Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
35. Kemarahan Anggi


__ADS_3

Masih terlalu pagi Anggi mendatangi rumah Ryu. Dia ingin memastikan sesuatu. Kejadian semalam membuatnya geram. Apa yang di rencanakan gagal total. Rencana untuk menjebak Ryu dengan minuman yang telah di beri serbuk untuk merangsang hasrat seksual Ryu dan menjadikan pria itu hanya miliknya, malah hancur berantakan. Ryu malah menghilang entah kemana.


Dia mencari Ryu seperti orang gila setelah tidak di dapatnya di dalam toilet. Bahkan dia menggeledah semua toilet di hotel itu tetap tak menemukan sosok Ryu. Ponsel Ryu tak bisa di hubungi. Dia bertanya pada Manager hotel apakah Ryu memesan kamar di hotel ini, karena mobilnya masih terparkir di parkiran hotel. Tapi Manager berkata Ryu tidak melakukan reservasi untuk menginap di hotel ini.


Anggi menelpon ke rumah, kepala pelayan mengatakan Ryu belum kembali. Tak percaya dengan omongan kepala pelayan, dia mendatangi kediaman Ryu tengah malam untuk memastikan hal itu. Tapi penjaga keamanan berkata tuan mereka belum kembali.


Anggi memaksa untuk masuk tapi di tahan. Karena mereka tidak bisa memasukkan sembarang orang ke dalam rumah di saat tuan mereka tidak ada. Dia di suruh kembali besok pagi saja.


Anggi memaki mereka karena menganggap dirinya orang lain. Tapi dia yakin perintah ini pasti dari Ryu. Dan itu membuat emosinya meluap.


Makanya dia datang sepagi ini untuk memastikan apakah Ryu sudah berada di rumah. Sebelumnya dia menghubungi pelayan bayarannya yang bekerja di rumah Ryu. Dia bertanya apakah Ryu sudah berada di rumah? Pelayan berkata Ryu kembali jam 3 pagi. Karena dia mendengar mobil Ryu masuk ke garasi sebelum suara adzan subuh berkumandang. Dan sebelum melakukan shalat subuh, dia melihat tuannya berada di ruang gym sedang melakukan olahraga. Hanya itu yang di ketahuinya.


Anggi berpikir dan bertanya tanya, kalau Ryu kembali jam tiga pagi, pergi kemana dia setelah menghilang dari toilet? Dia menginap di mana dan menghabiskan malam bersama siapa untuk menyalurkan hasratnya akibat reaksi obat perangsang itu? Apa Ryu punya wanita lain yang tidak di ketahuinya?


Atau Manager hotel membohonginya?


Ataukah Ryu pulang menggunakan mobil lain dan meminta bantuan orang lain untuk mengantarnya?


Anggi langsung masuk ke rumah Ryu dengan mudah karena pelayan bayarannya yang membukakan pintu untuknya. Pelayan itu menunggunya dengan berpura-pura membersihkan ruang tamu. Jika kepala pelayan atau pelayan lain yang menyambutnya pasti masih akan ada drama lain. Dia tidak akan di izinkan untuk naik ke atas apalagi sampai masuk ke dalam kamar Ryu. Dan di suruh duduk menunggu di ruang tamu.


Anggi segera naik ke atas dengan perasaan campur aduk. Ada rasa takut dan deg degan menghinggapi dirinya naik diam diam seperti ini. Tapi dia harus berani demi untuk mendapatkan apa yang ingin di ketahuinya.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Ryu.


Hatinya semakin tak tenang. Jantungnya berdegup kencang. kedua tangan dan lututnya mulai gemetar.


Anggi menoleh sejenak pada pintu ruang kamar di sebelah kamar Ryu. Pintu itu tertutup.


Dia di beri tahu pelayan bahwa itu adalah kamar Khanza.


"Sepertinya gadis itu masih tidur." batinnya. "Mungkin saja karena ini belum jam 6 pagi." batinnya kembali, mengira Rara masih tidur di jam begini.


Anggi tidak mau mengetuk. Karena dia pasti tidak akan di izinkan masuk.


Dengan mengumpulkan segala keberanian, Anggi memutar handle pintu. Dia lega karena pintu tidak terkunci.


Segera dia membuka dan mendorong daun pintu. Matanya langsung melihat ke dalam. Menyapu isi ruangan itu. Keadaan tampak sepi.


Matanya tertuju pada ranjang Ryu yang berantakan. Dia terkejut melihat sosok wanita berbaring di sana.


Anggi langsung melangkah masuk mendekati ranjang dengan perasaan semakin tak karuan. Dia memperhatikan sosok itu. Selimut yang tersingkap ke atas membuat paha mulus wanita itu terlihat. Dadanya bagian atas yang terbuka karena selimut hanya menutup sampai bagian dada. Wajah wanita itu tidak jelas karena tertutup sebagian rambut. Jantung Anggi berdegup semakin kencang. Dia sudah dapat menebak siapa wanita ini di lihat dari rambut panjangnya juga postur tubuhnya.


