
Pagi menyapa alam semesta.
Semalam Rara kurang tidur karena menangis memikirkan Cio bersama wanita itu. Hatinya sangat sakit membayangkan perlakuan mesra Cio pada wanita itu. Dia tertidur karena lelah menangis. Hingga saat terbangun saat subuh, Adegan mesra Cio pada wanita itu kembali menghiasi pikirannya dan membuatnya kembali sedih.
"Benarkah wanita itu kekasihnya!" batinnya. "Kalau memang iya, Berarti selama ini kakak bohongi Rara. Katanya hanya Rara wanita yang ada di hatinya. Huh... menyebalkan. Brengsek, dasar pembohong!" umpatnya kesal dan sedih.
Setelah mandi dan berpakaian, Rara keluar dari kamarnya dengan langkah gontai. Tapi sebelumnya dia memakai kacamata untuk menutupi kesedihan di matanya yang merah dan bengkak.
"Pagi ma...!" sapanya lemas tanpa semangat.
"Pagi sayang." kata Ara.
Rara segera duduk. Matanya melihat kursi Rafa dan Cio yang kosong.
"Papa mana ma?"
"Papa terburu buru pergi tadi. Ada panggilan mendadak. Jadi kita sarapan tanpa papa kali ini!" kata Ara lagi.
Ohh... suara dari mulut Rara. Dia melihat kembali pada kursi Cio, tapi tak mau bertanya. Biasanya Cio selalu sarapan bersama mereka meski keduanya tak saling menegur, tapi pagi ini kakak sekaligus suaminya itu tak duduk sarapan bersama.
Rara segera mengambil makanannya, tapi dia tidak berselera untuk makan. Dia berusaha tegar di depan mamanya agar tidak menimbulkan kecurigaan yang membuat mamanya sedih lagi.
"Khanza nggak makan?" kata Ara melihatnya hanya mengaduk-aduk makanan.
"Makan kok ma....!" Rara berusaha untuk makan. Dia memasukkan sendok berisi sedikit makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Raka muncul mendekati mereka." Pagi mam....!" sapa pemuda itu.
"Pagi nak....!" Ara melihat ke arahnya.
"Kak Cio nggak ada ya? Aku ada perlu sama dia." kata Raka melihat kursi Cio yang kosong. Raka mengambil tempat di sebelah Khanza. Dia mengecup puncak kepala adiknya itu sebelum duduk.
"Kakak mu tidak pulang semalam. Katanya sibuk, banyak kerjaan! lembur Katanya." kata Ara.
Rara tertegun mendengar ucapan mamanya.
"Sibuk kerja? atau sibuk sama perempuan itu?" batinnya kesal.
"Mungkin ada projects penting." kata Raka.
Rara bangkit dari duduknya." Rara sudah selesai. Rara mau ke sekolah dulu."
"Sama kakak mu saja sekalian!"
"Gak usah ma, Rara pergi sendiri saja."
"Benar nih nggak mau pergi sama kakak?" kata Raka.
Rara mengangguk. Dia segera mendekati mamanya dan mencium tangan wanita itu. Sesaat mengelus perut Ara."Adikku sayang, kakak pergi sekolah dulu ya..." pamitnya pada calon anak Ara.
Ara dan Raka tersenyum."Hati hati di jalan ya kak!" jawab Raka menirukan suara anak kecil. Ara tertawa kecil. Rara hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sayang, malam ini kamu punya acara nggak?" tanya Ara.
"Nggak ada. Emang kenapa ma?"
"Malam nanti mama ada undangan pernikahan dari anak temannya mama. Papa mungkin gak bisa temani mama karena sibuk. Khanza mau gak temani mama?"
"Baik ma, Rara akan temani mama." kata Rara. Mending pergi sama mamanya, dari pada dirumah sedih terus menerus memikirkan Cio dan wanita itu.
"Rara pergi dulu."
"Iya sayang, hati hati di jalan."
