saudara kembar mu?" Cia dan Ryu kembali terkejut. Saling berpandangan.
"Iya, dia adikku. Rasya baru sampai dari Amerika pagi tadi. Dia juga datang ke acara ini untuk menjemput mama. Mungkin yang kalian maksud adalah dia." kata Rangga menjelaskan. Rasya adik kembarnya yang sejak SMP memilih menetap dan melanjutkan pendidikan di Amerika.
"Aku datang ke sini atas ajakan Rara. Tapi ku katakan padanya akan menyusul karena masih ada urusan." lanjut Rangga lagi.
"Pantas saja sikap pria itu berbeda dengan dirimu. Meski tahu Khanza sudah menjadi istri kak Cio, dia tetap dekat dan meluk Khanza." kata Cia.
"Tapi kenapa Khanza bisa kenal dengan adikmu? Sementara dia baru tiba dari Amerika?" Ryu menatap tajam, menyelidik.
"Aku ingat, tadi Rasya mengatakan padaku kalau tadi sore dia bertemu dengan seorang gadis di dalam lift sebuah Mall. Gadis itu tiba-tiba saja memeluknya dengan keadaan sedih. Aku yakin gadis itu pasti Rara. Dan Rara mengira Rasya adalah aku." kata Rangga.
Tadi Rasya berkata padanya bertemu dengan wanita aneh di sebuah Mall. Sembarangan memeluk dirinya di dalam lift. Tapi karena dia tidak tega melihat air mata gadis itu, dia membiarkan apa yang di lakukan gadis itu. Dan setelah melihat wajah gadis itu. Dia langsung suka pada Rara. Tapi Rasya tidak mengatakan kalau nama gadis itu Rara. Tapi Rangga tidak mau mengatakan hal itu pada karena hanya akan menambah kemurkaan Ryu. Karena di lihatnya saat ini Ryu tampak di kuasai oleh api amarah dan cemburu.
"Artinya yang di peluk dan memeluk Khanza adalah pria lain?" dengus Ryu. Dia segera melangkah menuju toilet untuk menyusul Khanza. Tidak rela dan sudi istrinya meluk meluk dan di peluk pria lain. Khanza tidak tahu kalau pria yang bersamanya saat ini bukan Rangga, tapi orang lain.
Rangga dan Cia mengikutinya
__ADS_1
Baru beberapa langkah Ryu berjalan, kakinya melambat melihat kedatangan Khanza dan Rasya dari toilet.
"Khanza." panggil Ryu melihat mereka berdua.
Langkah Rara dan Rasya berhenti.
"Dek, pria yang bersama mu itu bukan Rangga, tapi orang lain." kata Ryu segera. Dia mendekati mereka dan menarik tangan Khanza. Rara berusaha melepaskan tangannya tapi di tahan kuat oleh Ryu.
"Hey bung, apa apaan kau? Sembarangan menarik temanku."Lepaskan dia." kata Rasya yang tidak terima dengan perlakuan Ryu pada Rara. Dia hendak menarik tangan Khanza kembali, tapi di hentikan Ryu.
"Diam kau, jangan ikut campur. Sebaiknya kau jauhi gadis ini." sentak Ryu menatap tajam.
Rasya hendak membalas perkataan Ryu tapi di cegah Rangga."Hentikan Rasya." kata Rangga segera. Dia berdiri di antara keduanya.
Rara terkejut melihat wajah yang sama.
"Kok wajah kalian mirip?" tanyanya bingung.
Melihat Rangga dan Rasya bergantian.
"Saudara kembar?" Rara kembali kaget.
Rangga kembali mengangguk."Perbedaan kami ada pada tahi lalat di pelipis dan telinga. Aku punya itu sementara Rasya tidak." Kata Rangga.
"Perbedaan lain, aku lebih tinggi dari Rasya." lanjut Rangga.