Untuk memastikan apakah kecurigaannya benar, dia segera menyibak rambut wanita itu perlahan.


Anggi terbelalak melihat wajah Rara. Kakinya mundur beberapa langkah kebelakang. Dia menatap tak berkedip antara percaya dan tidak melihat wajah gadis itu.


Terasa lemah sekujur tubuh Anggi. Dadanya bergemuruh kuat menahan amarah dan tangis. Sungguh sakit dan terlukanya dia saat ini. Kecurigaannya beberapa hari ini tentang kedekatan Ryu dan Rara ternyata benar.


Anggi mendengus geram karena merasa di bohongi dan di permainkan oleh mereka. Rara yang sok polos dan Ryu seorang penipu handal. Dia tidak menyangka kedua kakak beradik ini menipu dirinya dan bermain api di belakangnya.


Anggi tidak terima di bohongi dan di bodohi seperti ini. Dia berjalan mendekati ranjang ingin melabrak Rara yang tertidur nyenyak dengan wajah tenang tanpa dosa. Dan itu membuatnya jijik.

__ADS_1


Anggi hendak naik ke atas ranjang untuk menarik Rara dari ranjang serta memberi pelajaran. Tapi batal dengan kemunculan Ryu yang baru keluar dari kamar mandi.


Ryu terkejut melihat dirinya.


"Kau? Kenapa bisa masuk ke kamarku?" menatap tajam pada Anggi.


Sedangkan Anggi kembali terbelalak melihat keadaan Ryu yang hanya memakai handuk pendek menutupi bagian pribadinya saja. Rambut dan sekujur tubuh Ryu tampak basah. Mengartikan pria ini baru saja mandi. Anggi melihatnya tak berkedip, lalu dia melihat pada Rara di tempat tidur. Otaknya langsung berpikir buruk dengan melihat keadaan keduanya. Jadi Ryu menghabiskan malam bersama gadis ini? Bercinta dengan adiknya sendiri? Menyalurkan hasratnya pada gadis ini? batinnya.


"Kau....? dan dia ?" Anggi kembali melihat mereka bergantian. Dadanya semakin sesak menahan kemarahan. "Kenapa Rara bisa tidur di ranjang mu?" Darahnya terasa sangat mendidih. Air matanya jatuh seketika.


Dia ingin berteriak karena tidak kuat lagi melihat semua ini, juga menahan rasa sakit teramat sangat. Tapi dengan gerakan cepat Ryu mendekat dan membekap mulutnya.


"Jangan buat keributan di sini. Nanti Khanza terbangun." katanya dengan suara di tekan.


Anggi kembali terbelalak mendengar perkataan itu.


"Apa katanya? Ternyata dia lebih menjaga tidurnya Rara dari pada memikirkan bagaimana hancurnya perasaan ku saat ini?" batin Anggi geram.


Dia kembali berteriak teriak, tapi suara hanya memenuhi kerongkongannya karena mulutnya semakin di bekap kuat oleh Ryu.


Ryu menyeretnya kasar ke luar dari kamar karena dia melakukan perlawanan.


Ryu membawa Anggi ke ruang kerjanya yang berada di sebelah menahan kemarahan karena Anggi bisa masuk kedalam kamarnya.


"Kalian semua....Siapa yang membiarkan Anggi masuk ke dalam kamar ku?" teriaknya keras dengan emosi.


Dalam langkahnya dia terus berteriak memanggil Ratih, kepala pelayan.


"Kenapa kau bisa masuk kedalam kamar ku? hah?" sentaknya begitu melepaskan Anggi setelah berada di ruang kerja.


Bukannya menjawab, Anggi melayangkan tamparan keras di wajahnya.


Ryu kaget dengan apa yang di lakukan Anggi. Dia menyentuh wajahnya.


"Apa yang kau lakukan?" sentaknya keras. Dia meraba sudut bibirnya yang berdarah. Dia tidak menyangka Anggi berani menamparnya.


"Kenapa? Sakit?" Anggi membalas tatapannya dengan sorotan tajam penuh kemarahan.


"Tamparan itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang aku rasakan!" sentaknya keras menekan dadanya yang terasa sakit.


"Apa yang kau lakukan dengan gadis itu? Hah? Kenapa dia tidur di ranjang mu dengan keadaan seperti itu? Apa yang kalian lakukan?" Anggi memukul dada Ryu." Teganya kau melakukan ini padaku Ryu." kembali memukul lengan dan dada Ryu.


