
Di luar ruang kerja Ryu. Caroline gelisah di tempat duduknya. Dia tidak fokus dengan pekerjaannya. Memikirkan Rara yang sudah tiga jam lebih berada di ruang kerja Ryu. Sejam lagi jam pulang kerja, tapi Rara masih di dalam. Entah apa yang di lakukan gadis itu di dalam bersama Ryu. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalanya. Dan dia tidak punya keberanian untuk mengetuk dan masuk mencari tahu.
"Siapa gadis itu? Apa yang mereka lakukan di dalam sampai selama ini?" gumamnya penuh curiga. Simon bahkan mengantar makanan untuk mereka ke dalam.
Saat Anggi keluar tadi, hatinya lega. Satu saingannya telah keluar. Tapi malah berganti dengan wanita lain yang datang dan masuk. Lama lagi keberadaannya di dalam. Anggi saja tidak sampai setengah jam di dalam, tapi gadis remaja itu? Berjam jam di dalam berduaan dan makan bersama dengan Ryu. Dia yang sudah bertahun-tahun telah menjadi sekretaris pribadi Ryu tidak pernah di ajak makan bersama, dan tidak ada selama itu berduaan dengan bosnya di ruang kerja. Tapi gadis itu? Membuat Ryu membatalkan pertemuan pentingnya dengan beberapa tamu penting.
Ryu bahkan mengundurkan agenda kerjanya hari ini dan melarang siapapun yang masuk.
Tadi dia sempat bertanya pada Yuri tentang Rara. Tapi Yuri hanya menanggapi dengan tatapan dingin dan diam seribu bahasa. Dia sangat kesal karena hanya di diamkan oleh Yuri.
Dia juga bertanya pada Simon, jawaban Simon malah membuatnya tambah kesal dan sakit hati. Karena Simon mengatakan gadis itu wanita yang sangat berarti bagi Ryu.
"Wanita yang sangat berarti? Apa maksud tuan Simon?"
Caroline mendengus geram.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki Ryu. Baik Anggi, gadis itu ataupun wanita lain. Ryu hanya akan menjadi milikku. Sudah lama aku menunggunya dan berkorban untuknya. Aku menolak banyak lelaki karena dirinya. Aku tidak mau pengorbanan ku sia sia." gumamnya dalam hati menatap tajam kosong ke depan.
.
.
Sementara di dalam, Ryu dan Rara baru selesai mengerjakan shalat ashar.
Ryu tersenyum melihat wajah Rara yang semakin cantik mengenakan mukena. Senyum manisnya yang membuat hatinya adem melihat. Suara merdu Rara yang sedang tadarus membuat hatinya sejuk.
Keduanya masih menyempatkan diri membaca kalam ilahi.
"Kak, Rara mau pulang. Sepertinya Rara udah terlalu lama di sini mengganggu kakak!" kata Rara setelah mengakhiri tadarusnya.
"Kok mengganggu?"
"Iya. Karena keberadaan Rara membuat kakak tak bekerja. Dari tadi kakak hanya menemani Rara terus!" kata Rara kembali seraya melepaskan rok mukena.
Ryu menatapnya.
"Kan sudah kakak bilang gak mengganggu sedikit pun." membantu melepas mukena atas Rara.
"Ya udah, kalau gitu kita pulang bersama." katanya lagi.
"Gak usah. Rara pulang sama mbak Yuri saja. Kakak lanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena Rara."
"Ini sudah waktunya pulang dek. Para karyawan mungkin sedang bersiap untuk pulang."
"Tapi kakak masih punya pekerjaan kan?"
"Kamu gak perlu pikirkan itu. Kakak gak ada agenda penting hari ini. Kalaupun ada, Ada Simon yang menghandle nya. Dan sisanya akan kakak kerjakan di rumah." ucapnya bohong. Karena yang sebenarnya dia punya banyak agenda penting hari ini setelah vakumnya selama seminggu. Di tambah lagi saat menemani Rara secara diam-diam selama seminggu di Belanda.
"Ayo kita keluar." Ryu memegang tangannya. Menarik keluar dari kamar pribadi menuju ruang kerja.
Ternyata ada Simon dan Yuri di luar. Keduanya tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Sudah pasti pekerjaan Ryu yang tertunda karena kedatangan Rara.
Ryu dan Yuri Segera berdiri melihat keduanya.
"Aku akan pulang bersama Khanza."
"Baik tuan."
"Terus mbak Yuri gimana?" pungkas Rara.