Rara, Ryu dan Cia memperhatikan perbedaan itu. Dan benar. Rangga punya tahi lalat di pelipis dan telinga kanan, sementara Rasya tidak. Rangga juga lebih tinggi dari Rasya. Rara juga merasakan perbedaan itu dari sikap keduanya yang berbeda. Rangga terlalu lembut dan menjaga jarak dengan dirinya. Apalagi sejak dia menjadi istri Ryu. Rangga selalu menjaga batasan hubungan di antara mereka. Beda dengan pria bernama Rasya ini. Baru bertemu tapi berani memegangnya, dan tidak menolak saat di peluk. Dan malah membalas memeluknya.
"Jadi yang aku lihat di Mall kemarin bukan dirimu? Tapi adikmu?" tanyanya.
"Iya, Ra. Itu bukan aku." Rangga membenarkan.
Rara terperangah karena salah memeluk orang.
Rasya menatap Rara ."Aku Rasya Nona, adik kak Rangga. Aku juga kaget saat kau tiba-tiba memelukku dalam lift tadi. Aku tidak tega melihat kau menangis, jadi kubiarkan saja." Kata Rasya tersenyum pada Rara."Ternyata kau mengira aku adalah kak Rangga." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Lalu dia melihat pada Rangga." Kakak juga mengenal gadis ini?" Rasya bertanya pada Rangga.
"Iya, dia teman ku. Teman kelasku. Anaknya tante Ara."
Wajah Rasya mengernyit"Tante Ara sahabat mama?" tanyanya kaget.
Rangga mengangguk."Iya, istrinya tuan Ravendro Artawijaya."
Rasya kembali melihat pada Rara. Tentu dia tahu tentang Ara dan Rafa dari cerita ibu dan ayahnya. Rangga menyodorkan tangan kanannya."Halo Rara, senang mengenalmu. Aku tidak menyangka kau adalah anak tante Ara. Mama sering membicarakan mama mu pada aku, dan juga persahabatan mereka. Aku Rasya. Adik kembar kak Rangga. Tapi umur kami hanya beda Dua jam kok." kata Rasya tersenyum menatapnya.
Rara mengulas senyum sekilas, dan menerima jabatan tangan Rasya. Dia tidak menyangka akan salah mengenali orang."Maaf, ku pikir kau Rangga." katanya.
"Tidak apa apa. Aku malah senang." kata Rasya dengan tatapan penuh arti.
"Kau jangan dekat-dekat dengan Rara lagi." kata Rangga.
"Kenapa? Aku menyukainya." kata Rasya enteng.
Ryu geram mendengar perkataan itu. Dia segera memegang tangan Khanza. Tenyata tambah banyak pria yang menyukai dan mengagumi istrinya.
"Ayo dek, kita pergi dari sini." ajaknya.
"Enggak....!" kata Rara berusaha melepas tangannya.
"Hey tuan, kamu bawa Rara kemana? Gak lihat dia sedang bicara dengan kami? Kamu sungguh tidak sopan." kata Rasya.
"Bukan urusan mu." kata Ryu kasar. Menatap tajam.
"Enak saja. Emang kamu siapanya Rara? Berani sekali." Rasya tidak mau kalah.
"Stop Rasya. Tuan ini adalah kakak sepupu Rara. Sekaligus kekasih Rara. Mereka adalah pasangan kekasih. Jadi kamu jauhi Rara dan jangan dekat-dekat Rara lagi." kata Rangga melihat gelagat tidak baik dari keduanya. Rasya terkejut mendengar penuturan itu. Dia menatap dingin pada Ryu, lalu segera melangkah meninggalkan mereka.
"Aku mau menemui mama dulu." kata Rangga setelah kepergian Rasya. Kemudian segera melangkah.
"Hey bocah, Aku ikut dengan mu. Aku juga mau menemui mama Ara." kata Cia seraya melangkah buru buru menyusul Rangga. Seperti punya ikatan batin yang kuat, Keduanya sepemikiran untuk membiarkan Rara dan Ryu berdua.
__ADS_1
******