Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
49. Berbagi cerita


__ADS_3

Setelah mobil Dion pergi, Cindy masuk ke kamar yang di tempati Rara, di dekat kamar Rangga. Dia melihat Rara tampak duduk setengah berbaring di sofa tunggal sambil menatap ke luar dengan tatapan kosong ke depan. Entah apa yang di pikirkan gadis itu. Perlahan Cindy mendekat dan duduk di samping gadis itu. Rara menoleh kepadanya sambil meluruskan punggungnya.


"Rara lagi mikirin apa?" tanya Cindy lembut sambil tersenyum. Melihat mata Rara yang merah dan basah. Dia memperbaiki rambut Rara yang berantakan.


Rara diam tak menjawab.


"Kemarilah....!" Cindy membuka kedua tangannya. Rara segera masuk masuk kedalam pelukannya, duduk setengah berbaring dalam dekapan Cindy. Dia merasa nyaman seperti merasakan kasih sayang dari mamanya.


"Dari pada mikirin sesuatu yang bikin Khanza sedih, Lebih baik kita berbagi cerita. Tante ingin menceritakan sesuatu. Apa Khanza mau dengar?" tanya Cindy. Untuk menghibur gadis ini.


Rara melihat wajah Cindy.


"Tante mau cerita apa?"


"Ini mengenai tante dan Om Dion sewaktu muda dulu. Tante juga mau khanza berbagi cerita tentang keseruan kebersamaan Khanza dan Cio sebagai kakak dan adik. Khanza mau?"


Rara mengangguk pelan.


Cindy menekan ke dua mata Rara yang basah. "Apa yang di lakukan Cio sampai membuat gadis ini tak berhenti menangis? Apa Cio telah melakukan sesuatu yang buruk padanya? Tapi tidak mungkin Cio akan melakukan hal itu. Karena aku tahu Cio sangat menyayangi Khanza sejak dia dalam kandungan Ara. Cio tidak akan tega menyakiti adiknya ini." batinnya.


Cindy mengulas senyum seraya membelai rambut Rara.


"Dulu tante dan Om Dion, sering bertengkar sama seperti Khanza dan Cio." Cindy mulai berbicara pelan pelan sambil mengelus lembut rambut Rara.


Rara diam mendengarkan.


"Tante dan Om Dion juga sepupuan sama seperti Khanza dan Cio." lanjut Cindy.


Wajah Rara mengernyit.


"Jadi tante dan Om Dion sepupu?" tanya Rara kaget.


"Iya. Om Dion adalah kakak sepupu tante." Tante keponakan Raymond Alkas papanya Om Dion."


"Kalau gitu tante menikah dengan sepupu tante sendiri?" tanya Rara kembali. Dia melihat wajah Cindy.


Cindy mengangguk tersenyum.


"Terus kenapa Om dan tante bertengkar?"


"Tante akan jawab. Tapi sebelumnya boleh kita buat kesepakatan dulu?" Cindy tersenyum menatapnya.


"Apa?"


"Tante akan bicara jujur, tapi Khanza juga mau bicara jujur?"


Rara menghela nafas.


"Rara gak bisa janji." katanya. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa di ceritakan pada orang lain. Cukup dia dan Ryu saja yang tahu.


Cindy kembali tersenyum mendengarnya.


"Gak apa-apa. Kita tidak akan membahas sampai ke hal yang sifatnya pribadi. Jika Rara tidak nyaman untuk mengatakannya, tidak usah di katakan!"


Rara mengangguk.


"Sebelum nikah, Om Dion dan tante hidup layaknya kakak dan adik. Terkadang kami sering beda pendapat dan pemikiran, hingga membuat kami bertengkar." kata Cindy mulai bicara.


"Bertengkar karena apa?"


"Om Dion selalu mengatur hidup tante, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Larang ini dan itu. Yang menurutnya tidak baik, tapi bagi tante itu adalah sesuatu yang baik. Bagi Om Dion itu baik, tapi tidak bagi tante."


"Tapi Om Dion marah seperti itu karena sayangnya Om Dion dan untuk kebaikan tante sendiri bukan?"

__ADS_1


"Rara benar sekali. Tapi meski sering cekcok, kami tetap akur!"


"Terus kenapa tante nikahnya sama Om Dion? apa tante nggak punya pacar? dan Om Dion juga nggak punya pacar?"


Cindy tersenyum lebar.


"Kalau tante saat itu gak punya pacar. Om Dion punya wanita yang sangat dia cintai, tapi sudah menjadi milik orang." kata Cindy.


Rara teringat perkataan Cindy di bawah tadi. Wanita yang di cintai Dion pasti mamanya.


"Ceritanya panjang sayang. Intinya kami menikah karena takdir Allah." kata Cindy lagi.


"Bukan karena paksaan?"


"Tidak. Meski Om Dion mencintai wanita lain, Dia murni menikahi tante dengan kemauannya sendiri tanpa ada paksaan." kata Cindy.


"Apa Om Dion gak menjaga perasaan tante? dia menikah dengan tante tapi mencintai wanita lain!" ujar Rara.


