
Rara dan Rangga tiba di rumah setelah isya. Rangga mengantar sampai ke dalam. Mereka mendapati semua orang tampak berkumpul di ruang keluarga. Rafa, Ara, Nesa, Cio, dan Raka. Mereka sengaja berkumpul menunggu kepulangan Khanza setelah Cio mengatakan bahwa Khanza sudah mengetahui pernikahan mereka. Cio mengatakan sikap Khanza yang menanggapi pernikahan yang tidak di ketahuinya itu. Sangat sedih, kecewa bahkan marah.
Karena itulah mereka berkumpul menunggu kepulangan Khanza untuk menerima segala bentuk kekecewaan Khanza pada mereka.
"Assalamualaikum...." sapa Rara dan Rangga begitu melihat mereka.
"Waalaikumsalam," kata mereka, tapi yang begitu jelas terdengar hanya suara Rafa dan Ara.
"Khanza sudah pulang?" tanya Rafa dengan mengulas senyum manis. Begitu juga dengan yang lainnya, terkecuali Cio yang menatap datar pada keduanya.
Rara tak menjawab, hanya menatap mereka satu persatu tanpa ekspresi. Hatinya campur aduk saat ini teringat kembali dengan pernikahan itu.
Sikap diamnya itu tak luput dari perhatian mereka. Karena biasanya Khanza akan menyalami orang tua dan kakak kakaknya.
Rangga segera mendekati Rafa, Ara dan Nesa. Menyalami tangan orang tua itu. Dia juga menyapa yang lainnya.
"Saya mengantar Rara pulang. Maaf Om, tante, kami pulangnya kemalaman!" katanya santun. Sebenarnya dia sudah mengajak Rara pulang lebih awal, tapi Rara tidak mau. Rara masih ingin menyegarkan hati dan pikirannya. Rangga memberi tahukan hal itu pada Rafa lewat pesan. Setelah hati Rara tenang dia mengajak gadis itu kembali pulang.
"Terimakasih sudah mengantar Khanza." kata Rafa mewakili yang lain.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Om."
"Sampaikan salam Om pada papa mu!"
"Tante juga titip salam pada mama mu ya, katakan tante menunggu kedatangannya ke sini! Tante rindu sama mama mu!" sela Ara dengan senyuman khasnya yang lembut.
"Iya Om, tante, akan saya sampaikan." kata Rangga. Dia melihat pada Ryu yang tampak duduk tegang, menatap tajam padanya. Rangga memberikan senyuman padanya. Lalu mendekati Rara"Aku pulang dulu," katanya. Lalu mendekatkan wajahnya."Ingat pesan ku tadi." katanya berbisik dengan kerlingan mata.
"Hati hati di jalan. Langsung pulang, Jangan kelayapan lagi." kata Rara.
"Siapp ibu." kata Rangga berseloroh. Karena Rara seperti mamanya yang sering menitip pesan seperti itu.
Kedekatan mereka yang akrab itu cukup membuat Ryu geram. Dia semakin tidak tenang di tempat duduknya. Sentuhan Raka di tangannya membuatnya kaget. Menghentikan Aliran darah yang bergejolak panas di tubuhnya. Dia menoleh pada adiknya itu. Raka tersenyum memberi isyarat dengan mata untuk tenang.
Rangga segera berbalik dan melangkah pergi.
Setelah kepergian Rangga, Rara melangkah berjalan hendak menuju ke atas.
"Sayang, kemarilah sebentar!" kata Rafa menghentikan langkahnya.
"Papa dan mama ingin berbicara dengan kamu." kata Rafa lagi.
Rara berbalik. Melihat pada mereka.
"Apa tentang penikahan itu ?" menatap mereka satu persatu.
"Sayang....!" Rafa gugup
"Pernikahan seperti apa itu papa? Pernikahan yang sama sekali tidak Rara ketahui." katanya kembali.
"Rara kecewa sama kalian semua! Rara gak mau bicarakan apa pun," katanya menatap tajam.
Semua terhenyak dan terkesiap.
"Sayang, maafkan kami! Tolong dengar dulu." pungkas Ara sedih.