Suaranya yang cukup keras membuat para pelayan mendengarnya. Ratih dan empat orang pelayan segera naik ke atas setelah mendengar teriakkan tuannya.


"Jangan berteriak teriak Anggi. Jangan membuat keributan di sini!" bentak Ryu.


Anggi tersenyum sinis.


"Kenapa? Apa kau malu jika seluruh orang di rumah ini tahu kau tidur dengan adikmu sendiri?"


"Anggi...!!!" sentak Ryu keras menatap tajam menahan kemarahan.

__ADS_1


"Apa kau takut jika orang orang tahu kau bercinta dengan adikmu sendiri?" teriak Anggi kembali lebih keras.


"Diam Anggi, jaga ucapan mu!" Ryu berjalan ke arahnya hendak membungkam mulut nya, tapi dengan cepat Anggi melemparnya dengan vas bunga. Ryu segera mengelak ke sebelah. Benda itu jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.


"Kenapa? kau ingin menyangkalnya? Cih..... dasar bajingan! Kau manusia rendah! Kalian berdua manusia menjijikkan." maki Anggi.


"Jadi karena itu kau melarang ku masuk ke kamar mu? Ternyata untuk menutupi kebusukan yang kau lakukan? Agar aku tidak melihat dan mengetahui wanita yang berada di atas ranjang mu?" kata Anggi dengan kemarahan berapi api. Dia membanting komputer dan juga berkas berkas yang berada di atas meja.


Anggi seperti orang kesetanan. Dia merusak apa saja yang di dapat oleh tangannya.


"Hentikan Anggi!" sentak Ryu.


"Aku sudah menduga kalau kau menyukai gadis itu. Kamu mencintai kan? Katakan Ryu, sudah berapa lama kau bermain gila dengan adikmu sendiri? Sudah berapa lama gadis sok polos itu menjadi penghangat ranjang mu? Jawab Ryu!" teriak Anggi keras.


"Tutup mulut mu!" sentak Ryu menatap dengan sorotan mata tajam.


Mata Anggi melihat tato di dada Ryu yang bertuliskan nama Khanza. Dan itu membuatnya semakin sakit dan terluka.


"Kau bahkan mengukir namanya di hatimu! Brengsek, Keterlaluan kau Ryu!" ucapnya sinis dengan air mata yang mengalir.


"Kalian benar benar manusia rendah, manusia laknat. Manusia hina. Tak punya rasa malu dan tak takut dosa!"


"Diam Anggi. Khanza tidak serendah itu. Tutup mulut mu. Sudah cukup, jangan lagi kau menghinanya." sentak Ryu kembali. Darahnya semakin mendidih tidak terima Khanza di hina dan rendahkan seperti itu.


Anggi tertawa mengejek.


"Cih, kau ingin membela gadis murahan itu? Wanita yang tidak punya rasa malu bercinta dengan kakaknya sendiri? Kau ingin menyangkal apa yang kalian lakukan? Kau pikir mataku buta tidak melihat dia berada di atas ranjang mu yang berantakan dengan tubuhnya yang polos tertutup selimut?" sentaknya keras.


Ratih dan beberapa pelayan masuk ke ruang itu. Mereka kaget melihat keadaan ruangan yang berantakan seperti kapal pecah.


"Bawa dia turun ke bawah. Dan jika masih membuat kekacauan, suruh sopir untuk mengantarnya pulang." kata Ryu pada mereka.


Anggi mendengus geram mendengar perintah itu.


Ratih segera memberi isyarat pada pelayan untuk membawa Anggi. Mereka menahan Anggi dengan kuat karena wanita itu berontak.


Anggi tidak terima di perlakukan seperti ini.


"Lepaskan aku... lepas! Brengsek kau Ryu....kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Anggi keras. Dia tidak dapat melawan kekuatan tiga pelayan yang membawanya turun ke bawah.


Dua pelayan yang tertinggal segera bergerak membersihkan ruang itu.


Ryu langsung keluar menuju kamarnya. Dia ingin memastikan Khanza tidak mendengar keributan tadi.


Dia lega melihat Khanza masih tertidur pulas dengan posisi yang di tinggalkan tadi. Perlahan dia mendekat dan memperbaiki selimut ke tubuh Khanza. Anggi menyangka gadis ini dengan keadaan tubuh telanjang polos, padahal memakai baju tidur pendek tank top. Sejenak Ryu mengusap kepala Khanza lembut. Lalu segera melangkah ke ruang ganti.


Setelah kepergian Ryu ke ruang ganti, Khanza membuka mata dan segera bangun dari tidurnya. Lalu pergi keluar menuju ke kamarnya.


*****


Cukup segini dulu hasil halunya author.

__ADS_1


Waktunya istirahat. Jangan lupa dukungnya ya?... terimakasih.


__ADS_2