Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
30. Aku mencintaimu


__ADS_3

Selesai sarapan.


"Ada apa kau kemari?" tanya Ryu pada Anggi.


"Kau menghilang seperti di telan bumi. Tak ada kabar sedikitpun. Tak pernah menghubungi ku."


"Aku sibuk."


"Itu terus yang menjadi alasan mu. Tidak bisakah kau luangkan waktumu semenit saja untukku? atau hanya sekedar untuk menghubungi ku?"


Ryu membuang nafas kasar.


"Kau tahu selama ini aku hanya bekerja dan bekerja. Sudahlah Anggi. Katakan saja ada apa?"


Anggi mendengus kesal. Dia tahu Ryu memang pekerja keras. Kesehariannya hanya di pergunakan untuk bekerja hingga dia sukses seperti sekarang. Tapi untuk siapa semua itu? Karena dia merasa bukan untuk dirinya.


"Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku?" kata Anggi balik bertanya.


"Aku sedang mandi." Ryu berjalan menuju tangga.


"Kenapa tidak menelepon balik?"


"Aku lupa karena buru-buru berpakaian." terus turun.


"Entah itu benar atau hanya alasanmu untuk menghindari ku!" kata Anggi kesal.


"Aku tidak mau berdebat Anggi." Ryu terus melangkah.


"Aku juga capek mendengar berbagai alasan mu." kata Anggi ketus.


"Sore nanti aku ada undangan pesta pernikahan teman ku. Aku ingin kau mendampingi ku!" katanya kembali.


"Aku tidak bisa." kata Ryu terus melangkah.


"Sudah ku duga itu lagi pasti jawaban mu."


"Yaa karena aku memang tidak bisa. Aku kerja dan menemani Khanza."


"Tapi aku ingin kau ikut!" Anggi bersikeras.


"Aku tidak bisa meninggalkan Khanza. Dia tidak punya teman di sini."


"Di sini banyak pelayan. Biar pelayan yang menemaninya!"


"Rara tidak terbiasa dengan para pelayan."


Anggi kembali mendengus kesal. Karena Rara lagi penyebabnya. Selama tiga minggu Ryu mengabaikan dirinya karena gadis itu.


"Kalau begitu Rara ikut bersama kita. Kita ajak dia!" kata Anggi memberi jalan keluar.


Langkah Ryu terhenti. Dia berbalik menatap Anggi. Ryu hendak bicara tapi terdengar suara Khanza.


"Kakak pergi saja temani kak Anggi. Rara nggak apa-apa kok di rumah. Karena Rara tidak sendiri. Nanti sore teman Rara akan datang ke sini. Barusan dia menghubungi Rara." kata Rara tersenyum. Dia mendekati keduanya.


"Teman?" dahi Ryu mengerut.


"Iya...Teman kelas Rara yang waktu itu bertemu kita di Mall. Kakak masih ingat kan?"


Ryu ingat pemuda itu. Rangga. Yang meminta izin untuk datang berkunjung ke rumahnya. Tapi dia tidak suka dengan pemuda itu.


"Tapi Khanza.....!"


"Kakak jangan khawatir. Rara akan baik baik kok. Rara senang, akhirnya punya teman di sini. Rara tidak akan kesepian lagi. Dan juga tidak akan mengganggu pekerjaan kakak. Selama Rara di sini, kakak hanya sibuk menemani Rara, pekerjaan kakak terbengkalai. Dan waktu kakak bersama kak Anggi juga berkurang! Mulai saat ini kakak tidak perlu lagi mengkhawatirkan Rara dan kembalilah fokus bekerja. Sebaiknya kakak temani kak Anggi. Rara nggak apa-apa di rumah!" potong Rara segera.


"Kau dengar? Rara saja menyuruhmu untuk ikut bersama ku. Ayolah sayang, temani aku. Jangan kecewakan aku. Masa kau tega membiarkan aku pergi sendiri?" pinta Anggi memelas. Memasang wajah sedih.


