
Rara tersenyum pada Anggi.
"Oh ya, Rara sempat dengar kalau kakak ingin menjelaskan sesuatu. Tapi kak Ryu tidak mau memberi kakak kesempatan untuk bicara dan menjelaskan ! Apa itu? boleh Rara tahu?"
"Oh...itu....!" Anggi tersenyum hendak bicara.
"Bukan apa apa dek.....!" Ryu segera memotong ucapannya. Dia menatap tajam pada Anggi sebagai isyarat untuk tutup mulut.
Rara melihat mereka secara bergantian.
"Terus apa....?" tanyanya kembali.
"Semalam aku janjian sama Ryu untuk pergi ke suatu tempat. Tapi tiba tiba aku ada urusan mendadak. Aku lupa memberi tahu kakakmu. Dan itu membuatnya marah dan tak mau mendengar penjelasan ku!" kata Anggi mengarang cerita.
"Oh gitu! Kalau gitu hari ini saja perginya. Sejak keberadaan Rara di sini, kalian jarang bertemu dan pergi bersama. Rara minta maaf untuk hal itu." kata Rara.
"Gak apa-apa Rara, aku mengerti kau tidak punya teman di sini selain kakakmu. Tapi syukurlah kau sudah ada teman bermain, siapa namanya? Rangga kan?" Anggi pura pura lupa nama teman Rara, Rangga.
Rara mengangguk.
"Sepertinya kau mau keluar ya? Kau berdandan secantik ini." kata Anggi melihat pakaian Rara.
"Iya, Rara mau keluar bersama Rangga! Kami sudah janjian semalam. Sebentar lagi dia datang untuk menjemput."
"Bagus ituh, gunakan kesempatan untuk bersenang senang selama liburan. Banyak tempat tempat wisata indah di negara ini. Kau dan Rangga bisa menikmatinya." kata Anggi tersenyum.
"Tantu saja kak!" kata Rara membalas senyumannya.
Sementara Ryu hanya mendengar pembicaraan mereka. Matanya tak berpaling sedikit pun dari wajah Khanza.
"Sayang, yuk kita jalan jalan liburan. Sudah lama kita tidak pergi bareng! Kau sibuk terus dengan pekerjaan mu." pinta Anggi pada Ryu. Memanfaatkan keberadaan Rara di depan mereka. Siapa tahu Ryu tidak akan menolak keinginannya di depan khanza.
Ryu mendesah kasar. Memendam kekesalannya dengan permintaan itu.
"Aku tidak bisa Anggi." katanya kemudian.
Anggi memasang wajah kecewa dan sedih. Dia menyorot tajam pada Rara sambil menggigit bibir bawahnya sebagai isyarat agar Rara membujuk Ryu.
Rara yang mengerti dengan sorotan tajam itu segera melihat kepada Ryu.
"Kak, Rara boleh minta sesuatu nggak?"
Ryu hanya diam tak menjawab. Separuh isi bumi pun akan di berikan untuk gadis ini.
"Kalau kakak tidak terlalu sibuk hari ini, luangkan waktu bersama kak Anggi. Kakak terlalu sibuk bekerja dan mengabaikannya. Bukan hanya pekerjaan yang butuh kakak, tapi kak Anggi juga. Dia kekasih kakak!" Rara menatap Anggi sambil tersenyum.
"Sejak keberadaan Rara di sini kalian berdua jadi jarang bersama. Karena kakak hanya sibuk mengurusi dan menemani Rara! Tolong ya? Aku merasa bersalah pada kak Anggi karena mengambil perhatian kakak darinya." kata Rara meminta.
"Iya sayang. Malam ini aku ingin pergi ke suatu tempat! Kata teman-teman ku tempatnya indah dan sangat romantis. Aku ingin kita mencoba pergi ke sana." pinta Anggi merengek sambil bergelayut manja di lengan Ryu.
Ryu hanya tak menjawab, hanya terus menatap wajah Khanza sambil menahan kekesalan yang mendalam. Ingin sekali menepis kasar tangan Anggi di lengannya. Tapi dia tidak dapat melakukan hal itu di depan Khanza.
