Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
29. Ruang rahasia di dalam kamar


__ADS_3

"Stop Anggi." sentak Ryu saat melihat Anggi hendak melangkah masuk ke kamarnya. Kaki kanan Anggi yang siap di langkahkan sontak terhenti dengan posisi terangkat.


"Tetap di posisi mu!" kata Ryu kembali.


Anggi mendengus pelan, lalu segera menurunkan kakinya. Ryu melangkah cepat ke arahnya.


"Sudah ku katakan padamu, jangan pernah masuk kedalam kamar ku." kata Ryu seraya menutup pintu.


Anggi merasa terhina karena merasa tidak di hargai.


"Ryu....!"


"Mari kita turun." Ryu melangkah cepat menuju tangga. Terpaksa Anggi menyusul dengan langkah lebih cepat sedikit berlari.


"Aku kekasihmu. Kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam kamar mu? Sementara Rara bisa masuk semaunya dengan bebas?"


"Khanza adikku. Selain dia tak ada wanita yang bisa masuk ke kamar ku!" kata Ryu tegas di sela langkah menuruni tangga.


"WHAT?" Anggi terkejut. Mendengar hanya Khanza wanita yang bisa masuk ke kamarnya.


"Terus aku kau anggap apa?" Anggi menahan lengannya kuat, hingga Ryu terhenti. Dia menatap tajam wajah Ryu.


"Aku wanita mu Ryu, kekasihmu!" katanya sedikit keras karena kesal.


"Sudah ku katakan hanya wanita yang bakal menjadi istri ku yang bisa masuk keluar ke dalam kamar ku! Dan kau bukan Istriku."


Anggi kembali tercengang.


"Tapi aku calon istrimu." katanya dengan suara meninggi. Dia mencekal lengan kekar Ryu kuat.


"Atau jangan-jangan kau punya wanita lain sebagai calon istrimu? Dan bukan aku?" suara Anggi mulai keras hingga terdengar sampai ke bawah, karena mereka sudah berada di tangga bawah.


"Kecil kan suara mu. Jangan membuat keributan di sini!" kata Ryu menatap tajam. Dia melepas pegangan Anggi pada lengannya. Lalu segera melangkah turun meninggalkan wanita itu.


Anggi kembali tercengang. Dia melongo melihat punggung Ryu yang bergerak turun.


"Sialan." makinya geram.


"Wanita mana yang dia maksud? Selama ini tak ada wanita yang masuk ke dalam kamarnya. Dan hanya Rara wanita yang pertama kali masuk ke kamarnya." Gumamnya.


Dia tahu hal itu atas laporan pelayan yang telah di bayarnya. Tapi pelayan itu tidak mengatakan kalau mereka tidur bersama di ranjang yang sama.


"Hanya wanita yang akan menjadi istrinya yang bisa masuk ke dalam kamarnya. Dan dia melarang aku. Itu artinya bukan aku calon istrinya. Lalu siapa?" batinnya kembali.

__ADS_1


Mata Anggi tiba-tiba membulat.


"Apa adik sepupunya itu yang di maksud? Karena hanya gadis itu yang di izinkan bebas masuk, bahkan tidur di sana." gumamnya teringat Rara. Di tambah lagi melihat kedekatan mereka yang menurut pandangannya tidak wajar sudah seperti layaknya pasangan kekasih. Berpelukan dan ciuman di bibir tanpa canggung.


Bukan hanya sekali ini tapi juga di kantor ruang kerja Ryu. Sementara dia dan Ryu tidak pernah sedekat itu. Ryu selalu berusaha menghindari kontak fisik dengannya.


Dia juga melihat, sejak kedatangan Rara ke kota ini kehidupan Ryu berubah drastis. Ryu terlihat lebih bersemangat dan bahagia. Keberadaan Ryu di kantor juga mulai berkurang. Ryu cepat pulang ke rumah menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu. Ryu lebih banyak bersama Rara dari pada bekerja. Semua pekerjaan di serahkan pada Simon. Begitu yang di katakan Caroline ketika dia menelpon ingin berbicara dengan Ryu.


Dia juga mendengar desas desus kalau sejak dulu Ryu mengagumi seorang gadis. Gadis di masa kecilnya. Memujanya dan menyimpannya di dalam hati sejak Ryu kecil hingga sampai sekarang ini. Tak ada yang tahu siapa gadis itu. Hanya Ryu, Simon dan kepala pelayan yang tahu.


Pelayan bayarannya berkata Ryu selalu memasuki ruangan rahasia yang berada di dalam kamarnya. Sepertinya kerahasiaan gadis itu ada dalam ruang itu yang di sembunyikan dari semua orang.


"Apa mungkin karena itu Ryu melarang siapapun masuk ke kamarnya termasuk diriku?" batinnya.


Makanya dia sangat ingin masuk ke dalam kamar Ryu. Dia ingin masuk ke ruang rahasia itu. Yang berada di belakang ranjang Ryu.


Dia ingin mencari tahu siapa gadis yang tersimpan di dalam ruang rahasia itu.