"Kak Anggi jangan khawatir. Kak Ryu pasti akan menemani kakak ke acara pernikahan itu." pungkas Rara.

__ADS_1


Ryu diam tak menjawab. Dia naik ke tangga menuju kamarnya untuk memeriksa sesuatu.


"Ra, kamu yakin Ryu akan pergi dengan ku? Kau sendiri lihat kan, dia hanya diam." kata Anggi. Dia harus bisa membuat Ryu menemaninya. Jika tidak, dia akan menjadi bahan olokan teman temannya karena datang tanpa kekasih. Belum lagi menghadapi pandangan buruk orang yang menganggap hubungannya dengan Ryu sudah berakhir karena berulangkali datang ke acara formal tanpa Ryu.


Hanya lewat Rara dia bisa membuat Ryu ikut bersamanya. Dan dia berharap Rara bisa membujuk Pria itu. Selain itu dia ingin melihat sekuat apa pengaruh Rara untuk menyakinkan Ryu mau ikut bersamanya. Apa Ryu akan mendengarkan gadis itu?


"Rara akan membujuknya." kata Rara.


"Kau yakin dia akan mendengar kan mu?"


"Rara akan mencoba. Rara ke atas dulu."


"Aku sangat berharap padamu. Tolong jangan buat aku kecewa! Aku akan menunggu di bawah." pinta Anggi memegang tangan Rara.


Rara mengangguk. Dia segera berjalan ke atas menyusul kakaknya.


"Kak....!" panggilnya setelah berada di kamar Ryu. Dia melihat Ryu berhadapan dengan komputer. Rara mendekat.


Ryu tampak memeriksa email yang masuk di kirim Riez dan juga Simon.


Rara diam membiarkan Ryu membalas pesan Simon dan Riez.


Dua menit berlalu.


Tak puas saling berbalas pesan lewat email, Ryu segera menelepon Simon. Keduanya terlibat pembicaraan penting. Rara masih terus diam mendengarkan tak ingin mengganggu. Ryu berjalan mondar-mandir sembari berbicara. Satu tangannya di dalam saku.


Rara juga ikut ikutan mondar mandir mengikuti langkah Ryu dari belakang. Berulangkali dia menabrak punggung Ryu yang tiba tiba berhenti.


Ryu berbalik dan menatapnya. Rara segera mengulas senyum sambil mengucap kata maaf dengan gerakan bibir.


Ryu tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Meletakkan kedua kaki Khanza di atas sepatunya. Rara kaget dan refleks memeluk Ryu. Selanjutnya Ryu kembali berjalan mondar-mandir bersama Rara yang berpijak di atas sepatunya. Satu tangan Ryu memegang ponsel di telinga, satunya lagi memeluk punggung Rara.


Rara menengadah ke atas. Dia tersenyum melihat Ryu. Baginya ini seperti sebuah permainan. Berpijak dan melangkah bersamaan.


"Rara berat nggak?" tanyanya.


"Nggak!" jawab Ryu sambil mendengarkan suara Simon di seberang.


Di seberang Simon bingung mendengar kata nggak. Maksud tuan apa? Apa kontrak kerja dengan perusahaan A yang sudah di tanda tangani nggak jadi?


"Aku sedang berbicara dengan Khanza. Kamu jelaskan saja terus. Aku mendengar kan mu." kata Ryu.


Rara tertawa kecil. Ryu melototinya sambil meletakkan jari di bibir sebagai isyarat agar Khanza diam.


Bukannya diam, Rara malah kembali tertawa. Deretan gigi putihnya terlihat. Pikiran nakal untuk menjahili terlintas di benaknya. Dia menggelitik pinggang Ryu, perut dan punggung.


Ryu tak menanggapi dengan menahan rasa geli sekuat tenaga. Rara terus menggelitik. Jarinya menjalar nakal ke hidung dan telinga Ryu karena pria itu tak terusik sedikit pun.