Cindy tertawa kecil.


"Om Dion gak tahu kalau wanita itu telah menikah, dia mengira masih sendiri. Lagi pula wanita itu tidak mencintai Om Dion!"


"Jadi tante dan Om nikahnya tanpa cinta dan pacaran?"


Cindy menggeleng."Tidak sama sekali. Kami berdua tidak saling mencintai sebagai layaknya pasangan kekasih. Kami hanya menyayangi sebagai saudara!"


"Terus kenapa bisa menikah kalau tidak saling mencintai? Lagi pula Om dan tante adalah kakak dan adik!"


"Telah terjadi sesuatu yang mengharuskan kami menikah. Tante tidak akan mengatakan apa itu karena itu sangat pribadi.Tapi setelah menikah Om Dion melupakan wanita itu dan mulai menerima dan mencintai tante. Kami berdua belajar untuk saling mencintai satu sama lain. Hingga akhirnya kami bisa saling mencintai sampai sekarang ini!" kata Cindy tersenyum.


"Terus Om Dion masih cinta sama wanita itu?"


"Tidak lagi setelah dia menikah dengan tante. Gak mungkin juga kan Om Dion mencintai wanita yang telah menjadi milik pria lain? Dan lebih lagi wanita itu tidak mencintai Om Dion!"


Rara manggut-manggut mendengarnya. Berarti mamanya tidak mencintai Dion tapi mencintai papanya. Hanya Dion yang mencintai mamanya. Cinta Dion bertepuk sebelah tangan.


"Terus....Om Dion sayang nggak sama tante sebelum nikah?"


"Sayang banget! Om Dion menganggap tante seperti adik kandung sendiri karena Om Dion nggak punya adik. Dia anak tunggal."


"Sayangnya bagaimana?" tanya Rara penasaran dengan kasih sayang di antara keduanya. Apa seperti kasih sayang dirinya dengan Ryu?


"Apa saja yang tante mau selalu di berikan. Tante mau beli apa aja di kasih. Dan kasih sayang Om Dion dalam bentuk yang lainnya adalah dia selalu ngingatin tante hal hal yang baik. Gak boleh ini, itu.... pokoknya nggak boleh melakukan hal-hal yang buruk."


"Om Dion gak melarang tante pacaran?"


"Nggak. Asal cowoknya baik dan tidak nyakitin tante. Cowoknya harus benar-benar tulus sayang sama tante bukan hanya sekedar main main dengan Tante." ujar Cindy.


"Kak Ryu juga begitu! Ngelarang Rara pacaran sama cowok yang nggak baik! Rara di minta harus menjauhi mereka." timpal Rara.


"Itu artinya Ryu sayang sama Khanza!"


"Tante benar, kak Ryu sayang banget sama Rara. Dari kecil kak Ryu sayang sama Rara! Rara juga sayang sama kak Ryu! Dia selalu jagain dan lindungi Rara dari orang orang jahat!"


"Terus apalagi?" tanya Cindy, berharap gadis ini akan menceritakan kehidupannya bersama Ryu.


"Juga sangat memanjakan Rara. Masakin Rara nasi goreng....masak ini dan itu... banyaklah! Nyuapin Rara, bacain dongeng dan nemenin Rara tidur. Makein Rara bedak, ngucir rambut Rara, main bersama, gendongin Rara, suka godain dan jahilin Rara! Pokoknya Rara mau apa pun selalu kakak turutin!" Kata Rara dengan semangat menatap Cindy.


"Apa Om Dion juga seperti itu saat masih menjadi kakak tante?"


"Tentu saja! Om Dion juga begitu. Bahkan Om Dion yang membiayai kuliah tante dan juga membelikan apartemen untuk tempat tinggal tante sewaktu kuliah! Semua yang tante mau selalu di penuhi, asal sekolahnya yang benar. Nggak boleh main-main. Jangan asal pacaran, jangan bikin sesuatu yang bikin malu orang tua dan keluarga!" kata Cindy ikutan semangat biar Rara melupakan kesedihannya.


"Kalau pada Khanza, Cio ngelarang apa?"

__ADS_1


Rara berpikir sejenak.


"Kak Ryu hanya minta Rara jangan meninggalkannya. Jangan jauh jauh dari dia. Apalagi sampai berpisah sama seperti waktu kami kecil. Kak Ryu gak akan sanggup hidup tanpa Rara. Karena itu membuatnya sangat tersiksa dan menderita." kata Rara dengan polosnya.


Cindy sedikit kaget mendengarnya. Ryu Tak akan sanggup hidup tanpa Rara? Segitu sayangnya Ryu pada gadis ini, bahkan sangat takut kehilangan Rara. Ini artinya Ryu punya perasaan spesial pada Rara. Rasa lebih dari sekedar saudara.


"Jadi Khanza pernah berpisah dengan Ryu?" tanya Cindy kemudian.


