
Sama halnya dengan Rara, Anggi juga kesal dengan keberadaan Ryu yang tidak bisa di temui. Terkahir mereka bersama saat jalan jalan malam itu. Di datangi ke kantor tak ada, nomornya pun tidak aktif. Berulangkali di tanya pada pelayan bayarnya tapi tak ada informasi apapun. Karena si pelayan juga tidak tahu kemana perginya Ryu. Hanya Ratih dan Simon tahu keberadaan tuannya itu. Anggi semakin kesal. Mungkin Ryu sengaja menghindarinya lagi. Anggi tersenyum tipis teringat pada seseorang. Orang yang bisa memberi tahu keberadaan Ryu. Rara....dia pasti tahu di mana Ryu berada.
Pertengkaran hebat dirinya dengan Ryu waktu itu di kaitkan dengan hadirnya Rara di tengah tengah mereka. Keberadaan Rara penyebab permasalahan yang membuat hubungan mereka hancur. Ryu tidak bisa lagi di ajak bicara, maka dia mengambil cara untuk memperbaiki hubungannya kembali dengan Ryu melalui Rara. Karena Rara lah penyebabnya. Dia mengirim video pertengkarannya dengan Ryu pada Rara. Yang di ambil diam diam oleh pelayannya. Dia meminta pertanggungjawaban Rara atas retaknya hubungan mereka. Sekaligus ancaman untuk Rara. Bukan hanya mengirimkan video itu, tapi dia juga mengirim pesan hinaan, caci maki, juga kata kata yang merendahkan harga diri Rara.
Tentu saja Rara terkejut setelah melihat video pertengkaran itu. Rara tidak menyangka dirinya menjadi penyebab pertengkaran itu, dan juga menjadi penyebab hancurnya hubungan Ryu dengan Anggi.
Rara tidak menyadari kalau Hubungan kasih sayang, kebersamaan dan kedekatan dirinya dengan Ryu sebagai kakak beradik malah telah merusak sebuah hubungan.
Rara yang memiliki hati yang lemah dan lembut, merasa bersalah dan sedih atas hancurnya hubungan itu. Dia berjanji akan bertanggung jawab untuk menyatukan kembali Ryu dengan Anggi, memperbaiki kembali hubungan mereka. Karena dia juga tidak ingin kakaknya berpisah dari Anggi. Dia ingin Ryu menikah dengan Anggi.
Anggi mengambil ponselnya menekan nomor orang itu. Empat kali berdering tersambung.
"Assalamualaikum....!" suara dari seberang. Suara Rara.
"Kau di mana?" tanya Anggi ketus.
"Rara di rumah kak Ryu!"
"Ngapain kau kembali ke sana? Sudah kukatakan jangan lagi balik ke rumah Ryu. Kau pasti ingin menggodanya lagi kan? Hah?" sentak Anggi.
Terenyuh hati Rara. Dia mendesah sedih mendengar perkataan itu.
"Tidak kak, kakak kok tega nuduh Rara begitu? kak Ryu itu kakak Rara." katanya sedih.
"Alaah...gak usah sok polos deh kamu. Kau pasti suka sama Ryu kan? Kau memang gadis tak tahu diri. Menyukai dan menggoda kakakmu sendiri. Kau datang di hidup kami dan merusak hubungan kami!"
Air mata Rara tumpah, dia mulai menangis terisak. "Itu tidak benar kak! Kakak salah. Rara gak mungkin...." katanya serak.
Tapi ucapannya terpotong oleh Anggi.
"Tidak benar apanya? Kau berpelukan dan berciuman bebas dengan Ryu layaknya pasangan kekasih. Kau selalu datang ke kamarnya dan tidur berdua seranjang bersama. Kau pikir itu masih wajar di katakan sebagai hubungan kakak beradik? Aku rasa kau bukan gadis bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang wajar dan tidak pantas di lakukan oleh kakak beradik. Berpelukan, ciuman dan tidur bersama apa pantas kalian di lakukan?Wanita rendah, murahan, penggoda, perusak hubungan orang! Gak usah membela diri, sok polos, sok manja pada kakakmu! Seharusnya kau tahu diri, tahu malu jangan terlalu dekat dengan Ryu. Dia itu punya kekasih, yaitu aku. Yang kalian lakukan menyakiti perasaan ku, membuat ku terluka! Kalau Ryu ingin dekat dekat denganmu, kau yang harus menjaga jarak dan menjauhinya." kata Anggi kembali dengan berapi api dan tanpa jeda.