"Nona Anggi....!" suara kepala pelayan membuyarkan lamunannya. Dia sedikit kaget.


"Nona Rara meminta anda ke meja maka untuk sarapan bersama." kata pelayan itu kembali.


"Rara yang menyuruhmu ke sini? Bukan tuanmu?"


Kepala pelayan mengangguk pelan.


"Silahkan nona." kata kepala pelayan sopan.


Anggi segera melangkah dengan kekesalan yang mendalam. Lagi lagi dia menyaksikan pemandangan yang indah di meja makan. Tapi membuat dadanya sesak dan darahnya mendidih.


Ryu dan Rara tampak duduk berdekatan. Saling suap suapan. Ryu melap bibir Khanza, membersihkan makanan yang belepotan di sekitar mulut gadis itu. Keduanya tampak senang dan bahagia.


"Ayo kak, sarapan bersama kami." kata Rara begitu melihat kedatangan Anggi. Ryu ikut melihat ke arah Anggi.


"Apa aku boleh sarapan bersama kalian?"


Anggi malah bertanya untuk memancing Ryu apa ikut mengajaknya sarapan. Karena pria ini hanya diam tak mengajaknya untuk sarapan bersama. Dan itu membuatnya kesal.


"Tentu saja. Kenapa kakak bertanya seperti itu. Kakak kan kekasih kak Ryu. Mari, silahkan duduk." ujar Rara.


"Karena tuan rumah ini tidak mengajakku. Dia hanya diam. Dan itu membuat aku tidak nyaman dan berani." kata Anggi tersenyum melirik pada Ryu tampak menatap tajam ke padanya akibat mendengar perkataannya itu.


Rara tampak bingung mendengar perkataan Anggi.

__ADS_1


"Duduklah Anggi. Kau sudah biasa kemari dan makan di sini. Jadi tak perlu lagi meminta ajakan ku." kaya Ryu tidak senang dengan ucapannya.


Anggi segera duduk dengan kesal. Sejujurnya dia juga lapar karena tidak sempat sarapan dari rumah. Tujuannya ke sini ingin menyambangi Ryu yang tidak lagi menghunginya. Teleponnya juga tidak di angkat, pesannya juga tidak di balas. Ryu terlalu sibuk bersama Rara hingga lupa pada dirinya.


Anggi segera mengambil makanan. Lalu mulai menyantap dengan pelan. Sesekali matanya mencuri pandang pada keduanya.


"Aku iri pada kalian." ucap Anggi memecah keheningan.


"Iri?" tanya Khanza.


"Iya...!" Anggi mengangguk.


"Melihat kebersamaan, kedekatan dan juga kasih sayang di antara kalian sebagai kakak dan adik." kata Anggi.


"Aku punya adik tapi hubungan kami tidak dekat seperti kalian. Untuk saling menanyakan kabar pun tak sempat. Bahkan saat bertemu pun kami seperti orang asing." sambungnya kembali.


"Apa ada masalah di antara kakak dan adiknya?"


"Tidak. Hanya saja kami terlalu disibukan dengan urusan masing-masing."


"Kak Ryu juga sibuk, tapi dia tetap menyempatkan waktu untuk Rara! Rara juga begitu, meski jauh dan di sibukkan oleh sekolah dan pelajaran, tetap selalu ingat pada kak Ryu. Rara selalu menunggu telepon darinya." kata Rara dengan polosnya. Dia melihat pada Ryu yang juga melihat kepadanya.


"Beruntungnya dirimu punya kakak sebaik Ryu, yang selalu ada waktu untukmu. Selalu menyempatkan diri kapan saja kau butuhkan. Walau apapun yang di kerjakan, akan di tinggalkan demi dirimu!" kata Anggi menyindir Ryu. Selalu ada waktu untuk Rara, tapi bila untuknya tak sempat sama sekali dengan berbagai alasan.


Ryu membuang nafas kasar mendengar ucapan yang menohok itu.


"Tentu saja Rara sangat beruntung dan bersyukur punya kakak sebaik kak Ryu. Menyayangi dan melindungi Rara. Selalu ada untuk Rara! Rara sangat menyayanginya." ucap Rara dengan sumringah. Dia kembali menoleh pada Ryu, memegang dagu Ryu sambil tersenyum.


Anggi memperhatikan hal itu.


"Kak Anggi tahu nggak? kekasih kakak ini....."


"Khanza, kalau makan jangan bicara. Nanti kamu tersedak." kata Ryu pelan memotong ucapannya sebelum bicara terlalu jauh.


"Habiskan dulu makanannya."


"Maaf." Rara mengangguk pelan. Dia kembali fokus pada makanannya.


"Dan kau.... jangan bertanya terus pada Khanza. Nikmati makanan mu." kata Ryu menatap Anggi.


Anggi membuang nafas kesalnya. Lalu melanjutkan makannya.


******

__ADS_1


Terimakasih untuk readers yang menyempatkan waktu mampir ke karya author.


Dukung ya, tinggalkan like, komen, hadiah.


__ADS_2