"Kakak mau kan memenuhi keinginan Rara?" pinta Rara lagi dengan wajah memelas melihat mata tajam Anggi melirik, mengancamnya.
__ADS_1
"Baiklah." kata Ryu.
Anggi tersenyum senang. Rara juga ikut tersenyum lega.
"Ingat ya, kakak jangan marah marah lagi sama kak Anggi, Rara gak suka. Seharusnya tuh kakak senang dan bersyukur dapat kekasih secantik kak Anggi. Kak Anggi cantik seperti artis. Dia juga pintar. Rara suka dia jadi kekasih kakak, bukan wanita lain. Kalian berdua sangat cocok!" kata Rara lagi sambil tersenyum menatap mereka bergantian. Dia lega akhirnya hati Cio luluh juga. Semoga hubungan keduanya akan membaik seperti dulu lagi. Agar dia terbebas dari tuduhan sebagai wanita pelakor perusak hubungan orang. Wanita rendah, wanita murahan tak punya rasa malu dan harga diri seperti isi pesan yang di kirim oleh nomor tak bernama itu.
Bunyi ponselnya berdering. Dia melihat Rangga yang menelpon.
"Rangga sudah datang menjemput. Rara akan keluar bersama nya. Kakak nggak keberatan kan?" tanyanya melihat pada Ryu.
Ryu menatapnya dalam dalam.
"Bisa nggak pulangnya jangan kemalaman seperti semalam? Kakak Khawatir sementara Khanza gak memberi kabar!" kata Cio menatap tajam.
Rara terdiam. Dia memang bersalah karena lupa waktu pulang. Apalagi dia seorang gadis.
"Rara minta maaf. Rara pergi dulu!" katanya pelan menatap mata Ryu yang terlihat kecewa. Lalu segera turun menggunakan tangga.
Ryu juga segera turun di ikuti Anggi yang terus bergelayut di lengannya. Dia sangat senang sekali. Karena hubungannya kembali membaik dengan bantuan Khanza. Tenyata gadis belia itu bisa mengendalikan Ryu. Anggi kesal hubungan mereka kembali membaik karena hanya dengan bantuan Rara, bukan dari kemauan Ryu yang ingin memperbaiki hubungan mereka. Tapi Anggi tidak perduli dengan hal itu, yang penting hubungannya dengan Ryu sudah membaik dan tidak berakhir. Karena dia sempat takut, Ryu akan mengakhiri hubungan mereka setelah apa yang di lakukan pada Ryu.
.
.
Seperti kata Rangga, dia akan mengajak Rara ke rumahnya. Rangga segera melarikan kenderaan mewahnya dengan kecepatan sedang karena Rara takut terlalu cepat.
Rara gak menyangka Rangga punya mobil semewah ini. Artinya orang tua Rangga bukan orang sembarangan.
"Ga, ini punyamu?"
"Mobil ini!"
"Iya, kenapa? Keren nggak?" Rangga tersenyum menoleh sekilas padanya.
"Iya. Tapi kenapa aku gak pernah melihat mu memakainya ke sekolah? Kamu hanya naik motor gedemu dan kadang mobil biasa!"
Rangga kembali tersenyum.
"Mobil ini sangat istimewa bagiku. Mobil ini sudah lama aku beli, tapi Ini pertama kalinya aku menggunakannya."
"Kenapa?"
"Karena aku berniat saat pertama menaikinya harus bersama dengan wanita yang istimewa bagiku."
Wajah Rara mengernyit.
"Bersama dengan wanita istimewa?" tanyanya melihat Ryu dari samping.
"Iya, wanita spesial, wanita istimewa. Dan aku telah menemukan. Yaitu kamu." Rangga kembali tersenyum dan menoleh.
Rara terkekeh.
"Aku serius dengarnya, kamu malah bercanda!" Rara memukul lengan Rangga tidak terlalu keras.
__ADS_1
"Aku gak bercanda Ra, aku serius!" kata Rangga.
"Ah bohong. Pasti sudah banyak para gadis yang kamu bawah dengan mobil ini. Aku gak mudah kamu bohongi dan rayu. Aku nggak bakalan percaya sama kamu." Rara menatapnya manyun manyun.