Rara mendesah sedih."Mama, tolong hargai keinginan Rara. Rara gak mau dengar apa pun." kata Rara segera. Dia kembali melangkah, tapi di hentikan Rafa.
"Sayang, kita harus bicara biar semua jelas dan kamu tahu. Dengar dulu penjelasan kami!" kata Rafa.
"Jelaskan apa pa? Kalau memang ada yang ingin di jelaskan kenapa tidak dari dulu? Kalian melakukan sesuatu yang penting dalam hidup Rara tanpa bertanya dulu. Dan malah menyembunyikan sampai selama ini?" kata Rara sedih dengan bibir bergetar. Matanya berkaca-kaca Rara terisak.
"Kalian menikahkan Rara saat masih sekolah. Kalian gak memikirkan masa depan Rara?" katanya kembali dengan air mata mengalir.
Cio bangkit berdiri."Semua kesalahan kakak dek! Kakak yang menginginkan pernikahan kita. Kakak yang meminta pada Daddy dan mama Ara!" katanya menyela.
__ADS_1
"Diam, Jangan bicara lagi. Kalian semua sama! Rara tidak mau berdebat lagi. Rara capek mau istirahat." katanya lagi seraya menyapu air matanya di pipi.
Semua terdiam terhenyak tak berbicara.
Rara segera berjalan menaiki tangga. Tapi langkahnya kembali berhenti karena teringat sesuatu. Dia berbalik dan menatap mereka satu persatu."Penikahan itu tetaplah menjadi rahasia kalian. Rara tidak mau semua orang tahu. Terutama pihak sekolah dan teman teman Rara." katanya kembali. Tatapan berhenti pada Cio. Menatap pria itu sejenak. Yang gelisah tidak tenang di tempat duduknya dengan raut wajah yang kacau.
Rara segera berbalik dan melangkah menaiki tangga lari ke atas.
"Khanza....!" panggil Ara ingin mengejar. Tapi di hentikan Nesa.
"Sudah Ra. Kita jangan terlalu menekannya. Khanza masih sangat muda untuk menanggapi apa yang terjadi. Dia masih belia. Kesalahan juga ada pada kita. Yang tidak segera jujur padanya. Wajar dia kecewa pada kita. Biarkan dia sendiri dulu." kata Nesa.
"Tapi kak Nesa, bagaimana jika Khanza tidak menerima pernikahan mereka." Kata Ara lagi. Dia mendekati Cio, menatap sedih wajah keponakan kesayangannya dan juga almarhum suaminya.
Cio segera memegang tangan wanita itu."Ante jangan khawatir. Khanza mungkin kecewa dan marah pada kita saat ini. Tapi Aku yakin Khanza tidak menolak penikahan kami." kata Ryu mengulas senyum agar Ara tenang. Ryu yakin dengan perkataannya, dengan melihat cincin pernikahan mereka di jari manis Khanza yang masih terpasang. Kalau Khanza menolak dan tidak terima dengan penikahan yang tidak di ketahuinya itu, Khanza pasti sudah melepas benda itu dan mengembalikan ke pada dirinya.
"Tante juga berharap begitu nak." kilah Ara sedih. Dia mengelus lengan Ryu.
"Gak mungkin Khanza menolak pernikahan itu. Khanza sangat menyayangi kak Cio. Ingat kan perpisahan mereka dulu yang membuatnya menderita selama belasan tahun? Khanza tidak sanggup hidup tanpa kak Cio. Sikap Khanza seperti itu karena dia terlalu kaget dan Syok. Aku yakin hatinya akan kembali membaik jika dirinya sudah tenang." timpal Raka.
"Raka benar Sayang, kamu jangan kepikiran terus pada Khanza. Kamu sedang hamil. Aku tidak ingin terjadi apa apa padamu! Sebaiknya kamu istirahat. Nanti aku akan bicara lagi dengannya." kata Rafa mendekati Ara.
"Iya Ante, nanti Ante stress. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Ante dan calon Adikku. Aku akan bicara dengan Khanza dan menyelesaikan semuanya. Ante jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." kata Cio seraya mengelus perut Ara. Menenangkan Antenya yang sedih dengan sikap Khanza.