Ryu tak dapat lagi menahan rasa geli. Ryu mematikan telepon lalu melempar benda pipih itu ke sofa. Dia berhenti berjalan dan menangkap tangan Khanza.


"Kamu yaa.... nakal bangat!" ucapnya menatap tajam Rara.


Rara kembali tertawa.


Ryu menggigit jarinya. Rara meringis sakit. Dia menarik jemarinya dari mulut Ryu."Sakit kak."


"Jari jari ini nakal sekali." Ryu tak perduli. Dia beralih menggelitik telinga Khanza. Rara tertawa geli berusaha melepaskan diri dari bekapan satu tangan kekar Ryu yang menahan tubuhnya kuat.


"Geli kak, ampun." pintanya.


"Gak ada ampun." kata Ryu terus menggelitik.


Wajah Rara kemerahan, antara tertawa dan mau menangis. Peluh membasahi wajahnya. Rara menggigit dada Ryu hingga pelukan Ryu lepas. Lalu cepat melarikan diri. Terus menjulurkan lidah mengejek Ryu.


"Awas kamu ya...!" ancam Ryu tidak terima dengan ledekan itu. Dia melepas jasnya, karena gerah. Lalu mengejar Khanza.


Rara berlari menghindar. Terjadi kejar kejaran di antara mereka. Rara melompat dari satu kursi ke kursi lain, terus ke meja, ke atas ranjang untuk menghindari tangkapan Ryu. Dia tertawa dan terus meledek Ryu. Kedua berlarian kejar kejaran seperti anak kecil. Ruang luas itu jadi berantakan.

__ADS_1


Ryu tampak mandi keringat. Dia tidak akan bisa menangkap Khanza dengan mengejar terus. Bisa saja dia menangkap Khanza dengan caranya, tapi takut akan membuat Khanza celaka


"Kecoak." teriaknya tiba tiba seraya menunjuk ke arah kaki Khanza.


Mendengar kata kecoak, spontan Rara kaget bukan main. Dia jingkrak-jingkrak dan melompat menghindari binatang akalan Ryu. Dia yang takut dan geli pada kecoak, cicak dan tikus.


Ryu tersenyum menyeringai. Dengan cepat dia menangkap tubuh Khanza yang menghindar seraya melihat ke bawah mencari keberadaan kecoak bohongan itu.


"Tapi bohong." kata Ryu tertawa.


Rara terkejut sekaligus kesal karena tertipu.


"Kakak curang!" berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan Ryu.


Ryu membawa tubuh mungil itu ke atas ranjang dan segera di baringkan. Dia naik ke atas tubuh Khanza mengurung gadis itu di bawahnya kemudian mulai menggelitik. Dari perut, terus ke pinggang pinggang, telinga. Turun ke bawah ke telapak kaki Khanza.


Rara merasa sangat kegelian.


Sepasang mata dari balik pintu melongo melihat apa yang Ryu lakukan. Juga melihat kedekatan mereka yang sangat dekat.


Sementara Rara menjerit-jerit dan berusaha melepaskan diri. Wajahnya semakin memerah dan basah oleh keringat. Bahkan sekujur tubuhnya. Kedua ujung matanya basah air mata. Nafasnya memburu cepat tak beraturan. Tubuhnya bergerak gerak seperti cacing kepanasan di atas ranjang. Ryu semakin bersemangat mengganggunya. Dia terus menyerang perut dan telapak kaki Khanza.


"Ampun kak.... ampun!" Secepatnya dia mengangkat tubuh atasnya dan memeluk kuat tubuh Ryu. Tubuh mereka menempel, Hingga tak ada celah bagi Ryu untuk menggelitik perutnya.


"Ampun kak, sudah cukup. Rara gak kuat lagi! Maafkan Rara karena menjahili kakak!" ucapnya dengan suara serak karena mulai menangis.


