Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
19. Siapa dia?


__ADS_3

Setelah kebersamaan mereka kembali, Cio membawa Rara pelesiran ke tempat tempat wisata di kota Paris. Keduanya sangat senang menikmati liburan. Terutama Rara. Dia begitu semangat dan antusias.


Dan Cio sangat senang melihat wajah ceria dan bahagia Khanza saat mengunjungi tempat wisata tersebut. Mereka mengabadikan setiap momen perjalanan dari satu wisata ke wisata lainnya. Selama seminggu itu Cio mengabaikan pekerjaan kantornya dan lebih memilih menemani Khanza. Baginya Khanza lebih penting dari pekerjaan atau hal lainnya.


Keduanya membagi kebahagiaan kebersamaan mereka kepada keluarga yang berada di tanah air. Tentu saja hal itu membuat Nesa, Rafa dan Ara senang. Akhirnya kedua kakak beradik yang selama belasan tahun berpisah karena kesalahpahaman itu berbaikan dan bersama kembali seperti saat mereka kecil dulu.


Masa pelesiran mereka berkahir. Karena Rara capek dan ingin istirahat full. Dia juga sudah puas menikmati semua keindahan yang ada di kota itu karena semua telah di kunjungi. Keindahan kota Paris yang tak kalah indah dengan kota Amsterdam.


.


.


Setelah shalat subuh Rara kembali tidur nyenyak setelah mendapat pelayanan pijat spa pada tubuhnya. Cio mendatangkan jasa pelayanan kecantikan dan kesehatan badan kerumahnya. Yang di lakukan langsung oleh dokter kecantikan yang merupakan kenalannya. Pijatan untuk memberi efek relaksasi otot tubuh Rara yang terasa nyeri dan tegang. Rara di buat tertidur nyaman oleh pijatan itu.


Sedangkan Cio pergi ke kantor untuk bekerja kembali setelah vakum seminggu. Untung saja ada Simon yang selalu bisa diandalkan selama dia pergi liburan bersama Rara.


Rara terbangun dari tidurnya setelah enam Jam tertidur. Tubuhnya terasa enak. Dia kaget melihat Yuri berdiri di samping tempat tidurnya di temani kepala pelayan wanita.


"Mbak Yuri?" panggilnya dengan suara rendah.


"Selamat siang Nona muda. Nona sudah bangun?" tanya Yuri meski terlihat oleh matanya anak majikannya ini telah bangun.


"Iya, mbak sudah pulang? dan mbak juga tahu rumah ini?"


"Iya Nona. Saya tiba tiga jam yang lalu!" jawab Yuri sopan.


"Apa urusannya sudah selesai?"


"Sudah Nona."


"Apa kak Cio di kantor?"


"Benar Nona. Tuan Ryu berada di kantor. Apa Nona mau makan siang?"


"Aku mau mandi dulu, sepertinya sudah waktunya shalat Dzuhur."


"Baik Nona. Kami akan mempersiapkan makan siang anda. Nona ingin makan apa?" kepala pelayan bertanya.


"Biasanya kak Cio makan siang jam berapa?" Rara balik bertanya.


"Tidak menentu Nona. Kadang tepat waktu, kadang juga tidak jika tuan sibuk dengan banyaknya pekerjaan." jawab pelayan.


Rara tanpa berpikir.


"Mungkin saat ini kakak sedang sibuk dan belum makan. Karena seminggu kemarin dia tidak masuk kerja!" gumamnya.


Rara menoleh pada Yuri dan pelayan yang sedang menunggu dia memerintah.


"Apa mba Yuri tahu kantor kak Cio?"

__ADS_1


"Tahu Nona."


"Setelah Dzuhur antar Rara ke kantor Kakak. Rara akan makan siang bersama dengannya. Ibu tidak perlu menyiapkan makanan untuk Rara!" kata Rara pada kepala pelayan.


"Oh ya, Jangan beritahu kedatangan Rara ke sana. Rara ingin memberi kakak kejutan!" katanya tersenyum menatap kedua wanita itu yang kaget dengan keinginannya.


Rara turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih dan mengambil air wudhu sebelum melaksanakan kewajibannya pada Tuhan.


.


.


Hampir dua jam berlalu. Rara dan Yuri tiba di kantor pusat Ryu. Rara memandang takjub gedung megah bertingkat banyak punya kakaknya itu. Cita cita Cio yang ingin menjadi pengusaha sukses seperti papanya terwujud.


Mereka masuk dengan mudah karena beberapa penjaga keamanan mengenal Yuri.


Mereka segera masuk lift untuk membawa keduanya ke lantai ruang kerja Ryu.


"Nona muda. Di sini semua orang tahu nama tuan Cio adalah Ryu Deva Mayandra." kata Yuri.


Rara mengerti ucapan Yuri.


