Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
32. Obat perangsang


__ADS_3

Di sebuah pesta yang di selenggarakan di sebuah hotel mewah.


Anggi tampak terlihat cantik dengan gaunnya yang mewah dan seksi. Semua temannya mengagumi kecantikannya. Ada juga yang iri melihat dirinya bersama Ryu.


Beberapa mata pria melirik nakal padanya, mencuri pandang. Tapi tak berani mendekat karena ada Ryu yang berdiri di sampingnya.


Bukan hanya mata pria yang nakal melihat pada Anggi, tapi juga mata wanita yang jelalatan melihat pada Ryu. Kagum dan terpukau melihat ketampanannya, di tunjang dengan tubuhnya yang proporsional. Juga status dirinya yang bukan orang sembarangan.


Ryu hanya berdiri diam di tempatnya, sambil sesekali meneguk minumannya. Tak perduli dengan tatapan mata nakal itu. Sesekali dia menyapa tamu yang mengenalnya.


Pikirannya tidak tenang memikirkan Khanza di rumah. Pesan dari kepala pelayan yang mengatakan bahwa teman Khanza, Rangga sudah datang. Dan keduanya saat ini sedang berada di dekat kolam. Dia melihat keberadaan Khanza dan Rangga lewat CCTV yang tersambung dengan ponselnya. Keduanya tampak bercengkrama dan bersenda gurau. Sesekali Rangga menggoda Khanza. Dan Khanza menanggapi dengan tawa.


Ryu menyapu wajahnya kasar. Dia melihat jam tangannya, pukul 19.00. Lalu segera menyimpan ponsel ke dalam saku melihat Anggi mendekati.


"Sayang, kau kenapa? Aku perhatikan kau tidak tenang sejak tadi?" kata Anggi melihatnya gelisah. Meski dia sudah tahu Ryu seperti itu karena kepikiran pada Rara.


Ryu tidak menjawab, dia mengambil gelas minumnya dan menghabiskannya.


"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kita pulang."


"Pulang? belum juga sejam kita di sini. Tunggulah sebentar lagi."


"Aku mau pulang." Ryu menatap tajam.


"Iya kita akan pulang. Tapi tunggu sebentar lagi. Aku gak enak sama tuan rumah. Kita baru datang Ryu. Aku mohon, tunggulah sebentar. Sebaiknya kau duduk." Anggi memberi pengertian. Dia mulai kesal.


Dia memanggil pelayan. Lalu mengambil minuman dan di serahkan pada Ryu.


"Minumanmu sudah habis."


Ryu memijat mijat pelipisnya.


"Tenanglah Ryu. Tunggulah sampai acara intinya di mulai, setelah itu kita pulang. Aku janji."


"Tapi Khanza sendirian di rumah."


"Ada pelayan di rumah. Mungkin juga saat ini dia sedang bersama temannya itu." kata Anggi kesal.


"Dengar Ryu, bukan hanya Rara butuh dirimu. Aku juga, aku kekasihmu. Kau jangan hanya terus memikirkan Rara, pikiran kan juga diriku. Rara terus yang ada dalam pikiranmu. Apa kau tidak berpikir itu menyakiti ku?" kata Anggi menatap tajam, berusaha menekan kemarahan.


"Khanza Adikku."


"Tapi aku juga kekasihmu!" kata Anggi mulai keras." Kau tidak berpikir bagaimana perasaan ku? kau lebih perduli dan mementingkan wanita lain dari pada aku." menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Wanita lain? Khanza adikku. Sudah ku katakan dia adikku. Untuk pertama kalinya dia datang ke negara ini. Aku sangat senang. Dan aku sudah berjanji pada diriku untuk selalu bersamanya, menemaninya sebelum dia balik ke tanah air! Karena aku tidak tahu kapan lagi kami bisa bersama."

__ADS_1


"Adikmu? Benarkah dia hanya adik bagimu?" kata Anggi menatap mata Ryu.


Ryu terkesiap mendengar pertanyaan itu. Sangat terasa di hatinya.


"Maksud mu apa? Khanza memang adikku. Meski hanya adik sepupu ku! Ada apa denganmu? Kau marah seperti ini karena perhatian ku pada adikku?"


Bibir Anggi bergetar. Dia geleng geleng kepala.


"Tidak Ryu. Sejak dulu kau seperti ini. Sejak dulu sikapmu dingin kepadaku. Kau tidak perduli padaku. Aku merasa aku seperti tidak ada bagimu. Aku tidak ada di hatimu! Karena aku merasa hatimu itu sudah terisi oleh seseorang. Aku merasakan hal itu!"


"Sudahlah Anggi. Aku malas berdebat. Itu terus yang sering kau ucapkan. Aku berusaha untuk selalu ada untukmu. Aku selalu mengikuti kemauan mu!"