Rara semakin terisak.
"Alaah, gak usah sedih begitu. Gak perlu menangis, simpan air mata palsu mu itu! Sudah ku peringatkan berulangkali tinggalkan Ryu, tinggalkan rumah itu. Jangan dekat-dekat lagi dengannya. Terserah kamu mau tinggal di mana! Ingat Rara, Jika terjadi sesuatu yang buruk pada hubungan kami, kaulah penyebabnya. Dan kau harus bertanggung jawab. Hubungan kami baik baik saja sebelum kau datang ke sini." kata Anggi dengan garang, mengancam.
__ADS_1
"Dan sebelum kami menikah, kau tidak boleh balik ke negara mu. Pernikahan kami gagal karena dirimu. Ryu sibuk mengurusi dirimu dan tidak lagi perduli padaku. Dia melupakan rencana pernikahan kami!" katanya kembali berbohong membawa bawa pernikahan yang sama sekali tidak ada. Jangankan di rencanakan, bahkan Ryu tidak pernah mengajaknya menikah, meminta menikah. Hanya dia yang selama ini terus menerus mendesak Ryu untuk menikahinya. Tapi Ryu selalu menghindar dan memberi banyak alasan jika di ajak membicarakan pernikahan.
"Kenapa kau diam? Apa kau tuli? Kau tidak dengar apa yang ku katakan? Kau tidak boleh kembali sebelum kau menikahkan kami!" sentak Anggi keras tak ada respon jawaban dari Rara.
"Tapi sebentar lagi liburan Rara berkahir. Rara akan kembali sekolah!" kata Rara masih terisak.
"Makanya kau harus cepat membujuk Ryu untuk segera menikahku. Biar kau cepat kembali ke tanah air mu! Ingat Rara, kau harus bertanggung jawab atas kerekatan hubungan kami. Kalau tidak, aku akan sebarkan ke orang orang bahwa kau penyebab rusaknya hubungan kami, dan gagalnya rencana pernikahan kami! Faham kau?"
"I..iya kak. Rara akan berusaha untuk membicarakannya dengan kak Ryu!"
"Bagus. Sekarang katakan di mana Ryu? Sudah beberapa hari aku menghubungi nomornya tapi tidak aktif. Aku datang ke rumah juga tak ada. Atau jangan jangan kalian tinggal bersama di suatu tempat dan menyembunyikan dariku? Benar kan? kau ingin menjauh kan Ryu dariku kan?"
Rara kembali mendesah sedih.
"Astaghfirullah kak, itu tidak benar. Kenapa kakak terus menerus menuduh buruk aku dan kak Ryu? Selama tiga hari Rara tinggal di rumah Rangga seperti yang kakak inginkan. Semua yang kakak inginkan Rara turutin. Rara baru balik ke sini siang tadi dan tidak mendapati kak Ryu. Sudah beberapa hari kak Ryu tidak menghubungi Rara. Makanya Rara kembali karena cemas dengannya."
"Cihh....untuk apa kau mencemaskannya? Tidak usah sok perduli pada Ryu. Ada aku kekasihnya yang akan mengurusnya. Kau berpura pura sok perhatian lagi untuk kembali menggodanya kan?" kata Anggi ketus.
"Tidak kak, kenapa kakak berpikir seperti itu? Rara hanya cemas karena dia kakak Rara!"
"Dasar pembohong. Aku yakin kau pasti ingin menggodanya lagi. Aku tidak ingin mendengar bualan mu lagi. Sekarang katakan di mana Ryu?" kata Anggi kasar.
"Kak Ryu sedang berada di Jerman. Dia sudah tiga hari berada di sana." katanya terbata bata pengaruh menahan tangis.
"Nah.... itu kamu tahu kan? Kau tahu segalanya tentang ryu. Sudah ku duga kau itu seorang pembohong! Ryu lebih terbuka dan mengatakan semua yang menyangkut tentang dirinya kepadamu dari pada aku kekasihnya. Dan itu karena gara gara siapa? Kamu....kamu penyebabnya! Aku sungguh membencimu." kata Anggi keras.