Dia juga sudah tahu kenapa Cio mengganti namanya dengan nama Ryu. Semuanya karena dirinya yang telah mengganti namanya menjadi Rara.


Lift terus berjalan dan berhenti pada lantai yang di tuju.


"Atau jangan-jangan kak Cio lagi meeting di ruang rapat?"


"Tuan sedang berada di ruang kerja. Tadi saya sempat bertanya lewat pesan pada asisten pribadinya." kata Yuri yang tadi sempat menanyakan keberadaan tuannya pada Simon, serta kedatangan Rara kesini yang ingin memberi kejutan.


"Syukurlah. Ayo antar Rara ke ruang kerja kak Cio!"


Mereka terus berjalan menuju ruang kerja Cio. Saat hendak masuk, Caroline sekretaris Ryu menahan mereka.


Caroline menatap keduanya. Dia tahu Yuri tapi tidak dengan Rara. Beberapa kali dia melihat Yuri bersama Simon.


"Maaf, anda berdua tidak boleh masuk sebelum membuat janji!"


"Kami ingin bertemu dengan tuan Ryu." kaya Yuri.


"Maaf, tuan Ryu sedang ada tamu penting di dalam!" kata Caroline, dia menatap Khanza.


"Tapi tamu ini lebih penting dari yang lainnya. Biarkan Nona Rai Rara masuk!" Yuri menoleh pada Rara.


"Tidak bisa. Kecuali kalau kalian sudah membuat janji. Tak ada catatan Nona ini dalam agenda tuan Ryu hari ini!" Caroline kembali menatap wajah polos Rara. Wajah manis cantik alami. Usianya yang masih belia. Jadi namanya Rai Rara?


"Siapa wanita ini? Apa salah satu wanita tuan Ryu?" batin Caroline.


Karena di dalam sana ada wanita yang mengaku kekasih Ryu. Dan itu membuat Caroline geram. Terlalu banyak wanita saingannya yang menyukai pimpinannya itu.

__ADS_1


"Sebaiknya anda tunggu sebentar, saya akan menghubungi tuan Simon!" kata Caroline.


"Itu tidak perlu. Biarkan Nona Rara masuk!" suara Simon terdengar dari belakang mereka. Dia baru kembali menjalankan pekerjaan yang di perintah Ryu.


"Silahkan Nona!" Simon mempersilahkan Rara masuk.


Dahi Caroline mengerut mendengar ucapan Simon.


"Siapa gadis muda ini hingga Simon memperlakukannya dengan hormat dan sopan?" Batinnya. Dia tidak dapat menahan lagi jika Simon sudah memberi perintah.


"Terimakasih." ucap Rara tersenyum pada Simon.


"Saya akan menunggu Nona di luar!" kata Yuri.


Rara mengangguk.


Dia membuka pintu pelan pelan tanpa mengetuk. Lalu segera masuk. Rara hendak mengatakan kata surprise, tapi batal setelah melihat di adegan mesra depan.


Dua sosok manusia berbeda jenis, berdiri membelakanginya. Sala satunya sudah pasti Ryu, kakaknya. Dan seorang lagi adalah seorang wanita.


Wanita itu sedang memeluk Ryu dari belakang.


Menyadarkan wajahnya di punggung Ryu. Keduanya tidak menyadari keberadaan dirinya.


Rara menatap dengan wajah mengernyit.


"Siapa wanita ini? Apa kekasih kak Cio? Sepertinya iya, karena kata sekretarisnya, kak Cio sedang ada tamu penting. Tamu penting itu sudah pasti wanita ini," gumam Rara.


"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Sebaiknya aku tunggu di luar dulu." gumamnya kembali.


"Pulanglah Anggi. Aku sibuk!" kata Ryu melepas kedua tangan wanita yang bernama Anggi melingkar pada perutnya. Dia melepas secara paksa.


Anggi mendengus pelan.


"Ryu, kenapa kau selalu dingin padaku?" katanya kesal. Lagi lagi Ryu bersikap dingin dan menolaknya. Seminggu ini Ryu tidak menghubunginya. Dia juga tidak bisa bertemu dengan pria pujaannya ini. Entah kemana perginya Ryu tanpa memberi kabar padanya.


"Sudahlah Anggi. Aku sibuk, banyak pekerjaan yang menunggu sentuhan tanganku. Sebaiknya kau pulang!" ujar Ryu kembali dengan tegas.


Ryu berbalik hendak menuju meja kerjanya.


Dia terkejut melihat sosok Khanza berdiri di depan pintu, hendak menarik handle pintu. Meski membelakangi, dia tahu itu adalah Khanza.


"Khanza?" tak berkedip menatap Khanza.


Rara kaget. Batal menarik handle pintu. Dia segera berbalik. Lalu mengulas senyum.


Sedangkan Anggi segera berbalik mendengar suara Ryu menyebut nama seseorang. Wajahnya mengernyit melihat gadis muda, berparas cantik berdiri di depan mereka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2