Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
48. Sesuatu yang tidak mungkin


__ADS_3

Dion membawa Rara kerumahnya. Cindy yang di hubungi dalam perjalanan segera pulang secepatnya. Cindy kaget setelah mendengar apa yang terjadi. Terutama tentang Ryu yang ternyata adalah putra Nesa, dan merupakan keponakan Rafa dan almarhum Raka. Cindy tahu tentang Cio karena dulu sering datang ke rumah utama bersama Ines saat mengunjungi Ara. Mereka selalu bermain dan bercengkrama dengan bocah bocah itu. Tak terasa waktu cepat berlalu. Bocah-bocah itu telah tumbuh dewasa dan salah satunya menjadi penguasa sukses yang terkenal di kalangan para pebisnis.


"Jadi tuan Ryu Deva Mayandra yang terkenal di kalangan para pebisnis itu adalah Cio?" tanya Cindy terkejut setelah mendapat penjelasan Dion.


"Iya, dia menutupi keaslian jati dirinya sejak insiden kecelakaan yang terjadi pada dirinya dulu dengan merubah namanya! Tak ada yang tahu kecuali keluarganya sendiri!"


Cindy tanpa berpikir soal Khanza yang juga merubah namanya menjadi Rai Rara


"Kak, mungkinkah karena itu juga Khanza merubah namanya menjadi Rai Rara? Mungkin ada kaitannya dengan perubahan nama Cio? Dari kecil Cio sangat menyayangi Khanza, bahkan sejak anak itu masih dalam kandungan Ara. Dan Cio sendiri yang memberikan nama itu untuk Rara!"


"Aku juga berpikir begitu. Tapi kenapa mereka merubah nama keduanya?"


Cindy mengangkat bahunya tidak tahu. "Hanya mereka yang tahu."


Dion menghela nafas. "Aku seperti merasa ada sesuatu yang aneh dari keduanya. Mereka tidak mau mengatakan apa yang terjadi, karena katanya itu sesuatu yang pribadi. Waktu keluar daru ruang Ryu, Khanza menangis ketakutan sambil memegang bibirnya!" kata Dion.


Keduanya saling bertatapan, sepemikiran yang sama.


"Kak, apa kau berpikir sama seperti diriku?" Cindy menatap wajah suaminya.


"Entahlah itu benar atau tidak. Tapi aku merasa Cio menyukai Khanza." kata Dion.


"Aku pun berpikir begitu! Cara Cio menunjukan rasa cinta dan sayangnya! Mungkin karena itu membuat Rara takut. Tapi kak, Bukannya Ryu sudah mempunyai kekasih? Aku dengar itu dari teman teman Arisan ku! Nama kekasihnya Ranggita Sari. Aku juga sudah melihatnya. Terkadang dia ikut Arisan bersama kami. Di ajak istri pak Ridwansyah, teman bisnis kakak itu." kata Cindy mengatakan kekasih Ryu yang selalu di lihatnya datang ke arisan ibu-ibu sosialita.


Cindy tiba tiba mendekatkan wajahnya pada Dion sambil senyum senyum. Dia teringat sesuatu. Kenangan masa dulu antara Dion dan Ara. Dia mengaitkan hal itu dengan permasalahan yang terjadi antara Cio dan Khanza.


"Ada apa senyum senyum gitu?" tanya Dion heran melihat sikap aneh istrinya.


"Ryu sama seperti kakak!" kata Cindy menatap mata Dion.


Wajah Dion mengernyit. Dia menatap dalam dalam wajah yang masih tersenyum.


"Apanya yang sama?!"


Cindy tertawa kecil.


"Apalagi ini? tadi senyum senyum sekarang cengar-cengir!" Dion semakin heran dan bingung.


"Gak jadi deh." kata Cindy cekikan seraya menarik mundur wajahnya.


Dion mendengus kesal karena dibuat penasaran.