Rangga tertawa kecil.
"Benaran Ra, aku gak bohong. Sumpah. Kamu yang pertama. Karena kamu spesial sama seperti mobil ini. Tapi bagiku kamu lebih spesial dan istimewa dari mobil ini dan juga apapun yang ku miliki." katanya serius.
"Udah ah, berhenti merayuku. Gak akan mempan. Aku tetap tidak akan menyukai mu. Titik." kata Rara tegas menatap kesal.
Rangga senyum senyum melihatnya.
"Tapi aku yakin, suatu saat nanti kau akan menerima ku." godanya dengan kerlingan nakal.
"Gak bakalan.....nggak...nggak...!" teriak Rara di dekat telinganya seiring lajunya kenderaan mewah itu.
Sementara di sebuah rumah megah dan mewah bergaya klasik Eropa berlantai dua, tampak seorang wanita anggun dan cantik di usianya yang sudah masuk kepala 4 sedang menerima telepon. Telepon dari sahabat karibnya sejak zaman kuliah hingga sampai sekarang ini. Persahabatan yang tak lekang oleh jarak dan waktu di antara mereka bertiga.
Cindy, wanita anggun itu. Saat ini sedang berbicara dengan Ara. Obrolan santai di selingi canda dan tawa terdengar dari keduanya. Meski di pisahkan oleh jarak yang jauh keduanya tetap saling berhubungan. Begitu juga dengan Ines. Kadang juga ketiganya bertemu untuk melepas kerinduan saat tak ada kesibukan. Saat Cindy datang ke Indonesia, atau Ara dan Ines yang datang ke Paris.
Cindy telah menetap di luar negeri. Hanya sesekali dia dan dan Dion datang ke Indonesia untuk melihat bisnis usaha perusahaan mereka dan juga mengunjungi orang tua mereka.
Sedangkan Ines kembali ke Indonesia setelah anak kembarnya Azhar dan adzham tumbuh besar dan bisa menangani perusahaan. Ines menemani Wisnu yang masih setia mengikuti tuannya Rafa hingga kini.
Terdengar suara tawa pecah dari keduanya.
"Aku sangat merindukanmu Cin...." kata Ara dari seberang.
"Aku juga Ra.....nanti kita ketemu ya saat aku balik ke Indonesia.....!"
"Mama....!" terdengar panggilan dari arah belakangnya. Cindy segera menoleh ke belakang. Dia melihat putranya berjalan bersama dengan seorang gadis yang mirip dengan.....?
"Ara...." panggilnya pada Ara di seberang.
"Hmmm, ada apa?"
"Aku melihat mu ada di sini!" kata Cindy terus menatap pada Rara yang datang bersama putranya... Rangga.
"Aku? mimpi kali ya kamu? jelas jelas aku ada di rumah ku."
"Benar Ra, kamu ada di sini. Gadis itu mirip banget sama kamu sewaktu muda dulu! Pakaiannya, rambut indahnya, bentuk tubuhnya, senyum manisnya, dan terlebih lagi mata teduhnya yang indah menenangkan seperti milikmu!" kata Cindy tak berkedip melihat Khanza yang telah di suruh duduk oleh Rangga.
"Maksud mu Khanza?" kata Ara teringat ciri ciri gadis seperti yang di katakan Cindy. Karena dia ingat Khanza memiliki mata teduh yang sama seperti dirinya. Dan saat ini Khanza juga berada di Eropa.
"Iya Ra, putrimu Khanza berada di sini. Dia datang bersama putraku Rangga. Rasa rinduku padamu terobati setelah melihat dirinya! Ra, nanti aku telepon lagi ya? aku mau menemui mereka dulu."
"Iya Cindy, aku senang Khanza datang ke rumah mu dan bertemu dengan mu. Sepertinya Khanza gak tahu kalau Rangga adalah anakmu, begitu juga sebaliknya. Maklum terakhir mereka bertemu saat masih kecil. Tolong kau lihat putriku ya Cind....?"
"Iya Ra, pasti. Sudah ya.... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh."
Telepon di matikan.
__ADS_1
*****