"Bicarakan semuanya dengan baik. Khanza masih kecil untuk bisa memahami hal hal seperti ini." kata Nesa.
"Iya ma, aku mengerti. Sebaliknya mama kembali. Mama juga harus istirahat. Atau mama istirahat di sini saja?"
"Tidak, mama pulang saja. Adikmu nanti akan tidur sendiri jika mama nginap di sini. Mama juga ada kerjaan nanti malam! Ra....kamu juga harus istirahat. Jangan memikirkan apapun. Kamu baru pulih dari pendarahanmu." kata Nesa.
Ara mengangguk."Iya kak. Kak Nesa hati hati di jalan."
Nesa segera pergi. Raka menuju kamarnya. Rafa dan Ara juga ke kamar mereka. Cio naik ke atas dan berhenti tepat di kamar Khanza. Lama Ryu berdiri mematung dengan perasaannya sendiri, menatap daun pintu yang tertutup. Ingin sekali dia mengetuk dan masuk. Tapi dia harus menjaga perasaan Khanza agar tidak semakin kecewa dan marah kepadanya. Ryu segera turun ke bawah untuk mengerjakan sesuatu. Lebih baik membiarkan Khanza untuk sendiri dan berpikir.
Jam sembilan malam Rara masuk kedalam kamar orang tuanya. Di lihatnya mamanya sedang membaca Alqur'an. Papanya sedang bekerja dengan beberapa berkas dan laptop di depannya. Keduanya sedang duduk di sofa.
"Khanza?" kata Ara. Dia segera mengakhiri tadarusnya.
Rara mendekat, mencium tangan kedua orang tuanya bergantian. Terus berbaring di pangkuan Ara. Dia mengelus dan mencium perut mamanya.
"Maaf, Rara tadi gak sopan sama papa, mama dan bibi Nesa!" kata Rara. Karena emosi yang sempat menguasai dirinya membuatnya tak menyalami orang tuanya waktu pulang tadi. Padahal sejak kecil orang tuanya selalu mengajarkan sopan santun pada mereka. Untuk menghormati dan menghargai orang yang lebih tua.
Rafa dan Ara tersenyum mendengarnya. Mereka sudah menduga Khanza pasti akan menyadari hal itu.
Ara mengelus lembut rambut putrinya.
"Kami ngerti kok sayang, gak apa-apa." kata Ara.
"Rara bahkan gak menyapa adik Baby! Semoga saja adik Baby gak marah dan mengaggap Rara kakak yang tidak sayang sama dia." kata Rara kembali dengan menyesal."Bagaimana kabarmu adik kecilku?" sapa Rara menatap dan mengelus perut mamanya.
Di sebelah mereka, Rafa kembali tersenyum mendengar ucapannya. Meski sedang sibuk dengan pekerjaan, dia tetap fokus mendengar obrolan istri dan anaknya. Memang benar putrinya ini masih sangat muda, bahkan masih bisa di sebut anak anak untuk bisa memahami masalah masalah orang dewasa. Terutama menanggapi pernikahan mereka. Di usianya yang beberapa bulan lagi 17 tahun, masih sekolah tapi sudah menikah dan memiliki suami.
"Adik bayinya akan baik baik saja jika hati dan pikiran mama baik dan sehat! Gak boleh capek, lelah, banyak pikiran apalagi sampai stress." kata Rafa lembut.
Rara membuang nafas berat mendengar ucapan papanya. Dia ngerti maksud papanya berkata seperti itu. Itu artinya saat ini mamanya sedang tidak baik baik saja atas apa yang terjadi. Pusing dan terbebani memikirkan sikapnya yang menanggapi pernikahannya dengan Ryu.
"Maafkan Rara ma.....!" katanya menyesal. Mencium perut Ara.
"Sayang, mama dan papa yang harusnya minta maaf sama kamu karena menikahkanmu dengan Cio tanpa sepengetahuan dirimu." kata Ara pelan pelan.
"Kami tak bertanya dulu karena kami tahu kamu sangat menyayangi kakakmu. Tidak mau berpisah dan takut kehilangan kakakmu. Untuk itu kami menikah kan kalian agar tidak berpisah lagi. Kami menganggap kamu tidak akan keberatan dan malah senang karena akan bersama dengan kakak mu selamanya. Dan pernikahan itu akan menjadi suatu kejutan yang membahagiakan untukmu." kata Ara lagi dengan lembut.
