Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
17. Tempat siapa ini?


__ADS_3

Jam 12 siang Rara terbangun dari tidurnya. Artinya selama lima jam dia tertidur pengaruh obat penenang yang di berikan dokter. Rara menguap berulangkali seraya memalingkan wajah ke kiri dan kanan.


"Di mana ini?" memperhatikan suasana kamar yang berbeda. Kamar yang luas dan mewah, desain dan interior elegan bergaya Eropa.


Dahi Rara mengerut menyadari dirinya bukan berada di kamar hotel miliknya, tapi kamar lain.


"Kamar siapa ini?" gumamnya.


Rara turun dari ranjang. Lagi lagi dia di buat bingung melihat pakaiannya yang telah berubah.


Tiba tiba terbesit rasa takut di hatinya.


"Jangan jangan ini tempat orang jahat yang menculik Rara tadi?" ucapnya sembari membayangkan hal buruk.


"Apa mereka berhasil membawa Rara pergi?"


"Di mana tuan tetangga? Apa dia juga di culik? Tapi bukannya tadi katanya semua baik baik saja?"


"Atau jangan-jangan dia bagian dari para penjahat itu dan berpura pura menjadi kak Cio?" berbagai asumsi buruk berkecamuk di kepalanya.


Rara melangkah mendekati tembok kaca. Terus menuju balkon kamar yang luas. Pemandangan indah di luar sana tapi asing di matanya. Baru kali ini dia melihatnya. Rara semakin khawatir. Dia kembali ke ranjang mencari ponsel untuk menghubungi papa dan mamanya. Tapi benda itu tak ada. Di mana ya? Wajahnya berubah kecewa tak kala ingat kalau benda itu tertinggal di hotel.


"Ya ampun, bagaimana caranya menghubungi papa? Jangan jangan Rara memang telah di culik."


"Tapi masa iya Rara di culik?" batinnya kembali melihat kamar serta tempat tidur yang mewah dan luas. Yang interiornya kamar cewek. Dekorasinya sangat cantik dan indah.


"Tapi gak mungkin orang yang di culik di tempatkan di ruang indah dan mewah?" bantah sisi hatinya yang lain.


Rara jadi bingung. Hanya satu cara untuk mengetahui tempat siapa ini. Rara segera berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dia menengok ke kiri dan kanan memperhatikan keadaan. Sepanjang koridor sunyi. Tak ada siapapun.


"Ah, syukurlah tak ada siapapun, Rara bisa melarikan diri!" ucapnya senang. Rara berpikir untuk pergi dari tempat ini.


Rara berbelok ke kanan setelah memantapkan hati. Dia berjalan terburu-buru sambil mengendap endap. Matanya bergerak liar memperhatikan keadaan, takut ada yang melihat.


Telinganya tiba tiba mendengar suara percakapan dan derap langkah kaki. Hentakan begitu jelas mendekat ke arahnya.


Rara kaget dan kelabakan. Dengan cepat dia berlari begitu melihat sebuah pintu. Dia segera membuka pintu tersebut dan masuk untuk bersembunyi. Jantungnya berdebar-debar, takut dan cemas. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Nafasnya menderu tak beraturan. Dia mengarahkan pandangannya ke depan.


Rara terkejut melihat pemandangan di depannya.


"Ini sebuah kamar?" melihat ranjang dengan

__ADS_1


ukuran King Size yang berada 10 meter di depannya.


Rara segera menyapukan pandangannya ke segala arah. Iya, ini memang ruang kamar. Ruang kamar tak kalah luas dan mewah dari kamar yang tadi. Rara memperhatikan sejenak. Ini adalah kamar pria. Dia bisa tahu dengan mengingat kamar ketiga kakaknya yang interior dan desainnya mirip seperti ini.


Rara kembali panik tak kala mendengar suara hentakan tapak sepatu yang mendekati kamar ini. Terdengar juga percakapan yang masih terus berlangsung.


"Sepertinya mereka mau masuk ke sini! Ya Tuhan tolong Rara! Rara takut. Rara sembunyi di mana?" batinnya panik. Matanya kembali liar melihat ruang ini. Tak ada sudut yang bisa di pakai untuk sembunyi, karena setiap sudut ruang ini terjangkau oleh mata.


Secepatnya Rara berlari ke belakang ranjang dan masuk pada pintu yang terdapat di belakang benda itu. Dia menutup pintu pelan pelan agar tidak berbunyi. Nafasnya memburu cepat tak beraturan. Keringat semakin banyak keluar dari pori pori kulit membasahi tubuhnya. Satu tangannya menekan dada untuk menekan ketakutannya, satunya lagi membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


Pintu di buka, masuklah dua pria yang tak lain Ryu dan Simon. Kamar ini kamar Ryu.


Keduanya sedang membicarakan pekerjaan di kantor pusat serta kejadian buruk yang terjadi di hotel tadi. Simon memberikan informasi tentang siapa dalang orang yang hendak menculik Rara setelah mendapat kan informasi dari orangnya. Juga informasi dari Wisnu dan Azham.


Hunian ini adalah rumah pribadi Ryu di Paris. Rumah pribadi yang di bangun setelah dia sukses.


Dua jam yang lalu, Ryu telah membawa Rara ke Paris saat gadis itu tertidur. Dia membawa Rara demi keamanan gadis itu. Tinggal di Belanda akan membuat keselamatan Rara terancam karena banyak musuh Rafa yang mengintai dan menginginkannya.