"Saya yang akan mengantarnya!" jawab Simon.
"Nona kembali saja bersama tuan Ryu." kata Yuri menyambung ucapan Simon.
Rara mengangguk. Ryu kembali memegang tangan kanannya dan di ajak keluar dari ruang kerja.
Caroline langsung berdiri melihat mereka. Tatapan matanya langsung tertuju pada tangan mereka. Ryu memegang tangan Rara.
"Selamat sore tuan Ryu!" sapanya sopan dengan senyum manis di wajah. Tapi yang sebenarnya hatinya panas. Beberapa karyawan juga menyapa Ryu sopan. Mata mereka juga melihat pada Rara.
"Aku akan pulang. Kalian juga bersiaplah untuk kembali." katanya melihat Caroline dan staf sekretaris lainnya. Lalu menarik tangan Rara berjalan melangkah menuju lift.
Benda berjalan itu bergerak membawa mereka turun ke bawah.
Lagi lagi Caroline mengumpat dalam hati melihat kepergian mereka.
"Mau langsung pulang?" tanya Ryu.
Rara menoleh ke samping. Sedikit menengadah melihat wajah Ryu karena tingginya kakaknya ini.
"Apa kakak punya acara lain?" Rara malah bertanya.
Ryu tersenyum. Menyingkirkan beberapa helai rambut di pipi mulus Khanza.
"Khanza sendiri gimana? apa mau langsung pulang atau masih ingin ke suatu tempat?"
Rara tampak berpikir.
"Keman ya?"
"Kemana saja yang Khanza mau?"
"Ke bioskop boleh?"
"Apa Khanza mau nonton?"
Rara mengangguk cepat.
"Ya sudah....kita ke bioskop! Khanza ingin nonton film apa?" Ryu menariknya keluar dari lift. Beberapa penjaga keamanan menyapa mereka dengan sopan. Di depan pintu keluar sudah menunggu mobil Ryu.
Ryu membuka pintu mobil, dan Rara segera masuk. Rara sudah terbiasa naik mobil mewah seperti ini. Punya papa dan ketiga kakaknya banyak di garasi mobil. Dari roda empat, roda dua, bahkan jet pribadi dan lainnya. Papanya malah punya showroom mobil, bahkan perusahaannya. Hanya tak banyak yang tahu kalau Rara adalah anak sultan. Anak dari salah satu orang terkaya di Asia. Karena dia pribadi yang tertutup dan lebih suka gaya hidup sederhana. Tidak suka pamer dan hidup glamor.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Menuju sebuah bioskop yang terdapat pada satu pusat perbelanjaan terbesar.
"Khanza ingin nonton apa?" tanya Ryu lagi di sela mengemudi.
"Pinjam ponsel kakak boleh?" karena Rara lupa bawah handphonenya.
Ryu mengambil ponselnya di saku dan memberinya ke tangan Rara. Ponsel pribadi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
__ADS_1
Rara tersenyum melihat wallpaper Ryu di mana terpasang wajah imut dirinya saat kecil pada layar itu.
Ryu ikut tersenyum melihatnya.
"Ini Rara?" menoleh pada Ryu.
Ryu mengangguk.
Rara nggak menyangka Ryu menggunakan foto dirinya sebagai wallpaper ponselnya.
Rara membuka galeri foto Ryu. Maksud hatinya ingin mengganti foto tersebut. Rara memeriksa gambar foto demi foto dalam galeri. Hanya ada gambar foto dirinya semua. Juga beberapa foto Ryu bersama dirinya saat dia kecil, hingga remaja sekarang.
Kecuali ada satu foto keluarga utuh Ryu. Ryu bersama Nesa, Cia dan almarhum papanya Revan, yang di edit Ryu berdampingan dengan mereka.
Rara segera kembali ke tujuannya mencari film Indonesia yang tayang di kota ini pada hari ini.
Rara mencari di kolom pencarian.
"Khanza ingin menonton film apa? Katakan saja!"
Rara menyebut film yang ingin di tonton.
"Baiklah.... Khanza akan melihatnya." kata Ryu.
"Benar kah?"
"Tentu saja!"
Ryu berhenti sejenak, Mengirim pesan pada pengelola gedung bioskop di salah satu pusat perbelanjaan. Dia menyewa satu studio untuk mereka gunakan.
Khanza di buat kaget dengan nama pusat perbelanjaan itu. Teringat nama Khanza yang di pakai pada nama salah satu Hotel di Amsterdam tempatnya menginap.
