Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
80. Malam pertama


__ADS_3

Di baca setelah buka puasa ya!!!!


Waktu terus bergulir, hari berganti minggu dan tiga bulan telah berlalu bulan. Malam ini di gelarnya acara resepsi pernikahan Cia dan Edgar secara besar besaran dan mewah. Bertempat di hotel megah Edgar yang baru di buka. Setelah tadi siang keduanya mengikat janji suci dalam sebuah akad nikah di mesjid Azahra, salah satu mesjid megah milik Ara. Dengan di hadiri dan saksikan oleh tamu tamu penting. Sebelumnya Cia menolak menikah karena mengira Edgar beragama Hindu. Cia hanya akan menikah dengan Pria yang seagama dengannya. Tapi ternyata Edgar sudah pindah agama Islam setelah dia lulus SMA. Bukan hanya dirinya, tapi juga orang tua dan adik adiknya. Cia tidak menduga kalau ternyata Edgar adalah kakak kandung dari sahabatnya sendiri, Widi. Edgar juga tidak tahu kalau Widi adiknya, sahabatan dengan Cia sejak sejak SMA, kuliah dan sampai saat ini. Kedua wanita itu sangat senang karena menjadi kakak dan adik ipar. Widi mengatakan kalau Edgar tidak salah memilih Cia sebagai istri. Karena Cia adalah gadis baik.


Acara terus bergulir hingga perayaan mewah itu berakhir. Malam pertama, Edgar dan Cia menginap di rumah pribadi Rafa karena Cia meminta hal itu. Dia tidak ingin ke rumah pribadi Edgar yang telah di siapkan Edgar untuknya. Juga tidak ke rumah utama karena Nesa ada perjalanan kerja mendadak ke Malaysia setelah acara resepsi berakhir. Keduanya tidur di kamar Cia yang sudah terhias indah layaknya kamar pengantin. Semua penghuni rumah megah ini mengistirahatkan semua rasa.


Termasuk Rara. Dan seperti biasanya, Rara tidur di kamarnya sendiri. Masih menolak sekamar dengan Ryu, apalagi tidur seranjang. Dia mengunci pintu kamarnya untuk mengantisipasi agar Ryu tidak bisa masuk saat dirinya tertidur. Padahal dia tidak tahu, selama beberapa bulan ini Ryu leluasa masuk dan tidur di ranjangnya secara diam-diam. Meski tidak menyentuh demi memenuhi janjinya untuk tidak macam macam. Dan malam ini, Saat tengah malam, Ryu kembali masuk ke kamar Khanza.


Pemandangan di depannya terlihat lain dari biasanya. Lebih indah, lebih menggoda seakan menantangnya untuk mengingkari janji.


"Sayang, kau benar-benar menggairahkan. Bagaimana aku bisa menahan diri?" kata Ryu tergoda melihat tubuh indah Khanza tidur terlentang hanya mengenakan lingerie seksi. Semua bagian lekukan tubuhnya terlihat sangat sempurna dan indah karena begitu transparannya gaun tidur itu. Seperti Khanza tak mengenakan apapun. Sangat menggiurkan dan membuatnya menelan ludah berulangkali. Bagian pribadi bawahnya bergerak dan menegang. Perlahan Ryu naik ke tempat tidur. Tak tahan hanya melihat saja. Dia ingin melakukan lebih atas dorongan hasratnya yang tidak mampu lagi di bendung. Dia menyentuh bagian wajah Rara di selingi dengan kecupan kecupan lembut agar wanitanya ini tidak terbangun. Turus merayap turun ke leher jenjang putih mulus, lanjut ke dada dan singgah bermain sebentar pada dua buah besar dan segar itu. Lenguhan keluar dari mulut Rara di antara alam tidurnya dan mata yang terpejam. Ciuman Ryu turun ke perut ramping. Terakhir mendarat bagian paling pribadi Khanza. Untuk pertama kalinya dia melihat dan menyentuh kehormatan adik sekaligus istrinya ini. Ryu tersenyum, Menatap nanar bukit kecil paling terindah berwarna pink tanpa di tumbuhi rumput hijau. Dia melabuhkan wajahnya ke bukit kecil itu. Bibir menjelajah dengan lembut, Tangan tak di biarkan menganggur, ikut menjamah lembut menyentuh keindahan lainnya, tubuh polos Khanza tanpa sehelai benang pun. Ryu bahkan membuang selimut dan benda lainnya yang dapat menutupi matanya untuk melihat keindahan tubuh ini.


