Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
56. Rara di culik 1


__ADS_3

Rara di sekap dalam sebuah kamar mewah.


Dia duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan terikat di belakang. Rara menangis terisak memanggil papa, mama dan juga Cio.


Di ruang sebelah duduk seorang laki laki sambil menikmati tembakaunya. Di samping kanan kiri dan belakang berdiri para anak buahnya.


Berulangkali dia mengisap rokoknya lalu mengeluarkan asap tebal dari lubang hidungnya. Dia terus menatapi Rara dari kaca tembus pandang. Tapi Rara tidak dapat melihatnya.


"Kau yakin gadis itu berharga bagi Ryu?" tanyanya kemudian pada laki laki di sebelah kanannya yang merupakan pengawal pribadinya.


"Benar tuan. Gadis itu adiknya. Kami mengikutinya sejak keluar dari kediaman Ryu. Orang orang Ryu mengikuti dari belakang di tugaskan untuk menjaganya."


"Adik? jadi bajingan itu mempunyai saudara?Aku tidak menyangka bajingan itu mempunyai adik perempuan secantik ini." guman pria itu tersenyum tipis melihat wajah Rara.


"Tapi kau yakin dia adiknya? gadis itu memanggil papa mamanya. Juga menyebut satu nama, Cio.... kakaknya! Kau dengar kan? Kau sendiri menyelidiki latar belakang bajingan itu. Dia hidup sendiri, sebatang kara tanpa sanak famili. Semua keluarganya mati terbakar dalam insiden kebakaran lalu." tanyanya kembali.


"Saya mendapatkan informasi ini dari Caroline. Gadis itu memang adik dari Ryu Deva Mayandra. Caroline berulangkali mendengar gadis itu memanggil Ryu dengan sebutan kakak. Keduanya terlihat sangat dekat. Ryu sangat menyayanginya." kata pengawalnya.


"Entah benar yang di katakan Caroline. Kita akan segera mengetahuinya." pria itu bangkit dari duduknya. Membuang rokok yang masih setengah ke lantai, lalu menginjaknya. Dia berjalan menuju kamar Rara. Mendekati Rara yang semakin ketakutan melihat kedatangannya.


"Lepaskan Rara, lepaskan Rara!" teriak Rara terus menangis.


"Jadi nama mu Rara! Nama yang indah. Kau juga sangat manis." kata pria itu tersenyum. Dia memegang dagu Rara.


Rara menarik mundur wajah hingga pegangan itu lepas.


"Anda mau apa? jangan sentuh Rara, jauhi Rara, jauhi Rara!"


"Papa, kak Cio.... tolong Rara! Hiks... Hiks...hiks. Tolong Rara!"


Pria itu kembali tersenyum, lalu memegang kuat tengkuk Rara. Dia memperhatikan setiap inci wajah Rara. Berlanjut ke leher jenjang, dada dan tubuh bagian bawah Rara. Dia kembali tersenyum.


"Hubungi tuan Chen. Katakan padanya aku punya barang baru. Aku menginginkan harga tujuh kali lipat dari biasanya! Katakan tidak ada penawaran!" katanya, lalu bangkit berdiri.


"Baik tuan."


Keduanya melangkah keluar lalu mengunci pintu kembali.


"Mandikan dia, lalu dandani! Setelah itu bawah ke hotel X." katanya pada dua perempuan yang merupakan anak buahnya sekaligus pelayan di rumah ini.


"Aku ingin melihat seberapa berharganya gadis itu bagi Ryu!" katanya tersenyum licik di sela langkahnya. Dia masuk kedalam mobil lalu meninggalkan mansion megah itu.


.


.


"Melvin maskelah.....!" ucap Ryu dengan bibir bergetar, menahan kemarahan yang hebat. Melvin maskelah adalah pria blasteran merupakan musuh bisnisnya yang bangkrut setelah usaha ilegalnya di endus pihak kepolisian. Pria itu baru keluar dari penjara dan sepertinya ingin balas dendam kepadanya.


"Kita akan menyerang mansionnya. Apa anggota kita sudah berkumpul?" katanya pada Simon.

__ADS_1


"Tuan, Anda belum pulih benar. Biarkan kami yang akan membebaskan Nona muda dan mengurus Melvin maskelah." kata Simon cemas melihat Ryu yang tampak bersiap dengan senjatanya. Sementara keadaannya masih lemah.


"Kau ingin aku berbaring enak enakan di sini sementara Khanza dalam bahaya?" Ryu menatap tajam. Lalu segera melangkah keluar tanpa mendengar jawaban Simon. Simon segera mengikutinya dari belakang. Dia tidak berani berkata lagi. Dokter saja tak di dengar oleh Ryu apalagi dirinya. Ryu melepas cairan infus dan alat kesehatan lainnya yang terpasang pada tubuhnya begitu mendengar Khanza di culik.


Dia luar pintu gerbang sudah berkumpul anak buah Ryu yang berjumlah banyak. Mereka adalah orang orang pilihan yang handal dan profesional dalam ilmu bela diri.