"Kak, nama Mall nya kok sama seperti nama Khanza?" kata Rara saat mereka sudah berada di ruang studio.
Keduanya mengambil tempat duduk di tengah. Hanya mereka berdua.
Ryu tersenyum. Dia menyerahkan cemilan di tangan Rara.
Rara teringat saat Ryu mengatakan nama hotel itu di ambil dari nama adik kesayangannya, yaitu Khanza. Khanza kan namanya? berarti nama Mall ini juga menggunakan namanya?
Rara menoleh pada Ryu. Dia menekan lengan Pria itu. Ryu melihat padanya.
Rara memajukan dagunya dengan bibir mengerucut meminta jawaban Ryu.
Ryu tersenyum melihatnya. Dia memegang dagu Khanza. Menatap wajah manis ini, dan berhenti pada bibir ranum merah alami Khanza. Ryu kembali teringat kejadian tadi. Dia mendekatkan wajahnya, sangat dekat dan berhenti beberapa centi di depan wajah Rara.
"Menurut Khanza sendiri gimana?" matanya turun naik pada mata dan bibir Khanza.
"Mall ini punya kakak sama seperti hotel itu?" Rara menerka.
Ryu kembali mengangguk. Mall ini salah satu pusat perbelanjaan miliknya yang di beri nama Khanza, sama seperti hotelnya di Belanda.
Perlahan Ryu mendekat ingin mengecup Khanza. Matanya pada bibir Khanza, tapi kecupannya mendarat di kening Khanza. Dia menatap wajah manis sejenak, ibu jarinya mengelus lembut satu pipi Khanza.
"Filmnya akan di mulai." bisiknya pelan.
Filmnya telah di mulai. Dan terus berjalan.
"Kak, filmnya telah di mulai dan hanya ada kita di sini?" tanya Khanza setelah menyadari ruang kosong tak ada pengunjung yang masuk sementara film sudah 30 menit berjalan. Hanya ada mereka berdua di dalam.
Ryu mengangguk. Kembali tersenyum.
"Kakak menyewa satu studio untuk kita?"
Ryu kembali mengangguk.
Rara tak ingin bertanya lagi. Baginya Ryu sama seperti papanya. Bisa melakukan apa saja untuk menyenangkan dan membahagiakan mamanya, dan juga mereka.
Film yang bercerita tentang perselingkuhan terus berlangsung. Banyak sedihnya, mengurus air mata dan emosi. Tapi ada juga adegan lucu dari pemeran pendukung. Rara terlihat serius dan tegang melihat. Wajahnya juga berubah ubah ekspresi. Kadang sedih, kadang tertawa mengikuti alur cerita film. Mulutnya terus mengunyah cemilan di tangannya.
Ryu tidak terlalu fokus dengan filmnya, karena dia tidak terlalu suka. Matanya hanya sekali kali ke arah layar dan lebih banyak menoleh dan melihat pada wajah manis Khanza yang sangat serius menatap ke depan.
Pikiran Ryu kembali teringat pada ciuman bibir tadi. Ada sesuatu yang ingin di tanyakan pada Rara.
"Khanza...." panggilnya agak keras.
"Hmmm....." jawaban Rara. Menoleh sekilas pada Ryu lalu kembali melihat ke layar dengan mulut terus mengunyah popcorn.
"Kakak ingin menanyakan sesuatu!" membersihkan makanan yang belepotan di bibir Khanza.
"Tanya apa?"
"Sesuatu yang bersifat pribadi!"
"Pribadi? apa itu?" Rara menoleh padanya, lalu kembali melihat ke layar. Bertepatan dengan adegan cium dari pemeran utama.
"Lihat kak, mereka ciuman. Akhirnya keduanya baikan dan menyatu kembali!" seru Rara senang melihat ending memuaskan dari film itu. Ryu melihat ke depan, dan benar adegan ciuman yang sedikit panas di lakukan pemeran utama sedang berlangsung.
Ryu buru buru menghalangi pandangan Khanza dengan menutup wajah Khanza dengan tangannya.
"Jangan dilihat. Gak boleh!"
"Ihh kakak.....minggirkan tangannya. Kenapa wajah Rara di tutupi?" Rara kesal.
"Khanza gak boleh lihat adegan mesum kayak gitu!"
"Mesum gimana? Hanya ciuman kok. Mereka juga kan pasangan suami istri."
"Yaa karena mereka lagi ciuman Khanza gak boleh lihat. Mereka juga bukan pasangan asli dalam dunia nyata!"
