Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
6. Musim Semi Di Negeri Kincir Angin.


__ADS_3

Tepat setelah melakukan shalat Dzuhur perjalanan Rara di mulai. Matahari bersinar cukup cerah, tapi suhu udara terasa sangat hangat. Waktu yang tepat untuk melihat bunga tulip. Melihat kondisi keindahan bunga tulip terbaiknya yang tampak bermekaran sangat indah. Yang berada di taman bunga keunkenhof yang sangat luas. Terlihat seperti padang bunga yang merupakan salah satu taman terindah di dunia.


Bukan hanya bunga tulip, ada juga bunga sakura, anggrek, mawar, lavender dan tumbuhan subtropis lainnya.


Selama ini Rara hanya melihat keindahan dari salah satu negara kincir angin itu hanya melalui internet dan beberapa artikel.


Kini dia melihat secara langsung dan benar benar sangat indah dan luar biasa. Sungguh dia memuji keindahan ciptaan Allah SWT ini.


Selanjutnya mereka berkunjung melihat kincir angin yang berada di desa kinderdijk.


Terus mengunjungi kanal Amsterdam.


Mereka menyusuri kanal kanal tersebut dengan menggunakan kapal wisata bergabung bersama wisatawan lain. Banyak juga pelancong dari tanah air yang datang melihat wisata di negeri itu.


Tak lupa mereka mengabdikan momen perjalanan di ketiga tempat tersebut dalam foto dan rekaman video dengan menggunakan mirrorless dan juga kamera dalam ponsel.


Seminggu perjalanan, Rara capek dan ingin istirahat. Masih ada dua minggu lagi jatah liburan sekolahnya untuk melihat keindahan wisata lain negeri ini.


Saat ini Rara dan Yuri berada di sebuah lounge bandara. Keduanya baru tiba dari salah satu kota di negeri itu, dan akan kembali ke hotel Khanza yang letaknya di pusat kota Amsterdam.


Rara menyeruput minumannya sampai habis karena sangat haus. Lalu melihat lihat kembali foto dan rekaman video hasil perjalanan mereka pada kamera. Sebagian di unggah dalam beberapa situs online. Dia juga tak lupa mengirimkan pada papa mama dan ketiga kakaknya.


"Semuanya indah. Tapi kamu lebih indah dan cantik. Selamat bersenang-senang adikku sayang!" balasan ketiga kakaknya.


"Nikmati liburanmu sayang. Jaga diri dan jaga kesehatan. Love you my princess!" balasan Rafa dan Ara.


"Rara?" sebuah panggilan terdengar dari arah belakang mereka. Rara mengalihkan pandangannya ke arah suara.


Rara terkejut tapi juga senang setelah melihat orangnya. Wanita cantik dan anggun di usianya yang sudah lebih setengah abad.


"Bibi Nesa?" panggilnya dengan wajah mengernyit.


Rara langsung bangkit dari duduknya, lalu menyambut kakak perempuan dari papanya ini.


Ara segera mencium punggung tangan bibinya, lalu keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki.


Yuri juga ikut menyalami Nesa.


"Gak nyangka kita ketemu di sini!" kata Nesa begitu mereka duduk.


"Iya bik, Rara juga nggak nyangka. Kok bibi ada di sini? bukannya ada di Paris?"


"Kebetulan bibi ada janji bertemu dengan salah satu partner kerja di sini. Bibi sudah lima hari di negara ini. Dan bibi akan pulang ke tanah air. Waktu penerbangan bibi beberapa jam lagi."

__ADS_1


"Oh gitu...!" ucap Rara ngerti.


"Terus bibi ke sini sama siapa? apa sendiri?" tanya Rara kembali. Dia berharap Nesa hanya datang seorang diri.


Nesa tersenyum mengerti dengan pertanyaan keponakannya ini.


"Kamu jangan khawatir, bibi sendirian kok! Kakakmu ada di Australia. Sudah dua bulan dia tinggal di sana. Dan sepertinya dia akan tinggal lebih lama di sana karena urusan pekerjaan. Jadi kamu bisa leluasa bergerak di negara ini." kata Nesa seraya mencolek ujung hidung Rara lembut dengan wajah yang masih di hiasi senyuman. Dia tahu Rara sangat membenci putranya sedari kecil. Nesa juga tidak menyebut nama Cio karena dia tahu Rara benci nama itu.


Rara jadi merasa gak enak pada bibinya. Untung bibinya ini mengerti. Rara juga lega setelah tahu Cio tidak berada di Eropa.


Tapi kalaupun pria itu ada di negara ini bahkan bertemu secara tidak sengaja dengannya, dia tidak akan tahu. Karena dia tidak tahu rupa Cio yang sekarang. Dia hanya ingat wajah kecil sewaktu SMP. Dan dia juga tidak mencari tahu perihal kakak sepupunya di Internet maupun di situs online.


"Bagaimana perjalanan mu? Beberapa hari lalu bibi bicara dengan papapmu. Papamu mengatakan kalau kau sedang berada di Belanda. Bibi yakin perjalanan mu pasti menyenangkan." Nesa Mengalihkan pembicaraan mereka.


Ekspresi Rara berubah ceria.


"Tentu saja bik, sangat menyenangkan. Rara senang banget."


Dia menceritakan perjalanannya mengunjungi tempat wisata di beberapa tempat di negara ini dengan sangat antusias.


