Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
72. Lemah, tak berdaya


__ADS_3

Rara menuju lift karyawan.


Langkahnya berhenti tiba-tiba saat melihat seseorang. Dia cepat berbalik dan menutup wajahnya dengan berkas itu. Bagaimana tidak, yang di lihatnya adalah orang yang sangat ingin di hindarinya, Ryu. Dia sangat terkejut melihat Ryu ada di sini berjalan masuk ke lift privat.


"Kak Ryu kok ada di sini?" gumamnya."Apa dia mengikuti Rara?" Rara jadi takut. Untung saja Ryu tidak menoleh ke arah dirinya sebelum masuk lift, sehingga tidak melihat dirinya.


"Semoga saja kak Cio gak lihat Rara! Rara harus cepat cepat ke atas dan serahkan berkas ini. Terus pulang. Semoga Rara gak akan ketemu kak Cio di tempat ini." Gumamnya khawatir. Dia kesal kenapa selalu bertemu Cio saat dia ingin menghindari pria itu.


Rara segera masuk lift karyawan. Setelah tiba di atas dia langsung ke meja sekretaris.


"Selamat siang Nona. Ada yang bisa kami bantu Nona?" sapa ramah sekretaris cantik dan berpenampilan agak seksi.


"Saya mau mengantar berkas ini kepada pimpinan perusahaan ini. Berkas ini sangat penting dan rahasia." kata Rara menjelaskan. Dia melihat name tag si sekretaris, tertulis Jovita. Rara risih melihat pakaiannya yang tidak sopan. Kenapa perusahaan ini membiarkan karyawan memakai pakaian terbuka seperti ini?Sangat jauh berbeda dengan perusahaan ayahnya yang membuat peraturan keras dalam urusan penampilan berpakaian. Semua karyawan harus mengikuti etika dalam berbusana yang baik selama di kantor. Papanya sangat jijik melihat wanita yang tidak menjaga tubuhnya dan malah sengaja memperlihatkan auratnya.


"Saya mengerti. Anda pasti orang yang di kirim Ibu Lily dari perusahaan R'A group?" kata Jovita membuyarkan lamunannya.


"Iya benar.....!" kata Rara sedikit gugup.


"Mungkin saja kepala penjaga itu sudah memberitahu kedatanganku, jadi sekertaris ini sudah tahu," batinnya


"Tunggu sebentar Nona!" kata Jovita.


Rara memperhatikan Jovita sedang menghubungi seseorang, sudah pasti pimpinan perusahaan ini, untuk memberi tahu kedatangannya.


"Maaf pak, ada orangnya Ibu Lilyana dari perusahaan R'A group mengantar sesuatu." kata Jovita pada orang di seberang.


"Suruh dia masuk."


"Baik pak." telepon di matikan. Jovita meletakkan telepon, lalu melihat pada Rara.


"Pimpinan sudah menunggu anda. Kebetulan beliau juga baru saja tiba. Mari saya antar." kata Jovita.


Rara mengikuti Jovita tanpa curiga ke ruang kerja pimpinan yang tertulis DIREKTUR UTAMA.


Setelah mengetuk pintu, Jovita membuka pintu."Silahkan masuk Nona." kata Jovita.


"Terimakasih." Rara segera masuk.

__ADS_1


"Untung saja pelayanannya ramah dan sopan, meski pakaiannya tidak sopan." Batin Rara melirik tidak suka pada Jovita. Jovita kembali menutup pintu dari luar dan kembali ke meja kerjanya setelah Rara masuk.


Rara kembali terkejut melihat Ryu di depannya. Sedang duduk sambil menerima telepon. Kursi Ryu yang menghadap ke arah lain membuat posisi tubuh Ryu menyamping. Rara kembali melihatnya dengan cermat untuk meyakinkan matanya siapa tahu salah lihat orang. Karena dia selalu melihat Ryu ada di mana mana. Dan ternyata menang benar, pria di depannya ini adalah Ryu.