"Kakak?" Rara kaget setengah mati melihat Ryu sedang berada di antara kedua pahanya yang terbuka lebar."Apa yang kakak lakukan?" Dia semakin kaget merasakan sentuhan liar pada miliknya. Lenguhan merdu keluar dari mulut merasakan sensasi nikmat."Ahh...... Apa yang kakak lakukan?" memegang kepala Ryu. Dia kembali kaget melihat dirinya yang tampak polos tak mengenakan apapun. Begitu juga dengan tubuh Ryu, yang hanya mengenakan bokser pendek.


Ryu tak sadar jika Rara sudah bangun, dia terus asik menjamah bukit kecil itu dengan rakus.


Rara lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut Rara merasakan permainan lembut di bukitnya.


"Ah....kakak sakit!" jerit Rara merasakan Gigitan kecil pada miliknya. Rara bangun dan mendorong wajah Ryu."Kakak hentikan, sakiiit!" keluhnya meringis sakit.


Di bawah sana, Ryu yang sudah menyadari Khanza telah bangun bukannya menghentikan aksinya, malah semakin menekan wajahnya dan semakin lincah dan liar bermain di bukit kecil itu. Dia menahan kuat kedua paha Rara agar tidak bisa bergerak.


"Ahhhhhh....!" desah Rara panjang. Tubuhnya menegang dan menggelinjang saat sesuatu keluar dari miliknya. Kedua tangannya menjambak dan menarik kuat rambut Ryu. Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulutnya merasakan sensasi indah menjalar di sekujur tubuhnya. Sesuatu yang indah pertama kali di rasakan. Beberapa detik kemudian tubuhnya jatuh terkulai ke tempat tidur. Dia tidak menyangka Ryu akan melakukan ini padanya.


Di bawah Ryu tersenyum senang istri kecilnya orgasme untuk pertama kali. Dia masih sibuk membersihkan bukit kecil yang di buatnya basah dan berantakan."Rasanya sangat manis," batinnya tersenyum. Dia segera mengangkat wajahnya sambil membersihkan sisa sisa permainan pada bibirnya menggunakan lidahnya.


"Sayang, kamu sudah bangun!?" katanya melihat istrinya yang tampak lemah, mata terpejam, nafas menderu cepat.


Rara kaget dan segera membuka mata. Rara mencari selimut melihat Ryu memerhatikan tubuhnya. Tapi tak ada, pakaiannya juga tak ada. Ya tuhan, kemana semua barang itu? Kok bisa gak ada sih?" keluh Rara kembali. Dia sangat malu dengan keadaan tubuhnya yang polos di lihat Ryu, meski telah di cicipi oleh pria itu.


Ryu merangkak segera naik ke atas tubuhnya.


"Kakak mau apa?" Rara kaget dan mendorong tubuhnya. Tapi sia sia, Ryu menahan dan segera menindihnya. Rara merinding merasakan sesuatu yang keras menekan tepat pada miliknya karena kedua kakinya terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut menyeruak seketika.


"Kenapa kakak lakukan ini? Kenapa kakak bisa ada di sini? Bukannya pintu terkunci?" tanya Rara. Bukannya menjawab, Ryu malah mencium bibirnya. Menghisap lehernya, terus turun ke buahnya. Si empunya kembali mendesah."Ah, kak Jangan!" mendorong kepala Ryu ke bawah.


Ryu mengangkat tubuhnya"Dek, kakak gak kuat lagi!" pinta Ryu menatap penuh gairah. Hasratnya yang semakin menggebu tidak bisa di bendung lagi dan ingin segera di salurkan.


"Kakak kok ngelakuin ini pada Rara? Padahal udah janji gak akan nyentuh Rara selama Rara masih sekolah." kata Rara sendu.