"Tuan, informasi dari orang orang kita yang mengintai. Lima mobil telah keluar dari kediaman Melvin." kata Simon baru saja mendapatkan telpon dari anak buahnya yang mengintai rumah pria yang menculik Rara.


"Ikuti mobil itu! Lalu bagaimana dengan si bedebah itu?" masuk mobil, Simon ikut masuk.


Mobil segera meluncur di ikuti beberapa mobil di belakang.


"Sejam lalu dia meninggalkan kediamannya. Mobilnya berhenti di hotel X."


"Hotel X?" wajah Ryu mengernyit. Dia tahu hotel itu milik Chen Liyo pria yang memperdagangkan wanita untuk pemuas nafsu pria hidung belang kelas kakap.


"Jadi bajingan itu ingin menjual Khanza?" Ryu menatap semakin tajam pada Simon. Dia mengeram keras." Bedebah!"


.


.


Rara di seret paksa masuk ke dalam bar yang berada di hotel X. Musik menggema sangat ke keras. Di ini ikutin liukan gerakan tubuh manusia berbeda jenis mandi keringat. Rara menangis keras layaknya anak kecil. Mereka tidak mempedulikan tangisan Rara. Rara terkejut melewati ruang sebelah. Terdapat wanita wanita yang hampir telanjang, juga beberapa pria memakai pakaian yang sama. Tanpa rasa malu berciuman, berpelukan dan bergumul di atas sofa. Tempat apa ini? batin Rara semakin ketakutan. Dia berontak tapi kedua lengannya di cengkram kuat. Beberapa pasang mata menatap tersenyum sinis padanya. Sebelum bertemu dengan orang yang akan membelinya, Rara di bawah ke ruang VVIP di mana Melvin berada.


Melvin saat itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Di sampingnya duduk dua wanita yang berpenampilan seksi.


Rara di bawah kehadapannya. Pakaian Rara tak ada bedanya dengan kedua wanita di samping Melvin.


"Aku tidak menyangka Ryu akan memiliki berlian seindah ini!" ucapnya tersenyum. Dia bangkit berdiri mendekati Rara. Rara mundur dengan kedua tangan menyilang di depan dada menutupi sebagian gunung kembarnya yang terlihat.


"Maaf tuan. Gadis ini terus menangis hingga makeup nya rusak." kata pria yang membawanya.


"Wajahnya sudah sangat cantik menggoda meski tanpa riasan. Aku ingin menikmati kecantikannya yang alami." kata Melvin tersenyum melihat wajah cantik alami Rara.


"Keluar kalian. Katakan pada tuan Chen untuk menunggu sebentar." Dia merasa tertarik dengan Rara dan tidak ingin menjualnya pada Chen, tapi akan di nikmatnya sendiri dan di jadikan wanitanya. Gadis belia ini terlihat beda di matanya. Beda dari gadis gadis sebelumnya yang di jual pada Chen.


Para anak buahnya segera keluar bersama dua wanita seksi. Rara berlari ingin keluar, tapi dengan gerakan cepat Melvin menyergap tubuhnya, di letakkan di atas bahunya dan di lemparkan ke atas sofa.


"Jangan sakiti Rara, lepaskan Rara. Rara mau pulang. Papa, mama Tolong Rara." jerit Rara keras kembali menangis. Dia bangun dan berlari ke pintu, tapi pintu terkunci. Rara membuka berulangkali tapi sia sia. Dia pergi ke jendela, tapi wajahnya langsung ciut melihat ke bawah, betapa tingginya gedung ini.


"Diamlah Baby, tak ada gunanya kau menangis dan melarikan diri." kata Melvin mendekatinya. Rara bersembunyi di balik tirai gorden.


"Kenapa anda menculik Rara? apa salah Rara? Rara tidak kenal anda. Rara tidak masalah dengan anda. Lepaskan Rara." kata Rara di sela tangisnya.


Melvin tersenyum manis mendengar suara tangisan manja ini. Suara manja membuatnya bergairah.


"Rara, kau gadis yang sangat manis dan cantik. Tubuh mu sangat indah!" kata Melvin mendekatinya. Dia membuka jas dan dasinya. Hanya dengan melihat Rara miliknya menegang. Suara tangis itu terdengar merdu dan seakan menggodanya.


Rara berlari ke arah lain menghindari tangkapan Melvin. Pria blasteran berwajah tampan itu tersenyum.

__ADS_1


"Kau ingin kejar kejaran dengan ku ya? baiklah, aku akan mengejar mu nona manis." Dia berjalan cepat mengejar Rara.


"Mama papa, Kak Cio, tolong Rara." teriak Rara meski dia tahu memanggil mereka adalah hal yang sia sia. Karena orang tuanya berada di tanah air dan Cio berada di Jerman. Tak mungkin mereka mendengar teriakannya. Dia hanya berharap Tuhan melindunginya dari pria ini. Rara terus berkelit dan berlari cepat menghindari tangkapan Melvin.


Sementara Melvin, capek terus mengejar seperti itu. Dia tak tak tahan lagi untuk mendapatkan Rara dan menyentuhnya. Pria itu berhenti. Dia mengambil beberapa bantal sofa lalu melemparnya di depan kaki Rara.


