
Cindy melangkah mendekati mereka.
"Hay sayang.....!" sapa Cindy pada Rangga. karena keduanya sedang duduk membelakangi dirinya.
Rangga dan Rara segera menoleh kepadanya.
"Mama." Rangga segera bangkit dan menyalim mamanya.
"Aku bawah teman ku kesini...!" kata Rangga ingin memperkenalkan Rara.
Rara segera berdiri, melihat pada Cindy.
"Ini temanku, teman kelasku. Nama Rara! Nah Rara, kenalkan ini mama ku, mama Cindy!" kata Rangga memperkenalkan keduanya.
Rara tersenyum segera menyalim.
Cindy memegang wajah Khanza lembut. Menatapnya sejenak.
Rara kaget tapi membiarkan apa yang di lakukan Cindy. Rara merasa pernah melihat wanita ini? tapi dia lupa.
Cindy tersenyum.
"Bukan Rara nak, tapi Khanza." kata Cindy menatap wajah Khanza. Lalu dia mengecup dan memeluk Khanza.
Rara dan Rangga terkejut dengan wajah mengernyit.
"Khanza?" tanya Rangga.
"Maaf, apa tante mengenal Khanza?" tanya Rara.
"Tentu saja. Khanza Ghaniya Artawijaya. Nama yang di berikan Kakakmu Sahreza Gracio saat kau masih dalam kandungan ibumu."
Rara kembali kaget. Dia dan Rangga saling berpandangan.
Rara nggak menyangka Cindy juga tahu mamanya dan juga Cio kakaknya.
"Ayo, sayang.... Kita bicara sambil duduk." Cindy mengajak mereka duduk kembali. Dia duduk di tengah antara Rara dan Rangga.
"Terakhir kita bertemu saat kau duduk di kelas tiga SMP. Saat itu tante mengunjungi mama mu bersama tante Ines. Khanza mungkin sudah lupa, karena kejadiannya sudah lama." kata Cindy.
Rara berusaha mengingat kenangan tiga tahun lalu. Terlalu banyak tamu tamu mamanya berkunjung ke rumah hingga dia lupa. Kalau Ines dia sangat tahu. Karena Ines adalah istri Wisnu, asisten pribadi papanya.
__ADS_1
"Maaf Tante, Rara nggak bisa ingat. Rara lupa!"
Rara menyerah dengan ingatannya yang lemah.
Cindy tersenyum.
"Jadi mama kenal sama orang tuanya Rara?" sela Rangga.
"Bukan hanya kenal, kami sahabat baik sudah seperti saudara. Mama, Ara dan juga Ines. Kami sudah berteman sangat lama, sejak masuk kuliah sampai sekarang ini meski jarak memisahkan. Susah senang, sedih tertawa kami lalui bersama!" kata Cindy menjelaskan.
Cindy membuka instagramnya. Dia memperlihatkan foto foto kenangan kebersamaan mereka bertiga saat kuliah dulu. Melalui hari bersama, melakukan ini dan itu penuh canda dan tawa kebahagiaan.
Rara dan Rangga memperhatikannya dengan serius. Ternyata benar. Rara sangat mirip dengan Ara sewaktu muda dulu.
"Mamamu adalah orang yang sangat baik. Begitu juga dengan papamu, tuan Rafa. Mereka orang yang sangat baik. Bukan hanya kepada kami, tapi juga pada semua orang! Melihat mu, sama seperti melihat mama mu. Karena sewaktu muda dulu, Ara sangat mirip dengan mu!" kata Cindy menjelaskan. Dia memegang dagu Rara lembut.
Rara tak perlu meragukan kebaikan mamanya. Karena mamanya memang sangat baik dan perduli pada setiap orang, terutama pada orang susah. Punya Yayasan sosial yang tersebar di beberapa wilayah tanah air. Sosok dermawan, punya jiwa sosial tinggi. Semua kalangan bawah sampai atas mengenal sosok mamanya.
"Tapi ma, nama Rara adalah Rai Rara, kenapa mama mengatakan Khanza Ghaniya?" tanya Rangga bingung. Karena dia dan orang di sekolah hanya tau Rai Rara.
Cindy tersenyum. Dia melihat wajah putranya. Kemudian melihat Rara.
"Hanya Khanza yang tahu kenapa dia merubah namanya menjadi Rai Rara."