"Rara gak fokus ke situ. Rara senang akhirnya mereka baikan dan bersatu kembali gak jadi pisah. Awas ah....!" Rara menyingkirkan tangan Ryu, tapi Ryu menahan kuat.
"Tunggu semenit lagi!" Ryu tetap bersikeras.
"Nanti filmnya keburu habis!" Rara semakin kesal.
"Kenapa sih kamu pengen lihat mereka? suka ya lihat sama adegan kissnya?"
"Nggaklah.... hanya ingin melihat keseluruhannya biar gak ke'gantung sama ceritanya!"
__ADS_1
"Gak ke'gantung atau Khanza keingat pernah melakukan ciuman seperti itu? terus baper?" mencoba menebak isi hati Khanza. Karena ini salah satu hal pribadi yang ingin di tanyakan pada Khanza.
"Melakukan ciuman apa?" mata Khanza mendelik.
"Seperti yang mereka lakukan tadi! Kali aja Khanza ingat pernah melakukan sama pacarnya."
Mata Rara terbuka, bulat.
"Enak saja kakak sembarangan ngomong kayak gitu. Rara gak pernah melakukan ciuman bibir seperti itu. Bibir Rara tuh masih suci. Rara juga nggak punya pacar! Pacar apaan? Ciuman apa an lagi?" menatap judes pada Ryu.
Terjawab sudah dua pertanyaan yang ingin di tanyakan Ryu, Soal pacar dan ciuman. Apa Rara sudah punya pacar dan melakukan ciuman bibir seperti yang mereka lakukan secara tidak sengaja tadi? Dan jawabannya Rara belum punya pacar dan juga belum pernah melakukan ciuman bibir. Artinya dia yang pertama melakukan ciuman tanpa sengaja pada gadis ini? Dan Khanza tidak menyadari yang terjadi pada mereka tadi adalah sebuah ciuman bibir?
Ryu tersenyum seraya menyentuh bibirnya. Menatap wajah manis yang masih kesal.
"Kenapa senyum senyum gitu? Gak percaya ucapan Rara?"Rara menatap tajam.
"Rara gak pernah bohong! Cuma papa mama, kak Riez, kak Ryan dan kak Raka yang suka kecup bibir Rara. Kecup doang! Oh iya...kak Cio juga selalu kecup bibir Rara! Hanya kalian aja, nggak ada yang lain!" kata Rara masih kesal.
Ryu kembali tersenyum.
"Sudah, jangan marah gitu. Kakak percaya kok sama Khanza! Tapi benar ya Khanza belum punya pacar? Masa gadis manis parasnya cantik seperti ini gak punya pacar?" Ryu menggodanya.
"Benar. Rara gak bohong.Tapi kalau yang naksir dan suka sama Rara banyak!"
Ryu melongo, matanya kembali membulat.
"Yang naksir banyak?"
Rara mengangguk cepat.
"Kakak tahu gak, mereka tampan dan keren. Rara suka!" wajah Rara kembali ceria mengingat wajah cowok cowok tampan di sekolah yang menyukainya. Dia tersenyum sumringah. Ekspresi kesal langsung hilang berganti cerah.
"Kalau tampan dan keren, kenapa gak di terima jadi pacarnya?" kini raut wajah Ryu yang merubah datar.
"Nggak boleh. Rara nggak boleh sembarang terima pacar. Kata mama Rara hanya bisa terima cowok yang benar serius dan tulus sama Rara. Cowok itu yang akan menjadi suami Rara nanti dan selamanya."
"Mama Ara benar. Tapi kalau Khanza suka sala satu di antara mereka, kenapa gak di terima saja?" masih menebak hati Rara.
"Rara gak suka. Hanya suka melihat wajah tampannya saja. Suka bukan berarti ingin memiliki kan? Gak deh, Rara gak gitu! Kata papa wajah tampan gak selamanya tulus, wajah tampan kadang ada yang menipu. Dan benar kata papa, cowok cowok tampan itu ternyata penipu. Menipu cewek cewek teman Rara di sekolah."
"Maksud Khanza?" Ryu menatap dengan mata mendelik.
"Mereka genit, mata keranjang. Mereka sejenis buaya darat. Ceweknya di mana mana. Mereka menggunakan kelebihan mereka untuk menggoda dan menipu teman Rara. Banyak lho teman cewek Rara ketipu sama rayuan gombal mereka. Rara kasihan melihat mereka menangis di kelas karena patah hati di bohongi." kata Rara kembali kesal campur sedih dan marah.