Keindahan tempatnya, jajanan kulinernya, keramahan masyarakatnya, juga yang lainnya. Masih banyak lagi yang di ceritakan tentang keindahan dari negara ini.


Tidak jauh dari tempat mereka, sebuah wajah senyum senyum sendiri mendengar ceritanya yang begitu bersemangat. Juga melihat ekspresi wajahnya yang terlihat lucu menggemaskan.


Benar, tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Bayi mungil yang di lihatnya dirumah sakit saat di lahirkan ibunya dulu, kini telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang manis, juga lembut terdengar dari tutur katanya yang lemah lembut dan sopan.


Cio jadi rindu dengan kebersamaan mereka dulu. Saat masih kecil. Selalu bersama Khanza, bermain bersama, mengajari banyak hal termasuk bicara dan melangkah.


Khanza yang lebih dekat dengan dirinya dari pada kakaknya. Khanza yang lebih suka main bersama dirinya dari pada bersama ketiga kakaknya dan juga Cia.


Khanza yang selalu mengajaknya main boneka, masak masak, jadi raja dan ratu, putri dan pangeran. Naik ke punggungnya main kuda-kudaan dan minta di gendong. Khanza yang selalu tidur dengannya dan minta di bacakan dongeng. Khanza yang selalu berdiri di sampingnya saat shalat dan mengikuti setiap gerakannya. Khanza yang selalu menjahilinya saat dia belajar. Khanza yang selalu setia menunggunya pulang sekolah. Khanza yang suka naik ke pangkuannya dan mencium wajahnya.


"Khanza sayang, kakak benar benar merindukan mu. Akankah kita bisa seperti dulu lagi? Kakak benar benar rindu dan ingin sekali memelukmu seperti kamu kecil dulu!" ucap Cio sedih.


"Maaf dek, telah membuatmu merasakan kebencian itu. Kakak tidak bermaksud seperti itu, sungguh! Sampai detik ini kakak tetap menyayangimu dan akan terus menyayangimu selamanya. Kau adik kakak, hanya kamu. Bukan gadis kecil yang kau lihat dulu. Kakak tidak pernah melupakanmu." gumamnya lagi seraya menatap foto foto dan rekaman video masa kecil mereka. Foto itu masih terus tersimpan dalam ponselnya. Dia menyimpannya sangat baik. Dan saat rindu mendera pada adik kecilnya itu, dia mengobatinya dengan melihat foto dan rekaman itu.


Dia menatap kembali pada mereka yang saling berpelukan karena Nesa akan segera masuk ke ruang tunggu pesawat.


Rara mengantar bibinya sampai di pintu masuk.


Setelah itu keduanya segera memesan taksi untuk membawa mereka ke hotel.


Cio menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengikuti perjalanan mereka.

__ADS_1


Teleponnya berdering. Telepon dari Rafa.


"Assalamualaikum Daddy."


"Waalaikumsalam." suara Rafa dari seberang.


Rafa menjelaskan maksudnya menelpon. Wajah Cio tegang karena emosi. Untuk beberapa saat terlibat pembicaraan serius di antara mereka.


"Baik Daddy, aku mengerti. Biar aku yang akan menanganinya. Daddy tidak perlu turun tangan!"


"Jaga dirimu di sana ya nak, jaga kesehatan. Ingat.... jangan telat makan dan luangkan waktu sejenak untuk istirahat sesibuk apapun kamu bekerja." kata Ara begitu Rafa selesai dengan pembicaraannya.


"Aku selalu ingat pesan Ante dan pasti melakukannya. Aku menyayangi Ante." ucap Cio.


"Ante juga menyayangi mu!"


Telepon di tutup.


Cio mengambil ponsel yang satunya dan menghubungi Simon.


"Cari tahu tentang data perusahaan X. Segera kirimkan padaku begitu kamu mendapatkannya. Aku ingin secepatnya."


"Baik tuan." jawab suara dari seberang.


"Beraninya kalian mempermalukan dan menyakiti adikku." ucap Cio geram, suara di tekan.


Cia, meskipun tidak selalu bersama dengan dirinya, dan kadang sering beradu mulut saat mereka bertemu, tapi dia sangat menyayangi adik satu satunya itu, begitu juga dengan ibunya.


Apa pun keinginan mereka selalu dituruti, termasuk dalam hal finansial.


Meskipun Cia mendapatkan uang dari Rafa dan Nesa, dia juga mentransfer uang setiap bulan ke rekening adiknya itu.


Dan dia sangat suka dengan sikap Cia yang tidak terlalu suka menghambur hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak begitu penting.


Tapi sayangnya dalam soal pekerjaan, Cia tidak begitu tertarik. Seharusnya dia melanjutkan usaha bisnis yang di wariskan Maya setelah neneknya itu pergi meninggalkan dunia untuk selama lamanya lima tahun yang lalu karena penyakitnya. Usaha bisnis itu untuk sementara waktu di tangani Ara dan Nesa. Akan di serahkan pada Cia jika telah siap.


Dan kini adiknya itu baru saja mengalami kejadian buruk. Di lecehkan dan hampir saja menjadi korban pemerkosaan oleh mantan kekasihnya yang tidak terima di tinggalkan setelah menghiantinya.


Dan tadi Daddynya, memberi tahu indentitas laki laki tersebut yang berasal dari kalangan atas.


*****


Cerita yang berasal dari halunya emak emak sambil rebahan tidurin anak. Semoga saja suka. Jangan lupa tinggalkan jejak ❤️

__ADS_1


__ADS_2