Rara yang terus berlari tak menyadari hal itu. Kakinya tersandung. Dia jatuh terjerembab. Kasempatan itu di gunakan Melvin menangkap tubuhnya. Lalu membawa Rara ke ruang sebelah. Dia langsung melempar Rara ke atas ranjang. Lalu membuka kemejanya.


"Tidak.... jangaannn.... jangan sentuh Rara!" teriak Rara histeris saat Melvin mendidih tubuhnya. Dia mendorong wajah Melvin yang hendak mencium bibirnya.


"Kakak..kak Ryu... tolong Rara." teriaknya keras. Air matanya semakin mengucur deras.


Melvin semakin bernafsu mendengar teriakannya. Dia menahan tangan Rara, lalu kembali menekan tubuh mungil itu ke ranjang dan menindihnya. Satu tangannya memegang tangan Rara di atas kepala, satunya lagi menjamah paha Rara yang terbuka. Matanya liar melihat buah dada Rara yang putih mulus mengkilap keringatan dan kencang. Nafsunya tak bertahan lagi. Dia langsung membenamkan wajahnya. Tapi sebelum wajahnya mendarat di dada Rara, sebuah tangan kekar menarik bahunya kebelakang dengan kuat, lalu bogem mentah melayang di wajahnya. Pria blasteran itu jatuh terjungkal ke lantai.


"Kakak!" ucap Rara senang melihat orang di depannya.


Ryu langsung membangunkannya dan memeluknya. Dia sedih melihat keadaan Khanza. Rara menangis keras dalam pelukannya, Sedih tapi juga senang melihat keberadaan Ryu. Sebelumnya dia sempat berpikir tidak akan ada yang menolongnya termasuk Ryu. Tapi ternyata kakaknya ini datang untuk menyelamatkannya. Rara memeluk kuat tubuh Ryu sambil menangis.


Ryu mendesah sedih mendengar isakan tangsian Khanza yang menyayat hatinya. Lagi lagi dia gagal menjaga Khanza. Dia segera melepas kemejanya dan di pakaikan pada tubuh Khanza.


Rara terperangah melihat tubuh bagian atas Ryu. Banyak luka di beberapa tempat dan penuh lebam membiru.


"Tubuh kakak kenapa?" meraba raba luka di dada Ryu. Wajah Ryu juga pucat di lihatnya.


"Kakak tidak apa apa. Khanza tak perlu cemas!"


Ryu memegang tangannya.


Sementara Melvin yang sudah bangun mengusap bibirnya yang pecah dan berdarah. Dia menatap sinis pada Ryu dan Rara, lalu berlari menyerang keduanya dengan tendangan keras.


Ryu segera berkelit ke samping sambil membawa tubuh Rara. Tendangan Melvin mengenai tempat kosong. Dia mendengus geram.


Ryu segera membawa Rara ke sudut ruangan."Tetap di situ. Menghadap ke dinding. Jangan melihat kebelakang. Tutup telinga." katanya terburu-buru. Lalu bergerak cepat menghadapi serangan Melvin.


Keduanya bertarung sengit. Berulangkali terdengar pekikan dari mulut Ryu. Melvin menyerang titik titik lemah pada tubuhnya, yaitu luka luka pada tubuhnya. Pria itu tahu kondisi dirinya sedang tidak baik.


Ryu kewalahan menghadapi serangan Melvin karena keadaannya yang lemah tidak mampu menandingi kekuatan pria itu. Tapi dia berusaha sekuat tenaga, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya melawan pria itu.


10 menit berlalu, Rara tersentak mendengar suara dentuman senjata. Reflek dia melihat pada mereka. Dia terkejut melihat Ryu jatuh terduduk terkena tembakan pada kakinya. Keadaan kakaknya itu sangat kacau dan memprihatinkan. Babak-belur bermandikan darah. Sementara Melvin tertawa mengejek sambil menodongkan pistol ke kepala Ryu, menarik pelatuk siap untuk menembak.


"Kakak....!" ucapnya lemah gemetaran geleng geleng kepala. Rara mengumpulkan keberanian segera berdiri di antara ketakutannya. Dia langsung berlari cepat mendorong tubuh pria blasteran itu.


Tubuh pria blasteran itu hilang keseimbangan mendapat dorongan kuat. Dia hampir terjatuh bertepatan dengan bunyi dentuman pistol terdengar mengenai tempat lain. Senjata itu lepas dari tangannya. Ryu menggunakan kesempatan itu bangkit berdiri. Posisi mereka yang berdekatan dengan jendela. Dia mendorong tubuh pria itu sekuatnya ke arah jendela yang terbuka. Tubuh Melvin jatuh ke bawah menghantam mobil.


Ryu melihat tubuh itu melayang kebawah dari ketinggian gedung. Dia berpegangan pada bibir jendela.


"Kakak....!" Rara segera mendekat dan memeluknya.


"Khan....za! Semua sudah berakhir. Jangan takut." ucap Ryu lemah sembari memeluknya. Tapi perlahan tubuhnya melemah dan melorot ke bawah. Dia terkulai pingsan dalam pelukan Khanza.

__ADS_1


*****


__ADS_2