Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
46. Ketakutan Khanza


__ADS_3

"Maaf, nona. Ada tujuan apa kemari?" petugas keamanan menahannya di pintu masuk. Karena mereka tidak tahu dirinya adalah adik Ryu.


"Saya mau ke atas. Ingin mengunjungi tuan Simon. Saya mau menyerahkan ini kepadanya." menunjukkan paper bag. Rara tidak mengatakan nama Ryu. Karena dia yakin para security itu tidak akan percaya jika dia mengatakan adik Ryu.


"Maaf, tuan Simon tidak berada di tempat. Beliau sedang menemani Presdir ke perusahaan X. Sebaiknya nona kembali lagi." kata security.


Rara membuang nafas lemah. Datang di waktu yang tidak tepat. Dia segera pergi dari hadapan mereka. Bertepatan dengan mobil Ryu tiba.


Ryu keluar dari mobil setelah Simon membuka pintu. Dia melihat pada Rara yang berdiri mematung melihat kedatangannya. Ryu segera melangkah mendekatinya.


Rara juga melihat kepada Ryu. Kakaknya itu tampak gagah dan semakin tampan dengan jas yang kontras di tubuhnya yang atletis, memakai kacamata hitam. Di kawal oleh Simon dan beberapa orangnya di kiri dan kanannya. Rara sungguh terpukau melihatnya.


"Khanza?" panggil Ryu begitu berada di depan Khanza. Dia kaget melihat Khanza berada disini tanpa memberi kabar padanya.


Rara tersadar dari lamunannya. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Khanza ada di sini?" tanya Ryu lagi.


"Nona ini ingin bertemu dengan tuan Simon." kata petugas keamanan yang segera berlari mendekat begitu melihat mobil Ryu mendarat cantik di depan pintu masuk.


Wajah Ryu mengernyit. Begitu juga dengan Simon.


"Bertemu Simon?" tanya Ryu menatap wajahnya.


"Sebenarnya Rara ke sini untuk menemui kakak. Tapi mereka pasti tidak akan percaya jika Rara katakan Rara adalah adik kakak. Makanya Rara katakan untuk bertemu sekretaris Simon!" kata Rara segera.


Para petugas keamanan itu terkejut mendengar perkataan Rara. Jadi gadis ini adalah adik pimpinan mereka?


"Maafkan kami Nona. Kami tidak tahu kalau Anda adik pimpinan!"


Ryu menoleh pada para mereka.


"Gadis ini adikku." menatap mereka tajam.


"Maafkan kami tuan!" ujar mereka takut takut.


"Kak, mereka hanya menjalankan tugas." kata Rara seraya menarik ujung jas Ryu melihat perubahan wajah kakaknya yang berubah mentap security.


Ryu segera memegang tangan kanan Khanza.


"Simon, kau tunggu tamunya datang. Sebentar lagi mereka akan tiba." katanya lalu menarik tangan Khanza melangkah ke dalam.


Sementara Simon memperingatkan para security itu. Semua menunduk takut.


"Ingat baik baik wajah adik bos." katanya tegas, menatap tajam mereka satu persatu.


"Maafkan kami tuan. Sungguh kami tidak tahu!"


Ryu terus memegang tangan Khanza tanpa perduli dengan tatapan orang.


"Kak, Rara tidak perlu ke atas. Rara datang hanya untuk mengantar ini!" memperlihatkan paper bag.


"Kita ke ruang kerja kakak dulu!" kata Ryu yang sangat senang dengan kedatangan Khanza ke sini. Dia hanya melirik sekilas paper bag itu. Dia menarik tangan Khanza masuk ke dalam lift privat. Lift berjalan ke atas. Mereka diam tanpa kata.


Rara melihat tangannya di pegang Ryu. Dia menarik tangannya pelan pelan dari genggaman Ryu.


"Biarkan kakak memegang tangan mu!" kata Ryu kembali memegang tangannya. Rara sedikit kaget. Dia langsung melihat wajah Ryu yang juga melihat padanya. Wajah itu terlihat agak pucat dan keringatan.


"Apa mungkin karena lapar kakak pucat seperti ini?" batinnya. Dia juga merasakan genggaman tangan Ryu agak gemetaran.


"Apa yang Khanza bawah?" Ryu melihat kembali paper bag di tangan kiri Khanza.


"Dus makanan!" kata Rara pelan.


"Untuk siapa?" Ryu melihat wajahnya.

__ADS_1


"Untuk kakak!"