"Iya, saat Rara masih kecil. Kak Ryu meninggalkan Rara untuk melanjutkan pendidikannya ke Eropa. Saat itu Rara masih kecil. Kak Ryu berjanji akan pulang secepatnya dan meminta Rara untuk menunggunya pulang! Rara juga berjanji akan menunggunya pulang dan terus menunggunya pulang meski lama!" kata Rara mulai sedih mengingat kejadian menyakitkan dulu.


"Apa Cio memenuhi janjinya untuk pulang secepatnya?" tanya Cindy menatap wajah mendung Rara.


Rara menggeleng sedih.


"Telah terjadi sesuatu pada kak Ryu yang membuatnya tak bisa pulang untuk menemui Rara hingga membuat kami terpisah sekian lama!" katanya." Ada alasannya, tapi Rara gak bisa katakan!"


"Tak perlu Rara ceritakan! Terus Rara gak sedih dan Kecewa karena menunggu terus dalam ketidak pastian?"


"Sedih, sangat sedih memedam rindu untuk bertemu dengan kakak. Kak Cio juga merasakan hal yang sama, tersiksa menahan kerinduannya pada Rara! Hingga akhirnya kami bertemu lagi saat Rara datang berlibur ke sini! Makanya kak Ryu tak mau berpisah lagi dari Rara, Rara juga begitu. Gak tahan pisah sama kakak!" kata Rara dengan sedih.


Cindy menghela nafas. Dia mulai mengerti kebersamaan, kedekatan, kasih sayang dan cinta kedua anak itu dengan adanya janji yang mereka buat sewaktu kecil yang telah mengikat keduanya. Janji saling menunggu untuk kembali bersama tak perduli berapa lama. Sulit berpisah karena adanya ikatan yang kuat telah mengikat hati mereka dari kecil. Cindy merasa ini bukan ikatan yang biasa sebagai saudara. Bagi Rara mungkin hanya merasa itu adalah ikatan hati sebagai saudara. Tapi bagi Cio, kasih sayang itu telah berubah menjadi rasa yang lain seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia mereka. Bukan lagi hanya sebagai rasa sayang dan cinta pada adik, tapi lebih dari itu.


"Tante....!" panggilan Rara membuyarkan lamunannya.


"Ya sayang....!" Cindy kembali membelai rambutnya.


"Rara boleh nanya nggak?"


"Tentu saja boleh. Rara ingin tanya apa?"


Rara mengangkat wajahnya melihat wajah Cindy. Tapi dia ragu ragu untuk menanyakannya.


"Rara ingin bertanya apa? katakan sayang. Jangan ragu ragu. Anggaplah tante adalah mama mu!" kata Cindy melihat keraguan itu.


Rara menelan ludah. "Om Dion kan mencintai tante?" katanya.


"Iya...!" Cindy mengangguk


"Apa boleh, seorang kakak mencintai adiknya? Seorang kakak suka sama adiknya? seperti Om Dion mencintai tante?" Rara menatapnya.


Cindy tertegun belum menjawab. Dia menatap wajah Khanza. Dia mengerti kenapa Khanza menanyakan hal itu. Apa gadis ini sudah dapat merasakan perasaan Cio kepadanya?


"Tante kok diam?" Rara kembali membuyarkan lamunannya.


Cindy langsung tersenyum.


"Tentu boleh sayang, tak ada masalah selama bukan saudara kandung. Tante juga mencintai kak Dion. Kami saling mencintai! Sewaktu belum menikah dulu, Om dan tante sangat dekat. Om Dion selalu melakukan apa yang Cio lakukan pada Khanza. Bahkan kadang Om Dion suka jahil cium tante, peluk tante, tidur di kamar tante, Kami sering tidur bareng." ujar Cindy.


"Cium dan tidur bareng?" tanya Rara pelan menatap wajah Cindy.


"Iya, tapi meski begitu kami tahu batasan batasan dalam hubungan persaudaraan di antara kami. Kami nggak melakukan hal aneh, hanya sekedar tidur doang. Karena tante nyaman tidur dalam pelukan om Dion jika Tante takut tidur sendiri. Kadang jika kami main bersama dan merasakan capek, kami akan tertidur di atas ranjang yang sama. Kadang di ranjangnya tante, kadang juga di ranjangnya Om Dion!" ujar Cindy panjang lebar untuk memancing Rara.


Rara menghela nafas. Dia memikirkan hal yang sama. Kecupan, ciuman, pelukan, dan tidur bersama yang sering dia dan Ryu lakukan. Baginya itu hanya murni karena sayangnya pada Ryu. Tapi apa kak Ryu juga berpikir yang sama? Tidak mempunyai rasa yang lebih seperti yang di katakan tante Cindy di bawah tadi? menyukai dan mencintai dirinya? batinnya. Karena jujur dia merasa takut jika Ryu punya perasaan seperti itu padanya.


"Gak mungkin kakak mencintai Rara! Tapi bagaimana jika itu memang benar?" batinnya sedih. Mengingat ciuman yang di lakukan Ryu tidak seperti biasa. Tapi terasa lain dan berlebihan hingga membuatnya takut.


*****


Tinggalkan jejak dukungan ya......


Yang baru mampir masukkan ke fav ❤️ ya


Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2