"Katakan, bikin penasaran orang saja! Kau sengaja menggodaku ya?" Dion cepat memegang Wajah Cindy.


"Menggoda apa? lepas kak....!" Cindy melepas tangan Dion di kepalanya. Dion berbalik menangkap tubuhnya hingga jatuh ke pangkuannya.

__ADS_1


"Mau ngomong nggak?" Dion menciumi bibir Cindy tanpa henti, tak memberi kesempatan untuk bergerak.


"Oke,, stop!" kata Cindy merasakan tangan kekar suaminya sudah menjalar ke dalam blusnya. Sementara mereka berada di ruang tengah. Bagaimana jika pelayan melihat apa yang terjadi pada mereka?


Cindy mengatur nafasnya yang tak beraturan sambil menatap suaminya dengan kesal.


Dion senyum senyum melihatnya.


"Sayang, apa kau merasakan sesuatu di bawah sini?" Dion tersenyum jahil menggoda seraya menggesek gesekkan miliknya pada bokong Cindy.


Tentu saja Cindy merasakan itu. Dia semakin kesal dengan wajahnya yang cemberut. Berusaha berdiri tapi Dion memeluk kuat pinggangnya.


"Jangan macam macam kak, ada Rara di sini!"


"Kalau begitu sekarang katakan apa makna dari senyum mu itu? Atau kau memang sengaja ingin menggodaku?"


Cindy mencubit hidungnya.


"Menggoda apa? Aku hanya teringat kisah cinta kakak sama Ara dulu. Kakak tuh sama seperti Ryu. Mencintai Ara dalam diam tanpa mau mengungkapkan perasaan karena takut Ara akan benci dan marah, terus menjauhi kakak. Dan kakak hanya memperlihatkan rasa cinta itu lewat sikap dan perbuatan kakak yang sangat mencintainya. Nah Ryu juga seperti itu. Mungkin Ryu telah melakukan sesuatu hingga membuat Rara takut kepadanya." katanya tanpa jedah di sertai luapan emosi.


Rara yang berada di pertengahan tangga terperangah mendengar ucapannya. Nafasnya turun naik tak beraturan. Saat itu dia turun untuk pamit pulang. Tanpa sengaja mendengar percakapan pasangan suami istri ini. Kesedihan Rara membuncah, dia langsung berbalik dan naik kembali. Dia juga tidak menyangka kalau dulu Dion mencintai mamanya.


Rara langsung terduduk lemah di sofa.


"Itu nggak mungkin. Gak mungkin kak Ryu suka sama Rara. Gak mungkin dia cinta sama Rara. Rara adiknya. Dan dia kakak Rara. Ini nggak mungkin, tante Cindy salah!" gumamnya geleng geleng kepala dengan air mata yang telah jatuh.


"Kasih sayang dan cinta kakak kepada Rara selama ini, gak mungkin karena kakak mencintai Rara. Kasih sayangnya itu hanya kasih sayang kakak pada adiknya. Lagi pula kak Ryu punya kekasih, kak Anggi. Wanita yang dicintainya." Gumamnya lagi.


"Tante Cindy salah menilai. Om Dion beda dengan kak Ryu. Om Dion mencintai mama karena mereka tidak punya hubungan saudara. Sementara kak Ryu dan Rara punya ikatan yang dekat sebagai kakak dan adik sepupu. Apa yang Om Dion dan tante Cindy pikirkan salah!" Rara semakin geleng geleng kepala menatap ke depan dengan genangan air mata yang semakin menumpuk. Akhirnya air mata itu tumpah, Rara menangis terisak.


Sementara di bawah Cindy dan Dion.


Dion batuk batuk kecil, senyum senyum, salah tingkah mendengar perkataan Cindy. Dia menyembunyikan wajah merah malunya dengan berpaling ke sebelah menghindari tatapan tajam Cindy.


"Kenapa senyum senyum gitu?" tanya Cindy dengan suara meninggi melihat wajah senyum Dion.