"Jadi pimpinan perusahaan ini kakak?" gumamnya masih sangat terkejut. Dia melihat papan nama direktur utama di meja kerja yang tertulis nama Ryu Deva Mayandra.


Ryu memutuskan hubungan telepon karena sudah selesai bicara. Dia memutar kursinya melihat ke depan. Sama halnya dengan Rara, Ryu juga terkejut melihat Khanza berdiri di depannya. Tapi terkejut yang di buat buat. Karena dia tahu kedatangan Khanza ke sini.


"Khanza?" ucapnya dengan ekspresi wajah kaget. Kemudian wajah itu tersenyum sumringah. Ryu segera berdiri dan keluar dari kursi kerjanya.


"Jadi Khanza tamu yang datang mengantar berkas itu?" kata Ryu masih dengan senyum di wajah." Selamat datang dek.... selamat datang di kantor kakak! Kenapa nggak kasih tahu kalau mau datang ke sini? Kakak kan bisa menyambut mu!" kata Ryu melangkah mendekati Khanza. Pertama kalinya Rara datang ke perusahaannya yang berada di tanah air. Dan selama ini Khanza tidak tahu. K'Company, di ambil dari nama Khanza, sejak dia membangun gedung pencakar langit ini.


Rara tersadar dengan keadaan. Dia mundur saat Ryu semakin dekat.


"Jadi perusahaan ini milik kakak?" tanyanya menatap Ryu.


Ryu mengangguk, dan kembali melangkah mendekati.


"Stop di situ. Jangan dekat-dekat!" kata Rara menjulurkan satu tangannya ke depan seolah memberi batas dan untuk menghentikan langkah Ryu.


Langkah Ryu melambat. Ryu segera berhenti melihat suasana hati Khanza yang berubah tidak baik.


"Maaf, Rara tidak tahu kalau perusahaan ini milik kakak! Rara hanya ingin mengantar berkas ini. Tadi tercecer di depan pintu ruang kerja papa, tak sengaja di jatuhkan Bu Lily. Kata papa berkas ini sangat penting, jadi Rara langsung mengantarnya." Rara segera meletakkan berkas itu di meja sofa tanpa menyerahkan langsung pada Ryu. Berkas yang entah sengaja di jatuhkan Lily atau tidak hingga membuatnya kembali bertemu dengan orang yang sangat ingin di hindari nya ini. Rara melangkah mendekati pintu ingin cepat keluar. Dia sungguh tidak menyangka kalau Ryu pemilik perusahaan sebesar ini. Dia mengira kantor dan perusahaan Ryu hanya di luar negeri saja. Tapi ternyata kakaknya ini punya perusahaan juga di tanah air. Dan dia sama sekali tidak tahu.


"Khanza, tunggu dek." Ryu melangkah cepat dengan kakinya yang panjang mendekati sebelum Khanza keluar pintu. Dia segera menyergap tubuh Khanza dari belakang, lalu menutup pintu. Dia Mengangkat dan membawa tubuh yang berontak melawan itu ke sofa. Di dudukkan dan di kurung dengan ke dua tangannya agar Khanza tidak bisa kemana mana.


"Minggir kak...!" kata Rara menatap kesal. Berusaha bangkit dengan mendorong tubuh Ryu. Tapi Ryu menahan kuat tangannya.


"Kakak ingin bicara dengan kamu. Kakak ingin menjelaskan sesuatu agar kita tidak terus seperti ini."


"Rara gak mau dengar apa pun! Rara benci kakak. Kakak tega melakukan itu pada Rara." kata Rara agak keras menatap tajam dengan mata berkaca-kaca.


"Makanya dengarkan penjelasan kakak. Biar kamu gak salah paham dan marah."


"Menjelaskan apa? Karena kakak mencintai Rara makanya melakukan itu? Apa itu yang ingin kakak jelaskan?" Rara emosi.


"Apa Kakak nggak bersalah pada kak Anggi setelah melakukan itu pada Rara? Aku bahkan sangat malu menatap kakak! Aku takut, aku malu dan semakin berdosa pada kak Anggi." kata Rara mulai menangis.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu merasa takut seperti itu dek. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun!"