Rara menelan ludah yang terasa sangat pahit. Nafasnya turun naik tak beraturan. Air matanya kembali mengalir." Tidak kak, Rara berkata jujur. Rara tidak tahu sama sekali kalau kak Ryu berada di Jerman. Kak Ryu juga gak ngasih tahu apa pun. Ibu Ratih yang mengatakannya tadi saat Rara pulang."
"Ah sudah..... jangan terus membela diri dan menutupi kebusukan dirimu! Hubungi aku segera jika Ryu sudah kembali. Dan Ingat perkataan ku tadi!" katanya ketus mengancam, lalu mematikan telepon.
Rara kembali menangis. Saat ini dia sedang duduk di pinggir kolam. Dengan kedua kaki menjuntai ke bawah bermain di dalam air. Dia duduk melamun memikirkan Ryu yang belum juga kembali.
Tak ada Ryu membuat rumah terasa sunyi. Serasa ada yang hilang darinya. Biasanya keseharian mereka lalui dengan canda tawa bersama. Hingga lamunannya buyar dengan masuknya telepon Anggi yang kembali mengancamnya.
Rara segera menghapus air matanya, ketika telinganya mendengar suara tapak sendal mendekat. Ratih berjalan mendekatinya sambil membawa makanan dan beberapa cemilan Rara segera menghapus nama Anggi dari daftar panggilan.
__ADS_1
Ratih meletakkan makanan itu di sampingnya. Semua makanan kesukaan Rara.
"Nona belum makan sejak pagi. Makanlah dulu."
"Rara tidak lapar Bu."
"Sedikit saja nona. Tadi teman nona menelpon, katanya Nona hanya minum segelas susu tadi pagi. Dan saat kembali tadi nona belum makan siang."
"Rara gak berselera."
"Di paksa non walau hanya sedikit! Nanti nona sakit perut. Atau nona ingin makan sesuatu? katakan saja, nanti saya siapkan!" Ratih terus memaksa karena tidak ingin Rara sakit Maag seperti yang di alami Cio sekarang. Sejak perubahan sikap Rara, Ryu tidak menyentuh makanan hingga membuat tubuh nya lemah, asam lambung kambuh, hingga pingsan. Dan Rara pun sama. Keduanya sama-sama tersiksa dan menderita.
Rara menggeleng lemah.
"Rara nggak ingin makan apapun. Rara hanya ingin menyendiri." katanya pelan dengan mata berkaca-kaca.
Ratih menghela nafas. Dia memperhatikan kesedihan di wajah Rara.
"Apa karena rindu pada tuan Ryu? atau ada masalah lain?" batinnya.
"Baiklah, saya akan tinggalkan Nona sendiri. Tapi saya hanya akan berdiri di sana. Tuan Ryu berpesan untuk menjaga nona dengan baik!" kata Ratih. Rara mengangguk.
Ratih segera berdiri bertepatan dengan ponselnya bergetar. Telepon dari tuannya, Ryu.
"Jangan sampai ada penjaga keamanan dan pelayan laki laki mendekati kolam. Aku tidak mau mereka melihat Khanza." kata Ryu pada Ratih. Dia yang baru saja membuka video CCTV dan melihat Khanza berada di kolam hanya mengenakan bikini.
"Tidak ada siapapun selain saya tuan." kata Ratih. Lalu segera menyimpan ponselnya di saku ketika telepon di matikan.
Ryu menelan Saliva melihat tubuh indah Khanza yang sebagian terbuka. Dia sudah terbiasa melihat keindahan seperti itu saat Khanza memakai gaun tidur. Bersentuhan dengan keindahan itu saat mereka tidur bersama.
Ryu kembali menelan ludahnya.
Dia adalah Pria normal, tentu saja hal itu adalah sesuatu menggairahkan di matanya. Dia tetap manusia biasa, yang suka keindahan terpampang di matanya. Apalagi dia mencintai gadis itu. Tapi hanya keindahan Khanza yang mengundang syahwatnya, bukan pada wanita lain yang sering menggoda dirinya.
Tapi meski sering melihat keindahan tubuh Khanza dan bersentuhan dengannya, dia masih dapat mengendalikan diri untuk tidak menyentuh adiknya itu. Tidak mungkin dia akan melakukan hal bejad pada adiknya. Otaknya masih waras, akal sehatnya masih normal.
__ADS_1
"Kenapa dia menangis?" gumam Ryu melihat Khanza menyapu air matanya.
*****