"Tapi tidak dengan kemauan ku untuk meminta mu menikah. Brulangkali aku meminta kita menikah! Tapi kau selalu menolak dengan beribu alasan. Kenapa Ryu?" Potong Anggi menatap tajam dengan emosi.


"Dan jangankan untuk memenuhi keinginan ku untuk menikah, selama kita bersama aku tidak pernah mendengar mu mengatakan kaca cinta untuk ku.....Kau tidak pernah mengatakan kalau kau mencintaiku. Kau tidak pernah bersikap romantis padaku." ucap Anggi terbata bata. Satu titik air mata jatuh di sudut bibirnya. Hatinya sungguh sakit dan terluka saat ini.


Keduanya saling menatap untuk beberapa detik.


Ryu hendak bicara, tapi terhenti oleh datangnya dua orang tamu.


"Tuan Ryu Deva Mayandra."


Keduanya sedikit kaget. Ryu segera melihat pada tamu. Anggi buru buru melap air matanya, lalu mengulas senyum.


Charles menatap wajah Anggi tanpa berkedip.


"Senang bisa bertemu dengan mu tuan Ryu. Wanita mu sangat cantik. Aku benar-benar terpesona dengan kecantikannya." kata Charles menatap genit pada Anggi. Terus menjalar ke bibir merah Anggi dan tubuh bagian bawah.


Ryu hanya tersenyum kecil menanggapi. Beda dengan Anggi yang sangat senang dan salah tingkah dengan pujian itu.


"Terimakasih atas pujiannya. Saya sungguh tersanjung mendengarnya." ucapnya tersenyum manis.


Ryu dan Charles bercakap cakap sebentar. Obrolan mereka semakin hangat dan serius setelah beberapa tamu penting menyapa dan bergabung. Sementara Anggi ngobrol dengan wanitanya Charles. Dia menoleh sekilas pada Ryu yang tampak serius berbicara. Secepatnya dia mengetik sebuah pesan lalu mengirim pada seorang. Dia tersenyum seringai melihat pada Ryu yang meneguk minumannya.


Pelayan datang lagi dan menambah minuman Ryu dan teman temannya.


Hati Anggi sedikit tenang melihat mereka yang sedang asik ngobrol. Karena hal itu membuat Ryu lupa pada keinginannya yang bersikeras meminta untuk pulang.


Beberapa menit berlalu terdengar suara tawa pecah dari mereka.


Ryu memijat keningnya. Karena merasa pusing. Dia menggerakkan kepala kekiri dan kanan. Tapi rasa pusing itu semakin bertambah. Di rasakan hawa panas menjalar dalam tubuhnya.


"Ada apa dengan ku?" batinnya merasa kegerahan. Dia memegang lehernya.


Ryu merasakan hasrat seksual muncul.

__ADS_1


Ryu kaget. Dia langsung sadar. Dia tahu gejala seperti ini. Ryu mendengus geram dalam hati.


"Siapa yang melakukan ini padaku?" batinnya.


Ryu melihat ke pada teman temannya yang masih dengan canda tawa dan kelekarnya. Dia juga melihat pada Anggi. Wanita itu tampak sedang asik ngobrol dan bercanda dengan beberapa tamu wanita.


"Maaf, permisi. Saya mau ke toilet dulu."


katanya pada teman-temannya.


Dia segera berdiri. Berusaha mengendalikan diri.


"Sayang, kau mau kemana?" tanya Anggi yang melihatnya.


"Aku mau ke toilet sebentar." Ryu tersenyum berusaha tenang, bersikap santai.


"Mau ku temani?" menyelidiki Ryu.


"Tidak....kau di sini saja. Aku akan segera kembali." kata Ryu. Dia segera berjalan cepat menuju ke arah toilet.


Dalam perjalanan dia mengirim pesan kilat pada Simon.


Anggi tersenyum menyeringai melihat kepergiannya.


"Dia sudah meminum obat itu. Tapi kenapa dia terlihat tenang?" batinnya.


"Sebaiknya aku ikuti dia. Aku yakin obat itu sudah bekerja. Dia pasti berusaha tenang di depan ku."


Anggi tersenyum sinis.


"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Milikku seutuhnya." batinnya.


"Permisi, aku mau ke toilet sebentar untuk menyusul kekasihku." pamitnya pada wanita wanita bule itu.


Anggi segera melangkah menyusul Ryu. Dia membuka pakaian depannya agar lebih terbuka. Lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


****


Jangan lupa dukung ya...


Tinggalkan like, komen, hadiah.


Yang baru bergabung mampir ke cerita ini jangan lupa Fav' nya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2