Rara segera melangkah pergi. Saat di pintu utama, dia bertemu dengan Cio yang hendak masuk. Langkah Rara melambat, begitu juga dengan Cio. Keduanya saling menatap satu sama lain. Tak ada ekspresi di wajah masing masing. Rara melihat keadaan Cio yang agak berantakan. Masih dengan pakaian yang kemarin. Hati Rara kembali sedih. Dia memegang kuat tali ransel sekolahnya. Lalu dia segera melangkah, bersamaan dengan Cio yang juga melangkah. Keduanya saling melewati tanpa bertegur sapa. Sesaat hidung Rara mencium dua aroma parfum dari tubuh Cio saat melewatinya. Banyaknya kenderaan pribadi terparkir di halaman dan garasi tapi Rara melangkah menuju jalan raya untuk mencari taksi. Sedikit berlari dia menuju jalan raya. Tak lama taksi berhenti di depannya. Dia langsung naik. Mengatakan arah tujuannya. Setelah taksi berjalan, dia menangis terisak-isak. Sejak tadi dia menahan kesedihannya. Dari meja makan mengetahui Cio tak pulang semalam. Pulang pagi masih dengan pakaian yang kemarin, dengan aroma parfum yang berbeda pada pakaiannya. Sudah pasti parfum wanita itu. Entah apa yang di lakukan Cio dengan wanita itu. Berbagai pikiran negatif muncul di kepalanya. Untuk itu dia tidak mau di antar Raka dan naik mobil pribadi. Karena tidak ingin mereka melihat dan mengetahui kesedihannya. Rara terus menangis lepas sambil membekap mulutnya. Bahunya sampai terguncang. Tak perduli dengan tatapan sopir dari kaca tengah mobil yang bingung raut wajah penuh tanya. Dia hanya ingin menangis mengeluarkan segala beban yang menyakitkan hatinya.
Saat mendekati sekolah, Rara berhenti menangis. Dia menenangkan hatinya. Menyapu air matanya, lalu memakai kembali kaca matanya. Setelah itu dia turun setelah membayar ongkos taksi. Dia segera mengulas senyum begitu melihat kedua sahabatnya berlari menyambutnya. Riri dan fitri, kedua gadis itu telah menunggunya di depan pintu gerbang sekolah, seperti biasanya.
Waktu terus bergulir. Rara mengikuti pelajaran tanpa semangat. Tubuhnya lemas. Dia bahkan tidak fokus dan berulang kali mendapat teguran dari guru pengajar. Hingga akhirnya jam sekolah berakhir.
Kedua sahabatnya mengajaknya jalan-jalan ke Mall. Rara ikut saja karena malas pulang ke rumah karena hanya akan mengalami kesedihan lagi. Mereka mengintari toko demi toko untuk berburu diskon. Candaan kedua sahabatnya cukup membuat Rara terhibur dan melupakan kesedihannya. Dia senyum senyum mendengar obrolan konyol yang berbaur lucu keduanya. Tapi senyuman itu langsung redup begitu melihat dua sosok manusia yang sedang memilih pakaian branded. Sosok Cio dan wanita yang di lihatnya kemarin di cafe. Wanita itu tampak memilih milih dress dengan meminta penilaian Cio. Kesedihan dan rasa sakit kembali menyeruak di hatinya. Dia menatap tak bergeming pada keduanya. Dada bergemuruh kuat menahan tangis dan kemarahan.
Rara segera berbalik dan melangkah menjauh ketika Cio dan wanita itu berbalik ke arahnya. Rara bersembunyi di antara pajangan pakaian. Dia melihat keduanya sedang memilih sepatu. Cio tampak senang dan bahagia melayani wanita itu. Terkadang kata kata dan senyuman menggoda terlihat dari ekspresi keduanya. Dan beberapa kali pujian keluar dari mulut Cio setiap wanita itu mencoba beberapa sepatu dan juga tas. Lagi lagi Rara melihat kemesraan menyakitkan itu. Betapa perduli dan romantisnya Cio pada wanita itu. Rara tak sanggup lagi melihatnya. Dia segera melangkah keluar dari toko itu tanpa sadar meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang asik memilih milih pakaian. Langkahnya begitu cepat seiring air matanya yang jatuh. Rara segera masuk lift sambil menangis. Yang dia inginkan ingin segera keluar dari gedung ini agar tidak melihat hal hal yang menyakitkan. Kenapa dia harus bertemu dengan mereka lagi setelah di kafe kemarin?
Rara kaget saat melihat pria di depannya. Tangisnya lepas seketika. Dia langsung memeluk pria di depannya, Rangga. Sementara pria itu kaget dengan apa yang di lakukan Rara. Sembarang memeluk dan menangis di dadanya. Dia ingin melepaskan Rara.Tapi melihat kesedihan teramat sangat dan tangisan semakin keras dari gadis ini membuatnya urung melepaskan Rara. Dia membiarkan Rara terus menangis memeluknya. Untung saja hanya mereka berdua di dalam lift.
******
__ADS_1