Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
42. Nomor tak bernama


__ADS_3

Semalaman Ryu tidak bisa tidur memikirkan perkataan Khanza. Gelisah dan sedih menyatu dalam asa membuat sulit tidur. Dia bolak balik di tempat tidur, berjalan mondar-mandir di dalam kamar mencermati setiap kata kata Khanza. Ryu tak menyangka sampai segitu pemikiran Khanza. Entah kenapa Ryu merasakan hal aneh dari perkataan gadis itu. Jika memang Khanza ingin hidup mandiri, tidak sampai harus seperti itu untuk menjaga jarak darinya. Keanehan lain yang di tangkapnya dari wajah Khanza adalah betapa sedihnya khanza ketika mengatakan hal itu. Sedih dan juga tampak tertekan. Mulutnya mengatakan hal itu tapi sorotan matanya berkata lain. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?


Suara alarm mengagetkan lamunan Ryu. Dia mengusap wajahnya kasar seraya membuang nafas panjang. Ryu segera bangkit dari duduknya untuk bersih-bersih dan berwudhu. Karena waktunya shalat subuh. Biasanya saat subuh datang, bukan alarm yang membangunkannya, tapi kejahilan Khanza yang akan datang ke kamarnya dan mengganggunya di tempat tidur. Kalau tidak, dia yang akan membangunkan gadis itu. Mengangkat dari tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kemudian mereka akan shalat berjamaah. Tapi sepertinya kali ini tidak. Khanza tak datang ke kamarnya. Ryu masih menunggu beberapa menit, tapi Pintu kamarnya tak kunjung terbuka. Gadis itu tak muncul. Subuh kali ini terasa lain bagi Ryu tanpa Khanza sebagai makmumnya, dan itu membuatnya sangat sedih. Di terakhir sujudnya setetes air mata jatuh basah di atas sajadahnya. Dia berdoa meminta yang terbaik untuk dirinya dan Khanza.


Sementara di kamarnya, Rara baru selesai mengerjakan shalat subuh. Dia masih duduk di atas sajadahnya sambil membaca Alqur'an. Air matanya mengalir deras seiring Ucapannya melantunkan ayat-ayat Suci Allah. Bahunya sampai terguncang menahan tangisannya. Tangisan itu mulai memenuhi relung hatinya saat melaksanakan shalat subuh. Mengadukan kesedihannya kepada Allah. Karena dia yakin hanya Allah yang bisa menghilangkan kesedihannya.


Beberapa menit kemudian Rara mengakhiri tadarusnya. Dia menyapu air matanya. Meski kesedihan itu belum berakhir, tapi untuk sesaat dia merasakan ketenangan dalam hati. Rara melepas mukenanya. Ponselnya berdering. Dia segera mengambil benda pipih itu. Wajahnya langsung cerah melihat siapa yang menghubungi. Mamanya. Panggilan lewat video.


Buru buru Rara berlarian mencari sheet mask di laci meja rias. Lalu segera di pakainya.


Dia tidak ingin mamanya melihat kesedihan di wajahnya. Teleponnya mati, lalu berbunyi kembali. Rara menetralkan nafas yang tak beraturan, lalu duduk di sofa. Memasang headset di kedua telinga memutar shalawat nabi. Lalu segera mengangkat telepon mamanya. Wajah cantik mamanya langsung terlihat di layar ponselnya.


"Assalamualaikum ma....!" sapa sangat Rara pelan karena menjaga masker retak. Dia segera melepas headset.


"Waalaikumsalam nak! Khanza lagi maskeran ya?" tanya Ara melihat wajahnya.


Rara menjawab dengan mengangguk pelan.


Ara tersenyum dari seberang. Rafa muncul di sampingnya dan melihat Khanza.


"Sayang, subuh subuh udah maskeran?" kata Rafa.


Rara mengangguk. Dia memberi isyarat dengan jari tangannya bahwa dia tidak bisa berbicara.


"Sudah shalat subuh?" tanya Rafa yang mengerti dengan isyarat itu.


Rara mengangguk pelan. Dia sangat senang melihat wajah ke dua orang tuanya.

__ADS_1


"Apa Khanza nya papa baik baik saja di sana?"


Lagi lagi Rara mengangguk.


"Kakakmu di mana?"


Rara menunjuk ke sebelah.


"Papa dan mama sangat merindukanmu nak!"


"Rara juga sangat merindukan papa dan mama!" jawab Rara tampak sadar. Suaranya yang serak jelas sekali. Dia memang sangat merindukan papa dan mamanya saat sedih seperti ini.


"Pa, ma.....nanti Rara telpon lagi sebentar. Maaf ya?" katanya sedih menyadari ucapannya. Dia tak sadar membuka suara saking rindu pada orang tuanya.