Gerakan Ryu terhenti. Dia terdiam seraya mengatur nafas yang memburu cepat. Peluh membasahi wajah dan tubuhnya. Kemejanya tampak basah. Jantungnya mulai berdebar dengan kedekatan ini. Bagaimana tidak, gundukan itu menempel kuat pada dadanya.


"Ampun kak, maaf!" ucap Rara semakin memeluk kuat. Semenit berlalu dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang karena merasakan tak ada pergerakan lagi dari Ryu. Dia sangat lelah.


"Salah sendiri jahil dan nakal." kata Ryu leluasa menatap wajah Khanza di bawahnya. Dia menyapu buliran keringat di wajah manis itu. Terus beralih pada leher jenjang khanza yang tampak terekspos di matanya. Lalu mengatur dan menyapih rambut Khanza ke belakang telinga.


Rara melakukan hal yang sama, menyapu keringat di wajah Ryu.


"Kakak harus berganti pakaian, kemejanya basah!" katanya seraya melepas dasi Ryu.


"Kak, nanti temani kak Anggi ya?" katanya kembali.


Ryu diam tak menjawab.


"Kak Anggi kekasih kakak. Sudah sepantasnya kakak mendampinginya." kata Rara. Dia merapikan rambut Ryu yang berantakan.


Ryu tak menjawab, hanya terus menatap menatap leluasa wajah di depan dengan perasaannya sendiri.


"Kakak dengar nggak Rara ngomong? Temani kak Anggi ya?" Rara memegang wajah Ryu. Keduanya saling menatap lekat.


"Kakak nggak bisa ninggalin kamu. Kakak mau menemani kamu." kata Ryu membelai wajah ayu itu. Matanya turun naik pada mata dan bibir Khanza. Hembusan nafas gadis itu sangat terasa di wajahnya karena jarak yang sangat dekat.


"Itu gak perlu. Kan teman Rara mau ke sini."


"Kakak nggak yakin membiarkan kamu sama dia!" kata Ryu memang tidak yakin membiarkan Khanza bersama Rangga. Dia bisa membaca kalau pemuda itu tidak baik. Tapi Khanza tidak mengetahuinya.


"Kenapa? Rangga baik kok,"


"Entahlah. Kakak hanya merasa selalu khawatir sejak kejadian yang menimpamu di hotel dulu. Kakak nggak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi pada kamu."


Rara tersenyum. Dia membelai wajah Ryu.


"Kakak ku paling tampan dan baik. Terimakasih karena selalu mengkhawatirkan Rara. Menjaga dan melindungi Rara. Insyaallah Rara akan baik baik saja." dia menarik wajah Ryu mendekati wajahnya, lalu mengecup kening dan ke dua pipi Ryu.


"Rara menyayangi kakak!" ucapnya kemudian kembali tersenyum.


"Kakak juga menyayangimu." bisik Ryu dengan tatapan sayu. Matanya berhenti pada bibir Khanza. Sejak tadi benda kenyal merah alami itu menggoda matanya. Perlahan dia mendaratkan kecupan di bibir mungil itu.


"Perasaan apa ini? Ini bukan hanya sekedar kecupan rasa sayang sebagai adik... tapi lebih dari itu! Khanza....maafkan kakak..... Kakak jatuh cinta padamu. Kakak mencintai mu dek. Cinta yang telah tumbuh dan bersemayam sejak 6 tahun yang lalu." katanya, tapi hanya putus di tenggorokan. Dia menatap netra Khanza dalam dalam dengan jantung yang semakin berdebar. Lalu kembali mengecup bibir itu, di kecup lagi karena ada balasan dari Khanza. Khanza ikut mengecup bibirnya.Terjadi kecup kecupan di antara mereka.


Sepasang mata di balik pintu terbelalak melihat adegan mereka itu. Menatap geram dengan tangan terkepal kuat. Dada terasa sesak karena amarah dan cemburu.

__ADS_1


*****


Tak hentinya author meminta dukungan dari readers. Tinggalkan like, komen dan hadiahnya. Terimakasih juga sudah mampir.


__ADS_2