Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
33. Kesedihan Khanza


__ADS_3

Begitu dekat dengan toilet, Ryu langsung berbelok. Dia melangkah cepat seraya membuka jas dan dasi. Rasa panas serta gejolak hasrat seksual semakin terasa menjalar di tubuhnya.Tubuhnya terasa mengambang saat berjalan, kakinya seakan tak menyentuh lantai. Dengan berpegang pada tembok dia menyusuri koridor hotel.


Di depan pintu keluar sudah terparkir sebuah mobil yang telah menunggunya atas perintah Simon. Simon telah menghubungi salah seorang petugas keamanan di situ untuk membawa Ryu pulang, karena saat ini dirinya masih sedang menyelesaikan suatu pekerjaan di suatu tempat.


"Tuan.....!" petugas keamanan itu membuka pintu untuk Ryu. Lalu segera masuk setelah Ryu masuk.


"Cepat bawa aku pergi dari sini." perintah Ryu. Dia mematikan ponselnya.


Mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Tidak butuh waktu lama Ryu sampai di rumah. Petugas keamanan segera membawanya masuk di bantu kepala pelayan yang sudah menunggu di depan pintu masuk.


"Khanza di mana?" tanyanya pada kepala pelayan yang lebih tua 13 tahun darinya.


"Nona muda ada di kamarnya."


"Anda yakin?" khawatir Khanza berada di kamarnya. Karena gadis itu lebih suka berada di kamarnya dari pada di kamarnya sendiri. Menunggunya pulang kerja. Terkadang datang ke kamarnya untuk menjahilinya.


"Iya tuan, saya yang mengantarnya sejam lalu."


"Apa dia sudah tidur?"


"Sudah tuan. Setelah shalat isya, nona Khanza langsung tidur."


"Apa dia sudah makan malam?" terus bertanya sambil menaiki tangga.


"Sudah tuan, tadi bersama temannya."


"Kau pulanglah. Tunggu telepon dari Simon. Jika ada yang bertanya, jangan katakan tentang keadaan ku, meski siapapun itu." katanya pada petugas keamanan yang mengantarnya. Dia tidak ingin Anggi mengetahui keadaannya. Wanita itu pasti sedang mencari dirinya saat ini.


"Baik tuan." petugas keamanan mengerti, lalu segera pergi.


"Anda silahkan istirahat. Jangan berisik. Aku tidak mau Khanza terbangun." katanya pada kepala pelayan begitu sampai di depan pintu kamarnya.


Wanita berumur 40 tahun yang merupakan keponakan Narsih, kepala pelayan di rumah pribadi Rafa Ara itu segera mangkir dari hadapannya.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam.


Ryu melihat sejenak pada pintu kamar Khanza yang tertutup, lalu segera masuk. Meneguk air putih beberapa gelas untuk menetralisir sakit kepala yang dia rasakan. Keadaan yang kacau membuat air tumpah berceceran di lantai.


Ryu menuju kamar mandi. Dia melepas semua pakaiannya, dan tersisa celana bokser. Dia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Mengusap sekujur tubuhnya dari atas hingga ke bawah. Untuk menghilangkan semua rasa yang tidak mengenakkan pada tubuhnya.


Terdengar suara erangan dan ******* dari mulutnya.


"Siapa yang melakukan ini padaku?" gumamnya.


"Apakah Anggi?"


Dia akan mendapatkan jawabannya segera.

__ADS_1


Guyuran air shower tak dapat menghilangkan rasa panas juga gejolak birahinya nya.


Ryu merendam tubuhnya dalam bak.


Lama dia berperang melawan reaksi pengaruh obat laknat itu. Yang membuatnya sangat tersiksa. Berulangkali dia mengerang kuat.


"Kakak....!" terdengar suara panggilan dari pintu.


Ryu kaget.


Belum sempat dia keluar dari bak untuk mengambil bathrobe, pintu terbuka. Ryu terkejut bukan main. Secepatnya dia kembali masuk ke dalam bak. Untung saja dia masih memakai bokser.


"Kakak sudah pulang?" Rara mendekatinya. Wajahnya tersenyum senang karena melihat Ryu sudah kembali. Dia ingin membicarakan tentang keseruannya bersama Rangga tadi.


"Khanza berhenti. Tetaplah di tempat mu. Jangan dekat dekat." kata Ryu agak keras. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari keindahan di depan yang semakin membuat hasratnya menggebu gebu. Dan itu membuatnya semakin tersiksa. Bagaimana tidak, di depannya berdiri sosok Khanza yang hanya mengenakan gaun tidur tipis dan terbuka. Seperti kebiasaannya. Wajahnya yang tersenyum manis seakan menggodanya.


Langkah Rara terhenti. Wajahnya mengernyit.