Rara mengeluh sedih."Aku memang sayang sama kak Cio. Ingin terus bersamanya, tidak mau berpisah lagi karena itu sangat menyakitkan.Tapi kenapa harus dengan cara menikahkan kami?"
"Kita tidak akan tahu akan ada lagi wanita wanita seperti Anggi yang akan memanfaatkan kakak mu dengan menggunakan berbagai cara yang kotor untuk mendapatkannya!" kata Rafa. Dia mendekatkan duduknya dekat dengan mereka, lalu memegang tangan putrinya.
__ADS_1
"Sayang, kau tahu kakakmu sangat menyayangimu. Kasih sayangnya bertambah menjadi kekaguman dan rasa cinta setelah kau mulai tumbuh besar. Dia menyimpan dirimu selalu be di hatinya meski kalian terpisah. Di dunia ini tak ada wanita yang di kaguminya, di cintainya, yang mampu membuatnya menangis tersiksa oleh kerinduan, kecuali hanya dirimu. Hidupnya hanya di warnai oleh dirimu. Kamu penyemangatnya dalam bekerja selama ini! Khanza juga tahu hal itu kan? Janji kakak mu akan kembali pada dirimu setelah dia sukses?"
"Tapi Rara masih sekolah Pa. Rara masih ingin kuliah dan punya cita cita!" keluh Rara sedih.
"Sayang, meski sudah menikah, kau tetap bisa sekolah, dan juga kuliah. Kakakmu tidak akan melarangmu untuk sekolah dan menggapai cita cita mu! Khanza lihat sendiri kan? Selama enam bulan menikah, kakakmu membiarkan dirimu sekolah. Dia tidak mendekatimu, apalagi menyentuh mu. Dia tetap merahasiakan pernikahan kalian agar Khanza tetap bisa sekolah dengan nyaman. Selama enam bulan kakakmu menahan diri untuk tidak mendekatimu meski itu membuatnya tersiksa dan menderita." kata Rafa.
Rara termenung mendengar ucapan papanya. Ada benar juga yang di katakan papanya. Selama beberapa hari ini Cio mulai berani menyentuhnya. Mungkin karena terlalu lama menahan diri karena merindukan dirinya.
Tiga hari telah berlalu, Rara masih mendiami Cio. Tak bicara walaupun hanya sekedar bertegur sapa. Bahkan saat acara syukuran atas kehamilan mamanya di gelar, dia masih menghindari Cio dan lebih memilih bersama Rangga, menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu. Menjalani hari seperti biasa sebagai anak remaja dan seorang siswa tanpa ada ikatan pernikahan. Semua di lakukan agar tak ada yang curiga dan tahu penikahan mereka. Selain itu dia juga masih merasa tak percaya diri telah menikah dengan kakaknya, canggung hidup bersama dengan kakaknya layaknya pasangan suami istri. Dan yang lebih utama dirinya mengindari Cio karena tidak ingin di sentuh karena takut hamil, mengingat dirinya masih sekolah. Dia tidak bisa menjamin Cio bisa menahan dirinya jika tinggal bersama. Karena Cio selalu lepas kendali dan tak tahan untuk menyentuhnya saat mereka dekat..... seperti yang di katakan Cio padanya.
Sementara Cio semakin frustasi dengan sikap Khanza yang menghindarinya dan mendiaminya terus. Khanza lebih suka menghabiskan waktu dengan Rangga ketimbang dirinya sebagai suami. Dia geram dan marah terbakar api cemburu melihat Khanza dekat dengan Rangga dan mengabaikannya. Akan jadi apa pernikahan mereka jika terus terusan begini? Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Khanza? Ingin melanjutkan pernikahan dengannya atau tidak?
.
.
Hari ini Rara, Riri dan fitri janjian nongkrong di sebuah cafe sebelum ke rumah. Mereka asik bersenda gurau sambil membicarakan impian selanjutnya setelah lulus sekolah beberapa bulan lagi. Mata Fitri tak sengaja melihat sosok yang di kenalnya.