"Maaf sayang!" Ryu mengecup keningnya. "Kakak gak kuat lagi nahannya!" lanjutnya kembali. Ryu membawa satu tangan Khanza menyentuh miliknya yang tegang dan keras. Rara terkejut. Melihat mata Ryu yang di penuhi kabut gairah. Dia hendak menarik tangannya, tapi di tahan Ryu.


"Kakak sangat tersiksa sayang. Kita menikah sudah 9 bulan. Selama itu kakak menghargai keinginanmu dan tidak menyentuhmu! Kakak sangat tersiksa dan tidak bisa menahannya lagi!" pinta Ryu menatap netra Khanza yang memerah.

__ADS_1


"Sayang....!" kembali meminta memelas.


"Rara takut hamil." potong Rara sendu, mata berkaca.


Ryu kembali mengecup kedua netranya yang basah."Sebentar lagi Khanza akan lulus sekolah. Gak apa-apa kalau hamil sayang. Paling usia kehamilan kamu baru dua bulan. Malah kakak lebih suka kamu segera hamil! Apa yang kau takutkan?" Ryu mengelus lembut pipinya.


"Tetap aja Rara takut....!" Rara menari tangannya dari milik Ryu. Dia menelan ludah dan mengalihkan tatapannya ke sebelah menghindari tatapan Ryu yang sangat meminta. Rara takut jika sampai hamil dan teman teman serta gurunya akan tahu. Dia pasti akan di keluarkan dari sekolah. Belum lagi menghadapi perkataan buruk mereka.


"Takut apa sayang? Tidak ada yang perlu kamu takutkan!" kata Ryu mengerti apa yang di takutkan dan di khawatirkan istrinya ini.


Ryu segera meraup bibir Khanza, tak memberi kesempatan bicara saat melihat wanita ini hendak bicara. Dia melu**t bibir Rara dengan lembut. Rara mulai kehabisan oksigen, Ryu segera melepas ciumannya. Ia turun menciumi leher Rara dan menjilatnya, menggigit kecil. Rara menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Tangan Ryu menyentuh buah segar besar di depan matanya, menciumi wangi harumnya, mencicipinya dengan lahap.


"Ah.... kakak." lenguhan keluar dari mulut Rara.


"Sakiiit....!" keluh Rara merasakan gigitan gigitan kecil pada nipelnya. Ryu turun ke perut rata Rara dan menciumnya.


"Kak Jangan....!" kata Rara saat Ryu akan turun ke bawah. Ryu mengangkat tubuhnya melihat wajah Rara.


"Kenapa sayang?"


"Rara gak mau, Rara takut!"


"Takut kenapa sayang? Kakak sudah bilang tidak ada yang perlu kamu takutkan!" Ryu kembali mencium bibirnya. Bibir itu semakin bengkak. Ryu tidak dapat menahan lagi. Dia segera mengeluarkan pusakanya dari balik bokser. Selanjutnya melorotkan celana pendek ketat itu.


"Kenapa sayang?"


"Rara takut....!"


"Takut apa?"


"I... itu..!" Rara menunjuk milik Ryu tanpa melihat.


"Tidak apa-apa sayang!" kata Ryu seraya naik kembali ke tubuh Rara.


"Kakak ngapain?" jerit Rara kaget. Dia hendak bangun tapi tubuh Ryu sudah berada di atasnya.


"Ka...kakak maU ngapain?" kata Rara dengan takut.


"Kakak butuh kamu sayang, kakak gak kuat lagi!" kata Ryu memelas berharap Rara mengerti dengan keadaan dirinya yang tersiksa.


"Tapi Rara gak mau....!" Rara menggelengkan kepala.


"Tapi kakak sangat ingin sayang!" dan segera mencium bibir Rara, **********. Memaksa masuk lidahnya ke dalam dan akhirnya lolos. Rara di buat terbuai dan akhirnya membalas. Lidah mereka saling berperang di dalam. Ryu berhenti melihat Rara yang mengatur napas, karena kehilangan oksigen. Ryu segera memposisikan miliknya.

__ADS_1


"Kakak....!" keluh Rara sedih.


"Sayang, kakak mohon Jangan menolak!" Ryu Segera mencium keningnya.