"Baik sayang. Jangan telat makan ya?" kata Rafa.


"Kakak dengar kan suaranya? Aku yakin dia baru saja menangis. Aku sangat tahu Khanza kak! Dulu saat mereka terpisah, dia selalu menangisi Cio setiap selesai shalat, di setiap malam saat merindukan kakaknya itu. Dan dia sengaja memakai masker untuk menutupi kesedihan di wajahnya!" kata Ara terisak kecil.


Rafa segera memeluk istrinya. Dia juga tahu hal itu. Rafa mendesah sedih. Dia belum menghubungi Cio untuk menanyakan apa yang terjadi karena menjaga hati anak itu. Karena dia juga tahu Cio pasti sedih dan bingung dengan sikap Khanza. Tapi dia sangat yakin keponakannya itu bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada Khanza.


Rara membuang nafas berat. Hatinya tidak tenang, khawatir papa mamanya mengetahui keadaannya di sini. Dia berharap semoga tidak.


Rara segera melepas maskernya, lalu ke kamar mandi membersihkan wajah.


Ponselnya berdering berulangkali. Rara buru buru keluar dari kamar mandi. Mengira papa mamanya lagi yang menelpon. Tapi wajahnya berubah tegang setelah melihat siapa yang menghubunginya. Nomor tak bernama, tapi dia sangat tahu siapa pemilik nomor itu. Nomor yang mengirim pesan kemarin pagi dan membuat sikapnya berubah di mata Cio. Dia terpaku sejenak menatap layar ponselnya. Detik terakhir panggilan akan berakhir, dia segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum....!" ucapnya sangat pelan dengan suara rendah.

__ADS_1


"Halo gadis manja sok polos....!" suara dari seberang terdengar. Tertawa sinis.


"Aku tahu kau sudah bangun. Makanya aku menghubungi mu." kata suara itu lagi.


"I- iya... Rara sudah bangun sejak tadi. Ada apa kakak menghubungi ku?" tanya Rara pelan takut takut. Matanya sudah berkaca-kaca.


Si penelepon itu berbicara. Berbicara penuh tekanan dengan nada ancaman. Rara mendengar dengan setia.


"Kamu harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi di antara kami! Kau tidak boleh kembali ke Indonesia sebelum semuanya membaik seperti semula." kata si penelepon di akhir ucapannya.


"Baik kak, Rara ngerti. Kakak jangan khawatir!" kata Rara dengan bibir gemetar. Telepon di matikan dari seberang.


Benda pipih itu terlepas dari tangan Rara. Dia langsung terduduk lemas di bibir ranjang. Isakan kecil keluar dari mulutnya. Rara menangis. Air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.


Apa iya perasaan sayangnya terhadap Ryu terlalu berlebihan? Berpelukan, berciuman, tidur bersama yang baginya hal yang biasa di antara kakak beradik. Tak terpikir olehnya kalau hal itu tidak pantas di lakukan oleh kakak beradik.


Karena dia menyayangi Ryu hanya sebatas kakak tanpa ada rasa yang lain.


Tetapi kasih sayangnya di salah artikan, di anggap terlalu berlebihan dan tidak wajar oleh seseorang. Hingga membuat suatu hubungan yang sudah terjalin lama hancur. Dan dia adalah perusak dari hubungan itu. Hal itu membuat Rara sangat sedih.


Tapi dari nomor itu membuka mata, hati dan pikirannya. Mengajarkannya batasan hubungan dalam persaudaraan.


Pandangan dan penilaian setiap orang berbeda. Mungkin baginya itu hal yang biasa. Tapi dalam pandangan orang lain hal seperti itu tidak wajar dan terlalu berlebihan. Makanya dia mulai menjaga jarak dan batasan dengan Ryu.


Sebenarnya Rara berniat untuk kembali ke tanah air tadi pagi. Untuk menjauh dari Ryu, agar tidak menjadi masalah dalam hubungan orang lain. Tapi si pemilik nomor itu memintanya untuk bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi sebelum dia kembali pulang ke tanah air.


Rara kembali terisak. Perlahan dia meraih ponselnya di lantai. Dia membuka WhatsApp nya. Membaca pesan yang masuk kemarin pagi. Pesan yang di kirim oleh nomor itu. Pesan yang berisi kata kata kotor yang di tujukan pada dirinya. Kata kata menghina dan merendahkan dirinya sebagai seorang perempuan. Kata kata Penuh cacian dan makian. Sungguh membuat hatinya terluka, sangat terhina dan membuat nya sangat sedih. Sungguh ini adalah ujian yang sangat berat dalam hidupnya.

__ADS_1


******


__ADS_2