"Kenapa?" Dia tahu saat ini Ryu memang sedang mandi, tapi di lihatnya Ryu masih mengenakan celana pendek. Dia juga tidak akan berani masuk dan mendekat kalau kakaknya itu sedang telanjang.


"Tidak apa-apa, sebaiknya keluar dari sini, cepat!" sentak Ryu.


Rara kaget.


"Kakak ngusir Rara?" Rara menatapnya dengan wajah manyun. Dia merasa Ryu seperti mengusirnya.


"Rara tahu. Tapi kan kakak tidak telanjang! Rara mau mengatakan sesuatu pada kakak!" Rara kembali mengulas senyum.


"Katakan nanti saja. Sekarang keluarlah! Untuk saat ini tolong jangan dekat dekat dengan kakak. Kita jangan dekat dekat dulu. Kembali ke kamarmu."


"Tapi Rara mau tidur di kamar kakak! Rara ingin menceritakan keseruan dan kebahagiaan Rara hari ini."


Ryu membuang nafas kasar. Dia harus bisa membuat gadis ini keluar dari kamarnya.


"Khanza, tolong untuk malam ini, tidurlah di kamarmu. Kakak mau sendiri dan tidak mau di ganggu, sudah jangan membantah!" sentak Ryu menatapnya tajam agar gadis itu mau mendengarnya.


Rara kaget dengan sentakan itu. Dia mengeluh sedih. Wajahnya kembali cemberut.


Dia menatap Ryu sejenak. Lalu segera berbalik tanpa berkata apapun. Hatinya sedih dan kecewa. Bingung dengan sikap Ryu yang tidak seperti biasanya. Apa yang membuat kakaknya marah seperti itu, menolak dirinya tidur di sini, bahkan menyuruhnya keluar dari kamar ini.


Ryu kembali membuang nafas kasar.


"Kakak tidak bermaksud kasar padamu. Maafkan kakak dek!" gumamnya merasa bersalah. Tapi itu harus di lakukan. Dia tidak akan tahu apa yang akan di lakukan jika gadis itu di dekatnya. Karena pengaruh obat itu masih bekerja menyiksa dirinya.


Ryu kembali mengeram. Dia memaki dirinya dan juga orang yang telah melakukan ini padanya.


"Aduhhh....!" Terdengar jeritan cukup keras dari luar. Tepat di dalam kamarnya.

__ADS_1


Ryu kaget. Dia tahu suara siapa itu.


"Khanza....!" secepatnya dia keluar dari bak mandi. Berlari keluar karena cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.


Dia lupa dengan keadaan dirinya.


Di dapatnya Khanza terkapar di lantai sambil meringis menahan sakit. Khanza terpeleset di tumpahan genangan air yang diminum Ryu tadi.


"Khanza, kau kenapa?" Ryu hendak menyentuhnya tapi di hentikan Khanza.


Rara menoleh ke arahnya.


"Jangan dekat dekat. Berhenti di situ." katanya segera dengan sedikit keras. Wajahnya memerah menahan tangis.


Ryu terkejut. Dia berhenti.


"Kakak khawatir sama kamu. Kamu kenapa?'


"Rara terpeleset. Ada air usil di lantai. Rara nggak apa-apa. Rara bisa sendiri. Kakak tidak perlu Khawatir." berusaha berdiri sambil memegang kaki, bokong dan punggungnya yang sakit secara bergantian.


"Tapi Khanza, kau terpeleset. Kau kesakitan!"


Dia kembali melangkah untuk mendekat tapi di hentikan Khanza.


"Stop. Tetaplah di situ, jangan mendekat. Rara baik baik saja." sentak Rara


"Khanza.....!" Ryu terkejut.


"Kakak sendiri yang bilang kita jangan dekat dekat dulu! Kakak mau sendiri tidak mau di ganggu. Kembalilah mandi tidak perlu khawatir kan Rara." sentak Rara dengan suara serak.


Ryu terperangah. Dia tidak menyangka kata katanya tadi melukai hati Khanza. Dia melihat kesedihan di mata gadis itu. Ryu semakin bersalah dan menyesal.


Rara berusaha berdiri. Air matanya sudah jatuh.


Kejadian buruk di masa kecilnya kembali teringat olehnya. Saat Cio pergi menjauhi dirinya, melupakan dirinya.


Dia berpikir saat ini Cio sedang marah padanya dengan menyuruhnya keluar dari kamar. Tapi dia bingung kesalahan apa yang telah di lakukan. Air matanya semakin banyak jatuh.


Susah payah akhirnya Rara bisa bangkit berdiri.


Dengan langkah tertatih-tatih dia berjalan mendekati pintu karena satu kakinya keseleo.


******


Segini dulu halunya mak...


Setelah membaca, jangan lupa dukungnya ya...

__ADS_1


__ADS_2