"Tapi Rara takut!"


Ryu membuang nafas berat. Bagaimana caranya lagi membujuk istrinya ini yang terus menolak. Sementara hasratnya tidak dapat di tahan lagi.


"Sayang, sekali saja ya? Kakak janji akan cepat dan lembut. Kakak mohon!"


"Tapi i-itu besar...pasti sakit, Rara gak mau!" Rara geleng kepala membayangkan milik Ryu yang besar masuk ke tubuhnya yang kecil.


"Awalnya memang akan terasa sakit. Tapi perlahan-lahan rasa sakitnya akan bercampur dengan rasa lainnya yang indah. Kakak janji akan lembut, tidak akan menyakitimu." Ryu menjelaskan seraya mengelus lembut pipi Khanza.


"Setiap wanita yang melakukan hubungan intim pertama kalinya akan merasakan sakit. Dan bukan hanya wanita, pria juga begitu. Kita harus mencobanya dan terus melakukan agar terbiasa. Jika sudah terbiasa maka rasa sakit itu tak akan terasa lagi!" kata Ryu kembali.


Rara diam tak menjawab.


"Karena Khanza diam, kakak anggap Khanza tidak menolak! Kita coba ya....?" membujuk lagi dengan lembut.


Rara mengangguk pelan.


Ryu tersenyum. Dia senang karena akan mendapatkan sepenuhnya milik Khanza tanpa memaksa. Dia mengecup kening istrinya lembut.


"Mari kita mulai! Khanza harus rilex, jangan tegang! Tahan sebentar rasa sakitnya! Kamu bisa menggigit atau mencakar, atau memukul tubuh kakak bila tidak tahan akan rasa sakitnya. Lakukan semaumu." ucapnya menatap netra Khanza. Rara mengangguk pelan.


Malam pengantin penuh drama pasangan ini dimulai. Cukup menguras tenaga Ryu untuk menembusnya. Di iringi tangis dan air mata Rara. Berulangkali mencoba tapi selalu gagal karena sempitnya milik Khanza dan besarnya miliknya sulit untuk masuk dengan mudah. Hingga akhirnya satu jam berlalu dia berhasil menyatukan tubuh keduanya dengan jeritan keras keluar dari mulut Khanza karena merasakan sakit akibat robekan di dalam sana. Ryu segera membungkam mulut istrinya dengan mulutnya sebelum jeritan keras itu membangunkan penghuni kamar atas satu lantai dengan kamar mereka. Yaitu kamar Cia dan Edgar yang sedang menikmati malam pengantin mereka dengan penuh cinta. Juga kamar Raka, Riez dan Ryan. Ketiga putra Rafa itu menginap di rumah ini.


Dua jam berlalu.


Ryu menatap wajah Khanza yang terpejam, pingsan. Istrinya itu pingsan setelah permainan mereka di ronde kedua berakhir. Khanza ngambek dan menangis karena Ryu membohonginya. Kata Ryu hanya sekali tapi akhirnya malah nambah lagi. Khanza tidak kuat menahan rasa sakit akhirnya pingsan.


"Maaf sayang, hasrat ku tidak bisa ku kendalikan! Kau sangat nikmat!" ucap Ryu tersenyum. Dia membelai lembut wajah istrinya, di selingi kecupan dan ciuman lembut. Dia sangat senang dan bahagia karena mendapatkan kehormatan sebagai pria yang pertama kali mendapatkan tubuh dan kesucian Khanza.


"Terimakasih sayang sudah memberikannya kepadaku. Tidurlah dengan nyenyak! Semoga mimpi indah! Aku mencintaimu." ucapnya. Lalu mengecup kening dan bibir Khanza lembut. Dia segera membaringkan tubuhnya di dekat Khanza dan membawa tubuh mungil itu ke pelukannya.


...Tamat....


Akhirnya bisa menamatkan karya ini. Terimakasih atas dukungan para reader dan author 🙏😘


Selanjutnya akan lanjut ke cerita cinta Rangga. Lihat cerita cinta Rangga pada Novel Rangga & Rara ( Mencintai anak mantan).


Mampir ya dan dukung author 😘

__ADS_1


__ADS_2