"Bagaimana mungkin tidak merasa bersalah? Aku bahkan benci diriku, kenapa bisa terlena dan menikmati sentuhan kakak! Aku....!" ucapannya terhenti dengan kecupan Ryu pada bibirnya. Rara kaget.


"Itu karena kau punya rasa yang sama seperti kakak! Kamu mencintai kakak tapi kau tidak menyadarinya."kata Ryu segera. Rara terperangah.


Ryu memegang wajah Khanza.


"Kamu tidak bisa menolak sentuhan kakak karena kamu rindu setiap kebersamaan yang kita lalui dulu. Kamu takut kehilangan kakak. Mulut mu berkata tidak, tapi hatimu tidak bisa menolak." kata Ryu kembali menatap manik mata Khanza.


Rara kembali terkejut dengan mata dan mulut terbuka. Dia tak bergeming menatap netra Ryu dengan debaran jantung yang cepat.


"Aku mencintai kakak?" batinnya bertanya. Jujur dia tidak bisa hilangkan Ryu dari hatinya. Semakin ingin melupakan dan menghindari tapi malah semakin rindu. Apa benar itu karena rasa cinta? batinnya lagi.


Ryu mengunakan kesempatan diamnya Khanza dengan menyambar bibir pink gadis itu, memasukkan lidahnya pada mulut yang terbuka. Bermain liar dan menyesapnya dalam dalam. Rara kembali di buat terkejut dan sadar diri. Kepalanya terasa pening merasakan usapan liar. Tubuhnya merinding dan tegang. Dia mendorong tubuh Ryu tapi Ryu semakin memegang kuat wajahnya dan terus mencium bibirnya. Menekan tubuhnya di sofa, tak memberi kesempatan dirinya untuk mengambil nafas. Lagi lagi Ryu membuat tubuhnya lemah tak berdaya dengan ciuman ini.


Pintu tiba tiba di buka. Masuklah Jovita. Sekretaris itu terkejut melihat adegan di depannya. Ciuman panas yang di lakukan pimpinannya.


Ryu dan Rara juga terkejut. Ciuman terhenti. Keduanya melihat ke pintu. Rara segera menyembunyikan wajahnya di dada Ryu begitu melihat siapa yang masuk. Dia sangat malu di lihat Jovita. Degup jantungnya semakin tak karuan. Nafas tersengal-sengal.


"Kakak, Rara malu dan takut." kata Rara semakin menyembunyikan wajahnya di dalam jas Ryu.


"Tidak apa apa sayang. Khanza gak perlu takut!" Ryu memeluknya. Lalu menatap tajam dan marah pada Jovita.


"Kenapa kau masuk tidak mengetuk pintu?" sentak Ryu keras. Dia begitu marah karena Jovita masuk sembarangan dan di anggap sebagai pengganggu.


"Maafkan tuan.....saya.....!" Jovita ketakutan. Dan masih belum menghilangkan keterkejutannya melihat Ryu dan Rara berciuman.


"Pergi kau dari sini. Aku tidak sudi melihat mu! Kau ku pecat." teriak Ryu dengan amarah.


Jovita terbelalak, wajahnya berubah pias.


"Tuan, tolong maafkan saya!" langsung jatuh bersimpuh.


"Pergi, apa kau tuli? Atau kau perlu penjaga untuk menyeretmu keluar dari sini?" sentak Ryu kembali menatap semakin tajam.


Jovita sangat takut melihat kemarahan itu. Wajah seram menakutkan. Dia bangkit berdiri dan segera keluar dari ruangan itu." Brengsek." umpatnya. Hatinya sangat sakit dan marah. Dia merasa tidak melakukan kesalahan. Karena sebelum masuk, dia sudah mengetuk pintu seperti biasa. Hanya saja Ryu tidak mendengar karena sedang melakukan pekerjaan mesum.

__ADS_1


******


Dukung ya, tinggalkan jejak dukungan 😘


__ADS_2