Ryu tersenyum lebar melihat ekspresi wajahnya.
"Kenapa senyum senyum gitu? Bukannya ikut prihatin?" Rara menatap kesal.
"Wajah Khanza lucu saat marah gitu. Tapi syukurlah Khanza gak ikut ketipu sama buaya buaya itu! Tapi kalau sampai ada yang membuat Rara nangis gitu dan ngeluarin air mata, kakak akan buat perhitungan sama cowok itu. Kakak gak akan kasih ampun!"
Rara menatap dengan wajah mengernyit.
"Ada kok yang membuat Rara menangis. Menangis hampir setiap malam, setiap hari bahkan setiap saat!" katanya menatap mata Ryu.
"Siapa?"
"Kakak....!" menunjuk diri Cio.
Ryu terkesiap.
"Maksudnya apa berkata seperti itu?" batinnya.
Otaknya berpikir lain.
Rara naik ke pangkuannya. Menatap dan memegang Wajahnya. Keduanya saling menatap dengan perasaan masing-masing.
Ryu jadi tidak tenang. Apa yang akan di lakukan gadis ini? Jantung Ryu berdebar.
"Gak ada yang membuat Rara nangis selain kakak. Hanya Kakak yang membuat Rara nangis, merasakan sakit selama belasan tahun! Jangan buat Rara nangis lagi. Rara gak akan kuat lagi nahannya!" kata Rara dengan wajah mendung.
Ryu membuang nafas panjang. Dia mengerti arah bicara gadis ini.
Apa yang sempat dipikirkan oleh otaknya ternyata salah. Gadis ini murni menyayanginya sebagai kakak.
Ryu segera tersenyum dan memegang wajah Rara, mengecup keningnya.
"Maafkan kakak untuk kesekian kali. Kakak janji tidak akan membuat Rara menangis dan sedih lagi. Tapi kalau Khanza merasa marah dan sakit hati, Khanza boleh hukum kakak apa saja. Tapi jangan sampai kita berpisah lagi. Karena kakak nggak akan kuat pisah lagi sama Khanza."
"Marah apa? Hukum apa? Rara gak akan bisa marah sama kakak. Rara sayang sama kakak!" Rara memeluk Ryu dengan sikapnya yang manja dan polos apa adanya.
Ryu tersenyum terharu. Dia membalas pelukan itu. Berulangkali kali dia mengecup kepala Rara.
Mereka berpelukan beberapa saat penuh kasih sayang. Sepasang mata penuh amarah dan kebencian melihat mereka secara diam-diam dari pintu masuk.
Rara tiba tiba menarik diri.
"Tapi bagi Rara, hanya papa dan kak Cio yang paling tampan di dunia." katanya tersenyum.
Ryu terkekeh mendengarnya.
"Kakak nggak mungkin kan sama seperti cowok cowok buaya darat itu?"
"Apa maksud Khanza?" dahi Cio mengerut menatapnya.
"Kakak kan tampan, pasti banyak dong yang suka! Kakak tak menipu kekasih kakak dan punya cewek lain kan? Ingat ya, Rara gak suka kakak kayak gitu. Kakak harus setia sama kekasih kakak itu! Harus seperti Papa yang sangat mencintai mama satu dan selamanya dengan hati yang tulus." kata Rara dengan tegas. Menatap serius ke dua mata Cio.
Senyum Ryu mengembang. Dia kembali memegang wajah Khanza. Menatap mata Khanza dalam dalam.
"Di hati kakak hanya ada satu wanita. Kakak hanya menyimpan dia di hati kakak. Sejak dulu, saat ini, dan hingga nanti selamanya!"
"Wah kakak keren. Kakak pria sejati seperti papa! Rara sudah tahu kakak orang yang menghargai dan menyayangi wanita dengan tulus! Rara bangga sama kakak. Rara doakan kakak selalu bahagia dengan kekasih kakak itu! Siapa namanya? Anggi ya, oh salah, kak Anggi! Rara harusnya manggilnya begitu! Kapan kapan ajak Rara kenalan lebih dekat lagi ya sama kekasih kakak itu. Orang cantik, cocok sama kakak yang tampan!" kata Rara tersenyum manja dalam pangkuan Ryu.
"Anggi?" batin Ryu.
"Bukan Anggi Khanza.....!" Ryu terus menatap kedua mata gadis itu dengan perasaannya sendiri. Mata polos yang di penuhi binar keceriaan.
*******
Tinggalkan jejak ya kalau suka 😘
__ADS_1