"Gak da apa apa sayang! Pengen senyum aja lihat wajah kesalmu yang menggemaskan itu!" kata Dion tersenyum manis memegang wajah Cindy. Lalu mendaratkan kecupan di kening Cindy.


"Itu hanya masa lalu sayang. Aku bahkan sudah lupa. Kamu sendiri yang ngingatin, emosi sendiri kan?" katanya lagi masih memasang senyum manis.


"Emosi? Buat apa aku emosi dengan perasaan kakak dulu ke Ara? Aku nggak pernah marah atau cemburu sama sahabat ku sendiri. Aku emosi karena kakak nyosor sembarangan nggak lihat tempat. Gimana kalau ada pelayan yang lihat? Rara atau Rangga yang datang tiba-tiba? Kakak selalu seperti itu." kata Cindy kembali kembali kesal.


"Iya sayang, maaf. Nggak lagi deh! Adikku sayang, Istriku tercinta satu dan selamanya!" kata Dion merayu menggoda seraya mencium pipi Cindy, lalu memeluk tubuh adik sekaligus istrinya ini.


"Awas ah, aku mau turun!" melepas tangan Dion di perutnya. Lalu segera turun.

__ADS_1


"Terus ini giman Cin? Kau harus tanggung jawab sayang." bisiknya seraya menunjuk miliknya yang mengembang dari balik celana kantornya.


"Nggak.....salah kakak sendiri nyentuh nyentuh aku. Sudah ah, aku mau ke kamar Rara. Kasihan tuh anak!" jawab Cindy ketus.


Dion mendengus pelan seraya menenangkan miliknya. Cindy pura-pura acuh sambil menekan tombol pada ponselnya.


"Kau sudah menghubungi Ara?" kata Dion sambil berdiri. Menahan sakit pada kedua pahanya.


"Belum. Aku tidak mau membuat dia sedih dengan mengetahui keadaan Rara!"


"Jangan beri tahu dia dulu. Cobalah untuk berbicara dari hati ke hati dengan Khanza."


"Iya.....!"


"Sedang apa gadis itu sekarang?"


"Tadi ku tinggalkan sedang berbaring. Katanya dia ingin sendiri. Aku akan pergi ke kamar untuk melihatnya!"


"Rangga di mana?"


"Rangga masih keluar. Dia punya urusan penting. Aku belum menghubunginya karena tak ingin mengganggu."


"Biarkan saja. Sebaiknya kau ke kamar temani Rara. Mungkin saat ini dia sudah tenang!"


"Kakak akan kembali ke kantor?"


"Iya, aku ada pertemuan penting dengan investor dari Turki! Kalau bukan karena hal itu aku akan tinggal di rumah menemani Rara. Tapi kalau kau menginginkan aku tidak pergi, aku akan batalkan pertemuan itu!" kata Dion tersenyum menggoda.


Cindy kembali kesal.


"Kakak ih....mau kerja masih aja mesum. Sudah ah, cepat pergi sana!" katanya mengusir Dion dengan kedua tangannya.


Dion terkekeh.


Dia mendekati Cindy dan mengecup bibir adik sepupunya ini yang sudah belasan tahun menjadi istrinya.


"Aku pergi dulu. Ingat sayang, aku mau jatahku malam ini!" bisiknya tersenyum di depan wajah Cindy dengan kerlingan nakal.


Cindy mendesis kesal. Belum hilang juga mesumnya. Dia membersihkan lipstiknya yang belepotan di bibir Dion. Memperbaiki pakaian Dion yang berantakan.


"Hati hati di jalan. Jaga diri di luar. Semoga berkah pekerjaannya." katanya kemudian sambil mencium tangan suaminya.


"Iya sayang, Aamiin!" Dion kembali mencium keningnya. Lalu segera menuju mobil dengan di antar Cindy.


*******

__ADS_1


__ADS_2