Menurutnya, Rara lebih aman tinggal di rumahnya di Paris sebelum gadis itu balik ke tanah air.


Ryu telah memerintahkan orang-orangnya untuk menjaga sekeliling area huniannya ini dengan ketat.


Sementara di dalam ruang belakang ranjang yang di masuki Rara, Rara di buat tercengang melihat ruang yang di masukinya ini. Matanya tak berkedip menatapi isi dari ruang ini. Setiap sudut ruang terpajang gambar foto dirinya.


Bukan hanya itu foto foto itu, banyak koleksi foto dirinya yang lain dengan model pakaian yang berbeda, juga tempat tempat yang berbeda. Termasuk foto dia belajar di ruang kelas, kegiatan di sekolah, kegiatannya di luar sekolah. Bahkan Foto dia sedang tidur, foto dia sedang melukis, foto berkumpul bersama keluarganya dan masih banyak lagi.


Beragam boneka boneka dan mainan kesukaannya terpanjang teratur di ruang ini. Rara tahu semua barang barang itu adalah mainan kesukaannya saat kecil hingga dia remaja sekarang ini.


Perlahan Rara melangkah mendekati gambar foto foto itu. Di rabanya satu persatu. Gambar foto dengan berbagai ekspresi wajahnya. Sedang tersenyum manis, tertawa, sedih, kesal, cemberut, manyun, marah bahkan saat dia sedih menangis mengeluarkan air mata.


"Kenapa foto foto Rara bisa ada di sini?" ucapnya menatap heran bercampur takut. Dia berpikir ada yang sengaja mengambil gambar foto dirinya sembunyi sembunyi.


"Siapa yang berani memfoto Rara tanpa izin?"


"Ini bisa di kategorikan sebagai pelecehan karena melanggar privasi dan melanggar UU hak cipta!" ucapnya kesal.


"Tapi siapa yang berani melakukan hal itu? Dan ini..... tempat siapa?"


Rara berpikir ada yang terobsesi pada dirinya.


Rara kembali melihat sekelilingnya. Matanya terhenti pada lemari kaca besar. Rara merasa tertarik dengan benda terukir indah tinggi memanjang itu. Dia mendekat.

__ADS_1


Lemari ini sebagai tempat pajangan foto dirinya sedang ulang tahun. Ulang tahun dari umurnya satu tahun, sampai umurnya 16 tahun. Beserta kado dan hadiahnya. Semuanya berurut teratur.


Rara bergeser ke kanan, melihat foto foto keluarganya saat dia ulang tahun. Ada Cio di dalam foto itu. Cio saat kecil, sebelum dia pergi ke luar negeri.


Mata Rara beralih pada foto ultah saat dia SMP dan SMA.


Matanya memicing saat melihat melihat salah seseorang dalam bingkai foto itu.


"Ini bukannya tetangga itu?!" pikirannya melayang pada tetangga di hotelnya. Wajah Ryu berada di antara wajah keluarga dan teman-temannya, di setiap ulang tahunnya. Ryu di situ berbaur bersama mereka.


Melihat Ryu berada bersama keluarganya meyakinkan dirinya kalau Ryu adalah Cio.


"Ja- jadi benar dia adalah kak Cio....?" ucapnya terbata bata. Kaget dan seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat.


Rara membuka album foto yang tergeletak di sebelah. Dia membuka buku tebal itu. Pada halaman pertama tertulis "Khanza Ku Sayang" di sertai gambar foto editan dirinya dan Cio berdampingan. Foto mereka sudah besar.


Rara membuka lembaran berikutnya dan berikutnya dengan melongo.


Gambar Foto Ryu mengikutinya secara diam-diam saat dia pergi dan pulang sekolah. Foto Foto kesehariannya. Bahkan saat Rara mengunjungi wisata di berbagai tempat di Belanda ada Ryu juga bersamanya. Foto di bandara bersama Nesa kemarin juga ada dalam album ini. Dalam foto itu Ryu duduk tak jauh dari mereka.


Kesedihan Rara seketika membuncah. Dadanya terasa sesak.


"Jadi selama ini kakak selalu mengikuti Rara diam diam? Tapi kenapa dia tidak memperlihatkan dirinya pada Rara? Apa dia gak tahu selama ini Rara tersiksa karena merindukannya? Kakak tega.... sungguh tega!" ucap Rara dengan dada bergemuruh menahan tangis dan amarah.


"Kenapa kakak tega melakukan itu pada Rara? Setiap saat Rara selalu menunggu teleponnya, menunggunya pulang. Dia malah menyiksa Rara dalam kerinduan." air matanya jatuh. Kaki bergerak mundur. Dia tidak menyangka Cio akan melakukan hal itu.


Praaang....


Bunyi vas bunga pecah.


Rara terkejut bukan main. Mata dan mulutnya terbuka lebar melihat ke lantai. Tanpa sengaja lengannya menyenggol benda itu hingga jatuh ke lantai dan pecah. Rara panik dan kelabakan. Dia bingung mau melakukan apa.


"Ya tuhan....!" Rara semakin bingung dan takut.


Dia berharap orang di luar tidak mendengar bunyi pecah tadi.


Tapi harapannya pupus.


Pintu di buka, Rara kaget setengah mati.


Bersambung.

__ADS_1


Segini dulu ya halunya saya,


Tinggalkan jejak dukungan ya 😘


__ADS_2