Ryu kembali melihatnya.


"Khanza sudah makan belum?"


"Sudah! Tadi makan di rumahnya Rangga." kata Rara. Padahal belum, agar Ryu mau makan. Tadi pagi dia tidak sarapan. Saat di rumah Rangga dia hanya minum secangkir teh. Ketika di tawarkan untuk makan oleh Cindy, dia menolak dengan alasan masih kenyang. Yang sebenarnya dia juga sangat lapar.


Wajah Ryu berubah datar mendengar Khanza sudah makan. Di rumah Rangga lagi. Bocah itu sudah berani membawa Khanza ke rumahnya. Artinya hubungan mereka semakin dekat.


"Kakak pasti belum makan siang kan? Ini enak,


Rara belinya dari restoran mahal."


"Kakak sudah makan. Seharusnya Rara tidak usah repot-repot!" Ryu kembali melihatnya dengan dingin.


Rara terdiam. Hatinya sedih dan kecewa. Dia segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Ryu.


Sedangkan Ryu ingin melihat gadis ini kembali bicara. Mendengar gadis ini ngoceh marah marah tak karuan memaksanya untuk makan seperti kebiasaannya. Tapi kali ini tidak. Khanza hanya diam tanpa kata lagi. Dan itu membuat Ryu sedih. Mungkinkah perubahan sikap Khanza karena hadirnya Rangga di kehidupan gadis ini? batinnya. Sudah sejauh mana hubungan mereka? melihat Rangga menyukai Khanza.


Lift terbuka. Mereka segera keluar dan berjalan menuju ruang kerja Ryu. Rara buru buru menarik tangannya karena menjadi perhatian Caroline dan para karyawan. Caroline segera berdiri dari kursi dan menyambut Ryu. Dia melihat sekilas pada Khanza.


"Gadis ini datang lagi. Kenapa dia datang bersama pimpinan?" batinnya.


"Sebentar lagi tamunya akan datang. Kau persiapan kan semuanya!" kata Ryu


"Baik bos."


Ryu kembali melangkah sambil memegang tangan Khanza. Dan itu tak luput dari mata tajam Caroline.


Rara meletakkan dus makanan di meja sofa Setelah mereka masuk di ruang kerja.


"Kak, Rara mau pulang. Makanannya Rara taruh di sini."


"Kakak masih kenyang. Di bawah pulang saja!" Ryu tak ingin mengatakan itu, karena dia tahu itu akan membuat Khanza sedih.


"Apanya yang bohong? kakak sudah makan bersama rekan kerja kakak!"


"Kakak pasti belum makan! Wajah kakak pucat, tangannya juga gemetaran!"


Ryu menatapnya.


"Apa Khanza perduli dengan hal itu?"


Rara terdiam mendengar. Keduanya saling menatap.


"Jawab Khanza." kata Ryu penuh tekanan.


Rara melenguh sedih. Nafasnya jadi turun naik tak beraturan.


"Rara hanya tidak ingin kakak sakit!" jawabnya pelan dengan suara rendah.


Ryu tersenyum seraya membuang nafas kuat. Senyum tapi hatinya sakit. Dia sangat benci dengan keadaan seperti ini. Benci dengan jarak mereka yang terasa semakin jauh. Hanya untuk menggenggam tangan Khanza saja tak bisa. Khanza semakin menjaga jarak dan seolah terus menjauhinya.


"Sepertinya kakak ada tamu. Rara juga tidak punya urusan lagi di sini. Rara mau pulang!" kata Rara memecah kecanggungan di antara mereka. Dia tidak ingin terlalu lama di ruang ruang ini sebelum menimbulkan kesalahpahaman lagi.


Dia melihat dasi Ryu yang miring ke kanan.


"Dasi kakak miring ke kanan."


Ryu melihat ke dasinya.


"Biarkan saja!" kata Ryu tak perduli.


"Tapi kakak akan bertemu dengan tamu!" Rara menatapnya.

__ADS_1


Ryu juga menatapnya.


"Biarkan saja. Kakak tidak perduli!" kata Ryu tetap acuh. Dia ingin melihat kepedulian Khanza pada dirinya.


Rara mendesis kesal.


"Perbaiki. Nggak bagus di lihat tamunya nanti!" kata Rara menatap kesal.


Ryu tersenyum di dalam hati. Masih perduli juga dia padaku? batinnya.


Lalu segera memperbaiki. Tapi malah semakin ke kanan.