"Ra, itu bukannya kakak lo ya?" kata Fitri.
"Kak Raka?" kata Rara seraya memasukkan eskrim ke mulutnya.
"Bukan, Coba lihat arah belakang lo!" kata Fitri lagi seraya memajukan dagunya.
Riri mengikuti arah pandangan Fitri melihat ke belakang."Iya benar Ra, kakak sepupu lo tuh," katanya membenarkan perkataan Fitri.
Wajah Rara mengernyit mendengar kakak sepupu, berarti Cio atau Cia. Rara segera berbalik setengah badan. Melihat arah belakangnya. Setelah melihat dengan menyelidik ternyata Cio. Cio sedang bersama dengan seorang wanita. Posisi Cio juga membelakanginya.
"Apa kakak mengikuti Rara?" batinnya.
Tapi sepertinya tidak. Cio mungkin tidak tahu dia ada di sini. Karena di lihatnya Cio tampak sangat serius bicara dengan wanita itu. "Iya, itu kak Cio. Mungkin dia lagi bersama dengan relasi bisnisnya," katanya pada Riri dan fitri.
Sepertinya Cio tidak tahu dia ada di sini. Kalau Cio tahu dia ada di sini, sudah pasti kakaknya itu akan menyambanginya. Cio mungkin sedang ada urusan pekerjaan dengan wanita itu dan melakukan pertemuan di tempat ini.
"Ra, kamu gak menyapa kakakmu?" kata Riri.
Rara memutar kembali tubuh atasnya melihat pada teman temannya.
"Nggak, nanti mengganggu." kata Rara kembali memakan eskrimnya.
"Kakakmu lagi siapa? Pacarnya ya? Cantik banget wanitanya!" kata Fitri tersenyum menggoda."Ra, kenalin dong aku sama kakak mu itu. Siapa tahu dia mau sama aku!" celetuknya lagi sambil merapikan wajah dan rambutnya.
"Kamu bukan tiyepnya, fisikmu di bawah standar. Lihat tuh, kakak Rara tampan banget dan mapan, tubuhnya proposional. Kamu bukan seleranya." cibir Riri mengejek.
Fitri mendesis kesal padanya.
"Ra, sepertinya wanita itu kekasihnya deh!"
"Nggak, Itu teman bisnisnya." kata Rara.
"Teman bisnisnya gimana mereka dekat gitu. Lihat. Sikap kakakmu romantis banget padanya....!" kata Riri yang melihat ke arah Cio.
"Benar Ra, kakakmu so sweet banget. Pria idaman banget deh...!" timpal Fitri.
Rara segera berbalik. Benar juga, Cio tampak memegang tangan wanita itu sambil menatap mesra. Si wanita tersenyum malu-malu. Cio memegang dagu si wanita yang tertunduk. Wajah si wanita semakin merah merona.
Hati Rara terasa sakit melihat adegan itu. Kesal, marah, sedih, kecewa menjadi satu. Dadanya bergemuruh kuat. Matanya tak bergeming melihat ke arah pasangan itu. Rara mendesah sedih, matanya sudah berkaca-kaca. Dia langsung bangkit dari duduknya dan memakai tas sekolahnya.
"Ra, kau mau kemana?" tanya Riri.
"Kau mau menyambangi kakakmu ya?" Fitri ikut bertanya.
"Tidak, aku mau pulang." kata Rara berusaha menahan tangis. Karena saat ini dia sangat ingin menangis.
"Pulang? belum sejam kita di sini. Makannya belum selesai. Punyaku belum ke sentuh! Bentar dong Ra." kata Riri.
__ADS_1
"Tapi aku harus pergi sebelum kakakku melihat ku ada di sini. Aku tadi berbohong padanya mengatakan sementara di jalan pulang ke rumah. Ayo....kita pindah di tempat lain saja!" kata Rara buru buru sesekali melihat pada Cio. Dia berharap Cio tidak melihatnya. Dia segera melangkah berjalan menuju keluar tanpa mendengarkan panggilan kedua sahabatnya. Terpaksa Riri dan fitri mengikutinya dengan perasaan kesal.
*****