"Ra..!" Rangga menyenggol lengannya. Meminta penjelasannya.
"Rahasia...! Maaf, aku gak bisa mengatakannya." kata Rara tersenyum dengan wajah mengernyit.
Rangga mengeluh Kecewa, tapi dia tidak bisa memaksa Rara untuk mengatakannya.
"Tadi pagi, Rangga mengatakan akan membawa teman spesialnya kemari. Untuk pertama kalinya dia ingin membawa teman wanitanya ke rumah ini dan memperkenalkan kepada kami. Karena katanya teman itu sangat spesial dan istimewa. Tante nggak menyangka kalau Khanza orangnya. Tante senang kalian saling kenal dan berteman!"
"Berarti mama setuju Rara jadi pacarku?" pungkas Rangga senyum senyum.
Rara terbelalak. Dia langsung memukul lengan Rangga. Bicara sembarangan di depan Cindy.
"Ih Rangga, Awas kamu ya, asal ngomong." kata Rara ketus. Menatap tajam.
Rangga berusaha mengelak di selingi gelak tawa. Rara kembali memukulnya.
Cindy senyum senyum melihat kelakuan mereka. Dia senang hubungan persahabatan antara dia dengan Ara menurun pada anak anak mereka.
__ADS_1
"Sudah sudah....kalian ini." Cindy menengahi mereka.
"Ada tamu ya....?" suara bariton pria. Dion baru dari ruang kerjanya. Dia tampak memakai pakaian formal.
Ketiganya langsung melihat kedatangannya.
"Iya kak....kita lagi kedatangan tamu spesial." kata Cindy bangkit berdiri menyambut suaminya.
"Oh ya? siapa?" Dion semakin mendekati mereka.
"Coba kakak tebak siapa orangnya!" kata Cindy tersenyum.
Rara segera bangkit.
Wajah Dion mengernyit melihat wajah Rara. Wajah manis mengingatkannya pada gadis manis bermata teduh yang pernah dia cintai belasan tahun yang lalu.
"Ara?" ucapnya teringat Ara.
Cindy tersenyum. Dia sudah tahu Dion pasti akan mengenalnya sebagai Ara.
"Iya kak, Ara sewaktu muda dulu."
"Berarti ini.... Khanza?" kata Dion menatap tak berkedip pada Rara.
Rara tersenyum mengangguk.
"Iya Om....ini Khanza." katanya seraya menyalim tangan Dion.
Dion tersenyum. Dia langsung memeluk Rara.
"Kamu sudah tumbuh besar nak! Kamu mirip sekali seperti mamamu. Melihatmu mengingatkan om pada Ara, mama mu." Dion mengusap lembut rambut Rara. Lalu dia melepaskan pelukannya.
"Ternyata Khanza yang di ceritakan Rangga tadi pagi! Om senang kalian berteman. Sama seperti mama mu dan juga tante Cindy. Semoga hubungan di antara kita akan terus terjalin sampai pada kalian."
Mereka melanjutkan obrolan hangat. Tentu isi pokoknya pembicaraan mengenai masa lalu. Rara cepat sekali akrab dan dekat dengan mereka layaknya seperti satu keluarga.
Hingga akhirnya Dion pamit karena harus ke kantor. Karena dia ada janji bertemu dengan calon relasi bisnisnya. Cindy juga harus keluar karena ada urusan penting. Tapi dia harus singgah dulu di kantor Dion karena untuk mengambil sesuatu yang tidak boleh di wakilkan pada orang lain.
Tidak berapa lama Rara pamit pada Rangga untuk pulang karena ingin pergi ke kantor Ryu. Tapi dia tidak mau di antar. Rangga memaksa berulangkali untuk mengantar tapi Rara terus menolak. Akhirnya Rangga menyerah. Tapi dia menyuruh sopir rumah untuk mengantar Rara ke tempat tujuannya.
Rara turun di depan kantor perusahaan Ryu setelah mengucapkan terimakasih. Dia datang tanpa memberi tahu kedatangannya. Di tangannya meneteng paper bag berisi makanan dus yang di belinya di sebuah resto saat perjalanan ke sini.
__ADS_1
Dia ingin mengantar makanan buat Ryu. Mengingat sejak kemarin pria itu belum makan. Dan itu membuatnya cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada tubuh kakaknya setelah mendengar penyakit asam lambung yang di katakan Ratih.
*******