"Belum rapi," kata Rara melihatnya.


"Dari pada hanya diam melihat, bisakah Khanza bantu untuk memperbaikinya?" kata Ryu melihatnya.


Rara kembali menatapnya.


"Ingin belajar mandiri, menjaga jarak bukan berarti tidak mau membantu kakak lagi kan?" kata Ryu kembali melihatnya hanya diam.


Rara menelan ludah. Dia mendekati Ryu. Lalu mengangkat kedua tangannya ke dasi Ryu. Dia membuka ikatan simpulnya, lalu menyimpul kembali dari awal.


Ryu menatap wajahnya tak berkedip. Dia sangat rindu dengan wajah ini. Wajah yang selalu di curahi kecupan dan ciuman. Rindu dekat seperti ini. Rindu kebersamaan mereka, canda tawa, bercengkrama, saling menjahili.


Sesekali tatapan mereka bertabrakan.


Rasa rindu itu tak terbendung lagi.Tiba tiba Ryu mendekatkan wajahnya, memegang wajah Khanza dan langsung mengecup kening gadis itu.


Rara terkejut, gerakan tangannya berhenti. Belum hilang rasa kejutnya, bibir Ryu kembali mendarat di bibirnya. Matanya terbuka lebar. Ryu mencium bibirnya.


"Kak....!" Rara mendorong tubuh Ryu. Tapi tubuh Ryu tidak bergerak sedikit pun. Satu tangan Ryu sudah berpindah memeluk kuat pinggang Khanza dan satunya lagi memegang tengkuk Khanza.


Entah sadar atau tidak, Ryu terus mencium Khanza. Dia hanya ingin mengungkapkan apa yang di rasakan oleh hatinya pada gadis ini, rasa sayang dan cinta. Dia ingin menyalurkan emosi dan apa yang dia rasakan pada Khanza melalui ciuman hangat ini.


Sementara Rara terpaku diam tak bergeming di tempatnya dengan debaran jantungnya. Merasakan ciuman yang terasa lain. Dia seperti tersihir hingga terdiam, tak menolak menerima ciuman ini. Hingga beberapa saat berlalu, Rara tiba tiba mendorong kuat tubuhnya ketika merasakan ciuman itu mulai liar. Ciuman yang sama dilakukan Ryu waktu malam itu ketika di pengaruhi obat perangsang. Dia merasa takut.


Akibat dorongan yang kuat membuat tubuh mereka lepas, begitu juga dengan ciuman Ryu.


Keduanya saling menatap dengan nafas yang tak beraturan. Jantung berdebar kencang.


"Khanza.....!" ucap Ryu melihat wajah Khanza yang ketakutan bercampur sedih.


Rara memegang bibirnya. Dia menatap wajah Ryu sedih bercampur amarah. Lalu segera berlari menuju pintu dan membukanya. Dia kaget melihat Simon di depan pintu. Pria itu sedang bersama dengan seorang pria. Rara kembali kaget melihat wajah pria itu.


"Om Dion?"


Dion juga kaget melihat Khanza. Terlebih melihat wajah Khanza yang kacau.


Rara mendekati Dion dan segera memeluk. Untuk menekan ketakutannya, menumpahkan kesedihan, emosi yang di rasakan akibat perbuatan Ryu yang telah menciumnya.


"Khanza kenapa?" Dion kaget dan bingung. Tapi dia dapat merasakan ketakutan Khanza. Dia segera membalas memeluk tubuh Khanza. Mengusap lembut rambut dan punggung Khanza.


"Ada apa nak? Apa yang membuat Khanza ketakutan seperti ini!"


Rara tak menjawab, dia terisak kecil. Simon bingung melihat apa yang terjadi. Tujuannya untuk membawa Dion bertemu tuannya. Karena Dion adalah tamu penting yang akan bertemu dengan tuannya.


Ryu muncul di depan mereka untuk mengejar Khanza. Dia kaget melihat pemandangan di depannya. Melihat Khanza dalam pelukan Dion.


Dion juga kaget melihatnya. Calon partner bisnisnya. Apa pria ini yang membuat Khanza ketakutan seperti ini? Apa yang telah di lakukannya pada Khanza? Melihat Khanza keluar sambil memegang bibirnya? batinnya terus menatap wajah Ryu.


*****


Tinggalkan jejak dukungan ya....


Like, komen, hadiah dan vote. Yang baru mampir masukkan ke fav ❤️ ya.....

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2